16 - Sebagai Teman dan Kakak

1465 Words
"Gita Anindya nyokapnya Renat?!" Celetukan tersebut terus bergerak dari satu mulut ke mulut lain. Menyebar dengan cepat bagai virus mematikan. "Renat anaknya Gita woi!" ujar seorang siswi dengan semangat ketika tiba di meja kantin. "Buset! Tau dari mana?" balas temannya terheran-heran. "Tadi ada perang dunia ketiga di kelas gue. Si Anna kumat cari muka terus buka aib Renat. Terus-terus si Abi dateng jadi pangeran buat Renat." "SERIUS? ABI? DIA NGAPAIN?" Teman yang satunya berteriak heboh sebagai respon. Ketidakpercayaan bahwa Abi kembali melindungi seseorang membuat siswi itu sesak napas. "Jadi si Anna pengen nampar Renat, eh Abi buru-buru dateng. Yaudah, pipi Abi yang jadi korban." "Anjir. Kok bisa?! Terus Renat yang anaknya Gita, bukannya tu model mau nikah?!" "Nah makanya! Anna bilang nyokap Renat selingkuh." "Tu cewek mulutnya emang bocor, ya. Jahat banget jadi orang." "Emang. Denger-denger karna Anna dendam." "Lah, alay banget, si? Kampungan banget gayanya." Abi disana. Mendengar setiap kata yang sedang dibicarakan oleh ketiga siswi perempuan tersebut. Walau matanya tidak melihat ke arah mereka, melainkan ke satu titik dimana Anna tengah berada. "Iya. Gita Anindya. Model cantik Ibu Kota yang sebentar lagi bakalan nikah sama selingkuhannya, ternyata ngelahirin anak preman." Kalimat tersebut yang kian menarik Abi agar mendekat. Karena di satu sisi, Abi tidak menyukai cara Anna. Dan kalimat tentang siapa Renat benar-benar menohok Abi. Dugaan yang ia harapkan salah ternyata benar adanya. Dan mata Abi memang suka panas ketika seseorang disalahkan begitu saja. Hanya karena Anna perempuan, jika laki-laki, Abi pastikan Anna akan menginap beberapa malam di rumah sakit. Abi tau dia akan masuk dan bertemu dengan Pak Gani di ruang BK jika saja melakukan hal tersebut. Ujungnya selalu sama, pemanggilan orang tua. Dan Abi akan segera menghubungi Aldric dan meminta Papanya itu datang seperti biasa. Tidak, Abi tidak akan pernah menghubungi Mamanya. Laki-laki itu memilih berjalan keluar kantin dengan sekotak s**u rasa pisang. Langkahnya pasti menuju kelas. Anak-anak yang melihatnya kebanyakan bergeming. Tidak berani memancing Abi. Sedang Abi hanya dapat menghela napas panjang. Tentu saja, satu penjuru sekolah sudah tau kejadian tadi. Mata Abi menyisir sekeliling kelas, melihat teman-temannya asik membuat lingkaran dan membahas sesuatu yang tidak lain adalah tentang Renat dan dirinya. Ch, kebiasaan. Abi menatap meja paling sudut. Dimana meja Renat berada. Perempuan itu tidak ada. Mungkin tengah menyendiri entah dimana. Tanpa memperdulikan tatapan teman sekelasnya, Abi berjalan mendekati meja tersebut. Meletakkan s**u yang baru saja dibelinya disana. Entahlah, menurut Abi pisang dapat membuat seseorang kembali ceria. Karena adik bungsunya yang terkenal ceria tersebut begitu menyukai pisang. Renat, anak dari Gita Anindya. Kepala Abi sepertinya akan pecah hanya karena kalimat tersebut terus melayang di dalam kepalanya. Ketika Abi hendak kembali ke kursinya, Victor masuk ke kelas. Dan langsung berteriak heboh ke arah Abi. "Wow, Bebi, wow!" ujar Victor semangat. Tapi setelah itu Victor buru-buru mengelak ketika Abi hendak melemparnya dengan sesuatu. "Gue kalau jadi Renat, udah dah tu, gak usah ditanya, mati di tempat gue." "Bacod," sahut Abi ketus ketika Victor menyusul duduk di sebelahnya. "Hati-hati, nanti beneran peduli," kata Victor dengan senyum tertahan, sedang telapak tangannya sibuk menepuk-nepuk bahu Abi. "Gak," jawab Abi cepat. Lalu fokus dengan ponselnya. Entah apa yang dilakukan oleh Abi disana sehingga ia benar-benar tidak mengacuhkan keberadaan Victor. Tapi laki-laki pemilik awalan nama Julian tersebut tetap asik berceloteh panjang. "Tapi, Bi, gue bener-bener gak percaya kalau Renat itu anaknya Gita Anindya. Maksud gue, berarti dia berubah karna nyokapnya yang mau nikah lagi, gitu?" "Gak ngurus," ujar Abi ketus. Walau sekarang, di dalam kepalanya, nama Renat tengah berterbangan. Ah, sial. "Terus Anna. Gue pernah sih denger kalau Anna itu jahat dari mulut orang-orang. Tapi gue rada gak percayaan. Tapi tadi, merinding njing, ini pertama kali gue liat dia kayak gitu. Maksudnya, kan dia anaknya keliatan lemah lembut gitu. Jadi aneh aja. Mana dia yang terang-terangan bilang tentang siapa Renat. Ciri-ciri apaan ya orang begitu?" "Muka dualah, Bego. Pake nanya." Abi menanggapi dengan kesal. Hanya untuk menilai seperti apa Anna, Victor masih bisa-bisanya bertanya. "Kalau jodoh lo Anna, gimana?" "Anjing, gak mau." Victor sontak tertawa keras. Pasalnya, raut wajah Abi benar-benar tampak risih dan lucu. Seakan-akan, anak lelaki itu memang akan berjodoh dengan Anna. "Iyalah enggak. Jodoh lo kan Renat." Abi diam, tidak menanggapi. Sehingga Victor lagi-lagi menarik kesimpulan sendiri. "Kok lo gak respon? Jadi beneran mau sama Renat?" "Kagak, Bego. Ya lu pikir sendiri ajalah." Abi menggerakkan ponselnya, jemarinya lihai di atas layar. Ah, anak lelaki itu tengah seru bermain games. "Terus itu apaan pake segala kasihin s**u?" pancing Victor terus-terusan. "Bukan gue yang ngasih. Bapak kantin yang minta buat dititipin ke tu cewek." "Renat! Namanya Renat." "Hm," gumam Abi sambil menyamankan diri. Gamesnya kian seru. "Peduli juga ya Bapak kantin, terus hebat juga lo mau disuruh-suruh jadi tukang pos begitu." "Bacod bener lu, Vic!" hardik Abi akhirnya karena tidak tahan dengan Victor yang terus saja bersuara. "Gue lagi war, Bego. Diem dulu!" Victor seketika mencibir, membiarkan Abi melanjutkan gamesnya. Walau dalam hati, Victor tertawa geli. Teman karibnya, membelikan sekotak s**u untuk perempuan. Itu kemajuan. "Ganti games deh, Bi," "Diem, Setan!" "Piano tiles ajalah," pinta Victor sambil rusuh di layar ponsel Abi. "Gue kebiri lo lama-lama." Dan Victor sukses terdiam di tempat. • r e t u r n • Renat masuk ke kelas ketika bel pulang sudah selesai berbunyi. Anak perempuan itu memang bersikap sesukanya semenjak berubah. Guru yang masuk ke kelas 11 IPA 1 kerap mempertanyakan keadaan Renat. Kemarin, kelas tersebut memang tidak tau jawaban pastinya. Dan hari ini, bahkan kelas-kelas lainpun tau penyebabnya. Kelas sepi, persis seperti hidup Renat. Setelah menghabiskan waktu di rooftop sekolah, perasaannya tidak kunjung membaik. Ada ketakutan besar yang kian terukir. Benar, sekeras apapun Renat menutupi semuanya, pasti akan terbuka juga. Perempuan itu menghela napas sambil mengambil tas yang tidak berisi apa-apa. Dahi Renat sukses mengernyit kala menatap sekotak s**u yang terletak di atas mejanya. Ini untuknya? Atau milik temannya yang lain? Tapi tenggorokannya terasa kering. Tanpa pikir panjang, Renat menjangkau s**u tersebut. Mencabut sedotan yang menempel disana dan buru-buru membolongi bagian yang disediakan. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan isinya. Ketika Renat keluar dari kelas, ia mendapati Abi tengah berdiri tidak jauh dari posisinya. Renat tidak ambil pusing lagi terhadap laki-laki itu. Sekalipun semesta berteriak bahwa Abi telah menolongnya tadi, Renat tetap tidak peduli. Dibalikkannya badan, lalu lanjut melangkah setelah sebelumnya membuang kotak s**u ke tempat sampah. Siapapun pemilik s**u rasa pisang tersebut, Renat berterima kasih untuk itu. • r e t u r n • Abirayyan: Kamu dimana? Send location sekarang. Abirayyan: Bia Abirayyan: Read bisa nggak? Abirayyan: Bia jawab panggilannya. Abi sibuk mengetikkan sesuatu di roomchat Bia. Adiknya tersebut, sudah sore seperti ini belum juga tiba di rumah. Pasalnya, Bia tidak biasanya seperti itu. Jika dia pulang terlambat, pasti akan segera memberi kabar. Abi masih berada di sekolah hingga kini karena ada urusan. Dan anak lelaki tersebut terpaksa meninggalkan urusannya untuk mencari Bia. Papanya tentu ikut mencari, dan besar kemungkinan bahwa Cakrawala yang dituju. Tapi tidak dengan Abi. Lelaki itu sibuk memikirkan satu nama yang menjadi penyebab mengapa Bia belum juga pulang. Isaac Albarn. Ponselnya berbunyi, tampak balasan dari Bia. Abiana Alula: Apasih, A? Abirayyan: Sadar nggak orang rumah pada panik? Kamu dimana? Send location sekarang. Abiana Alula: Sebentar lagi pulang. Abirayyan: Send location atau nanti papa bakalan tau siapa Isaac. Abi akui ia sedikit kejam karena memberikan Bia ultimatum semacam itu. Tapi Abi benar-benar ingin tau adiknya berada dimana. Laki-laki itu khawatir. Abiana Alula: Abiana Alula has sent you a location. Abirayyan: Tunggu disana! Abiana Alula:  Abirayyan: Nurut apa susahnya, sih? Abiana Alula: Bodo, gak denger terang Abirayyan: Terserah. Abiana Alula:  Abi tidak lagi membalas. Dia segera menjalankan motornya menuju lokasi yang dikirimkan oleh Bia. Macet sore hari benar-benar membuat Abi sibuk mengutuk sejak tadi. Rasa-rasanya, ia ingin terbang agar segera sampai dan membawa Bia pulang. Entah sudah berapa lama, akhirnya Abi tiba. Sebuah lapangan luas yang memang terkenal dengan kegunaannya untuk beraktivitas. Abi memarkirkan motornya cepat, kembali mengeluarkan ponsel. Tepat di dering ketiga, panggilan Abi dijawab. "Kamu dimana?" "Disini." "Jangan bercanda. A udah sampai. Kamu dimana?" "Iya-iya. Coba cari di kumpulan orang-orang yang main balon, deh. Bia disana." Abi melangkahkan kakinya. Mendapati banyaknya orang-orang yang bermain balon sabun. Difokuskannya pandangan. Dan Abi sukses membeku ketika ia melihat Bia. Adik perempuannya, tengah tertawa bahagia dengan Isaac di sebelahnya. Abi tertohok karena pemandangan tersebut. Adiknya benar-benar tampak menikmati suasana. Jika orang-orang berpikir bahwa adiknya gila terhadap kemewahan, mereka salah. Hanya dengan balon sabun dan seorang laki-laki, adiknya juga dapat bahagia. Abi menghela napas. Sebahagia apapun Bia terhadap seorang laki-laki, perempuan tersebut tidak akan pernah membiarkan Sang Papa mengetahuinya. Abi tau ketakutan Bia terhadap Aldric. Dan Abi tau bahwa Bia hanya ingin bahagia tanpa harus dikekang. Lalu Abi, tidak ingin posisinya sebagai kakak laki-laki menjadi sia-sia hanya karena tidak bisa membantu Bia. Setelah ini, sepertinya mereka butuh bicara lebih serius. Antara dirinya dan Bia. • r e t u r n •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD