Ego Dan Maaf

1077 Words
TAHUN 2006 Cuaca terik dengan angin semilir, di tambah suara petikan gitar yang mendayu—rasanya cocok untuk menggelar alas di bawah pohon yang rindang. Memejamkan mata dan menikmatinya. Remaja berusia 17 tahun itu setiap hari duduk di bangku kayu di bawah pohon besar. Sudah semenjak usia 10 tahun, ia mulai memainkan gitar. Hadiah dari donatur. Panti Asuhan Kasih Melody. Begitu yang tertulis di papan nama dekat gerbang masuk. Benjamin. Nama remaja itu. Pertama kali, di temukan oleh pemilik panti di depan gerbang saat hujan turun. Saat itu, usianya masih 6 tahun. Tapi, ia tidak menangis ataupun meminta tolong. Ia hanya mengatakan, "Jika aku menangis, Ibu nggak akan jemput aku." Pemilik panti seketika paham. Jika, Ibunya adalah sosok yang keras. Dan, tidak akan kembali menjemput Ben. Jemarinya berhenti memetik senar. Bola sepak putih, baru saja memukul kepalanya. Ia meletakkan gitar, dan mengambil bola tersebut. "Oh, di sini rupanya. Berikan padaku." Ben menatap gadis yang meminta bola tersebut. "Jadi, ini milikmu?" "Ya. Berikan." "Kamu perempuan, kenapa main bola?" "Kamu laki-laki. Kamu boleh bermain boneka. Cepat kembalikan." Gadis itu berusaha mengambil bola tersebut. Ben melangkah mundur. "Bola ini mengenai kepalaku." "Lalu?" "Kamu yang menendangnya?" "Iya! Kamu ini banyak bicara banget, sih?! Cepat kembalikan!" "Nggak. Sebelum kamu mengatakan hal itu." "Apa?!" Ben mendengus. "Cepat kembalikan! Aku ingin main!" "MINTA MAAF." "Hah?" "Kamu nggak pernah tahu dua kata itu?" Gadis itu melirik sinis. Dan, suasana menjadi hening. Hanya suara daun bergemerisik saja yang terdengar. "Aku sedang menunggu." "Iya! Iya! Maaf." Ben menarik sudut bibirnya ke atas. Menggelindingkan bola tersebut ke arah Melody. "Lain kali, langsung bilang maaf. Itu baru sikap yang bagus." Ben kembali duduk. "Melody." "Apa?" "Namaku Melody. Agar kamu tahu saja." Melody mengambil bola. Lalu, berbalik badan. "Melody," panggil Ben. Melody kembali berbalik. Ben sudah ada di depannya. "Ini untukmu." "Permen mint?" "Cocok untuk pemarah sepertimu. Meredam rasa kesalmu." Melody mengambil permen itu dan berlari pergi. Petikan gitar kembali terdengar. Ben memainkan sebuah lagu dari band yang di masa depan vokalisnya terkenal menjadi pelawak. Lagu andalan band tersebut memang sangat enak untuk didengar. Hingga, Melody turut menikmatinya di balik pohon. Agak jauh dari tempat Ben. ** TAHUN 2020 Ben menyanyikan lagu kenangannya, saat pertemuan pertama kali dengan Melody. Semua bertepuk tangan, ketika musik berhenti. "Wah, kau sangat berbakat," puji Pak Johny. Ben tersenyum ala kadarnya. Menyerahkan mikrofon pada koleganya. "Saya ke kamar kecil dulu." Ben segera keluar dari ruangan. Mengeluarkan ponsel dari sakunya. Menelepon Melody yang tak kunjung di angkat. "Kamu di mana? Masih di taman bermain? Aku kesana sekarang." Ben mengirim pesan pada Lody. Dan, keluar dari kamar kecil. "Em, Maaf." Seseorang menghentikan jalannya. "Ya?" "Apa... kau tahu siapa yang menyanyi di ruangan VIP 03 itu? Aku lihat, kau keluar dari ruangan itu tadi." "Itu aku. Kenapa?" "Wah, sungguh. Suaramu benar-benar indah. Apa kau penyanyi kafe? Atau memiliki kanal youtube?" "Tidak. Aku pegawai kantoran." "Hm, sayang sekali. Dengan wajah tampan dan suara yang sangat bagus itu, aku yakin kau akan cepat terkenal." Pria berdahi lebar dan berwajah kotak itu memberikan kartu namanya pada Ben. "Kau pasti mengenalku, kan? Aku sering muncul di tv." "Oh, kau pesulap?" Pria itu ternganga. Menatap dengan kesal. "Aku adalah Direktur sekaligus Produser. Baca kartu namaku. Dan, simpan. Mungkin saja, nanti kita berjodoh." Pria itu menepuk bahu Ben dan berjalan