5. Papa Impian

1744 Words
Matahari keemasan perlahan merangkak ke ufuk barat, menumpahkan cahaya lembut yang membelai permukaan langit. Hangatnya sinar sore berpadu dengan semilir angin malam yang mulai menyusup, mengibaskan helaian rambut panjang seorang wanita berparas cantik. Langkahnya santai, menghirup aroma sore sambil menggendong putri kecilnya di punggung. “Sore mbak Dinda…” Seorang pemuda menyapa ramah Dinda yang sedang melintas di tepi jalan kampung pinggiran kota Jakarta, Dinda pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Seperti sore-sore sebelumnya, Dinda baru saja pulang kerja dan menjemput Bella dari rumah Bu Sum. Ada rasa hangat yang selalu ia simpan di hati: suatu saat, Bella akan tumbuh besar dan tak lagi ingin digendong. Momen sederhana ini, akan menjadi kenangan yang tak tergantikan. Namun, ada hal yang berbeda hari ini. Entah mengapa, lebih banyak lelaki yang menyapanya dibanding kemarin. Dari yang sekadar sopan, setengah bercanda, hingga yang terang-terangan menggoda. Dinda sampai lelah menahan senyum. Dan dari semua sapaan itu, ada satu yang paling berkesan, bukan karena menyentuh hati, melainkan membuatnya nyaris tergelak di jalan. “Bella…, mau punya papa nggak?” tanya seorang pria yang berjalan di sampingnya. Celana selutut, kaos hitam, tas kecil melintang di d**a, dan wajah legam tersengat matahari. Senyumnya lebar, matanya tertuju pada Bella. “Mau,” jawab Bella polos. Dinda tetap melangkah, pura-pura tak terlibat, sementara dari kejauhan warga kampung yang melihat mulai bersorak kecil. “Mau nggak kalau om jadi papa kamu?” lanjut pria itu tanpa basa-basi. Sorakan semakin ramai. Ada yang berteriak, “Huuu…” ada pula yang menggoda, “Jangan mau, Bell!” “Nggak mau!” jawab Bella lantang. “Loh, kenapa? Om punya banyak uang loh, punya mobil, punya rumah besar… Kalau jadi anak om, tiap Minggu kita jalan-jalan.” “Nggak mau… soalnya om jelek!” Suasana pecah. Warga tertawa terpingkal, pria itu ikut tertawa meski wajahnya sempat memerah. Dinda menahan tawa sampai rumah, lalu meledak, tertawa sambil memegangi perut. Sementara Bella duduk manis di dalam, makan burger tanpa merasa dirinya baru saja menjadi bahan cerita satu kampung. Dinda tahu, alasan banyak pria menoleh sore ini karena penampilannya, rok yang sedikit lebih pendek dari biasanya, rambut panjangnya terurai, lembut, memantulkan cahaya sore, membuat wajah cantiknya semakin terpancar. Dalam hati ia berjanji, tak akan lagi bersikap sembrono seperti itu di kampung atau di tempat kerja. “Kamu tau nggak, Bel? Kadang…, laki-laki ganteng itu suka nyakitin perempuan loh,” ucap Dinda lirih, duduk di samping putrinya sambil membersihkan wajah dari sisa riasan. Contohnya… papamu, batinnya. Bella mendengus, “Kadang laki-laki jelek juga suka nyakitin perempuan! Rama jelek, tapi suka mainin rambutku terus. Udah kubilang ‘jangan mainin! Nggak sopan!’ Tapi dia tetep aja mainin rambutku sampai aku nangis. Aku nggak suka laki-laki jelek!” Dinda tersenyum tipis. “Iya, iya… berarti kamu beneran suka yang ganteng.” Ia memilih mengalah, tak ingin memperpanjang perdebatan. Sore menjelang malam. Seusai mandi, mereka sholat Maghrib bersama, lalu Dinda menyiapkan makan malam sederhana, ikan goreng dan nasi hangat. Saat ia sibuk di dapur, ponselnya berdering. Untunglah Bella cepat-cepat mengambil dan menyerahkannya pada ibunya. “Terima kasih…,” ucap Dinda lembut dengan bibir terkembang, membiasakan anaknya mengucap terima kasih setelah ditolong orang lain. “Sama sama…,” Jawab Bella dengan senyuman nyengirnya yang khas. Ia lalu kembali ke rumah, duduk di depan tv, sibuk memainkan slime hijau di atas lantai, mainan yang ia beli dari sekolah. “Assalamualaikum, Beb. Ada apa?” sapa Dinda pada Laila, sahabat kantornya. Klik… Dinda mematikan kompor nya. Mengangkat ikan goreng yang sudah matang. “Din, besok sekitar jam sepuluh pagi kamu ada acara nggak?” “Hmm...” Sejenak Dinda berpikir, mengingat ingat agenda hari Minggu besok. “Ada!” ia ingin tidur seharian, Itulah yang selalu Dinda inginkan selama ini. Tidur dari pagi sampai sore tanpa ada yang mengganggu. Tapi Dinda tahu, itu hanya ada dalam angannya. Kehidupan seorang ibu tentu tak bisa bebas sesuka hati. Setiap kali ada di rumah, Bella selalu membuntuti dirinya, ikut memasak di dapur, ikut menjemur baju di luar, ia bahkan ikut masuk ke kamar mandi saat Dinda mandi, tak peduli nafasnya terkadang gelagapan karena terkejut saat ada air yang terciprat di wajahnya. Namun bayinya yang suka membuntuti dirinya kini sudah besar, tak suka lagi mengekor, lebih suka diperhatikan dan di manja, di dengar ketika bicara, di ajak jalan jalan keluar, beli jajan dan mainan. “Apa kegiatanmu besok, Beb?” Suara Laila memecah lamunan Dinda. “Tidur.” jawab Dinda cepat, emang bisa? pikirnya sinis. “Ya elah tidur, kirain mau ke pengajian.” Dinda tergelak, “Hm…, kayaknya boleh tuh, rasanya sekarang aku makin jauh dari Allah.” “Din, besok ikut aku aja ya? Pliss…” rengek Laila dari balik telpon. “Kemana?” Tanya Dinda seraya menyendok nasi ke piring, menaruh ikan goreng di atasnya. “Temenin aku beli baju party di mall. Bulan depan ada party ulang tahun perusahaan.” Dinda menghela nafas, “Kamu nggak ajak Tiara aja? Dia kan paling up to date soal fashion” Dinda akui, baju Tiara memang selalu bagus, dan dandanannya yang menor, membuat dia terlihat paling mengerti tren. Walau kadang menurutnya ada beberapa model baju yang kurang sesuai dengan tubuh Tiara. “Tiara emang bagus bagus sih bajunya, tapi aku lebih suka gaya kamu. Sederhana tapi kelihatan bagus di pakai. Saran mu kemarin tentang bajuku yang kamu lipat dikit di bagian d**a dipuji teman teman ku, katanya bajuku bagus. Dalam ati aku ketawa dong. Aku kan udah sering pakai baju ini, mereka aja yang nggak nyadar kalau aku lipat dikit di bagian d**a, look nya jadi kelihatan mewah.” “Baguslah kalau kamu puas. Kalau kamu butuh saran lagi bilang aja, aku pasti bantuin kamu.” Dinda senang ada yang merasa terbantu dengan sarannya, senang merasa dihargai, bahagia akhirnya punya teman. “Besok ikut aku ya? Aku butuh saran buat milih baju party, hm…, di party itu aku punya crush yang harus aku dapetin.” “Oh…, ternyata ini tujuannya? Ganteng gak tuh cowoknya?” “Ganteng dong…, kata ibunya, hehe… dia temen SMP ku.” “Dan kamu naksir dia sejak SMP?” Tebak Dinda. “Iya, hehe…,” Laila terkekeh. “Oke oke, Ibu peri akan memilihkan baju paling cocok buat kamu.” ucap Dinda antusias. Perlahan kakinya berjalan ke ruang tengah dengan makan malam di tangannya. Ia lalu Duduk di samping Bella yang sedang asyik dengan dunianya sendiri. “Jangan lupa jam sepuluh kita udah harus berangkat ya?” Nada semangat jelas terdengar di telinga Dinda. “Baik Bestie, Btw kita janjian di mana nih?” “Kamu share loc aja, besok aku samperin di rumahmu.” “Oke” jawab Dinda lagi, dengan jari jarinya, ia mengambil sesuap nasi dan ikan, lalu menyuapkannya pada Bella. “Assalamualaikum…” tutup Laila. “Waalaikumsalam…” jawab Dinda, sebelah tangannya mematikan sambungan telepon. “MAMA…!!! jangan masukin nasi ke hidung ku.” Teriakan Bella membuat Dinda sontak menoleh ke arah putrinya, bibirnya menganga terkejut, gara gara terlalu fokus pada telepon, suapannya ternyata ia arahkan ke hidung Bella, buru buru ia masukkan nasi itu ke mulut putrinya. “Maafin mama, Sayang.” ucap Dinda seraya membersihkan sisa nasi yang menempel di hidung putrinya. Diam diam ia menyimpan gelinya, Bella terlihat lucu dengan hidung yang dipenuhi nasi dengan bibir yang cemberut. Dinda lalu menarik tubuh putrinya duduk di pangkuannya, merayunya agar tak cemberut lagi. “Maafin mama ya?” Rayu Dinda sembari mencium pipi gembil putrinya. Tapi gadis itu menggeleng. Dahi Dinda berkerut, tak biasanya Bella mudah marah begini. Atau jangan-jangan dirinya yang keterlaluan? Dinda makin cemas Bella bahkan menggeleng saat ia suapi kembali. ‘Ada apa dengannya?’ pikir Dinda. “Bella udah kenyang?” tanya nya. lagi lagi Bella menggeleng. “Terus kenapa udah nggak mau makan?” Lagi lagi Bella menggeleng. Dinda tau ada yang tak beres. “Ada apa sayang?” Dinda memutar tubuh kecil itu menghadap padanya. Bukannya menjawab, gadis itu justru menelusupkan wajahnya dalam pelukannya. Hati Dinda seketika patah saat merasakan tubuh anaknya bergetar. “Ada apa, Sayang? Cerita dong.” Suara Dinda dibuat setenang mungkin. Namun lagi lagi gadis itu menjawab dengan gelengan kepala. “Ah…, aku tau, Bella ngambek gara gara dimarahi Bu Sum ya?” Tebak Dinda. Bella menggeleng. “Di marahin Bu guru?” Bella menggeleng. Dinda mulai kehabisan sabar. “Marah gara gara om Amin tadi minta jadi papa Bella?” Dinda tak tahu, jurus apa lagi yang harus ia kerahkan agar Bella bicara. “Ya udah nanti tak bilangin om Amin, kalau kamu sekarang mau jadi anaknya.” “Nggak mau! Aku nggak mau om Amin jadi papaku!” Teriakan Bella justru membuat Dinda senang, puas gadis kecilnya akhirnya mau bicara. “Makanya ngomong sama mama apa yang sedang kamu pikirin, biar mama gak salah faham.” Kepala Bella menunduk, berkata sambil menatap lantai rumah yang dingin, “tadi…, teman teman disuruh bu guru maju ke depan kelas.” Suara lirih Bella membuat Dinda harus ekstra fokus mendengar. “Terus?” tanya Dinda karena Bella tak kunjung melanjutkan ceritanya, firasatnya tak enak. “Aku nggak mau maju.” “Kenaoa nggak mau maju? Bella kan anak pemberani?” “Di depan kelas teman teman bisa menyebutkan nama mama dan papanya. Tapi aku nggak tau nama papaku.” Seketika Dinda memeluk erat tubuh Bella. Maafin mama sayang, ini salah mama. maafkan mama. maafkan mama. Tangis Dinda dalam hati. “Aku kan nggak punya papa, makanya nggak ada namanya.” Dinda mengangguk angguk, kamu benar sayang, papa mu nggak ada jadi namanya juga nggak ada. batin Dinda sedih. Entah mengapa ia masih belum siap mengatakan pada Bella siapa papanya, ia bahkan tidak rela Bella tau siapa nama papanya, setampan apa wajahnya. Suatu saat sayang, saat waktu yang tepat, saat kamu mulai mengerti, mama akan beritahu siapa papamu, siapa namanya, dan tinggal entah di mana. “Makanya cepetan cariin aku papa, biar aku bisa maju ke depan.” Kata kata itu spontan membuat air mata Dinda surut, rupanya Bella tak sesedih yang dia pikirkan, dia hanya sedang marah. “Papa Amin mau?” goda Dinda. “Gak mau!!” Bella cemberut lagi. Buru buru Dinda memeluk putrinya lagi. “Iya iya mama cariin yang ganteng.” Hadeh…, bisa aja cara ngambek Bella biar cepat dapat papa baru. Malam itu seperti biasa, setelah Bella menyatakan kegundahan hatinya, gadis kecil itu akhirnya terlihat ceria lagi, ia bahkan membuat ulah, selesai makan Dinda yang sedang berada ke dapur, membersihkan piring kotor bekas makan, langsung syok saat kembali ke rumah, menjerit tak percaya melihat putrinya. “Bella…!!” bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD