14 - Mencari Tahu

1622 Words
Abi menjalani jarinya di atas kusor dengan tatapan serius menatap layar terang di depannya. Sudah larut memang, tapi anak lelaki itu masih asik berselancar di internet. Tugas kelompok bagiannya baru saja selesai. Sehingga Abi memilih untuk mencari tau sesuatu terlebih dahulu sebelum ia mematikan benda elektronik tersebut. Gita Anindya. Begitu banyak foto yang ditampilkan untuk hasil pencarian tersebut. Tidak hanya itu, Abi berusaha membaca semua artikel tentang model cantik tersebut. Tapi sayang, tidak ada satupun pernyataan tentang suami dan anaknya. 'Gita Anindya dengan putrinya.' Abi kembali mengetikkan kalimat baru. Berharap mendapatkan informasi lebih dalam. Tapi tidak ada. Hasilnya nol. Yang Abi temukan hanya seputar kabar baru tentang pernikahan model tersebut. Gita Anindya akan menikah bersama Andra Prakoso. Model cantik Gita Anindya akhirnya akan meninggalkan status single. Gita Anindya mengungkapkan kesenangan hatinya perihal pernikahan. Gita Anindya dan Andra Prakoso siap menikah akhir tahun ini?! Abi menghela napas kasar. Entah mengapa rasa penasaran lelaki itu sangat sulit dihilangkan. Tapi sayangnya, Abi belum bisa menemukan hal yang dapat menghilangkan hasrat penasaran tersebut. Abi memilih menggulir informasi hingga bawah. Sampai suatu judul menarik perhatian lelaki itu. Gita Anindya memiliki suami dan seorang putri cantik?!?! Buru-buru dikliknya. Dan Abi benar-benar ingin membenturkan kepalanya ke dinding ketika hasil yang di dapat malah '404 error. Page not found!'. Sialan, batinnya mengumpat. Dengan masih gondok, Abi melipat cepat benda persegi panjang tersebut. Beralih ke tempat tidur dan berbaring. Tapi tunggu, kenapa dia harus sibuk-sibuk mencari informasi yang bersangkutan dengan Renat? Abi menghela napas kasar. Mengutuk kebodohannya. Baiklah. Ini hanya sekedar rasa penasaran. Bukan apa-apa, terlebih peduli. • r e t u r n • Abi keluar dari kamar dalam keadaan rapi. Dia menyandang sebelah tali ranselnya sambil berjalan menuruni anak tangga, menuju ruang makan. Dapat dilihatnya Nadine yang tengah sibuk menyiapkan sarapan. Lelaki itu menghela napas pelan. Dalam hati merasa beruntung karena berada di tengah keluarga yang saling peduli satu sama lain. "Eh, Mama kirain siapa," ujar Nadine ketika ia membalikkan badan. Abi tersenyum tipis, setelah itu mendaratkan tubuhnya tepat di salah satu kursi. "Pagi, Ma," sapanya seperti biasa. "Pagi juga," balas Nadine. Wanita itu mengambilkan piring yang belum ia siapkan di meja. Diberikannya kepada Abi agar anaknya dapat memilih ingin sarapan apa -sebab lumayan banyak menu sarapan. "Sarapan kayak gini gak kebanyakan, Ma?" Abi lagi-lagi mengucapkan hal yang sama. Membuat Nadine menghela napas dan kembali menjelaskan. "Kamu kan tau kalau makanannya lebih bakal Mama bawa kemana. Makanya Mama selalu ingetin, kalau ambil makanannya jangan terlalu diacak. Mama tau kok ini kebanyakan. Nah karna banyak, makanya kita gak boleh lupa buat berbagi." Abi tersenyum, sembari mengambil roti dan selai coklat. "A, Mama siapin bekel, ya?" tawar Nadine kembali hingga Abi sukses mengernyit. Dirinya? Membawa bekal? "Abi bisa makan di kantin, Ma," tolak lelaki itu lembut, berusaha agar Mamanya tidak tersakiti. "Aa tau nggak, sih? Penyakit itu ada dimana-mana lho, A. Noel aja hari ini nggak masuk sekolah karna sakit." "Mama tau darimana?" tanya Abi ketika mulai menyuapkan rotinya. "Tante Reva nelfon tadi, bilang gak bisa ke butik dulu karna Noel butuh diurus." "Manja," celetuk Abi asal. "Eh? Kok manja, sih? Ya namanya orang sakit harus diperhatiin. Aa tau nggak waktu Papa sakit manjanya gimana?" "Nggak. Males bayanginnya. Papa kalau sakit ngelebihin anak TK." Nadine sukses tertawa karena ekspresi Abi. Anak lelaki itu mulai sibuk dengan ponsel karena Victor mengirim pesan. "Terus Aa nggak bakalan manja kalau sakit?" pancing Nadine lagi. "Siapa yang sakit? Abi gak sakit." "Nah, makanya A harus bawa bekel. Tunggu Mama siapin dulu." Abi hanya menghela napas, membiarkan Sang Mama melakukan apapun. Kembali dilihatnya ponsel, membaca chat dari Victor. Julian Victor : Sungguh keajaiban dunia. Abirayyan : Alay lo, Bagong. Abirayyan : Mending lu mandi, ntar telat. Julian Victor : Mandiin Abirayyan : Mati lo. Julian Victor : Eh anjir, ini gue serius. Julian Victor : Lu tau Isaac Albarn, gak? Julian Victor : Anak Cakrawala juga. Julian Victor : Gue kemarin liat dia berantem adu mulut sama Bia di depan sekolah. Adek lo nangis. Abirayyan : Ha? Julian Victor : Hahehahe mulu lo. Pahamin sendiri, Bego. Abirayyan : Gue gak tau Isaac siapa, Setan. Julian Victor : MASA LO GAK TAU? Abirayyan : Ada fotonya? Julian Victor : Gak punya gue. Tapi itu orang kayaknya emang lagi deket sama adek lo. Aduh, padahalkan Bia cuma buat gue yakan, Bi? Abirayyan : Bacod lo. Lo deketin adek gue siap-siap lo gue buang ke Arab. Julian Victor : Gak dapet Bia, Judith juga gak papa Abirayyan : Gak, Setan! Apalagi Judith. Enak aja adek gue yang paling gemesin gue kasih ke preman. Mabok garam lo. Julian Victor : Najis! Gue telat.  Abi hanya dapat menggelengkan kepala. Sungguh paham dengan tabiat Victor. Dimatikannya ponsel tanpa membalas chat lelaki itu. Memilih sibuk dengan makanan dan pikiran. "Ma," panggil Abi ragu, kepalanya berpikir haruskah ia bertanya atau tidak. "Kenapa, A?" tanya Nadine disela-sela kegiatannya menyiapkan bekal untuk Abi. "Mama tau model yang namanya, Gita Anindya?" Nadine seketika berhenti. Menatap Si Sulung dengan rasa bingung dan penasaran. "Tau," jawab Nadine pelan. "Kenapa kok nggak ada badai nggak ada petir tiba-tiba nanyain model?" Abi hanya menggeleng. Bagus. Jadi Mamanya tau siapa Gita Anindya. "A nggak lagi deket sama model itu, kan? Maksud Mama, dia kan udah mau nikah." "Ngelawak Mama. Abi cuma nanya." Abi menggeleng sambil tertawa ringan. Dugaan Mamanya teramat konyol. "Iya kenapa harus Gita Anindya? Gitu lho, A, maksud Mama." "Mama sekedar tau?" "Kenal," jawab Nadine langsung. Wanita tersebut kini memilih duduk di depan Abi. Menuntut penjelasan. "Kenapasih, A? Jangan bikin Mama penasaran gini." "Kok bisa kenal?" "Dulukan awal kerja sama Mama. Jadi model buat design baju-baju Mama. Tapi cuma beberapa tahun, karna dia dapet tawaran gitu." "Punya keluarga?" Abi berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan, karena dia memilih sibuk dengan selai baru. "Setau Mama sih punya .... Karna dulu, seinget Mama ya, dia beberapa kali bawa anak cewe seumuran Aa." "Terus?" tanya Abi minta dilanjutkan, entah kenapa jantungnya mendadak berdetak cukup cepat. "Yaudah. Kalau kebetulan Aa Mama ajak ke butik, ya kalian dibiarin bareng. Kayaknya Mama punya deh fotonya." "Foto Abi kecil sama anak perempuan itu?" Nadine mengangguk, dan Abi kian tercekik. "Boleh Abi liat?" "Di butik, nanti deh Mama bawa pulang. Emangnya kenapa, sih?" Abi menatap Mamanya ragu. Tapi wajah Nadine benar-benar membuat Abi tidak enak untuk terus menggantungkan Mamanya itu dalam rasa penasaran. "Nanti. Kalau semuanya bener, Abi bakal kasih tau Mama." Abi menarik napas panjang, rotinya seperti tidak memiliki rasa apa-apa sebab hal yang baru saja ia dengar. "Terus, Mama tau siapa nama anak perempuan itu?" Nadine tampak mengingat, namun pada akhirnya menggeleng. "Mama lupa. Tapi di fotonya kalau nggak salah Mama buat tulisan. Tapi lupa tulisan Apa." "Yaudah, Ma, Abi duluan." Abi berdiri, mengambil tasnya cepat dan berjalan mendekati Nadine. Diciumnya tangan Sang Mama, lalu beralih mencium dahi. "Bia gimana?" tanya Nadine buru-buru. Sebab, ini masih sangat pagi. Karena Aldric, Bia, dan Judith masih bersiap-siap. "Semalem katanya pergi sama Haruka," teriak Abi sambil berjalan keluar ruang makan. "Abi pamit, Ma." "Bekalnya?!" "Besok aja." • r e t u r n • Abi melangkahkan kakinya sedikit cepat di sepanjang koridor. Kepalanya kian pusing. Tadi, ketika dia pamit lebih awal kepada Sang Mama, itu karena Abi tengah bersembunyi. Anak lelaki itu berhenti di suatu tempat untuk melihat apakah Bia benar-benar pergi bersama Haruka. Pasalnya, semalam ketika Haruka mengirimkan chat untuknya, perempuan itu berkata bahwa dia tidak masuk sekolah hari ini. Sedangkan Bia, sebelum kegiatan chatting bersama Haruka terjadi, adiknya itu malah berkata akan pergi bersama Haruka. Dan pagi, Victor tiba-tiba membahas tentang lelaki yang bersangkutan dengan Bia. Dan benar saja, ketika Abi tengah fokus menatap jalanan dari tempatnya yang lumayan tertutup, lelaki itu melihat adiknya bersama seorang lelaki yang sepertinya bukan keturunan Indonesia sepenuhnya. Siapa tadi namanya? Ah benar, Isaac Albarn. Abi menahan emosinya. Mengetahui adiknya sendiri berbohong entah kenapa membuat lelaki itu kecewa. Abi tidak mengapa jika Bia harus dekat dengan siapapun. Asal yang Bia pilih dapat menjaganya baik-baik. Sedang alasan mengapa Abi membuat Enrico babak belur karena lelaki bak sedotan itulah yang menganggap Bia seperti mainan. Dan Abi tidak suka. Tapi Victor melihat Isaac membuat Bia menangis. Jadi, baik atau tidak sebenarnya lelaki itu? Bugh! Abi sukses terjatuh dan sadar dari lamunannya. Di depannya, tampak Renat yang juga tengah menahan perih. Perempuan itu buru-buru memasang kembali topi warna coklat muda yang ia bawa. Setelah itu bangkit, dan segera meninggalkan Abi yang masih bingung di tempat. Kenapa Renat tidak marah karena jatuh tertabrak? Kenapa perempuan itu memilih berlalu begitu saja? Abi memutar kepalanya, melihat Renat yang entah pergi kemana. Tapi jelas, bahwa perempuan itu tengah menuju tangga. Abi buru-buru berdiri, berjalan menuju kelas sebelum bel berbunyi. Tepat sekali, ketika lelaki itu memijaki kelas, bel berbunyi lantang tanda pelajaran pertama siap dilaksanakan. "Muka lu kenapa, sih?" Victor, yang baru saja selesai menyalin tugas menatap Abi penuh tanya. Abi menggeleng, berusaha fokus pada bukunya. Tapi lelaki itu tidak bisa. Pikirannya terlalu penuh untuk sekarang, dan ia benar-benar butuh sesuatu yang bisa membuatnya lebih lega dan santai. "Gue liat adek gue pergi bareng Isaac-Isaac itu," ujar Abi setelah mengusap wajah hingga rambut. Masih pagi, dan ia tampak lelah. "Tuhkan! Apa gue bilang! Pasti ada apa-apanya deh." Victor berseru semangat, hingga beberapa pasang mata sukses menuju mejanya. "Gue pengen cari tau tentang tu cowok." "Lah ngapain?" "Dia deketin adek gue, Bego." "Yakan adek lo udah gede, udah bisalah buat pacaran. Terus besok-besok lo gak usah anterin Bia lagi ke sekolah. Nah, bagian kosong di motor lo bisa jadi milik Renat." "Gigi lo emas!" hardik Abi langsung. "Bego. Mending lu urusin Renat deh. Dia kemana, ya? Kok nggak keliatan batang idungnya?" Abi reflek membuang muka menuju meja perempuan itu. Dan benar saja, Renat tidak berada di kelas. "Berhenti sekolah, kali," jawab Abi tanpa hati. Kembali dialihkannya tatapan menuju buku. Pura-pura serius. • r e t u r n •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD