9. Maaf Yang Terlambat

1926 Words
“Apa kabarmu, Dinda?" Sebuah suara bas menggema di udara, suara itu tak asing, suara yang dulu sering memanggilnya. Tubuh Dinda seketika membatu saat pemilik suara itu memutar kursinya. Tubuh tinggi seratus delapan puluh lima senti yang berbalut setelan jas hitam tampak elegan melangkah keluar dari kursinya, lalu dengan tenang bersandar di tepi meja kerjanya. Wajah tampannya khas asia timur lebih tepatnya jepang, karena dia memang mempunyai darah keturunan jepang asli, tampak bahagia, atau pura-pura bahagia? Dinda tak bisa mengartikan, terlalu lama berpisah dengannya membuatnya tak mengerti apa isi otak pria itu. Juno tampak tenang, memandang Dinda terlalu intens, membuat gadis itu duduk gelisah karena salah tingkah. Namun dahi pria itu langsung berkerut waktu melihat Dinda tiba-tiba berdiri, berkata sambil menundukkan wajahnya. “Maaf, sepertinya saya salah ruangan. Saya mencari ruangan pak…,” siapa nama chairman? Ah, kenapa aku nggak tanya dulu siapa namanya? Gerutu Dinda dalam hati. “Saya kira ini ruangan chairman, saya akan mencari lagi ruangan dia." Dinda melangkahkan kakinya, melewati Juno yang masih duduk santai. Srak… Tiba-tiba tangan Dinda di raih Juno. Menariknya, merapatkan tubuhnya di tepi meja kerja, lalu mengunci tubuh mungil gadis itu dengan tubuh Juno yang tinggi nan atletis. "Mau kemana kamu? Kenapa buru-buru amat? Kita baru ketemu.” Suara Juno berbisik lembut, matanya memandang dalam wajah Dinda. Tak peduli gadis itu bergerak-gerak, berusaha mendorong tubuh besar Juno dengan jari-jari nya yang kecil dan lentik, percuma. “Lepaskan aku, kita baru ketemu, aku nggak kenal kamu siapa.” Entahlah, Dinda tak tau, hanya skenario ini yang terlintas di kepalanya. Apakah ini akan berhasil? Dinda pesimis. "Nggak mungkin kamu nggak mengenaliku, Nda. Katamu dulu aku cinta pertamamu, orang yang pertama kamu cintai nggak mungkin hilang begitu saja dari ingatanmu.” Kata-kata Juno lembut namun sarat paksaan, memaksa Dinda tetap di tempatnya, tak boleh kemana-mana. Dinda mengangkat wajahnya. Membalas tatapan mata Juno. "Kita pernah bertemu di lift. Sudah ku bilang, waktu itu kamu salah orang kan? Ku Tegaskan lagi, kamu salah orang! aku bukan Dinda yang kamu cari. Aku nggak kenal kamu.” Dinda mendorong sekuat tenaga tubuh Juno. Bukannya mundur, Juno justru mengangkat tubuh Dinda ke atas meja, mendudukkannya, lalu mengunci kaki-kaki gadis itu dengan tubuhnya, kedua tangan pria itu mengurung Dinda. "Aku nggak salah orang. Kamu adalah Dinda ku, aku nggak mungkin salah karena gadisku bernama Adinda Kamilia.” Juno meraih id card yang menggantung di leher Dinda. "Kamu lahir tahun dua ribu satu kan?” Dinda tersenyum getir, “mungkin namaku memang sama dengan Dinda yang kamu maksud. Tapi aku bukan Dinda yang kamu cari.” Dinda membuang muka, tak sanggup lagi beradu pandang lebih lama, wajah pria itu terlalu dekat. “Aku tidak lahir tahun dua ribu satu. Lepasin aku!" Dinda mendorong sekuat tenaga d**a Juno. Bahkan ia kini memukulnya karena frustasi. Frustasi mengapa pria itu tak mau melepasnya, frustasi mengapa tuhan membawa pria itu lagi padanya, pria yang sudah Dinda putuskan tak akan pernah mencarinya lagi, tak akan menemuinya lagi, sudah melupakan kenangan masa lalu nya yang pahit. Sebelah tangan Juno akhirnya menangkap tangan Dinda. Menghentikan pukulan membabi buta di dadanya. Wajahnya kali ini lebih serius menatap Dinda. “Berhenti mengelak terus, Nda. Aku sudah periksa CV mu.” Mata Dinda seketika melotot. "K-kamu lancang, kenapa melihat cv ku? Apa hak kamu melihat riwayat hidupku. Aku benci kamu, Juno.” Dinda kembali memukuli dan mendorong tubuh Juno namun pria itu tak bergeming. Justru mendekatkan bibirnya pada telinga Dinda. “Dan kamu satu-satunya orang yang memanggilku Juno. Hanya di Kalimantan aku menggunakan nama itu untuk panggilanku, orang tua ku bahkan memanggilku Zef." Bibir Dinda cemberut, kehabisan alasan untuk mengelak, ia sudah kalah, Juno lah yang menang. “Lepasin aku, aku mau ke ruangan chairman." Pergi ke ruang Chairman sepertinya ide yang lebih bagus, daripada terkurung bersama orang yang ia benci, entah mengapa cinta yang dulu menancap kuat di hatinya kini berubah jadi benci. “Kamu nggak salah ruang, Nda. Ini memang ruang Chairman, tapi papa sudah pulang.” "Kamu…?" Dinda kehabisan kata. Jadi dia anak pemilik perusahaan? Oh, pantas dia kaya raya, punya rumah sakit swasta besar dan terkenal di Kalimantan. Tapi kenapa gak jadi dokter lagi? “Ya. Aku anak pemilik perusahaan ini, dan sekarang kerja di sini." Juno mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku udah nggak kerja jadi dokter lagi." Kata-kata itu akhirnya menjawab pertanyaan Dinda selama ini. Tapi kenapa? Karena lebih suka kerja di kantoran daripada menghadapi darah pasien? "Sejak aku…," Juno memejamkan matanya sejenak. Membuang mukanya, lalu melanjutkan. “Pemerkosaan yang kulakukan padamu membuatku berhenti jadi dokter.” Juno kembali menatap Dinda, ada luka di matanya yang sulit Dinda gambarkan. “Aku sudah melanggar kode etik dokter." “Mana ada dokter memperkosa pasiennya?" Gerutu Dinda sambil menunduk. Suaranya lirih. “Maafkan aku.” ucap Juno, suaranya pelan. Wajahnya merendah, berusaha melihat raut muka Dinda yang menunduk. “Maaf juga, karena aku memanggilmu atas nama chairman. Kamu nggak akan datang kalau kamu tau aku yang memanggilmu." "Kamu mempermainkan aku lagi, Juno. Aku benci kamu!” ingat Dinda, dulu dia juga mempermainkanmu. Dinda mendorong sekuat tenaga tubuh Juno, tapi sia-sia, pria itu tetap tak bergerak. "Lepasin aku, aku mau pergi!” Rintih Dinda. “Jangan pergi, ku mohon jangan pergi lagi seperti dulu." Juno menatap dalam bola mata Dinda yang berkaca-kaca. Ada trauma tergambar jelas di mata bening itu. “Ini nggak ada hubungannya sama dulu. Aku mau pergi, aku masih banyak kerjaan.” Juno menarik dalam-dalam nafasnya. Berusaha tenang. "Tapi setelah ini hubungan kita baik-baik lagi kan?" “Dulu kita bukan apa-apa, sekarang juga bukan apa-apa. Kita cuma kebetulan dekat karena kamu dokter dan aku pasien.” “Kita sangat dekat Dinda. Lebih dekat dari sekedar hubungan dokter dan pasien.” "Tapi akhirnya kamu duluan kan yang pergi? Jadi aku juga harus pergi. Minggir ih, aku mau turun." Dinda kembali mendorong, tapi Juno tetap berdiri di tempatnya. "Sebentar, apa maksud kamu aku pergi duluan, lalu kamu juga ikut pergi? Pasti ada kesalahpahaman antara kita.” "Nggak ada yang salah faham, pergi!" Dinda mendorong lagi. “Dinda, pasti ada salah faham, makanya kita terpisah begini. Ayo bicara biar gak ada lagi salah faham.” “Buat apa kalau nggak ada lagi salah faham? Sekarang semua sudah berjalan di tempat yang benar. Kamu dan dunia mu yang di penuhi uang sudah benar jauh dari aku yang miskin, orang tuaku yang miskin nggak berharga di mata kalian orang kaya raya, apalagi sekarang aku anak yang sudah nggak punya orang tua, kalau kita dekat…,” "Kamu bicara apa?” Juno menyela. “Kamu tau dari dulu aku nggak pernah masalahin ekonomi kita yang beda. Siapa bilang orang tuamu yang sudah meninggal nggak ada harga dirinya? Mereka guru yang terhormat dan pintar. Berkat mereka, mereka menurunkan anak perempuan yang pintar dan cantik." “Berhenti memuji ku, Juno. Aku nggak suka orang yang cuma bisa manfaatin aku, setelah meniduriku kamu langsung pergi, b******k kamu!” Juno mengangguk-angguk. “Aku memang brengsekk, memperkosamu, nggak tanggung jawab karena ninggalin kamu gitu aja.” Juno berhenti sejenak. Samar pria itu mengusap keningnya, atau mengusap matanya yang basah? Ia lalu melanjutkan, "aku memang banyak bersalah. Tapi aku punya penjelasan kenapa aku melakukan semua itu.” Juno membuang muka. Tangannya menyeka wajahnya, dia berkeringat? Tidak mungkin ruangan ini sama sekali tidak gerah. Ada AC yang menyala. “Kamu tau, selama ini aku mencarimu kemana-mana?" Juno menatap Dinda dalam-dalam. “Hari itu, tiga hari setelah aku pergi, aku kembali lagi. Tapi kamu nggak ada di mana-mana. Nggak ada yang tau kamu pergi kemana. Aku kira kamu masih ada di Kalimantan, makanya orang yang ku suruh mencarimu sampai sekarang nggak pernah nemuin kamu. Ternyata kamu di sini, ada di dekat ku.” “Sekarang udah tau aku ada di mana kan? Kalau begitu aku pergi dulu." Dinda memaksakan diri turun. Bukannya bebas, tubuhnya justru menempel erat dengan tubuh Juno. Dinda membeku, apalagi Juno. Pria itu nampak menahan nafasnya, mendesis pelan tiap kali Dinda bergerak untuk mendorong tubuh Juno. “Berhenti bergerak, Dinda. Atau aku akan melahapmu seperti dulu." Desis Juno, wajahnya memerah, mendongak ke atas, telinganya merah, berusaha menahan gejolak yang menggila. "Melahap apaan? Emangnya monster?” Gerutu Dinda. “Lepasin aku Juno," Dinda mendorong lagi, tapi tetap tak berguna. "Aku akan melepaskanmu setelah aku menjelaskan semua yang terjadi malam itu.” terang Juno setelah menenangkan otaknya. Hup… pria itu mengangkat tubuh Dinda lagi ke atas meja. Nafasnya sedikit terengah, bukan karena kewalahan karena mengangkat tubuh Dinda, tapi kewalahan dengan otaknya yang menggila karena melihat Dinda membasahi bibirnya sendiri dengan lidah. Otak Juno kemana-mana, mengikuti setiap gerak lembut lidah Dinda menyapu bibir nya yang ranum. Tidak tebal namun juga tidak tipis. Bibir yang sangat pas untuk di cium. Juno mengepalkan tangannya. Dinda kali ini diam. Terpaksa memberi kesempatan Juno bicara. Entah apa yang akan terjadi jika dirinya memberontak lagi. Juno menarik nafasnya dalam-dalam, “Sebelum aku cerita semua, aku minta maaf sebesar-besarnya atas apa yang terjadi sama kamu. Maafkan aku, Nda.” Dinda membuang mukanya. Seolah berkata, basi! "Selama ini aku selalu merasa memikul beban berat. Aku nggak bisa hidup tenang sebelum minta maaf sama kamu. Dinda, aku minta maaf." Juno meminta maaf lagi. "Kenapa kamu minta maaf terus? Aku udah lupa kejadian itu.” Bohong kamu, Dinda! Bodoh amat! Maki Dinda pada dirinya sendiri. Juno menarik nafasnya dalam-dalam, “bagus kalau kamu sudah melupakannya. Tapi, aku nggak bisa melupakan malam itu, Nda. Hatiku sakit setiap ingat itu, aku terus merasa berdosa sama kamu.” Juno menunduk. Penyesalan jelas terukir di antara garis wajahnya. “Malam itu…," Juno menggantung kata-katanya, seolah kata-kata itu sangat berat. "Malam itu teman-teman ku memberiku alkohol kuat, mereka nggak memberitahu kalau alkohol itu juga bisa memicu nafsuku. Alasan kenapa mereka memberi alkohol itu karena ragu, apa aku normal atau enggak sebagai seorang pria.” “Dan kamu memilihku untuk jadi korbanmu.” Senang sekali ya memainkan aku. “Aku nggak tau alkohol yang ku minum ada reaksi begitu, Dinda. Tapi taman-taman ku emang sengaja jadiin kamu korban karena kamu satu-satunya cewek yang dekat sama aku.” “Nggak mungkin!” Dinda membuang muka. “Kalau kamu nggak percaya, aku bisa telpon mereka." “Nggak perlu!” "Oke terserah kamu. Dan alasan kenapa aku langsung ninggalin kamu waktu itu? Malam itu setelah kita selesai, mama tiba-tiba telpon, katanya papa nggak sadar dan masuk rumah sakit. Aku sebagai dokter, beranggapan kalau aku harus menyelamatkan papa, apapun yang terjadi.” Dinda diam. Dan Juno melanjutkan. “Sebenarnya aku sudah membangunkan mu kalau aku mau pergi. Tapi kamu gak bisa bangun, makanya aku langsung pergi, maaf karena pemaksaan yang ku lakukan kamu jadi kecapekan.” Dinda menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan diri agar tidak memaki, alasan karena tidak bisa bangun malam itu bukan karena kecapekan karena di perkosa Juno selama satu jam lebih, tapi karena pingsan, luka dalam karena kecelakaan membuatnya sangat kesakitan ketika di perkosa. Dan pria itu mengira ia kesakitan karena pemaksaan yang di lakukan Juno. Padahal ada luka lain yang sangat menyiksanya hingga ia pingsan. Dan pembantu di rumah Juno lah yang menolong Dinda di pagi hari, karena pembantu Juno memang hanya datang di pagi hari, sore dia pulang. “Aku tidak bisa menghubungimu karena hp ku ketinggalan di rumah. Aku nggak hafal nomerku sendiri apalagi nomermu. Jadi satu-satunya cara menghubungimu setelah keadaan orang tuaku stabil. Tapi setelah aku kembali, kamu sudah pergi. Bi Sari pembantuku juga katanya gak tau kamu ada di mana.” Bodoh, Bi Sari lah yang menyelamatkan aku, dan dia yang membantuku pulang ke Jawa. Dia gak mau memberitahumu karena perbuatan b***t mu sudah menghancurkan masa depan ku. Apapun alasanmu, aku benci sama kamu. Brak… Tiba-tiba pintu kantor di buka. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD