Cinta Liar
"Apa saya semenjijikan itu sampai kamu enggan menatap saya?" Suara lembut seorang wanita menghentikan langkah lebar dan tergesa.
Terlihat seorang wanita muncul, berdiri di depan pria bernama Adam.
Wanita itu mengenakan gaun tidur putih polos. Rambut pirangnya tergerai hingga melewati bahu, helainya halus dan rapi. Di kakinya, sandal rumahan berbulu berukuran kecil—nyaris dua kali lebih mungil dari kaki Adam.
Sinar matahari dari balkon jatuh tepat di kulitnya, membuat warna pucat itu tampak berkilau.
"Terakhir kali saya melihat matamu, di saat itulah hidup saya berantakan seperti ini! Saya membencimu, bahkan tak sudi membiarkan bayanganmu jatuh di dekat saya,” sahut Adam, rahangnya mengeras.
"Kamu sangat membenci malam itu, tetapi selalu mengatakannya," ucap wanita bernama Anya. Ia kini berdiri tepat di depan pintu, menghalangi langkah Adam.
"Menyingkir dari jalan saya!"
"Apa kamu lupa mengenai perjanjian kita? Sebelum pergi, kamu harus mencium saya. Tepat di sini ...." Anya menyentuh pelan bibirnya, mata berwarna biru hazel itu menatap ke arah Adam. Semburan sinar matahari yang menyusup masuk dari balkon mengenai matanya.
"Cih! Melihatmu saja saya tak sudi, apalagi menyentuhmu."
"Tapi kita pernah melakukan lebih dari itu, apa bedanya?"
"Jika tidak karena otak jahatmu itu, saya pastikan bahwa saya tidak akan pernah menyentuhmu sedikit pun."
"Baiklah, jika kamu tidak mau menepati janjimu semalam, jangan salahkah saya jika saya menolak menandatangani surat cerai itu."
"ANYA!" Kedua mata mereka bertemu.
Mata Adam tidak berkedip. Napasnya terdengar berat, keluar masuk melalui hidung. Namun, Anya tak bergeming.
"Saya tidak meminta apa pun selain itu. Bahkan saya bersedia pergi tepat satu hari setelah saya melahirkan anak kita. Apa permintaan saya ini berlebihan untuk semua yang saya akan berikan padamu?"
"Dasar wanita licik!"
"Saya merasa tersanjung untuk itu. Ini pertama kalinya kamu mengumpat saya. Biasanya kamu hanya diam menatap saya dengan pandangan benci itu." Anya tersenyum, mengambil langkah mendekati, selaras dengan langkah mundur Adam.
"Pikirkan ini baik-baik, kamu hanya perlu menahan permintaan ini selama 9 bulan ini saja. Saya tidak akan meminta apa pun." Anya kembali mendekat. Kali ini ia menahan tangan Adam yang hendak melangkah mundur.
"Lepaskan tangan saya!" bentak Adam. "Jangan pikir saya tidak bisa berbuat kasar pada wanita sepertimu!"
Anya tak menghiraukan, ia terus maju dan dengan cepat mencium bibir Adam.
"Dasar wanita tak tahu malu!" Adam menghempas keras tangan Anya dari tangannya.
Anya yang sudah menebak reaksi itu tak terlalu terkejut dan tak pula kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ia tetap berdiri menatap Adam.
"Karena ini ciuman yang pertama, saya tidak masalah memulainya. Namun, besok kamu harus melakukannya sendiri."
Anya berbalik, berjalan ke arah lemari mengambil spidol mengabaikan cacian Adam dan langsung menandai centang pada agenda bertuliskan "540 Ciuman" yang sudah di tempelnya besar di sebelah lemari riasnya.
"Perjalanan ini akan cukup panjang. Saya harap kamu tidak akan mundur," gumam Anya.
Adam mendekat dan langsung merobek kertas itu. Anya hanya diam menatap Adam yang mengepal keras tangannya, telinganya merah, nafasnya naik turun cepat.
"Trik kotor apa yang sebenarnya ingin kamu mainkan di sini? Jangan pikir karena orang tuaku menyayangimu, kamu bisa bersama saya selamanya!"
"Saya tidak pernah berpikir seperti itu, bahkan dalam mimpi pun saya tak seberani itu." Anya lantas bangkit, mengambil sesuatu dari rak miliknya.
Ada banyak kertas bertuliskan "540 Ciuman" yang sama persis dengan yang Adam robek barusan.
"Saya sudah menyalin banyak kertas itu untuk mengantisipasi jika kamu ingin merobeknya lagi."
Adam mendengus, kebenciannya pada Anya sungguh tak lagi tertolong, seolah tidak ada celah sedikitpun bagi Adam untuk melihat sisi baik dari gadis yang sekarang berstatus sebagai istrinya itu.
"Sekarang sudah hampir jam delapan, kamu harus berangkat sekarang agar tidak telat. Meski kamu dosen, tak layak bagimu untuk telat. Saya juga ingin istirahat, sejak tadi perut saya tak enak. Mungkin saya salah makan tadi malam."
"Jangan lupa, saat pulang kerja kamu juga harus mencium saya."
Adam tak menjawab. Dengan tangan terkepal dia pergi begitu saja meninggalkan Anya yang hanya bisa menatap punggung suaminya yang semakin menjauh, yang tidak sedikit pun menoleh padanya.
"Maafkan ibumu, Nak..." Anya mengelus pelan perutnya yang masih datar. Perutnya memang belum menunjukkan bahwa dia telah hamil, tapi janin itu telah ada di rahimnya.
Anya tak mengira bahwa dia akan serendah ini, bahkan menjadikan kehamilannya sebagai tameng untuk terus bersama Adam.
Kejadian malam itu telah membawa janin kecil itu menempati rahim Anya sekarang. Kejadian yang seumur hidupnya tidak akan pernah dilupakan.
***
Tahun 2017,
"Apa kamu yakin sudah memasukkan obat perangsang itu pada minuman Anya?"
"Ya! Gadis bodoh itu bahkan sudah meminum setengahnya tanpa curiga sedikitpun."
"Bagus. Obatnya akan beraksi dalam 15 menit lagi. Saat itu, kita bisa berpesta sepuasnya. Kamu bisa memakainya setelah saya puas bersamanya."
"Bagus! Saya sungguh tak lagi tahan untuk menyentuh tiap jengkalnya, saya ingin merasakan bagaimana kelembutannya menyentuh kulit saya."
"Sekarang cepatlah temui gadis bodoh itu sekarang. Efek obatnya mungkin sudah mulai bereaksi!"
Anya tak menyangka hal busuk ini akan terjadi padanya. Anya dibius obat perangsang oleh orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri dan bahkan oleh orang yang mengaku sangat mencintainya.
"Sialan!"
Anya terus memaksa kakinya agar terus berjalan menjauh dari tempat terkutuk itu— klub malam. Tak ada yang bisa dia minta tolongi. Ponselnya tertinggal di ruangan terkutut itu.
Belum selesai dengan siksaan obat perangsang yang mulai beraksi di tubuhnya, beberapa preman jalanan diam-diam sudah mengikuti langkah Anya. Mereka bagai kucing yang siap menerkam ikan asin. Penampilan dan kondisi lemah Anya tentu menjadi santapan lezat mereka.
"Kalian semua k*****t!"
Pikiran Anya tak lagi jernih, ia mengambil sebotol kaca dari tempat sampah, membenturkan ujungnya dan memegang erat botol itu di tangannya. Anya tak tahu apa yang akan terjadi padanya malam itu. Mati pun dia tak lagi peduli!
"Berani kalian mendekat, saya bunuh kalian detik ini juga!" teriak Anya.
Dilalahnya, segerombolan preman birahi nampak tak menggubris ancaman Anya. Di mata mereka, Anya hanya gadis lemah mabuk yang tentu tidak sebanding dengan kekuatan mereka.
"Kita hanya ingin menemani Nona malam ini," kata mereka dengan tatapan liar yang menjijikan. Mereka terus berjalan mendekati Anya.
Anya mengangkat tinggi botol pecah itu ke arah mereka dengan sisa tenaganya yang ada.
"Mati saja kalian k*****t!"
Rombongan preman itu tertawa, entah menertawakan kalimat Anya atau mentertawakan ketidakberdayaan Anya sekarang hampir limbung.
"Nona, jangan takut. Kita hanya ingin bersenang-senang bersama Nona!"
"Pergi kalian!" Anya menyerang sembarang beberapa preman yang terus berusaha mendekatinya, tak ada yang berhasil Anya lukai.
Mereka semakin puas menertawakan keadaan Anya.
"Lepaskan saya!"
"Nona, kulitmu sangat lembut!"
"Lepaskan saya b******k!"
Di saat harapan Anya nyaris musnah, bajunya robek, tiba-tiba terdengar suara sirine polisi begitu dekat, membuat panik gerombolan preman itu. Mereka buru-buru kabur, meninggalkan Anya yang terduduk tak berdaya di dekat tong sampah.
"Akhirnya mereka pergi juga ...." Suara berat seorang pria diiringi derap langkah kaki menyapa Anya.
"Nona, tenang saja ... sekarang Nona sudah aman."
Anya mendongka, matanya terkunci pada pria yang sekarang menatapnya dengan sorot penuh khawatir.
"Sepertinya kondisi Nona tidak baik-baik saja. Izinkan saya membawa Nona ke rumah sakit." Pria itu lantas melepas jasnya dan menempatkannya di tubuh ringkih Anya.
"Nama saya Adam. Saya dosen di Universitas Darma, ini kartu tanda pengenal saya."
Dengan penuh kelembutan dan hati-hati seolah Anya barang yang akan pecah jika terjatuh, pria itu menggendong Anya masuk ke dalam mobilnya.
"Nona, tenang saja. Saya akan memastikan Nona tidak kenapa-napa, di dekat sini ada rumah sakit. Saya akan antar Nona ke—"
Anya tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Adam, mengabaikan kalimat pria yang baru saja menolongnya.
"Diam! Jika kamu bergerak sedikit saja, pecahan botol ini akan langsung mengenai lehermu!" ancam Anya dengan susah payah, efek obat itu makin mengikatnya.
"Nona, apa yang Nona lakukan?"
"Kamu harus jadi milik saya."
Tanpa ragu Anya langsung mencekoki minuman laknat itu pada Adam. Adam yang kaget, tak sempat mengelak.
Minuman ini sebelumnya Anya bawa untuk menjadi bukti atas kejahatan orang yang mengkhianatinya. Namun, kini dia sama jahatnya.
"Kamu tahu, Nak... " Anya kembali mengusap perutnya. "Bahkan dalam mimpi terliar yang ibu miliki sekalipun, ibu tak pernah berpikir akan berada sedekat itu dengannya."
"Malam itu, mata ibu benar-benar silau. Rasa cinta liar yang bertahun-tahun lamanya tertutup rapat itu bangkit tanpa rasa malu."
"Ibu memaksanya!"
"Ingatlah ini, Nak... saat ayahmu tak sudi menyebut nama ibu, tolong jangan benci dia. Wajar ayahmu membenci ibumu ini. Ibumu memang antagonis dalam ceritanya."
"Antagonis yang sangat mencintainya."
***