AUTHOR POV :
"Kamu terlihat cocok dengan jilbab itu Ra." Devan tersenyum, berusaha menyakinkan Sakura bahwa jilbab tidaklah buruk. "Lihatlah!" laki-laki itu lalu menawarkan cermin kepada Sakura.
Hingga Sakura menatap wajahnya cukup lama. "Ya Dev, aku terlihat lebih baik dengan ini," jawabnya jujur lalu melirik laki-laki di sebelahnya.
Masih ada satu masalah yang mengganjal di kepala Sakura. "Aku tidak bisa berjalan Dev."
"Tenang Ra, aku sudah memikirkan ini matang-matang." Devan lalu keluar hingga beberapa saat kemudian dia kembali dengan sebuah kursi roda.
Sakura melihat kursi rodanya cukup lama. Membuat Devan langsung melambaikan tangannya tepat di depan mata Sakura
"Ada apa Ra?"
Sakura menggigiti jari telunjuknya. Lalu jari itu kini menunjuk ke arah kursi roda. "Apa tidak berlebihan aku naik kursi roda ke sekolah?"
Devan mengernyitkan dahi.
"Maksudku, semua orang akan melihatku nanti. Aku malu Dev."
Devan menggangguk lalu tersenyum. "Hmm.. begitu ya, kalau begitu naiklah Ra, jangan ragu." Laki-laki menawarkan punggungnya untuk Sakura.
Sakura seketika menggeleng hebat. "Tidak Dev. Aku lebih malu lagi."
"Kenapa? Kamu digendong oleh laki-laki tampan sepertiku, kamu harusnya bangga bukannya malu."
Sakura memutar bola matanya.
Devan yang cukup lama jongkok kini memutuskan berdiri. Dia mengamati jam dinding yang kini menunjukkan pukul 07.05
"Pilihlah Ra, atau aku akan meninggalkanmu disini mencium bau obat." Devan melangkahkan kakinya.
"Tunggu De—“ langkah Devan terhenti. Lai-laki itu lalu berbalik dan menawari punggungnya tanpa ada penolakan lagi. Sakura pasrah.
Suasana sekolah yang cukup ramai karena lima menit lagi bel akan berdering membuat kedatangan Devan dan Sakura menjadi sorotan hangat. Bagaimana tidak? Devan adalah artis yang baru saja naik daun.
Baik Devan maupun Sakura, mereka berdua lupa kalau banyak orang yang pasti menyoroti mereka. Bukan hanya siswa melainkan lebih banyak penggemar dan wartawan yang datang dari luar.
Sakura menutupi wajahnya dibalik punggung Devan. "Maafkan aku Dev, aku lupa, aku sungguh lupa."
"Tidak apa-apa Ra. Kita bisa bahas ini setibanya di kelas nanti," balas Devan Sengal.
Kelas cukup sepi, lagi-lagi hanya dua orang laki-laki yang sibuk memandangi novel mereka sambil menggunakan earphone.
"Dev, kamu tahu apa yang kulakukan kemarin?"
"Ngg?" Jawab Devan malas. Energinya betul-betul menghilang ketika dia berada di kelas. "Aku mendaftarkanmu di ekskul basket bagaimana?
"Ha? Ekskul basket? Aku terlalu sibuk. Tidak ada waktu untuk olahraga Ra."
"Ssttt..." Sakura menaruh jarinya tepat di mulut Devan membuat Devan terdiam. "Kamu juga harus sekali-sekali berolahraga Dev."
Devan melemparkan tatapannya keluar jendela lalu mendengus kesal. "Menggendongmu tiap pagi. Itu olahraga baruku. Lagipun aku punya postur tubuh yang bagus. Mau kutunjukkan absku?"
Sakura menggeleng lalu memukul pundak laki-laki dihadapannya. "Dasar c***l!"
Devan menunjukkan eksperi seolah tak bersalah. "Karena itu Ra, jangan membuatku masuk di ekskul basket."
"Sudahlah Dev sudah terlanjur aku tidak bisa mencabutnya kembali. Lagipun kamu tahu betapa sulitnya masuk ekskul ini? Kamu bebas tes Dev."
"Tentu saja, akukan hebat."
Sakura terlihat kesal. "Kalau begitu buktikan pada mereka. Nanti Sore kamu bisa mulai berlatih. Kata mama Shira jadwal pemotretanmu kosong hari ini."
"Oh begitu ya... Kamu mendekatiku dengan kedok mama?" Sakura memutar bola mata.
"Bercanda Ra , iya-iya aku akan masuk. Tetapi dengan satu syarat, kamu harus ikut menontonku nanti."
Sakura mengangguk, perjuangannya melawan laki-laki resek dengan tingkat level kepercayaan diri selangit ternyata tidak sia-sia.
Setelah itu suasana hening menghampiri keduanya cukup lama hingga akhirnya sesuatu terlintas di benak Sakura. "Katanya pak Tresno tidak hadir. Bagaimana kalau kita ke perpustakaan?"
"Perpustakaan? "Ya."
SAKURA POV :
Kami menyusuri rak-rak yang dipenuhi buku. Hingga aku menemukan buku yang kucari. "Buku Olimpiade Kimia".
"Buku olimpiade Kimia?" tanya Devan yang tiba-tiba saja muncul. Dia agaknya tidak betah di tempat ini hingga tidak menemukan buku yang cocok untuknya.
"Ya."
"Untuk apa Ra? Apa kamu tidak puas melihat buku Fisikamu yang sudah setinggi Burj Khalifa itu?" tanya Devan yang saat ini menyandarkan tubuhnya di rak sambil melipat kedua tangannya di d**a.
"Peganglah Dev. Akan kuberitahu nanti." Aku memberikan semua buku yang telah kutemukan kepada Devan. Kami lalu berjalan ke meja. Waktunya membaca.
Kami berdua jalan cukup jauh hanya untuk mencari tempat yang nyaman, aku tidak ingin momen membacaku yang tenang dan damai terganggu karena gosip-gosip tentang Devan. Penggemarnya betul-betul fanatik, bukan hanya di luar sekolah di dalam sekolah pun begitu.
Bahkan, aku curiga Bu Siska guru Biologi kami yang baru menginjak kepala tiga itu jatuh cinta pada Devan.
Hingga langkah kami bermuara di meja yang kira-kira cukup dimuat lima orang.
Aku dan Devan kini duduk berhadapan. Aku fokus membaca buku yang tadi kuambil sedang Devan Dia sesekali menopang dagunya lalu menghela napas panjang dengan sengaja agar aku tahu bahwa dia bosan di tempat ini. Dia tidak pernah sebosan ini sebelumnya.
"Kamu ingin kembali ke kelas Dev? ." tanyaku ketika membuka lembaran berikutnya berisi bab baru.
Devan menggeleng. Dia mendekatkan wajahnya lalu tersenyum kepadaku. "Tidak, selama ada kamu disini."
"Terserah," jawabku kesal lalu lanjut membaca. Devan selalu berkoar-koar kepadaku bahwa dia tampan, wajahnya sungguh tidak manusiawi. Tetapi mengapa dia masih saja melakukan hal seperti itu kepadaku tadi? Ya Tuhan.
"Oh iya Ra, aku lupa memberitahumu." "Ngg?"
"Bukankah besok ada festival bunga?"
"Iya, festival bunga di taman kota. Mau ikut?" Sakura menggeleng. "Aku tidak ingin bolos lagi. "Acaranya sepulang sekolah Ra. "
"Baiklah..." jawabku asal. Aku tidak tahu apakah aku betul-betul akan pergi. Dan laki-laki dihadapanku, aku tahu betul dia tidak suka keramaian, entah apa yang membuatnya terus-terusan mengajakku keluar seperti saat ini.
*
Aku bersyukur Devan menurut kepadaku untuk mengikuti semua mata pelajaran hari ini tanpa terkecuali. Mulai detik ini, aku ingin dia betul-betul berubah dari kebiasaan buruknya dan menggantinya dengan berbagai hal-hal positif yang bisa dia lakukan. Ini perintah mama Shira tetapi, jauh sebelum itu aku memang ingin melakukannya.
Devan anak yang baik, dia hanya tidak tahu bagaimana caranya. Buktinya, sekarang dia menuruti semua perintahku meski semua perempuan di kelas kami menatapnya berkali-kali, tidak terkecuali Bu Siska yang kini membahas persoalan organ reproduksi yang membuat semua anak laki-laki tampak antusias. Dasar. Oh terkecuali satu, Devan dia hanya sesekali menatap papan tulis, sisanya menatap keluar jendela dan arloji. Berharap pelajaran segera berakhir.
Setelah bel berbunyi, senyum Devan merekah. Laki-laki itu langsung menawarkan punggungnya kepadaku sebelum aku selesai dengan urusan 'memasukkan buku ke dalam tas'. Semua orang menatapku sekarang, tidak terkecuali Bu Siska yang berdiri di depan pintu beberapa saat. Dia tidak ingin statusnya sebagai seorang guru buruk dihadapan siswanya, kalau di luar sekolah mungkin dia akan mengumpatku dengan tatapan seperti apa yang orang-orang sekitarku lakukan.
"Jangan hiraukan mereka Ra. Dev berhati-hatilah menuruni tangga," pesan Arabelle kepada kami. Hanya perempuan itu yang mengerti.
"Dasar, tidak tahu malu."
"Awas saja Ra, kami akan menurunkanmu dari jabatanmu sebagai ketua kelas."
Suara teriakan orang-orang disekelilingku mulai terdengar. Bukan hanya teman sekelasku, beberapa orang dari kelas lain pun ikut hadir. Penggemar devan. Siapa lagi?
"DIAM!" Suara teriakan Carolina membuat suasana berubah hening. "Aku yang akan menjelaskan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi. Kalian berhati-hatilah."
Aku dan Devan meninggalkan tempat. Menyisakan Arabelle dan Carolina yang berusaha membelaku. Aku harap dia baik-baik saja setelah berusaha membantuku dan Devan.
"Tunggu dulu Dev. Aku mau ke WC sebentar." Devan menurunkanku. Lalu aku meraih tongkat yang Devan berikan. Dia menggendongku dengan sebelah tangannya memegang tongkat. Tubuhnya yang atletis bisa menjamin itu.
Di WC, aku berusaha mengeluarkan darah yang keluar dari hidungku. Lagi. Kali ini cukup banyak, bahkan Devan yang menggendongku mungkin tidak sadar bahwa darahku menetes di punggungnya. Selain itu, rambutku mulai rontok. Perlahan tapi pasti, sebulan lagi rambutku mungkin botak.
Aku tahu alasan Devan membuatku mengenakan jilbab ini, dia sadar, aku juga sadar tetapi tidak ada diantara kami yang mencoba jujur tentang apa yang sebenarnya kualami.
Setelah merasa baikan, aku keluar. Seketika orang yang baru saja kupikirkan tiba-tiba muncul dan langsung menawarkan punggungnya.
Selang beberapa lama, kami akhirnya tiba di tempat yang kini dipenuhi oleh orang yang siap memasukkan bola ke dalam ring.
Devan menurunkanku tepat di bawah pohon.
"Aku sudah menghubungi Arabelle tadi. Katanya dia akan menyusul," ujar Devan. Aku mengangguk.
"Tunggu dulu Ra, apa dia Andi?" tanya Devan setelah mengganti pakaiannya di tempat.
Aku lantas membuka mata setelah menutupnya terlalu lama. "Ya, dia Andi. Ada apa Dev?"
"Kenapa kamu tidak bilang Ra kalau laki-laki b******k itu juga ikut."
"Untuk apa? Fokuslah Dev. Jangan karena Andi kamu menjadi takut. Sampai kapan?"
Devan menatapku cukup lama. "Baiklah," laki-laki itu lalu berlari-lari kecil menyusul yang lain ke tengah lapangan.
Entah mengapa aku bahagia ketika ternyata Devan dan Andi berada dalam satu tim. Sedangkan kapten tim lawannya adalah Bram. Pertandingan ini akan jadi pertandingan yang menarik. Dan benar saja, tidak berselang lama, banyak orang yang berkumpul menyaksikan mereka berdua.
"Skornya sudah berapa Ra?" tanya Arabelle yang tiba-tiba saja duduk di sebelahku. Dia datang bersama Carolina.
"Baru saja mulai." Aku tersenyum. Setidaknya mereka ada di sekitarku, bukan orang-orang yang akan melemparkan tatapan tajam.
"Oh iya, minumlah ini Ra," kata Carolina menawarkanku minuman berisotonik.
"Terimakasih," aku menerimanya, kebetulan tenggorokanku terasa kering. Matahari cukup terik.
Setelah itu, kami bertiga fokus mengamati Devan dan Andi yang saling mengoper satu sama lain. Mereka betul-betul pandai dalam bermain. Entah mengapa aku merasa bahwa mereka punya teknik tertentu hingga bola bisa masuk ke ring berkali-kali menandakan hubungan mereka cukup erat sebelumnya.
Suara teriakan dan sorak-sorak penonton yang semakin banyak membuat sekolah cukup ramai. Ditambah wartawan dan penggemar Devan yang datang dari luar. Aku tersenyum, lalu mengirimkan video pertandingan Devan yang masih saja berlangsung kepada mama Shira