Khayra memindai layar laptopnya dengan tatapan tajam dan gelisah. Jari-jarinya bergerak cepat di atas touchpad, menelusuri folder demi folder, memastikan semuanya tersimpan aman. Di layar, deretan file .doc dan .pdf berjajar rapi—hasil kerja keras selama berbulan-bulan. Artikel, transkrip wawancara, catatan investigasi, bahkan potongan percakapan rahasia yang ia simpan dengan hati-hati. Beberapa di antaranya sudah ia enkripsi. Ia tidak main-main dalam hal ini. Ia tahu, kalau sampai data ini jatuh ke tangan yang salah, bukan cuma dirinya yang terancam. Tapi juga narasumber-narasumbernya. Dan tentu saja, reputasi redaksi yang sudah berani mengambil risiko dengan menyelidiki kasus ini. Ia menghela napas panjang. Lalu kembali menatap layar. Hening. Hanya suara jangkrik dari luar rumah dan de