pergi. Sekilas Ben membaca nama VIGO ALAMSYAH di kartu nama tersebut. Meremasnya. Membuangnya begitu saja. Lalu, kembali masuk ke ruangan. "Ben! Kau bawa stempel mu? Aku lupa membawa milikku. Berkatmu, Pak Johny akan menanam modal yang cukup besar. Kita tidak bisa mengulur waktu lagi. Nanti, Pak Johny berubah pikiran," ucap Toni. "Hehe. Tenang saja. Saya bukan orang yang plin plan," sanggah Johny. Di perusahaan Toni memang beberapa karyawan memiliki stempel nama untuk kepentingan pekerjaan. Itu dianggap alat yang sah daripada materai. Pengganti tanda tangan. Dan, Ben memang selalu membawa stempelnya kemana-mana. Diambil dari dalam ranselnya, dan diberikan pada Toni. Setelah semua proses selesai, Ben undur diri dari pertemuan itu. Bergegas ke taman bermain yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berada sekarang. ** Pukul 20.14. Ben baru tiba di depan taman bermain yang sebagian lampunya sudah di matikan. "Taman bermain sudah kosong," kata petugas keamanan yang melihat Ben celingukan. Ia kembali menelepon Melody. "Lody.. kamu di mana? Aku sudah di taman bermain. Tapi-" "Di rumah." Telepon terputus. Ben menarik napas panjang. Berkacak pinggang. Dengan mengerang kesal. Setibanya di rumah, Ben masuk dengan sangat hati-hati. Melihat suasana. Melody dan Bintang tengah menonton TV. "Kalian sudah di rumah? Bagaimana, di taman bermain tadi? Seru?" Langkah Ben penuh dengan kehati-hatian. Seolah di lantai rumahnya tertanam ranjau darat. "Lagi lihat apa?" Ben melihat ke arah TV, begitu ia di sebelah sofa. "Ah, drama kesukaan Ibu lagi." Tidak ada satu pun pertanyaan Ben yang di jawab keduanya. Berdeham gugup akhirnya. "Kalian sudah makan?" "Pukul berapa ini? Tentu saja, sudah," jawab Lody. "Ah, iya." Ben menilik jam tangannya. Pukul 22.00. Lantas, Lody berdiri. Mendekati Ben. "Ajak dia bicara. Dia sangat kecewa padamu hari ini." Lody melangkah pergi kemudian. Berdiri di belakang sofa. Sementara, Ben menatap Bintang yang tengah menekuk wajahnya. Di letakkan ransel pada lantai. Duduk dengan hati-hati di sebelah Bintang. "Seru bermain dengan Ibu?" "Beli apa saja tadi?" "Capek, nggak?" Semua pertanyaan Ben tak ada yang di jawab oleh Bintang. Justru, ia beringsut turun dari sofa. Menghadap Ibunya. "Bu, aku ngantuk." "Oh, iya. Sudah pukul 22.14. Ayo, masuk kamar." "Bintang, nggak sopan kalau Ayah bicara kamu nggak jawab." "Aku nggak suka sama Ayah! Aku benci sama Ayah!" "Bintang! Jangan bentak-bentak Ayah! Nggak sopan!" Nafas Bintang memburu. Mengatupkan gigi. Matanya memerah. Air mata terbendung di kelopak. "Ben, cukup. Bintang, cepat masuk kamar." Segera setelah Bintang masuk kamar, Lody mengajak Ben turun. Berkacak pinggang. Dengan mengerutkan kedua alisnya. "Nggak bisa sedikit sabar? Dia masih kecil." "Lody, kita harus mengajarkan dia bagaimana bersikap sopan dengan orang yang lebih tua! Dia juga harus mengerti, jika aku bekerja juga untuk dirinya." "Apa yang kamu harapkan dari anak umur 5 tahun? Selalu tersenyum, saat perasaannya terluka? Selalu memelukmu saat kamu sulit ada untuknya?" Lody mendesah singkat. "Ben, dia saja masih sering mengompol saat tidur. Ajari sopan santun itu bagus. Tapi, kamu juga harus memahami hatinya. Alih-alih, menanyakan bagaimana di taman bermain tadi, lebih baik mengajaknya beli sesuatu yang dia suka. Contoh saja es krim. Setelah itu, minta maaf." "Kamu pikir, dia bisa menikmati wahana di sana? Nggak. Dia terus-terusan melihat sekitar. Berharap kamu datang," lanjut Lody. "Dulu.. kamu mengajarkan ku untuk mengucapkan kata maaf, setiap melukai seseorang. Sengaja atau nggak. Tapi, kenapa sekarang kamu seperti itu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD