"Hah? Kemana? Katakan, sekali lagi?" tanya Lody, memastikan.
"Kita pergi ke taman bermain besok," jawab Ben, dengan desahan panjang.
Dahi Lody berkerut ke atas dengan gembira.
"Kamu, yakin? Besok hari minggu, Ben. Bukannya kamu biasa bangun sore."
"Sekali-kali, nggak apa-apa. Lagi pula, Bintang juga sudah lama nggak jalan-jalan."
Lody lompat kegirangan. Dengan pisau masih di tangannya. Apron masih dipakainya. Sedangkan, Ben hanya tersenyum kecil. Berdiri di belakang sofa. Bersandar. Melipat tangannya di d**a.
"Bu.. ada apa?" tanya Bintang. Baru saja keluar dari kamarnya. Suaranya serak. Mengucek mata beberapa kali.
"Anakku sudah bangun? Kamu, tahu nggak? Besok, Ayah ajak kita ke taman bermain!"
"Wah, sungguh? Kita jalan-jalan besok? HORE!"
Bintang berlari ke arah Ben. Memeluk perut Ben.
"Terima kasih, Ayah."
Ben hanya tersenyum. Mengusap rambut Bintang.
"Kamu, nggak boleh berubah pikiran ya, Ben?! Aku nggak mau kamu terima telepon dari si botak licin itu! Paham?!" tunjuk Lody, dengan pisaunya.
Ben mengangguk. Sementara, Lody memekik gembira.
"Tapi, biasanya kafe ramai di hari minggu. Nggak, apa-apa kamu tutup?" tanya Ben.
"Sekali-kali. Nggak apa-apa. Hehe."
"Ben.. untuk memastikan, katakan sekali lagi kita kemana?"
Ben mendesah kesal. "Lody..."
"Hehe, maaf-maaf."
**
Pukul 05.00 pagi. Sarapan sudah tertata rapi di meja makan. Bekal roti lapis sudah masuk di kotak makan. Tas berisi perlengkapan Bintang dan lainnya, telah duduk di sofa. Jaket Lody, Ben dan Bintang juga tersampir di bahu sofa.
Lody melepas apronnya, bersamaan dengan Ben keluar dari kamarnya.
"Oh, suamiku yang paling tampan sudah bangun? Benar-benar sebuah keajaiban."
"Aku sudah berjanji pada Bintang. Dia terlihat senang sekali. Aku nggak mau mengecewakannya."
"Jadi, kalau aku kecewa nggak apa-apa, ya?"
"Lody.."
"Hehe. Bercanda. Cepat mandi. Aku sudah siapkan air hangat buatmu."
Ben mengangguk. Sembari mendekati meja makan.
"Semuanya sudah siap?" tanya Ben.
Giliran Lody yang mengangguk.
"Kamu, bangun pukul berapa?"
"4 pagi."
Ben menggelengkan kepala. Jika, Lody sudah bertekad dengan hati riang, akan terjadi hal seperti itu. Pernah saat mereka menikah. Karena keterbatasan biaya, Lody dan Ibunya harus mempersiapkan semuanya sendiri. Saking girangnya Lody, akan menikah dengan pujaan hati sejak kecil—2 hari ia hampir tidak tidur. Mendekor ruangan. Di bantu oleh semua anak panti.
Memang, Benjamin dan Melody tumbuh bersama di sebuah panti asuhan.
**
Pukul 07.00 pagi. Ben siap. Lody siap. Apalagi, Bintang. Wajahnya sumringah. Segar. Bedak bayi tipis menghias wajahnya.
"Jadi, kita harus naik bus 2 kali, ya?" tanya Lody.
"Nggak perlu."
"Heh? Terus?"
"Turun dulu."
Sesudah di bawah, Ben mengeluarkan kunci dari saku celananya. Menekan tombol di kunci, hingga sebuah mobil biru laut mengedipkan lampunya.
"Kita naik ini," kata, Ben. Menghadap Lody.
"Ini.. mobil kita?"
"Bukan. Aku hanya menyewanya saja. Nanti, kalau tabungan kita sudah cukup. Aku akan membelinya."
"Nggak perlu. Kita lunasi dulu saja, hutang pada Ibu. Rumah dan kafe ini masih milik Ibu. Meski, sertifikatnya atas nama kita."
"Akan aku usahakan keduanya."
"Bu.. jadi, hari ini kita naik mobil?"
Lody mengangguk girang.
"Kamu senang, Bintang?"
"Oh, yes! Asik!"
Bintang melepaskan tinju ke udara. Membuat Lody dan Ben terkekeh.
"Dia terlalu banyak menonton drama," kata Ben.
"Hehe. Satu-satunya hiburanku."
**
Sepanjang perjalanan Lody dan Bintang bernyanyi riang. Sesekali, menikmati pemandangan yang bagi mata mereka itu menyenangkan. Meski, hanya gedung bertingkat dan pertokoan. Setidaknya, dengan suasana berbeda.
Dan, sepanjang itu pula ponsel Ben terus berdering. Namun, diabaikan oleh Ben.
"Ben.. giliranmu sekarang."
"Hah?"
"Giliranmu bernyanyi."
"Nggak. Aku lagi konsentrasi menyetir."
"Hei, ayolah. Satu lagu saja."
"Ayolah, Ayah."
Ben melirik Lody dan Bintang secara bergantian. Mendesah singkat. Berdeham. Dan, mulai bernyanyi.
Mata Lody berbinar melihatnya. Sembari, menggerakkan kepala ke kanan dan kiri. Adalah, salah satu alasan Lody menyukai Ben. Suaranya yang merdu. Kelihaiannya bermain gitar. Sejak, Lody berusia 15 tahun— ia sudah jatuh hati pada Ben. Di halaman panti. Saat siang hari.
**
Parkiran mobil hampir penuh di kawasan taman bermain. Butuh 20 menit, untuk Ben mendapatkan tempat parkir.
Setelahnya, mereka mengantre untuk membeli tiket. Cukup panjang. Mengingat hari ini adalah hari libur.
Lody mendesah panjang dengan sedikit kesal. Menatap Ben. Tidak. Bukan karena mengantre. Tapi,
"Angkat teleponmu," pinta Melody.
"Nggak perlu. Nanti saja."
"Sejak kita berangkat, sampai tiba di sini—dering ponselmu hanya diam untuk beberapa detik saja. Aku cukup terganggu."
"Maaf. Mungkin telepon dari-"
"Botak licin, kan? Aku tahu, kamu akan di panggil ke kantor."
"Maka dari itu, abaikan saja."
"Aku nggak nyaman. Aku nggak mau kamu terkena masalah nantinya. Cepat angkat teleponmu."
Ben mendesah singkat.
"Aku angkat sebentar, ya?"
Lody mengangguk. Sementara, Ben bergegas mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Berjalan agak menjauh.
Lody melihat suaminya itu mengangguk berulang. Sedikit terbungkuk. Dia benci, saat melihat suaminya yang tegas menghadapi apapun itu menjadi bodoh dan penakut di hadapan Bos-nya.
Wajah Ben yang terlihat bingung, kembali berjalan pada Lody yang sudah membeli tiket.
"Ini tiketmu."
Ben menerima tiketnya dengan senyum bingung.
"Itu tiketmu. Letakkan di saku dan pergilah," kata Lody.
"Apa maksudmu?"
"Dia menyuruhmu melakukan sesuatu, kan? Jika, kamu nggak datang, dia akan mengancam akan memecatmu, kan?"
"Itu.."
"Karena itu, pergilah. Selesaikan tugasmu. Dan, kembali kesini. Aku dan Bintang akan menunggumu."
Ben menatap Istrinya penuh arti.
"Kenapa? Aku terlihat cantik dan berwibawa untuk saat ini?"
Ben mendengus.
"Terima kasih, Lody. Aku akan segera kembali."
Ben berjongkok di depan Bintang.
"Naik wahana sesuka hatimu. Beli mainan. Beli makanan yang enak-enak, ya? Ayah, akan segera kembali."
Bintang hanya mengangguk. Kebanyakan anak akan merajuk dalam posisi seperti itu. Namun, Lody membesarkannya dengan baik.
**
Sekitar pukul 15.00 sore. Mobil sewaan Ben masih terparkir di depan tempat karaoke.
Toni memanggilnya untuk menemani Pak Johny bersenang-senang. Bagian dari memperlancar tanda tangan kontrak. Juga, ada beberapa karyawan kepercayaan Toni di sana yang ikut.
"Hei, Ben.. Kenapa dari tadi kau diam saja? Melihat ponselmu terus. Ayo, hibur kami dengan suara emasmu."
"Tidak, Pak. Saya sedang tidak ingin menyanyi."
"Ayolah, Ben. Pak Johny jauh-jauh kemari untuk kita."
"Kau, pandai bernyanyi?" tanya Pak Johny.
"Tidak, Pak. Hanya sedikit saja."
"Coba nyanyikan satu lagu untukku. Setelah itu, aku akan bilang pada Toni agar menyuruhmu pergi."
"Ya?"
"Kau, pasti tengah meninggalkan keluargamu di suatu tempat, kan? Karena, Toni meneleponmu berkali-kali. Akhirnya, kau kemari. Dengan meninggalkan mereka."
Ben hanya diam.
"Nyanyikan satu lagu untukku. Dan, cepat pergi. Kasihan mereka menunggumu."