7. Juno Atau Zef?

1272 Words
Juno? Ngapain dia di sini? Mata Dinda melotot, tak percaya pria itu berjalan ke arah kafetaria. Semoga dia gak ke sini ya Allah…, semoga dia gak lihat aku. Terus jalan… terus jalan Juno, cari tempat lain yang lebih nyaman. Di sini gak enak, ramai, terlalu dekat sama playground dan game zone. Dinda menundukkan wajahnya, matanya menutup rapat dengan hati terus berdoa, semoga pria yang tak ingin ia lihat jauh-jauh darinya, dan tak melihat dirinya. Perlahan Dinda mengangkat wajahnya, ujung alisnya turun karena penasaran, melihat keadaan sekitar, apakah pria itu sudah pergi? Sangat takut kalau pria itu justru melihat dirinya. Deg… Doa Dinda ternyata tak manjur, Juno duduk tak jauh darinya, tapi untunglah dia membelakangi dirinya. ‘Dia gak melihatku kan?’ Dinda menggigit bibirnya cemas. ‘Aduh, mana sih Laila? Lama banget dia ke toilet?’ Sebelah tangan Dinda menggosok-gosok kakinya tak sabaran. Keringat sebesar biji jagung perlahan mulai membasahi dahi Dinda, jantung terpompa cepat tiap kali Juno bergerak di atas kursinya. Pria itu seolah sadar ketampanannya mengandung magnet, para wanita di sekitarnya sering kali melihat ke arah Juno. Memperhatikan betapa tinggi tubuh pria itu, dadanya yang bidang terlihat menonjol berotot, lengannya keras dan atletis di balik kemeja navy, wajah nya yang tampan, sempurna dengan mata tajam, hidung mancung, dan bibir tegas. Wajah yang simatris itu semakin elegan dengan rambut yang tertata rapi ke samping dan belakang. A-apa yang dia lakukan? Kenapa memutar kursinya? Wajah Dinda kembali menunduk dalam-dalam. “Kamu kenapa Dinda?" Sebuah Suara membuat Dinda membuka matanya, Laila duduk di kursinya, dan Dinda mengintip dengan wajah yang masih bersembunyi. Bibirnya tersenyum nyengir. "Aku…, aku…,” Dinda melirik Juno, pria itu duduk menghadap samping. Kaki panjangnya tak cukup di bawah kolong meja, keluar, menyilang elegan, sesekali memantau arloji di tangannya, sepertinya sedang menunggu seseorang. “Kamu takut ketahuan Pak Zef?” Tanya Laila, ia terlihat santai, menyeruput jus mangganya. "Pak Zef?” Siapa itu? "Iya, Pak Zef.” Laila menunjuk Juno dengan janggutnya, “wajar sih kalau karyawan takut ketemu bosnya di tempat umum. Apalagi Pak Zef terkenal suka ngungkit-ngungkit kesalahan karyawan. Jadi jangan pernah buat kesalahan di depannya atau dia selalu ingat kekurangan kita. Lalu memarahi walau kesalahan kita kecil.” Nama dia di sini Zef? Kenapa Zef? Bukan Juno? Dia sudah nggak jadi dokter kah? Malah mimpin perusahaan kesehatan? Iya sih nggak terlalu melenceng dari profesinya dulu, tapi kenapa? Nina akhirnya bisa mengangkat wajahnya. Pria itu kembali memutar kursinya, seolah tak sabaran menunggu seseorang. “Gimana? Sudah siap pulang?" Tanya Laila seraya menumpuk piring kosongnya di atas piring Dinda. Dinda mengangguk bahagia, senyum kecil tak bisa ia sembunyikan. “Tanganku udah capek gendong Bella." “Eh, lihat Din. Ada cewek nyamperin pak Zef." Laila berbisik ke arah Dinda, gadis itu dengan sigap menyalakan ponsel, mengarahkan kamera pada Juno yang duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik, wajahnya tegas, punya rahang tinggi, tubuhnya semampai, bibirnya yang tebal oleh suntik filler terlihat merah menawan, gigi-giginya rapi ketika tersenyum, namun langsung kehilangan senyum saat Juno menolak bersalaman dengannya. "Ih, Pak Zef jahat banget, nggak mau salaman sama cewek itu." Gerutu Laila, kameranya tetap on membidik Juno dan wanita di depannya. “Itu pasti akal-akalannya saja sok jual mahal di awal. Tapi akhirnya terpikat juga.” Sama seperti yang Juno lakukan dulu padanya. Dulu dirinya mati-matian mengejar cinta pria itu, namun dia terus menolak dengan alasan jarak usia mereka terlalu jauh, saat dirinya menyerah, Juno justru mendekat, mengambil kehormatan nya, lalu pergi begitu saja. Seolah tak ada apa-apa di antara mereka. “Salah kamu, Din." Manik mata Laila menatap bola jernih Dinda. "Semua orang di perusahaan juga tau, ibunya pak Zef selalu mencarikan wanita buat dia, menjodohkan dengan banyak wanita supaya dia cepat menikah. Tapi pak Zef selalu menolak. Aku yakin, cewek ini pasti di tolak juga.” Laila kembali melihat ke arah Juno. “Belum tentu juga sih.” Dinda berharap mereka cocok, agar Juno tak mengganggunya. Kemarin dirinya bertemu pria itu di lift perusahaan. Menganggap dirinya masih sama seperti dulu. Tapi untunglah dirinya sudah menolak, mengatakan jika dirinya bukan Dinda. Juno salah orang. “Aku jadi penasaran, seperti apa selera pak Zef.” "Uhuk…!!" Anggur di mulut Nina tiba-tiba tertelan utuh ke tenggorokan. Tangannya bahkan harus meninju pelan dadanya agar anggur itu cepat turun ke dalam lambung. Untunglah Laila memberinya air mineral. Dinda pun langsung menenggaknya. “Terima kasih, ucap Dinda setelah selesai minum. “Pak Zef pergi, Din." Suara Laila pelan. Menyuruh Dinda memperhatikan Juno juga. "Tuh dia maukan sama cewek itu.” Entah mengapa ada rasa perih di hatinya ketika melihat Juno berjalan bersama dengan wanita itu, dia bahkan membiarkan wanita itu bergelayut manja di lengannya yang atletis. Ah kalau sudah sering melihat mereka seperti itu, pasti juga mulai terbiasa. Nafas panjang menghembus cepat di hidung Dinda, rasa lega luar biasa menyeruak di dadanya saat Juno akhirnya benar-benar menghilang bersama wanita itu. Tak menyangka semua berjalan lancar, Juno tak menyadari kehadirannya. “Yuk pulang.” Laila berdiri, menjinjing barang bawaannya, sekaligus milik Dinda. “Makasih.” Ujar Dinda sewaktu mereka berjalan meninggalkan kafetaria. *** “Din, cerita dong siapa suami kamu? Atau ayah Bella?” Entah mengapa menurut firasat Laila ada yang tak beres dengan ayah Bella. Dinda belum menikah, tapi bagaimana bisa sudah punya anak? Atau mungkin mereka sudah cerai? "Gak ada yang spesial dari ayah Bella yang brewngsek." Dinda menunduk, terlalu malu mengungkap masa lalunya yang kelam, tak seperti remaja-remaja yang hidup bahagia seusianya. “Kenapa sama ayahnya Bella? Dia pencuri kah? Atau penjahat sampai kamu pergi meninggalkannya?" Oh kasihan sekali sahabatku. Dari kursi belakang, Dinda tertawa pelan. Membiarkan kakinya sebagai bantal Bella. "Dia bukan penjahat seperti itu.” Suara Dinda pelan, nafasnya tertahan sesaat. "Dia menghamiliku dengan paksa, lalu pergi setelah itu.” "Tunggu-tunggu, jadi Bella adalah anak hasil pemerkosaan? Kok bisa, Din? Kenapa kamu gak gugurin atau lapor ke polisi? Kenapa malah kamu lahirin?” "Waktu itu, aku nggak tau kalau lagi hamil. Aku ngerasa baik-baik saja, sampai lima bulan kemudian baru ngeh ada yang beda, perutku mulai besar dan ada yang gerak-gerak di perutku." “Brengswek banget tuh cowok. Merkosa kamu sampek hamil terus di tinggal gitu aja. Siapa cowok itu? Kamu punya fotonya nggak? Ku pasang di medsos, biar semua orang tau kalau dia brengsek." Laila ikutan emosi. "Kamu kenal dia gak, Din?" “Kenal sih, tapi…, kami sudah gak saling berhubungan.” "Terus, dia tau gak kalau punya anak?” “Dia nggak tau.” Dinda menunduk, menyembunyikan tangisnya. Hidupnya pasti lebih ringan jika ada suami di sampingnya, menemaninya saat-saat sulit ketika hamil, menunggu dan memberi semangat ketika berjuang melahirkan. Saat itu tak ada yang mendampinginya melahirkan. Untung saja bidan tempat nya melahirkan punya perawat pembantu, jadi semua urusan suami di gantikan oleh dia, bahkan dia juga yang mengantarnya pulang. Satu-satunya orang tua di rumah tempat nya tinggal terlalu renta untuk pergi ke rumah bidan. Dan mereka tak punya tetangga di tengah pemukiman perumahan subsidi yang baru selesai di bangun. Dalam satu gang saja hanya ada dirinya dan si nenek yang menghuni rumah. “Terus selama ini kamu hidup mandiri tanpa bantuan dari ayah Bella sama sekali?" “Maaf, aku belum siap menceritakan semua ini, La." Suara Dinda pelan. Berusaha menahan Isaknya. “Ah maaf, Din.” Laila menggaruk rambutnya, “aku yang harusnya minta maaf. Maaf, aku ikut campur terlalu jauh." Laila dari arah depan mengulurkan sebelah tangannya kebelakang, menggenggam tangan Dinda sejenak. “Kalau kamu belum siap cerita nggak papa kok. Nanti setelah kamu tenang, aku siap dengerin dan carikan solusi buat kalian." Laila menarik tangannya, kembali fokus mengemudi. Gerimis pelan datang, membasahi kaca mobil. Titik-titik itu perlahan menyatu, jatuh seperti bulir air mata. Seolah sedang menemani Dinda yang menangis dalam diam. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD