13

1676 Words
Inigha, dialah nama penyihir itu. Saat berada di perjalanan, dia terus memikirkan firasat buruk yang tiba-tiba menyeruak. Beberapa kali dia mengubah posisi duduk, menandakan kecemasan tengah melandanya. Biasanya firasatnya sering kali tajam. Meskipun seringkali pula di saat firasat itu muncul, dia tidak bisa menduga dengan pasti. Selang beberapa jam kemudian, dia telah sampai di kediaman kedua sahabatnya, Randalf dan Hilda. Dia pun mencoba mengetuk pintu dan memanggil-manggil. Namun, sampai beberapa menit, tidak juga mendapat jawaban. "Aneh ..., mereka bukan orang yang senang berjalan-jalan. Apakah ada urusan penting sehingga mereka harus keluar rumah?" gumam Inigha. Tiba-tiba firasat buruk kembali melintas. Tanpa pikir panjang, diambilnya tongkat dari dalam koper. "Tunjukkan di mana mereka!" Inigha berseru seraya membenturkan tongkat ke lantai. Tak lama kemudian samar-samar muncul bayangan yang melayang di udara. Bayangan itu makin lama makin jelas dan menampilkan pertarungan antara kedua sahabatnya tersebut. "Ada apa ini?" gumam Inigha, "Tunjukkan aku lokasinya!" Bayangan itu berubah, dan menunjukkan peta lokasi. Setelah mengetahui lokasi kedua sahabatnya, dia segera melesat dengan menunggangi tongkatnya. "Dari tadi aku ingin menggunakan tongkat ini karena bisa menghemat banyak waktu, tapi pasti akan dilihat banyak orang di bandara." Inigha terus melesat di udara menuju markas werecat. Sementara itu di markas werecat. Pertarungan sengit masih berlangsung. Livy dan Medy memang tidak memiliki kekuatan seperti teman-teman mereka. Namun, bantuan mereka membuat Willy kerepotan. Karena itulah Willy mencoba menyerang mereka, tetapi Shane, Filles, Jimmy dan Miko selalu menggagalkan upaya Willy. Kini pertarungan mereka bisa dibilang seimbang. Willy yang bertubuh raksasa tak bisa berlama-lama dalam kondisi itu. Rupanya meski tenaganya meningkat berkali-kali lipas, tenaganya bisa cepat habis. Sebab itulah Willy kembali berubah ke sosoknya semula. Kalau kondisiku sudah kembali seperti dulu, aku tidak akan merasa lelah seperti sekarang, batin Willy saat tubuhnya berangsur-angsur mengecil. Melihat Willy telah kembali ke ukuran semula, Shane, Jimmy, Filles dan Miko tahu kalau kesempatan memenangkan pertarungan ini terbuka lebar. Semua ini karena bantuan Livy dan Medy yang masih mengendalikan meriam di hadapan mereka. "Kenapa diam, Will? Karena kamu tahu sebentar lagi kekalahanmu?" tanya Jimmy, setengah mengolok-olok. "Ah, dia tahu kalau sebentar lagi kita menghabisinya," timpal Filles. "Kamu mengkhianati persahabatan kita. Sebentar lagi kamu akan merasakan akibatnya!" Miko memandang Willy dengan mata menyala-nyala. "Sebentar lagi? Tidak! Tapi saat ini juga!" Shane melesat ke arah Willy diikuti Jimmy, Miko, dan Filles secara serentak. Sementara itu Medy dan Livy tak mau ketinggalan. Terlebih lagi Medy, yang kali ini memegang kendali meriam. "Rasakan meriam ini!" BOOOM! Semua serangan tertuju padanya, tetapi Willy hanya terpaku di tempat. Kendati dalam keadaan terdesak, dia tetap bersikap tenang. Hanya dia yang tahu kenapa bersikap setenang itu, seolah-olah mau masih jauh darinya. Tapi sebentar lagi semua akan terjawab. Di sisi lain di markas werecat. Pertarungan antara Randalf, Villes, Viles dan Files dengan Hilda masih berlangsung. Keadaan pertarungan tidak jauh berbeda dengan pertarungan lainnya, beberapa meter dari sana. Ya, Randalf, Villes, Viles, dan Files sekarang berhasil mendesak Hilda. Serangan mereka membuat Hilda kewalahan. Apalagi magis bayangannya telah buyar. Ditambah lagi magis itu telah menyedot separuh tenaganya. Sudah hampir dipastikan kekalahan akan dialami oleh Hilda. Namun, Hilda bukan orang yang mudah menyerah. Hilda menembakkan cahaya-cahaya ungu ke arah Randalf, Villes, Viles dan si kecil Files. Akan tetapi semua serangan itu dapat dihindari dengan sempurna. Sayang, sebenarnya serangan tadi bukan serangan sesungguhnya. Sekali lagi Hilda berhasil mengecoh Randalf, Villes, Viles, dan si kecil Files. Hilda mengayunkan tongkat dari atas ke bawah. Sedetik berikutnya sebuah bola energi melesat cepat ke arah Randalf, Viles, Villes, dan Files. Mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk berpikir dan bereaksi atau bola energi itu akan menghunjam dan menghancurkan mereka semua menjadi debu dan serpihan kecil. BLAAAAAAAAAR! Seisi markas werecat berguncang hebat. Bangunan dan segala sesuatu di atasnya berserakan. Asap dan debu bercampur memenuhi udara. Para pasukan werecat seperempatnya menjadi korban keganasan serangan Hilda itu. Melihat kedahsyatan serangannya, Hilda tertawa keras. "Ha ha ha ha ha ha ha! Tidak mungkin kalian selamat dari serangan tadi! Kali ini pasti kalian tewas!" Akan tetapi, kesenangan Hilda hanya sementara. Saat asap berangsur-angsur pudar, Randalf, Villes, Viles, dan si kecil Files muncul, dan berdiri kukuh. Mereka tidak terluka sedikit pun. Kecuali hanya tergores serpihan-serpihan akibat ledakan itu. Hal itu tentu saja membuat Hilda terperanjat. Ketakutan pun menyeruak di dalam pikirannya. Mata Hilda melebar menyaksikan itu. "Tidak ..., tidak .... Bagaimana mungkin kalian bisa selamat dari serangan itu?" Senyum Randalf pun terpantik. "Apakah kamu lupa kalau aku memiliki magis perlindungan? Apakah kamu lupa kalau aku dikenal sebagai penyihir yang menguasai mantra pelindung? Cih! Rupanya persekongkolanmu dengan para werepuppy telah membuat ingatanmu menjadi sepayah sekarang!" "Randalf, sebaiknya kita manfaatkan keadaan ini dan menyerangnya," bisik Villes yang didengar teman-temannya. "Tapi kita tetap harus berhati-hati. Walau bagaimanapun dia tetap Hilda yang memiliki kekuatan mengerikan," sahut Viles. "Apalagi kita tahu, dia licik dan sudah berhasil mengecoh kita dua kali," timpal si kecil Files, mengingatkan agar mereka tidak memandang remeh Hilda. Akan tetapi, kali ini Hilda memang sudah kehilangan akal dan cara. "Pasukan werecat! Untuk apa diam saja?! Serang mereka! Atau aku akan menghabisi nyawa kalian lebih dulu!" bentak Hilda marah, melihat tak satu pun pasukan werecaf membantunya dari.awal.pertarungan. Diancam seperti itu tentu saja membuat pasukan werecat ketakutan. Lebih baik mempertaruhkan nyawa melawan musuh, daripada memasrahkan nyawa. Setidaknya peluang untuk tetap hidup masih terbuka meskipun kecil. Para pasukan werecat mengepung Randalf, Villes, Viles, dan si kecil Files dari semua sisi: kanan, kiri, depan, belakang. Kepungan mereka tak memberi celah sedikit pun. Walau begitu, Randalf, Villes, Viles, dan si kecil Files tidak gentar. Justru mereka tahu kalau Hilda sudah kehabisan akal dan cara. Namun, mereka tahu kalau keterdesakan Hilda bukan berarti dapat meremehkannya. Atau mereka akan merasakan akibat yang tidak diinginkan. "Ini artinya Hilda merasa kehabisan akal dan cara," tukas Viles, ternyum puas. "Jangan merasa puas dulu, Nak." Villes, sang ayah, mengingatkan, "kita tidak tahu karena bisa jadi dia menyimpan rencana yang bisa mengejutkan kita." Randalf menganggukkan kepala. "Benar. Aku sangat tahu bagaimana Hilda. Meskipun bukan penyihir terkuat di antara kami, dia adalah penyihir yang paling cerdas. Bahkan mungkin melebihi kecerdasan para pendahulu kami. Kecerdasannya itu yang membuatnya lebih menakutkan dibandingkan magisnya. Sering kali dia memenangkan pertempuran hanya dengan mengandalkan kecerdasan." Si kecil Files menyahuti, "Meskipun berhati-hati, bukan berarti kita diam saja kan?!" Randalf kembali mengangguk. "Mari kita satukan kekuatan sekali lagi." "Apakah masih bisa?" tanya Villes sedikit terkejut. "Bisa. Tapi kekuatannya tidak sekuat tadi. Semoga itu sudah cukup untuk menaklukkan Hilda," jawab Randalf. "Baiklah. Mari kita coba." Satu demi satu meletakkan tangan di atas kepala tongkat. Tak lama kemudian menguar asap dari tangan mereka dan menyelusup masuk ke dalam tongkat. Perlahan-lahan tongkat Randalf berpendar, makin lama menjadi makin terang. Aura kekuatannya pun dapat dirasakan semua yang ada di sana. Termasuk Hilda, yang diam-diam bergidik ngeri membayangkan kekuatan ke empat lawannya yang pernah dia rasakan belum lama ini. "Cepat serang mereka!" teriak Hilda, memberi perintah pada para pasukan werecat. Para pasukan werecat itu maju secara serentak. Cakar mereka terarah ke depan, bersiap mencabik-cabik Randalf, Villes, Viles dan si kecil Files. Randalf, Villes, Viles, dan Files mengentakkan tangan di tongkat Randalf. Sedetik kemudian melesatlah cahaya keemas ke arah Hilda. Kekuatan dua cahaya itu sangat kuat. Begitu pula dengan kecepatannya. Hanya dalam hitungan mili-detik, kedua magis itu bertemu dan menimbulkan ledakan luar biasa. Kendati berada di udara, suara ledakan mengguncang tanah; hempasan anginnya memorak-porandakan sekitar Tak ayal, sebagian pasukan werepuppy terkena imbasnya. Mereka terluka, bahkan ada yang sekarat. Sebagian lain lari tunggang-langgang. Akan tetapi, tanpa di duga dalam sekejap cahaya itu terserap. Randalf, Villes, Viles dan si kecil Files terkejut. Begitu pula dengan Hilda dan para pasukan werecat. Mereka menoleh pada sosok yang menyerap energi itu. Rupanya dia adalah sosok yang ditakuti para werepuppy, sekaligus sosok yang dihormati para werecat. "Marok!" Marok tersenyum. "Kami belum terlambat, 'kan?!" Marok mengerling ke belakang. Di belakangnya berdiri keluarga beserta para anak buah werecat yang baru saja pulang dari pencarian mereka. Marok kembali berkata, "Bagus, orang yang kami cari justru datang untuk mencari mati!" Tubuh Marok membesar, bahkan jauh lebih besar dari tubuhnya ketika berada di kediaman keluarga Villes. Kehadirannya tentu menyita perhatian Willy di sisi lain. Dengan kehadiran Marok sudah cukup memberi keyakinan kalau kemenangan akan berpihak pada para werecat. Akan tetapi, baru saja tubuh Marok berhenti membesar. Tiba-tiba seseorang mendarat ke tengah-tengah. Kehadirannya makin membuat semuanya terkejut. Terutama Randalf dan Hilda. "Inigha!" seru Randalf dan Hilda bersamaan. Inigha tersenyum, seraya mengedarkan pandangan. Melihat Hilda bersama para pasukan werecat, dia sudah bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja itu turut andil dalam keberpihakannya pada Randalf. "Kenapa kamu berkhianat, Hilda?" tanya Inigha geram sambil menatap tajam dengan matanya yang menyala-nyala. Hilda tersungging sesaat sebelum menjawab, "Karena aku bukan orang bodoh seperti kalian." "Apa maksudmu?" tanya Inigha kembali. "Para werecat adalah pengikut setia Gilgallon. Dan kita semua tahu kalau Gilgallon adalah penyihir terkuat. Aku tidak habis pikir dengan kebodohan kalian." Hilda menoleh pada Randalf. "Terutama kamu, Randalf. Kalau kamu ingat, dulu aku pernah membahasnya denganmu. Tapi kamu tetap memilih menentang Gilgallon. Beruntung, saat itu kamu sama sekali tidak mencurigaiku." "Cih! Kamu benar-benar perempuan licik!" Randalf berkata berang. "Licik? Hmm ..., terserah kamu menyebutkan bagaimana. Tapi bagiku itu bukan licik, melainkan sangat cerdas. Genius! Ha ha ha ha ha ha!" Hilda tergelak, kemudian melanjutkan, "Suatu ketika di saat kamu sedang bertarung di Paris. Aku diam-diam bertemu Gilgallon." "Gilgallon?!" Pengakuan Hilda membuat mereka semua terkejut, termasuk para pasukan werecat. Selama ini tidak ada yang tahu keberadaan Gilgallon. Namun, menurut kabar, dia sering muncul tiba-tiba di suatu tempat. Pengakuan Hilda itu membenarkan kabar yang tersiar. Hilda menyeringai. "Gilgallon menunjukkan kekuatan barunya di hadapanku. Di situlah aku makin yakin kalau selama ini aku berada di pihak yang salah. Semua penentangan terhadapnya hanya akan berakhir sia-sia. Dan bagiku kalian para penentangnya adalah makhluk paling bodoh di seluruh alam semesta!" "Kamulah yang bodoh, Hilda," ujar Inigha. Hilda tersentak lalu menatap Inigha tajam. "Hah!" "Setiap makhluk, hidup dengan harapan, dan harus meraihnya dengan perjuangan. Orang yang menyerah terhadap keadaan sepertimu lebih telat disebut bodoh!" Bersamaan dengan berakhirnya ucapan itu, dari tongkat Inigha berpendar cahaya kelabu. Tidak terang, tetapi memancarkan kekuatan luar biasa. Tak satu pun di antara orang-orang di sana yang bergidik merasakan kekuatan itu. Bersambung ke chapter selanjutnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD