15 - Shock

1797 Words
Renat menuruni anak tangga satu-satu. Sepasang kaki yang ditutupi oleh converse hitam tersebut melangkah tidak niat. Tangannya saling menggenggam, seperti mencoba berlindung dengan diri sendiri walau terdengar mustahil. Perutnya berbunyi, tanda tengah kelaparan. Sejak pagi, anak perempuan itu sama sekali tidak makan apa-apa. Bagaimana ingin makan, jika bahan makanan saja sudah habis. Dan Renat terlalu malas untuk membelinya. Mengharapkan Papanya sama saja dengan membuang-buang waktu. Sedang saat pagi Renat keluar kamar, Papanya sudah tidak terlihat sama sekali. Entah masih tidur atau sudah pergi kerja, Renat malas memikirkan jawaban yang tepat. "Renatasya?" Tepat ketika Renat menghabiskan anak tangga terakhir, panggilan dari suara berat itu menyapanya. Pak Gani-guru untuk bimbingan konseling-sedang berdiri menghadap Renat dengan menawarkan secarik senyum tipis. Renat yang memang tengah kelabu, hanya membalas dengan wajah alaminya; ekspresi datar. "Kamu Renatasya, kan?" tanya Pak Gani lagi, dan Renat hanya mengangguk. "Ikut saya ke ruangan saya sebentar, bisa?" Pak Gani, yang memang berbeda daripada guru kebanyakan, tetap menunggu jawaban Renat dengan senyum menggantung di wajah. Jika Renat mengatakan tidak bisa, pastilah guru satu itu akan menurut saja. Tapi untuk saat ini Renat mengangguk. "Wah, saya suka gaya kamu, nih. Ayo, kita ngopi dulu di ruangan saya. Hari kelabu seperti ini perlu kita sapa dengan meminum sesuatu yang pahit." Renat mendengus diam-diam setelah Pak Gani berbalik badan, berjalan penuh semangat ke ruangannya. Renat mengikuti langkah guru berkemeja coklat tersebut, telinganya tajam ketika mendengar Pak Gani asik bersenandung. "Tetaplah engkau disini Jangan datang lalu kau pergi Jangan anggap hatiku Jadi tempat persinggahanmu" Renat sukses melotot di belakang, ekspresi ngeri tak kunjung surut dari wajah tersebut. Ah, sekarang perempuan itu malah ingin kabur menuju kantin. Perutnya meronta minta diisi. "ASTAGHFIRULLAH!" Renat berteriak pada akhirnya. Suara menggemaskan milik perempuan itu kembali terdengar setelah sekian lama tersembunyi. "Eh, kamu kenapa?" Pak Gani yang baru saja berbalik bertanya panik. "Saya laper, Pak," ujar Renat jujur. "Kalau Bapak ajakin saya minum kopi, yang ada saya mati hari ini juga." "Oh, saya tau. Yasudah. Hari kelabu seperti ini mari kita gulung dengan memesan nasi Padang dan secangkir kopi hitam pekat." Renat berbinar, lalu mengangguk pelan. Lumayan dia mendapatkan nasi Padang disaat seperti sekarang, bukan? Perempuan itu melanjutkan langkah, mengikuti Pak Gani menuju ruangannya. Renat menatap kiri kanan, koridor sunyi. Sebab jam pelajaran tengah berlangsung. Dan Pak Gani bukannya menyuruh Renat masuk kelas untuk belajar, tetapi malah membelanjakannya. Pak Gani masuk duluan ke dalam ruangannya dan segera menyiapkan kopi. Sedang Renat memilih duduk dan memejamkan mata. Selain lapar, perempuan itu juga mengantuk. Semalam, Abi mengirimkan tugas bagian Renat agar perempuan itu mencarinya. Dan bukannya melaksanakan, Renat memilih menghabiskan waktu dengan streaming hingga larut. "Ditunggu nasi Padangnya, kamu minum aja dulu kopinya." Pak Gani ikut duduk di seberang Renat, menyodorkan secangkir kopi harum ke arah anak perempuan itu. "Saya nggak minum kopi, Pak," celetuk Renat berdusta. "Terus, kamu begadang semalem pake apa?" Renat tersedak. Buru-buru membuang muka karena ketauan berbohong. "Di minum aja, ini enak lho. Dibungkusannya aja ada foto abang saya, Lee Min Ho-Hyung." Renat reflek tertawa garing. Semata-mata menghargai candaan guru muda di depannya. Setau Renat, umur Pak Gani sekitar dua puluh lima atau enam. Pelan, diterimanya cangkir kopi dari Pak Gani. Sehingga guru tersebut ikut tersenyum. "Inikan bukan kopi hitam, Pak," kata Renat penuh kebingungan. Tapi walau begitu, mulutnya juga lancar menyesap sedikit demi sedikit luwak kopi putih tersebut. Pak Gani tampak menghela napas, memberikan kembali senyumnya. "Kalau hidup itu udah pahit, bukannya kita butuh pemanis?" Renat tersentak. Harusnya dia sadar dari awal. Harusnya dia menolak ajakan guru muda ini. Karena dibalik sifat konyolnya, Pak Gani memiliki tingkat keseriusan yang tidak bisa disepelekan. "Saya permisi deh, Pak," ujar Renat lalu buru-buru berdiri. "Renata," panggil Pak Gani pelan, dan Renat yang hampir mencapai pintu sukses berhenti. Ekspresi datar kembali dipasangnya. "Gimana kalau saya ucapin selamat buat pernikahan Mama kamu dan Papa baru kamu?" Renat membuang lirikan matanya ke segala arah, asal bukan manik mata milik Pak Gani. Dia sebenarnya tidak suka pada fakta bahwa ternyata Pak Gani mengetahui keluarganya. Terlebih karena guru tersebut terkesan ikut campur. "Duduk lagi, Renata," suruh Pak Gani pelan. Renat berjalan pelan untuk kembali duduk, mendaratkan badannya pada sofa hitam tersebut. "Saya nggak minta Bapak ikut campur sama masalah saya, Pak," ucap Renat lebih menekan. "Dan saya nggak akan terima dengan senyum ucapan selamat dari Bapak." "Kamu nggak suka sama pernikahan itukan, Renata?" Renat mendengus, menyandarkan badannya ke sandaran sofa dan melipat tangan di depan d**a. "Keahlian Bapak kayaknya cuma ngurusin urusan orang, ya?" "Saya lahir untuk itu, Renata." Pak Gani tetap memberikan senyumnya, bersikap tenang di hadapan anak perempuan berambut pendek tersebut adalah langkah utama yang harus dilakukan. Bukan berniat ikut campur. Hanya saja, guru satu itu lebih ingin agar Renat kembali menjadi dirinya. Pak Gani masuk ke dalam permasalahan Renat, sebab ia ingin anak perempuan itu tau bahwa masih ada yang peduli padanya, dengan tulus. Kemarin, Pak Gani mungkin berpikir bahwa dia hampir mati ketika melihat perubahan pada Renat. Sama halnya saat dia melihat murid-murid lain yang menyimpang. Seperti sudah menjadi sifat alamiah, Pak Gani pasti datang. Membantu dengan caranya sendiri. Dan sekarang, pria muda tersebut ternyata mampu menarik perhatian Renat dengan secangkir kopi dan sebungkus nasi Padang yang baru saja datang. Pria itu mengambil piring dan meletakkan bagian Renat di depan perempuan itu. "Makan dulu," perintah Pak Gani. "Saya tau kamu laper, dan saya gak mau murid yang termasuk dalam golongan mampu meninggal karna kelaparan." Renat yang memang merasa disindir lagi-lagi mendengus. Tapi tidak dielakkan, bahwa ia segera menjangkau sendok dan makanannya. Mulai menyuapkan sesendok demi sendok untuk masuk ke mulutnya. Pak Gani ikut makan, namun dalam diam kembali menatap murid perempuannya. Kemarin, Pak Gani buru-buru mengumpulkan informasi tentang Renat. Semuanya. Sampai ia dapat menyimpulkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Luka terhadap keluarga. Tepatnya, Mama. Melihat sepasang bola mata coklat itu, Pak Gani tau bahwa terdapat luka disana. Dari ekspresi datar yang terus dipasang, ada sebuah kesedihan besar yang ditutupi. Dan rambut pendek? Pak Gani tau bahwa perempuan itu ingin dilihat sebagai pembangkang. Ingin dinilai kuat oleh siapapun. Padahal, Renat dapat menangis kapan saja jika diberi sentilan kecil. "Apa cita-cita kamu?" Pak Gani bertanya, sendok yang ia pegang sibuk memilah-milah sesuatu. "Jadi orang," jawab Renat tanpa pikir panjang. Pak Gani terkekeh, kepalanya menggeleng. "Saya dulu seusia kamu, juga pengen jadi orang. Tapi orang yang kayak mana?" "Yang setia sama suamilah," ceplos Renat sesuka hati. Toh tidak ada gunanya dia berbohong lagi jika Pak Gani memang sudah mengetahui. "Yang nggak bakal ninggalin keluarga." "Mimpi kamu jadi Ibu Rumah Tangga?" Renat sukses mendongak setelah terus saja menatap makanannya. "Bener, kan? Kalau ditelaah dari apa yang kamu bilang, kayaknya kamu bakalan jadi IRT." "Saya mau jadi wanita karir, Pak. Yang sibuk. Yang punya banyak uang. Terus nikah sama satu orang aja. Setia sama dia. Setia sama keluarga saya." "Wah, saya suka pemikiran kamu. Mungkin saya butuh pikirin pendamping kali ya biar bisa nikah." "Gak usah nikah ajalah, Pak," cetus Renat setelah meneguk air putihnya. "Kenapa? Saya gak bakal ninggalin istri saya kok nanti." "Iya," ujar Renat sembari tertawa sinis, "tapi Bapak yang bakal ditinggal." Pak Gani terdiam di tempatnya. Ditariknya bibir ke samping agar tersenyum. Setidaknya, dia berhasil mengajak Renat agar banyak berbicara. Harapnya, Renat akan lebih nyaman setelah ini untuk berbicara dengannya. "Kamu bahagia?" tanya Pak Gani memulai topik lain. "Menurut Bapak?" tanya Renat balik, menyentak guru tersebut. "Dengan Mama yang mau nikah lagi sama orang yang bahkan saya sendiri nggak tau." "Bisa jadi kamu bahagia." "Hahaha, iyalah bahagia banget," jawabnya sambil memutar mata. "Renata, kalau kamu biarin keadaan ngebunuh kamu, percaya sama saya, kamu nggak bakal bisa gapai cita-cita kamu buat jadi orang. Jadi pembangkang kayak gini sama sekali nggak akan berpengaruh apa-apa." "Pak, tuker posisi, mau? Biar Bapak tau gimana rasanya jadi saya." Renat berdiri, berjalan ke pintu dan berbalik sebentar. "Makasih buat nasi sama kopinya, Pak. Berkat Bapak, saya gagal ke Neraka hari ini." Dan setelahnya, Renat berlalu pergi. • r e t u r n • Renat kembali ke kelas tepat saat bel berbunyi. Semua pasang mata menuju padanya. Seperti ada sesuatu yang baru saja Renat lakukan. "Lo kemana aja, hah?!" Renat tersentak ketika Anna berteriak di depannya. Jemari perempuan itu tanpa permisi menolak bahu Renat kuat. "Bisa nggak tanggung jawab sedikit?! Lo pinter, kan? Seharusnya otak lo bisa dipake buat mikir." "Apaan, sih?" tanya Renat gerah sendiri. Perempuan itu berusaha menepis tangan Anna yang terus menolaknya hingga terdorong ke belakang kelas. "Gue nggak peduli apapun masalah lo. Yang gue mau, nilai gue nggak turun. Sekarang jawab gue, tugas bagian lo mana?" Renat menggigit bibirnya sebelum menjawab, "Bukannya gue diminta keluar dari kelompok?! Kenapa sekarang malah ngemis marah-marah ke gue? Kalian yang ngusir terus sekarang aku-akuin gue di kelompok kalian." Anna lagi-lagi menolak Renat, seperti tidak terima dengan alasan yang Renat suarakan. Renat sendiri tetap diam, tidak ingin meledak. Karena apabila ia meluapkan segala amarahnya, pasti akan mengerikan. Sebab bukan hanya amarah pada Anna saja yang akan keluar, tapi juga amarah kepada Sang Mama. "Gue nggak mau tau, pokoknya lo harus bikin tugas bagian lo. Dan besok bakalan gue tagih." Renat mendecih, "Nggak! Buat sendiri sama lo. Gue udah keluar dari kelompok." "Renat lo denger gue, nggak?" Anna berteriak, membuat satu kelas kian menahan debaran di d**a. "Apa harus gue teriak ke orang-orang kalau lo berubah jadi songong kayak gini karna Nyokap lo yang selingkuh dan mau nikah lagi?" Renat tersentak. Demi Tuhan, dia membenci Anna. Anna, perempuan yang mengenal Renat sejak mereka duduk di bangku SMP. Mereka dulu dekat, sampai Anna menjauhi Renat karena amarah sebab Renat mencuri peringkat pertamanya. Dan sekarang, dengan lantangnya perempuan itu menyebutkan sesuatu yang seharusnya tidak disebut. "Iya. Gita Anindya. Model cantik Ibu Kota yang sebentar lagi bakalan nikah sama selingkuhannya, ternyata ngelahirin anak preman." Telapak tangan Renat melayang tepat di pipi Anna. Menghasilkan suara teramat kuat dalam kelas yang sunyi. Tapi tidak dengan hati Renat yang gaduh. Air mata perempuan itu luruh begitu saja. "Cuma karna tugas yang belum tentu bikin lo jadi presiden dunia, lo bisa nyebut hal tadi. Jelas-jelas berita kalau Nyokap gue mau nikah lagi gak ada hubungannya sama tugas sialan ini. Kalau lo masih punya dendam ke gue, selesein baik-baik." Anna, dengan amarah memenuhi rongga dadanya, tidak terima akibat tamparan yang Renat berikan. Dan ketika tangannya melayang menuju Renat, bunyi lantang kembali terdengar. "Ha?" "a***y!" "Seriusan itu?!" Satu kelas sontak rusuh. Kaget atas apa yang mereka lihat. Disana, Renat tampak baik-baik saja. Pipinya tidak disapa oleh apapun. Tidak berbeda dengan teman-temannya, Renat sendiri juga kaget dengan sosok yang berdiri tepat di depannya. Abi. Lelaki itu kini sibuk memegang rahangnya yang perih akibat tamparan Anna. "Bukannya semalem kamu setuju kalau Renat keluar dari kelompok? Kamu juga bilang kalau tugas bagian Renat bakal kamu yang selesein. Jangan ngelawak, ini sekolah, bukan pentas komedi." Setelah itu Abi berlalu, meninggalkan Renat yang masih kaget di tempatnya. • r e t u r n •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD