1. Dendam Lama
"Lepaskan pakaianmu" kata Jay, mengansurkan handuk kering pada Yui, lalu melepaskan mantelnya yang sudah basah. Air yang menetes dari tubuhnya telah membuat genangan air kotor di mobil mewah Jay. Tapi lelaki yang biasa sangat gila kebersihan itu tidak mempermasalahkannya sama sekali.
"Eh?" Kepanikannya yang telah mereda kembali muncul. Tubuhnya yang menggigil mendadak kaku, bahkan giginya lupa bahwa ia sedang bergemertak karena kedinginan hanya matanya cokelatnya yang bersinar ketakutan menatap lurus-lurus ke mata Jay lalu menoleh kearah pengemudi yang terhalang karena ternyata partisi mobil itu telah diaktifkan.
"Kau akan masuk angin" kata Jay sambil menuntun Yui yang masih kaku ke kursi disebelahnya "Apa lagi yang belum aku lihat darimu?" lanjutnya dengan datar seakan-akan ia tidak sedang mengatakan sesuatu yang vulgar.
Napas Yui Kito langsung tercekat, wajahnya yang pucat menunjukkan rona merah samar. Memang benar Jay pernah melihat tubuhnya sebelumnya, tapi ia tidak terlalu memikirkannya karena di waktu itu adalah keadaan khusus.
Jay cepat-cepat menambahkan "Apa yang membuatmu panik, aku hanya mengatakan yang sebenarnya" katanya dengan kalimat menggoda "Lakukan dengan cepat aku tidak akan mengintip"
Melihat Jay benar-benar mengunakan penutup mata yang biasa digunakannya untuk tidur siang di mobilnya dan duduk santai di tempat duduknya, Yui bernafas lega.
Tangan Yui agak bergetar saat ia melepaskan pakaiannya karena kedinginan, membuat ia menjadi makin panik, ia hanya ingin cepat-cepat Yui melepaskan pakaiannya yang benar-benar basah dari dalam hingga keluar, karena ia tidak ingin membuat lelaki itu, yang kesabarannya tidak banyak, menunggu lama.
Tapi, setelah melilitkan handuk disekitar tubuhnya, Yui masih belum tenang. Ia mulai menggigit bibirnya, ragu apakah harus bertanya pada Jay atau tidak
Akhirnya, setalah beberapa saat berfikir Yui Kito bertanya "Aku kau punya pakaian kering?" suaranya masih belum stabil karena menggigil.
"Lihat saja didepan sana" jawab Jay.
"Oh" Benar saja. Ada kemeja Jay yang baru dicuci. Setelah mengunakan pakaian itu, Yui merasa lebih nyaman.
Meski tubuhnya yang kering berangsur membaik dengan pemanas mobil yang disesuaikan otomatis, tapi ia masih menggigil bahkan setelah Jay menambahkan selimut padanya.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Jay melihat Yui Kito sudah mulai tenang dan jernih.
"Ketika aku akan pulang seseorang tiba-tiba membekap mulutku. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Aku tidak tahu siapa mereka dan mengapa mereka melakukannya padaku" kata Yui dan menghela nafas dengan berat, suaranya agak bergetar bukan hanya karena ia kedinginan, tapi juga karena pengalaman yang tidak menyenangkan itu.
Rahang jay yang seperti pahatan itu mengeras "Apa mereka melakukan hal yang buruk?" tanyanya dengan suara rendah.
"Mereka... Mereka mengikatku, tempat itu gelap dan kotor, ada sekelompok pria besar, Mereka mengancam dan mengucapkan kata-kata kotor...kupikir mereka akan..." Yui kito menutup matanya menstabilkan sejumlah emosi negatif dalam dirinya, tubuh kurusnya yang bergetar membuat ia nampak sangat rapuh.
"Apa kau memprovokasi mereka di suatu tempat?" tanya Jay lagi.
Yui Kito menggeleng lemah. Ia tidak memprovokasi siapapun.
"Apa keluargamu punya hubungan buruk dengan keluarga berpengaruh?"
Yui Kito mengigit bibirnya, tidak langsung menjawab. Jangankan diluar keluarga, dalam keluarga saja hubungan antar kerabat sangat buruk. Apalagi keluarganya bergelut dalam bidang politik dengan teman dan musuh ada dimana-mana.
"Apa hubungan keluargamu dan keluarga Hime buruk?" Jay terus mendesak.
Tidak tahan dengan desakan Jay, Yui Kito akhirnya mengangguk "Cinta segitiga" jawabnya dengan penuh ironi "Gadis Hime jatuh cinta pada Ayahku, dan mereka pikir ibuku mencuri calon suami anak gadis kesayangan mereka. Dendam itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Tapi, apa hubungannya denganku? Apa aku meminta ayah dan ibuku menikah? Kenapa mereka tidak melepaskanku dan saudaraku? Keluargaku sudah meninggal semuanya, dan mereka tidak meningalkanku sendirian. Mengapa?" lanjutnya mulai histeris dan terisak.
"Kemari"
"Hm?" Yui yang melilit tubuhnya dengan selimut dan memeluk lutut, memiringkan kepalanya yang tadi terkubur diatas lututnya, matanyanya yang penuh air mata mengerjap bingung.
Tidak menunggu persetujuan Yui, Jay menarik tangannya, sehingga gadis itu mendarat dipangkuan Jay.
"Tidak apa-apa. Jangan menangis, Mereka tidak akan melakukan hal buruk lagi padamu" katanya dengan lembut sambil memeluk tubuh kepompong kurus itu.
Tapi, perkataannya makin membuat air mata Yui berderai lebih lebat "Kupikir... Aku benar-benar takut. Aku takut mereka akan melakukan hal-hal buruk padaku. Aku takut bagaimana anak-anak tanpaku. Aku taku tidak bertemu denganmu lagi"
Semakin Jay membujuk semakin tangisan Yui terdengar menyedihkan. Tanpa daya, ia hanya makin mengelus punggung gadis itu, dan membiarkannya menangis di ceruk lehernya.