Pertunangan
Magnolia Residence.
“Gedebuk—”
"Rayhan Adinata! Aku beri tahu kamu, kalau hari ini kamu tidak membawa Kirana pulang, jangan harap kamu bisa masuk rumah lagi!” Bentakan marah sang nenek menggema keras di seluruh perkebunan yang luas itu.
Rayhan Adinata menggaruk kepala, menatap pintu kamar yang tertutup rapat di hadapannya, lalu menghela napas tak berdaya. Ia menoleh ke arah lantai satu, melihat seorang wanita yang duduk tenang menikmati teh hitam, sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Mommy.” Rayhan Adinata duduk santai di tangga kayu, mengayunkan kakinya yang panjang.
“Berhenti disitu.” Batu giok sebesar telur angsa di jari manis Clarrisa Halim berhenti tepat di depan hidung Rayhan Adinata. Clarissa Halim menatap putranya dan tersenyum tipis.
“Bammm—”
Rayhan Adinata langsung dilempar keluar gerbang rumah sendirian. Ia menoleh tak percaya ke arah ibunya yang sama sekali tak menoleh lagi. “Ibu, aku ini anak kandungmu atau bukan sihh?!”
Suara tonggeret di hutan perkebunan berayun bersama angin, pelan meniup rambut Rayhan Adinata. Ia mengambil jas yang ikut dilempar keluar bersamanya, lalu berbalik pergi.
“Bzz—”
Ia memainkan kotak rokok di tangannya, lalu dengan malas mengangkat ponsel yang terus bergetar.
【Ray, data yang kamu minta sudah kusiapkan.】
Langkah Rayhan Adinata melambat. Ia menyampirkan jas ke bahunya dan mulai menggulir dokumen itu perlahan.
“Kirana Wijaya…”
Pandangan Rayhan Adinata berhenti pada kolom foto yang kosong. Alisnya sedikit berkerut, lalu ia kembali ke layar chat.
【Mana fotonya?】
“Bzz—”
“Bip bip—”
Rayhan Adinata masuk ke dalam Ferrari hitamnya, melempar jas ke kursi penumpang, nadanya terdengar tidak sabar.“Halo?”
“Ray.” Suara lembut terdengar dari seberang.
“Mana fotonya? Kenapa kamu tidak memasukkan fotonya ke dalam data itu? Lagipula, data ini juga terlalu seadanya saja, isinya cuma nilai akademik semua.”
Kedua tangan Rayhan Adinata berada di dashboard, dan pedal gas diinjak kuat. Mobil melaju kencang.
Di seberang sana terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbicara lagi. “Aku tidak menemukan foto terbarunya. Tapi serius, tunanganmu ini sebenarnya siapa sih? Tidak satu pun dari para nona keluarga lain yang pernah melihat wajahnya.”
Sorot mata Rayhan Adinata berubah. “Evan, jaga ucapanmu.”
Evan Santoso menatap berkas pasien di depannya, lalu melirik asistennya yang berdiri di pintu. “Iya, iya. Tidak boleh membicarakn hal-hal buruk mengenai tunanganmu itu. Tapi aku benar-benar penasaran, seperti apa sebenarnya adik kecilmu ini sampai Nyonya Arissa begitu memikirkannya. Padahal nenekmu sudah pernah melihat semua wanita cantik yang berada di ibu kota.”
Sudut bibir Rayhan Adinata terangkat, tapi ucapannya tetap dingin. “Pergi sana kau.”
“Aku tutup dulu!”
Lampu merah menyala. Rayhan Adinata menoleh ke arah akademi elite di samping jalan, dan kenangan lama tiba-tiba menyeruak. “Bang Ray, tunggu aku.” Kirana Wijaya kecil, dengan bunga tulip cerah terselip di telinganya, berlari keluar dari kerumunan menuju Rayhan Adinata kecil.
Rayhan Adinata terkekeh, menunduk menatap sosok mungil yang berlari di dalam sekolah.
“Bip bip bip—”
“Ehem.” Ia berdeham ringan, menekan setir, lalu kembali menginjak gas.
Rumah keluarga Wijaya.
Rayhan Adinata membandingkan berulang kali vila apartemen mewah di hadapannya. Ekspresinya datar ketika melihat Bugatti yang tadi membunyikan klakson di belakangnya. Seorang pria berambut belahan tiga-tujuh turun dari mobil itu. Rayhan Adinata menatapnya dari atas ke bawah, lalu bergumam pelan,
“Kek sales asuransi.”
Ia duduk lama di dalam mobil, teringat terus perintah sang nenek. Ia menatap dirinya di kaca spion, lalu merapikan rambutnya sedikit.
“Ding dong—”
Seorang wanita mengenakan celemek muncul di depan pintu. Tatapan Rayhan Adinata menurun dingin.
“Tuan Muda Rayh.” Adrian Wijaya berdiri kaku, dasinya agak kusut, dan ada bekas kemerahan samar di pipinya.
Rayhan Adinata memaksakan senyum sopan, “Tuan Adrian, senang bertemu dengan Anda. Semoga kabar baik.”
Ruang tamu.
Rayhan Adinata duduk di kursi utama. Di sampingnya, Amara Amalia merapikan rambut dan piyamanya yang terlihat berantakan. Ia melirik jam tangannya—pukul satu siang—lalu memandang ke arah lantai atas, tempat Adrian Wijaya dan Ren Wijaya turun tergesa-gesa.
Adrian Wijaya tersenyum dan duduk di sebelah Rayhan Adinata.“Izin bertanya. Tuan Muda Rayhan, tujuan Anda datang hari ini adalah…?”
Karena Adrian Wijaya langsung ke inti, Rayhan Adinata pun tidak bertele-tele. Tatapannya menyapu Amara Amalia dan Ren Wijaya dengan tajam. “Kenapa Tuan Adrian tidak memanggil Rana turun?”
Wajah Amara Amalia menegang. Ia langsung mengangkat kepala dan mendahului bicara. “Tuan Muda Rayhan, kondisi anak itu beberapa hari ini kurang sehat. Kami takut penyakitnya menular ke Anda.”
Ia tersenyum seolah itu senyum sempurna, namun langsung goyah saat bertemu wajah dingin Rayhan Adinata.
“Oh, Rana sedang sakit?” Rayhan Adinata mengangguk pura-pura paham. Pandangan matanya beralih ke meja makan penuh sisa hidangan berminyak dan berat rasa.
Adrian Wijaya berdiri. “Tuan Muda Rayhan dan Kirana kenal ya?”
Rayhan Adinata melirik sekilas, lalu mengeluarkan kantong wewangian dari sakunya dan menunjukkannya. “Pertunangan sejak kecil.”
Wajah Amara Amalia langsung pucat. “Pertunangan? Tuan ShShan kamu ini lagi bercanda, kan? Aku tidak pernah dengar kalau gadis itu punya tunangan…”
Rayhan Adinata memiringkan kepala. “Menurutmu aku perlu bercanda denganmu?”
Amara Amalia terhuyung dan jatuh terduduk di sofa.
Tanpa peduli lagi, Rayhan Adinata berjalan menuju tangga. “Tuan Adrian, kalau tidak salah, kamar Rana seharusnya yang di sebelah kanan, bukan?”
Langkahnya cepat. Saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu—
“Hey, itu kamarku!” teriak Ren Wijaya.
Alis Rayhan Adinata mengernyit. “Apa katamu?” Nadanya dingin menusuk, dia menatap sekejap ke arah Amara Amalia “Aku ulangi sekali lagi. Di mana kamar Rana?”
Amara Amalia melirik Adrian Wijaya, lalu cepat berdiri. “Tuan Muda Rayhan, biar aku saja yang memanggilnya. Lagipula tidak terlalu bagus juga Anda masuk kamar gadis kecil begitu saja.”
Ia bergegas ke sudut lorong lantai satu, membuka pintu kecil, lalu menguncinya dari dalam.
Wajah Rayhan Adinata mengeras. “Tuan Adrian, kalau tidak salah… lantai satu seharusnya semuanya kamar pembantu kan?”
Keringat dingin mulai mengalir di dahi Adrian Wijaya. “Tuan Muda Rayhan, silakan duduk dulu. Bentar lagi Rana keluar kok.”
Rayhan Adinata menopang kepalanya, menatap ayah dan anak itu yang wajahnya semakin pucat.
Kamar Kirana Wijaya.
Amara Amalia terengah, bersandar di pintu lalu meluncur turun. Kamar itu sunyi. Ia mengintip ke dalam dan melihat Kirana Wijaya duduk di tepi ranjang, menatap ke luar jendela.
Dengan penuh rasa puas, Amara Amalia berjalan mendekat dan menarik lengan Kirana Wijaya. “Kirana Wijaya, cepat ganti baju sana. Ada orang mencarimu di luar.”
Kirana Wijaya tak bereaksi, hanya mengelus boneka kelinci di pelukannya.
Amara Amalia kesal, lalu merebut boneka itu. “Kirana Wijaya, aku lagi bicara denganmu!”
Kirana Wijaya menatap boneka yang direnggut, lalu tanpa sepatah kata mengambil pakaian dan masuk ke kamar mandi.
“Krak—”
Ia keluar mengenakan sweater rajut sederhana dan celana jeans. Amara Amalia tersenyum sinis, lalu menarik sudut bibir Kirana Wijaya ke atas. “Ingat baik-baik. Apa yang boleh dan tidak boleh kamu katakan nanti, Jelas?!”
Kirana Wijaya mengangguk pelan.
Baru setelah itu Amara Amalia membuka pintu.
“Krak—”
Rayhan Adinata menoleh ke arah suara itu.
Amara Amalia berjalan dengan lenggak-lenggok ke arahnya. “Tuan Muda Rayhan, ini Kirana.”
Ia menarik Kirana Wijaya ke depan. “Kirana, cepat sapa orang.”
Kirana Wijaya mengangkat kepala perlahan. “Tuan Muda Rayhan.”
Rayhan Adinata terdiam sesaat, menatap gadis itu. “Kamu Kirana Wijaya?”
Kirana Wijaya tidak menjawab, hanya menatap sekeliling seakan rumah yang ia tempati dua puluh satu tahun terasa asing.
Jawabannya sudah jelas. Namun gadis di hadapannya terlalu kurus, seolah masih anak SMA.
Rayhan Adinata duduk, menopang kepala, matanya tak lepas darinya.
Adrian Wijaya akhirnya bicara, “Tuan Muda Rayhan, orang yang kamu mau temu sudah bertemu, jadi Anda…”
“Aku mau membawa Rana pergi.” Ia menarik pergelangan tangan Kirana Wijaya yang kurus, lalu membawanya keluar tanpa ragu.
Adrian Wijaya dan Amara Amalia menatap punggung mereka yang berjalan menuju pintu, kata yang diungkapkan sangkut di tenggorkan, hanya bisalah melihat Kirana Wijaya dibawa pergi oleh Rayhan Adinata.
Ia membukakan pintu kursi penumpang sendiri, lalu menunduk lembut di hadapannya. “Naiklah. Nenek ingin menjumpamu.”
Kirana Wijaya menatapnya, lalu ke arah mobil. Tangannya mengepal sampai pucat, sebelum akhirnya mengangguk dan masuk.
Rayhan Adinata menatap gadis yang gelisah di dalam mobil. Sorot matanya mengeras. Ia mengirim pesan.
【Evan, tolong selidiki bagaimana kehidupan Kirana Wijaya di keluarga Wijaya selama ini.】