6. Bella Rese

1837 Words
“Bella…!!” Dinda berteriak, syok berat ketika kembali ke rumah, terkejut melihat slime yang awalnya berada di lantai kini berpindah ke rambut putrinya. “Ya Allah, Bel. Kenapa slime nya di taruh di rambut? Kamu pikir ini sampo? Gimana cara ngilangin?” gerutu Dinda seraya memunguti slime di rambut putrinya, namun sulit, slime itu menempel bagai lem. Semakin ia ambil semakin masuk ke dalam rambut. “Gak papa, Ma. Kalau slime di taruh di rambut besok rambut ku bisa jadi warna hijau, bagus kan?” Bella menjauhkan kepalanya yang di penuhi slime hijau. “Bagus apanya! Rambut normalnya di cat warna merah atau pirang, bukan hijau kayak gini, mau model rambut gaya apa? Kangkung?” Gerutu Dinda seraya menuangkan baby oil di rambut putrinya. “Mama, pelan-pelan, sakit!” Keluh Bella seraya bangkit berdiri. Menjauh dari Dinda. “Sini, Bel. Rambut kamu kayak rambut ODGJ. Gimbal kayak nggak pernah di cuci.” Dinda berdiri mengejar Bella, namun Bella justru berlari. Malam itu Dinda frustasi karena sulit membersihkan rambut Bella, di tambah drama menangis saat Dinda mencuci rambut dan memandikannya. Dan semua berakhir setelah pukul sepuluh malam, Bella yang capek menangis akhirnya tertidur, bergelung merapat ke dinding, tak mau di dekati Dinda. *** Walau bulan ini musim hujan, rintik air hampir setiap hari membasahi jalanan, namun langit hari ini terlihat biru, cerah, secerah wajah wanita yang sedang tersenyum ketika melihat putrinya. Dinda yang sedang menyapu lantai bahagia melihat Bella tak lagi marah seperti malam tadi. Ia hafal betul sikap putrinya, tak pernah lama ketika marah. Seperti anak anak pada umumnya. Marah sesaat karena keinginannya di tentang orang tuanya, lalu akhirnya menyesal, tak bisa hidup tanpa ibunya. Minggu pagi ini Dinda sudah janjian dengan sahabatnya, Laila. Jalan-jalan ke mall untuk belanja baju. Sebenarnya ada yang mengganjal hati Dinda. Harus menjawab apa saat Laila nanti melihat Bella. Apa harus berterus terang jika Bella adalah anaknya? Atau…, sebaiknya ia bohong? Bella adalah ponakannya? Betul, ia cukup menjawab Bella adalah ponakannya yang di titipkan padanya dan sudah terbiasa memanggilnya mama. Aneh kah? Ah semoga saja tidak, semoga Laila tidak curiga. Pagi itu, Bella langsung melompat bahagia saat di beritahu akan jalan-jalan ke mall. Yang awalnya ogah-ogahan mandi, langsung minta mandi, lalu dengan mandirinya memakai baju sendiri kemudian menyapukan bedak di wajahnya. “Teman mama masih lama?" Ini adalah pertanyaan kelima Bella. Tak sabar pergi jalan-jalan. Dia bahkan menceritakan pada temannya yang datang ke rumahnya untuk bermain. Jika ia tak bisa main di luar, tak bisa main lama-lama karena sebentar lagi mau jalan-jalan. Namun sekarang yang terjadi justru membuat Dinda geleng-geleng kepala, Bella main masak-masakan di halaman sampai berpeluh peluh, keringat membanjir di dahi dan lehernya, kecapekan karena jalan dan lari untuk mencari tanah dan dedaunan sebagai bahan masakan. Tak peduli Dinda mengomel agar jangan main tanah. Saat di tegur agar Bella tak main tanah karena bisa berkeringat dan bau, gadis itu justru menjawab dia nanti akan mandi lagi. Brumm… Sebuah Honda Brio warna lime terparkir di depan rumah Dinda. Bella yang sedang bermain seketika melepas mainannya, mencuci tangannya secepat kilat, kemudian berlari mendekat ke mobil. Laila yang baru saja membuka pintu terkejut bukan main, seorang gadis kecil berdiri menyambutnya. “Wah… mobil kakak seger, bagus banget, warnanya kayak jus alpukat buatan mama.” Celoteh Bella dengan suara riang. Tentu saja dahi Laila berkerut, bingung anak siapa ini? Kenapa sok kenal sok dekat dengan dirinya? Lebih terkejut lagi saat Dinda mendekat, memegang tangan gadis kecil itu. Pakaian mereka sama, sama-sama pakai dress warna pink, memakai tas selempang warna merah. Jika rambut panjang Dinda di gerai hingga punggung, namun gadis kecil itu imut dengan dua cepolan di atas kepalanya. “Dia siapa?" Tanya Laila sambil memandangi Dinda, jari telunjuknya menunjuk Bella. "Aku anaknya mama Dinda.” Doeng… kepala Dinda bagai di jatuhi batu dari langit, pusing, dunianya berputar pening ketika melihat Laila terkejut. Tangannya terlambat membungkam mulut putrinya. Padahal rencananya sebelum Laila tanya siapa Bella ia ingin berbisik jika gadis kecil itu adalah ponakannya, namun Bella terlanjur membuka kartu mereka. “Dia anakmu?” Laila syok, terkejut, sama sekali tak menyangka jika Dinda sudah punya anak. "Bukannya kamu bilang belum nikah?” Laila lalu mendekat, " apa dia hasil kamu bercinta dengan pacarmu?” Bisik Laila pelan. Sudah bukan rahasia lagi, jika anak-anak rantau tinggal sekamar dengan pacarnya di tempat kos, tanpa ikatan apapun. Hasilnya? Ya seperti Dinda, punya anak tanpa ayah. “Nanti kalau waktunya pas, ku jelasin,” jawab Nina dengan berbisik pula, setelah itu nyengir. "Ya udah, kalian udah siap kan? Ayo berangkat." Ucap Laila. “Bentar, aku mau mandiin Bella. Katanya dia mau mandi lagi, dia udah keringetan.” Dinda celingukan mencari putrinya, "mana dia?” Gumam nya. "Tuh, udah naik mobil.” ujar Laila seraya menunjuk Bella yang sudah duduk manis di dalam mobil. Dinda mendekat, meraih tangan Bella “Ayo mandi," ucapnya. “Nggak mau. Aku belum bau, cuma keringetan," jawab Bella seraya menjauh dari jangkauan Dinda. Kedua tangannya kemudian menyeka dahi dan lehernya dengan tisu. “Udah kering, ayo berangkat.” Bibir Bella nyengir. Dinda menghela nafas tak menyangka dengan akal-akalan putrinya. Dinda pun pasrah, kembali ke rumah, menutup pintu lalu menguncinya. Sebelum pintu mobil di tutup, Bella melambaikan tangannya, berpamitan pada temannya yang sejak tadi memperhatikan. Dalam perjalanan, Bella yang duduk di pangkuan Dinda di kursi depan terus bicara, menanyakan apa saja yang ia lihat. Dinda lalu minta maaf pada Laila karena putrinya berisik, mengatakan jika anak kecil memang seperti ini, saat hatinya sedang bahagia, maka dia akan banyak bicara. Untunglah Laila tak mempermasalahkannya. Selain cantik dan imut, pertanyaan-pertanyaan Bella yang aneh justru lucu dan menghibur. Cukup menghibur sebagai pengganti radio. Tak lama kemudian mobil Laila akhirnya tiba di sebuah Mall besar. Karena akhir minggu, mall lumayan ramai, harus antri ketika memasuki basement untuk parkir. "Besar banget mallnya, mobil yang parkir juga buanyak." Bella berteriak girang. "Kamu suka?" Tanya Dinda saat mobil mulai parkir. Bella mengangguk, matanya berbinar menatap sekitar. Tak sabar ingin segera masuk. Tak berapa lama, Dinda, Bella, dan Laila sudah berada di dalam mall. Dinda dan Laila berjalan santai, namun Bella berlari lari, naik eskalator tanpa takut hingga tiba di salah satu gerai pakaian bermerek. Baru kali ini Dinda masuk toko baju bermerek. Toko yang menjual berbagai pakaian bermerek internasional, dan hanya orang-orang elit yang belanja di sini. Dinda yang tak pernah beli baju bermerek seketika merasa miskin. Walau begitu, selama ini dirinya pandai memilih baju cantik dan unik dengan kelas yang lebih rendah, tentu saja dengan bahan yang lumayan bagus. Berbagai baju tertata rapi di tempatnya. Ada juga yang di pakaikan pada manekin yang tersebar di beberapa titik, ada yang bergaya berdiri dan ada juga yang duduk. Jika Dinda tampak tenang berjalan bersama Laila untuk memilih gaun. Bella justru lari-lari di antara gantungan baju. Dan langsung berhenti tatkala melihat tiga manekin yang berjajar, dua sedang duduk dan yang satu berdiri. Dinda memutar bola matanya saat Bella mengajak para manekin itu bicara, lalu menjawabnya sendiri. Kebiasaan yang sering di lakukan putrinya akhir akhir ini di depan cermin. “Lucu banget sih Bella, dia kayak ngasih ceramah dan para manekin percaya hihihi….” Laila menertawakan Bella. Dinda tersenyum kecil, "Di rumah dia selalu seperti itu di depan cermin, ngajak ngomong dirinya sendiri, dia bahkan hafal dan suka meniru iklan yang sering lewat di YouTube dan tv.” Dinda lalu berbalik, mengambil baju yang tadi mencuri perhatiannya. "Din, lihat Bella. Dia…, wahahaha…” Laila menarik-narik tangan Dinda sambil tertawa terbahak-bahak. Dinda yang ikut melihat ke arah Bella, seketika ikut ketawa melihat putrinya sedang salim ke manekin sambil mengecup tangannya, seolah sedang salim ke orang yang lebih tua. Bella akhirnya sadar di tonton oleh orang tuanya dan Laila, bahkan pengunjung lain, gadis itu nyengir, berlari-lari ke arah Dinda. Setelah drama Bella pada manekin tak ada kejadian aneh lagi. Dinda membantu Laila memilihkan gaun malam yang cantik. Walau dalam hati ia selalu menjerit syok tiap kali melihat harga harga gaun malam di toko itu. Dengan ekonominya sekarang ia tak akan pernah bermimpi punya gaun dari toko ini yang harganya satu juta hingga sepuluh juta. Dan bisa lebih mahal jika memesan gaun edisi tertentu. Dinda baru sadar jika Laila tuan putri, anak konglomerat kaya raya sejak zaman belanda, bekerja hanya untuk mengisi waktu luangnya. Beda dengan dirinya yang hanya gadis miskin yang bekerja untuk bertahan hidup. Dan Laila yang baik hati menyuruh Dinda membeli baju, namun karena Dinda menolak, ia membelikan baju untuk Bella, dia bahkan langsung menyuruh Bella ganti baju, tak sabar melihat Bella dengan dandanan bocil khas Korea yang imut, melepas cepol nya, membiarkan rambut panjangnya terurai. Di depan cermin, tak hanya Bella yang bersorak melihat penampilan barunya, Laila juga ikut heboh, menciumi pipi gembilnya, mengatakan jika Bella imut banget. Setelah Laila membayar baju, mereka menuju kafetaria. Membeli makanan dan minuman. Waktu menunjuk angka dua belas siang, pantaslah perut sudah meronta ingin segera di isi. Bella seolah punya batre cadangan, selagi makan siang ia minta bermain di playground. Untunglah Playground tak jauh dari mejanya, jadi Dinda bisa istirahat makan siang sembari menjaga Bella yang sedang bermain. Sesekali gadis itu datang untuk minta minum dan suapan makan. Bella ternyata hanya bermain setengah jam, mengeluh jika kepalanya pusing. Dinda lalu memangku Bella, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya, memeluknya dan membelai rambutnya yang basah oleh keringat, mengatakan jika Bella kelelahan karena terlalu banyak lompat lompat dan lari di playground. Dinda lalu melanjutkan suapannya, sebaiknya ia segera pulang setelah nasi Bella habis. “Ma, aku mau main lagi," rengek Bella berusaha turun, namun Dinda menahan nya. "Gak boleh, sakit kepalamu nanti tambah parah.” “Tapi aku udah nggak pusing.” Bella mengangkat kepalanya, menjauh dari d**a ibunya. Berusaha meyakinkan jika ia sudah baik baik saja. “Kamu udah gak kuat sayang, kamu udah kelelahan. Nanti kapan-kapan kita kesini lagi, main dari pagi sampe kamu puas.” “Janji?" Mata Bella berbinar menatap ibunya. "Iya, mama janji,” jawab Dinda seraya menyodorkan s**u ke bibir Bella. Gadis itupun menerima, menyeruput nya dengan mata terpejam. Dinda tahu, tak butuh satu menit bagi putrinya untuk tidur. Bella memang sangat mudah tertidur. Saat bayi ia bahkan bisa tidur saat sedang mandi, saat makan, bahkan Bella pernah tidur di tepi kasur, hendak naik ke kasur tapi karena terlalu ngantuk ia tidak kuat naik, alhasil tidur di tepi dengan posisi sebelah kaki di atas kasur dan satunya masih di bawah. “Dia sudah tidur?” bisik Laila tak percaya sambil mengintip Bella. Dinda pun mengangguk. "Udah siap pulang?" Jika Bella sudah begini tak ada lagi yang di inginkan Dinda selain menaruhnya di kasur. “Bentar ya? Aku mau ke toilet dulu." Laila kemudian beranjak, lalu menghilang di toilet. Dinda mengalihkan pandangannya, melihat ke sekitar, berusaha menikmati orang-orang yang sedang makan di sekitarnya, sesekali mobil-mobilan aki yang dikendarai anak anak melintasi area kafetaria. Saat sedang melihat-lihat anak anak yang main mobil-mobilan, mata Dinda tiba-tiba menangkap sosok tak asing. Sosok yang harusnya tak pernah ia temui, berharap tak pernah lagi bertemu dengannya. Juno? Kok dia kesini juga? Rintih Dinda dalam hati. Ia harus sembunyi, pria itu tak boleh melihatnya apalagi sambil membawa anak kecil. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD