“Bisa bicara, Mas?” Suara lembut itu datang bersamaan dengan langkah pelan seorang perempuan yang sudah bertahun-tahun menemaninya dalam suka dan duka. Suara itu tak meninggi, tak menuntut, tapi justru menohok lebih dalam karena kelembutannya. Ia mendongak dari layar laptop, terhentak dari lamunannya. Pekerjaan yang menumpuk, laporan yang belum rampung, dan rasa kantuk yang tadi mulai datang mendadak lenyap. Ia mengangguk, perlahan, dan mencoba menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba menyeruak dari balik d**a. “Masih sakit?” tanyanya, mencoba mengalihkan. Perempuan itu—istrinya, Revlinska—tersenyum kecil. Senyuman yang tetap ia jaga meski wajahnya tampak lelah. Lingkaran gelap di bawah matanya belum sepenuhnya hilang, dan langkahnya pun belum sekuat biasanya. Maklum, baru beberapa har

