Seorang wanita dengan blus merah muda dan loose pants warna beige tampak berlari-lari kecil masuk ke dalam gedung Hasegawa Company. Rambutnya yang panjang hingga pinggang, tampak bergelombang, hitam dan lembut di biarkan terurai, tak sempat menguncirnya seperti biasa.
Wajah cantik Dinda mungil, tetap cantik walau sedang terengah-engah, pipi memerah karena berlari mengejar waktu. Pagi ini putrinya membuat ulah lagi sebelum ia berangkat kerja, menyita banyak waktu hingga ia hampir terlambat.
Tangan Dinda terlihat sedang menempelkan kartu terburu-buru, kakinya bergerak-gerak tak sabar ingin langsung maju saat kaca di depannya bergerak pelan.
Semua terasa lambat, karena jam masuk Dinda sudah mepet. Jangan sampai dirinya kena omel manajer karena terlambat. Ia pernah melihat sekali seorang karyawan ibu rumah tangga kena omel manajernya karena terlambat, tak menerima alasan wanita itu yang sedang merawat anaknya yang sakit, di tambah lagi harus merawat lansia yang sudah hidup di atas ranjang. Rudi tak mau tau, pria itu mengomelinya habis-habisan hingga wanita itu terisak. Jangan sampai itu terjadi padanya.
Bruk…
Karena lari terburu-buru sambil melihat arloji, Dinda menabrak seorang pria paruh baya berpenampilan klasik namun elegan. Tubuhnya tinggi, rambut hitam yang mulai beruban tersisir rapi ke belakang. Kacamata hitam mahal membingkai wajahnya yang eksotis, bibirnya tegas, rahangnya terkatup erat seolah menahan amarah karena ada seseorang yang menabraknya. Bahkan ponsel pria itu jatuh, terlempar masuk ke dalam kolam ikan yang ada di dalam gedung.
“Maaf," ucap Dinda sambil membungkuk takut, jelas pria itu dari kalangan eksekutif, apalagi di belakangnya ada pria yang mengawalnya. “Anda tidak apa-apa pak?" Tanya asisten pria itu, terlihat khawatir.
“Sa-saya ambilkan hp bapak dulu." Dinda berlari menuju kolam. Tanpa pikir panjang, melepas sepatunya, mengangkat celananya setinggi mungkin, lalu masuk ke dalam kolam ikan koi. Hhh… semoga ikannya gak ada yang mati gara-gara mencium bau kakiku, gerutu Dinda dalam hati, berjalan hati hati. Huh, kenapa aku nabrak orang di saat begini sih?
Bibir Dinda langsung tersenyum lebar saat memungut ponsel di dalam kolam, hp pria itu baik-baik saja, tak pecah, tak ada goresan, dan masih menyala. Ponsel mahal pasti anti air. Dinda menyekanya dengan baju yang ia pakai, lalu bergegas kembali pada pria itu.
“Ini hp bapak. Baik-baik saja." Ucap Dinda seraya menyerahkan ponsel pria itu. “Kalau ada apa-apa, anda bisa cari saya. Sekali lagi, maaf ya bapak, saya…, buru-buru.” Tanpa menunggu sepatah kata dari pria itu, Dinda ngacir ke lift. Sengaja tak memberitahu di bagian mana ia kerja. Berbahaya kan kalau dia tahu di mana dirinya tempatkan?
"Bapak… bapak…, emang aku bapaknya?” Keluh pria itu seraya menyalakan ponselnya, memastikan baik-baik saja.
"Ada yang rusak, Pak? Saya bisa memesankan hp baru buat anda, karyawan toko akan saya suruh datang ke sini.” ucap pria itu sopan.
"Nggak perlu. Ini baik-baik saja. Badak sekali hp ini, sudah berkali-kali jatuh, pernah jatuh di tangga juga, tapi tetap nyala. Nih kalau beli hp, beli merek ini, tahan banting," pria itu menunjukkan ponselnya pada asistennya, “walau nggak mahal mahal amat, tapi kualitasnya bagus, nggak kalah saing sama hp-hp anak muda. Aku heran sama anak zaman sekarang, beli hp sebesar tiga kali gajinya. Hidup itu harus hemat, beli sesuatu sewajarnya saja, nggak usah ikut-ikutan biar sama seperti yang lain. Dari pada beli hp kemahalan mending bisa di tabung buat modal kalau sewaktu-waktu udah nggak kerja di perusahaan." Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu melanjutkan jalannya menuju lift khusus para eksekutif. Tak lagi melihat Dinda, karena gadis itu sudah ditarik temannya masuk ke dalam lift karyawan.
“Kamu gila Dinda!" Seorang gadis dengan rambut sebahu melotot pada Dinda, tangannya menepis tangan Dinda yang sejak tadi dia pegangi, menariknya masuk ke dalam lift. Berdesakan dengan karyawan lain.
Gadis itu tadi berdiri paling depan di antrian lift, langsung melotot ketika melihat Dinda menubruk seseorang, tahu mata Dinda tak fokus ketika berlari sambil melihat arloji di tangan nya.
Saat pintu lift terbuka, tepat bersamaan Dinda berlarian menuju lift, Tiara pun tanpa pikir panjang menarik tangan Dinda, memaksa masuk ke dalam lift di antara karyawan lain.
"Memangnya dia siapa?” Bisik Dinda pada Tiara.
"Dia chairman, pemilik perusahaan ini, istrinya pewaris perusahaan ini yang ada di jepang."
“Apa?" Wajah Dinda seketika kecut, matanya membulat kaget, bibirnya yang memucat tertutup oleh lipstik. Keringat dingin perlahan menetes di leher jenjang gadis itu, jari-jari lentiknya yang dingin mengusap-usap blusnya.
"Sebenarnya kamu nggak usah terlalu khawatir sih, wajah chairman tadi kelihatan gak marah kok, hanya terkejut saja. Emosinya pasti baik, karena jarang sekali masuk kerja. Datang sesuka hati dia aja. Kayaknya sebulan sekali dia masuk kerja. Semua sudah ada yang handle, jadi dia cuman datang buat memeriksa aja.
Semoga saja memang benar, semoga tidak akan terjadi hal yang menakutkan. Harap Dinda sembari menggigiti bibirnya, otaknya masih panik.
Semoga hari ini berlalu dengan lancar, tak ada keburukan yang akan menimpanya. Dinda janji, jika tak ada hal buruk yang terjadi hari ini, pulang kerja nanti, dia akan membelikan Buk sum makanan.
Sementara itu, Dinda tak tahu, seseorang yang sejak tadi melihat dari kejauhan, baru saja memasuki gedung, bibirnya yang bergaris tegas tampak tersenyum-senyum ketika melihat Dinda menabrak chairman, memungut ponsel ke dalam kolam ikan, lalu dengan wajah panik meminta maaf dan berlari pergi.
Kaki panjang pria itu, berjalan pasti memasuki gedung, bibirnya yang tersenyum kecil, terdengar sedang bersenandung lirih, lalu masuk ke dalam lift eksekutif.
***
Jam menunjuk angka sepuluh pagi saat seorang wanita terlihat serius menatap layar komputer, tubuh indahnya sesekali bergerak ketika bicara dengan temannya, dan tangannya menari lihai di atas tuts keyboard.
Ya, hari ini Dinda sedang sibuk. Sebuah proyek yang ia kerjakan selama seminggu ini dengan teman-temannya akhirnya selesai. Desain sudah final, dan kini tinggal merevisi laporan yang ditulis Laila dan Tiara. Setelah itu tinggal menyerahkan pada direktur.
Menurut Rudi, manajer Dinda, mendesain ulang produk obat semprot asma yang sudah lima tahun tanpa perubahan sudah betul, menurutnya desain Dinda dan timnya sudah indah, layak jual, tinggal menunggu ACC dari direktur, produk yang tanpa pesaing di pasar tetap harus jaga kualitas isi dan desain produk.
“Akhirnya selesai juga." Dinda mengangkat kedua tangannya, meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Selamat, Dinda. Aku yakin desain kalian lolos,” seseorang tiba-tiba berbisik di belakang Dinda, membuat gadis itu seketika menoleh ke belakang.
Alan? Sejak kapan dia di sini? Dinda mengerutkan dahinya. Pria tampan yang akhir-akhir ini intens mendekati dirinya entah sejak kapan berdiri di belakangnya. Walau pria itu dianugerahi wajah tampan seperti artis Thailand, berpostur tinggi, entah mengapa Dinda sama sekali tak tergoda, tak tertarik menanggapi setiap godaan nya.
“Tos?” Alan mengangkat tangan kanannya, sebelah alisnya terangkat, mengajak Dinda tos. Gadis itu pun mengiyakan. Mereka melakukan tos bersama, kemudian Dinda tos dengan teman-temannya.
“Nggak sia-sia kamu temenan sama aku kan?” ucap pria itu lagi. Dinda agak menjauhkan kepalanya, nafas Alan yang berhembus di rambutnya membuatnya geli. Pria itu lalu melanjutkan, “semua pertanyaan mu selalu ku jawab dan ku beri masukan dengan suka rela. Jadi kedepannya, kalau ada proyek atau kerjaan yang nggak bisa, jangan sungkan tanya padaku, aku selalu siap membantumu. Berkat bimbinganku, desain kamu jadi lancar.”
“Ehem-ehem…” Laila tiba-tiba berdehem, “kalau kita yang nanya, kamu juga fast respon kan?” sindirnya.
Alan menatap Laila sejenak, lalu berpindah ke samping Dinda, berdiri bersandar di meja Dinda, lalu memandang kembali wajah cantik wanita itu. “Nunggu Dinda dulu sih. Kalau sudah selesai jawab pertanyaan dia, aku pasti respon pertanyaan mu juga.” Mata Alan tak pernah pergi dari wajah Dinda.
“Bilang aja, kamu cuma fast respon sama Dinda." Cibir Laila.
"Cewek cantik emang harus garcep kan? Nanti keduluan yang lain. Hehe…” Alan mengedipkan kedua matanya pada Dinda, namun gadis itu justru melengos, justru menatap ke arah Tiara. Penasaran dengan reaksi gadis itu, mantan Alan, ekspresinya datar, wajahnya biasa saja, hanya memperhatikan, dan saat matanya saling bertatapan, gadis itu tersenyum kecil, senyum yang ringan, sama sekali tak mengandung rasa cemburu.
“Din, kita…, bisa lebih dari teman kan?” Kedua mata Alan menatap tajam mata Dinda, sebelah tangannya di taruh di atas meja, satunya ada di sandaran kursi Dinda. Dinda yang awalnya ogah menatap pria itu, kini tak bisa mengabaikannya.
Tak bisa dipungkiri, kata-kata Alan membuat wajah cantik Dinda perlahan meresap merah. Ia bukan lagi anak kecil, tau betul arti kata Alan. Tapi, bisa-bisanya dia mengatakan itu di depan teman-temannya, di tengah kerja pula.
Brak…!!
Rudi tiba-tiba menggebrak meja Dinda. “Dari tadi kuperhatikan kamu ngajak ngobrol Dinda terus! Ini masih jam kerja, Kerja Alan!” Bentak Rudi.
“Kamu tahu pak? Wajah Dinda ini seperti lukisan tuhan paling indah. Sayang sekali kalau tak menikmatinya sejenak.”
"Alan!” ancam Rudi dengan mata membulat.
"Iya-iya pak, saya kerja.” Ujar Alan seraya berlalu.
“Dinda, kamu di cari Meli." Kali ini Rudi bicara dengan Dinda.
"Meli?” Dinda mengerutkan dahinya, bertanya-tanya siapa Meli? Ia masih belum banyak punya teman selain orang-orang yang kerja di sekitarnya.
Seorang wanita dengan rambut di kuncir kebelakang, wajahnya di bingkai kacamata, memakai kemeja putih berpadu rok span hitam berjalan ke arahnya.
“Kamu Dinda?" Tanya Meli, nama wanita itu tertera jelas di id card yang menggantung di lehernya. Sekretaris.
"Ya?" Jawab Dinda, siapa dia? Mencari dirinya hingga melibatkan manajernya.
"Chairman mencarimu.” ujar Meli, beliau menunggu mu sekarang.
“Cha…, chairman?" Pria yang tadi ia tabrak di lantai satu? Dinda menelan ludahnya.
"Chairman itu pemilik perusahaan. Kamu di panggil bos besar, Din." Rudi menegaskan keraguan Dinda.
"Ruang Chairman ada di lantai tiga puluh. Silahkan ikuti aku," ucap Meli.
"Kamu…, duluan saja, Aku akan menyusul, aku mau ke toilet dulu,” entah kenapa mendengar nama Chairman keringatnya langsung sebesar biji jagung, jatuh merayap di antara tulang selangkanya yang dingin.
Dinda berjalan cepat ke arah toilet. Tak hanya berkeringat dingin, Ia bahkan langsung ingin buang air setelah mendengar nama chairman. Apakah hari ini berakhir buruk?
Di toilet, d**a Dinda tak henti-hentinya berdegup kencang. Kenapa chairman memanggil dirinya? Apa karena tragedi tadi pagi? Tapi, bukankah tadi hanya tragedi kecil? Karena berlari sambil melihat arloji, dirinya tak sengaja menubruk chairman, ia bahkan menjatuhkan hp pria itu sampai masuk ke dalam kolam. Apa hp nya ada yang rusak? Apa ada file yang rusak dan tak terbaca? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Dinda gila.
“Din, gimana dong ini?" Dinda terkejut setengah mati saat baru membuka pintu toilet, Laila dan Tiara sudah menunggunya di depan pintu. Kaki Dinda kemudian berjalan gontai menuju cermin. Mengeluarkan sebuah lipstik dari saku roknya, menyapu tipis bibir pucatnya dengan lipstik agar terlihat sehat kembali, perlukah di saat begini? Di saat nasibnya tak tentu arah?
"Jangan-jangan…, ini gara-gara tadi pagi kamu nabrak chairman? Hp dia jatuh sampai nyemplung kolam?” wajah Tiara syok.
“Tapi aku udah minta maaf, sudah ku kembalikan hpnya, masih hidup kok.” Dinda menunduk lesu.
“Kita gak tau apa yang ada di pikiran dia." Laila mengusap lembut bahu ramping Dinda.
"Gimana dong teman-teman?" Dinda menggaruk rambutnya frustasi.
“Maaf, kita gak bisa berbuat apa-apa selain doain kamu, Din.” Tiara menepuk pelan sebelah bahu Dinda,"semoga chairman gak mecat kamu.”
"Aminn…" seru Dinda cepat.
“Semoga besok kamu masih kerja sama kita.” Laila juga berdoa.
"Amin…" sahut Dinda lagi. Setelah menarik nafas dalam-dalam sembari terus berdoa dalam hati. Dinda akhirnya berkata, “ya udah, aku ke kantor chairman dulu."
Dengan langkah kaki gontai, kaki Dinda akhirnya pergi ke lantai tiga puluh, tempat sang chairman berada bersama beberapa pemimpin direksi.
Tak sulit menemukan ruang Chairman, karena Meli dan dua sekretaris lainnya duduk di dekat ruang Chairman.
Tak banyak yang dikatakan Meli selain mempersilahkan dirinya masuk. Kakinya pun mengikuti langkah kaki wanita itu. Masuk ke sebuah ruang besar, tertutup dari luar, punya desain klasik namun tetap berkelas. Meja kayu jati, pemandangan luar gedung yang menakjubkan, di sisi lain dinding sebuah rak kayu jati menyimpan buku-buku tebal, dan dua buah sofa panjang berada di tengah-tengah ruangan, di bawahnya karpet hitam membentang lembut.
"Silahkan duduk." Kata-kata Meli membuat Dinda serasa di tarik dari lamunannya. Ia pun duduk di sudut salah satu sofa.
Tepat setelah Meli menutup pintu. Kursi putar yang berada di balik meja jati, sejak tadi menghadap luar, menatap luar gedung, berbalik.
“Apa kabarmu, Dinda?" Sebuah suara bas tak asing menyapa Dinda, bibirnya tersenyum lembut. Tubuh tinggi seratus delapan puluh lima senti yang berbalut setelan jas hitam tampak elegan melangkah kaluar dari kursinya, tubuh tingginya yang atletis berdiri di tepi meja. Wajah tampannya yang khas asia timur lebih tepatnya jepang, karena dia memang ada darah keturunan jepang tampak tersenyum kecil.
Juno? Ngapain dia di sini? Bukankah yang memanggil dirinya chairman? Apa dirinya salah masuk?
Bersambung…