Hari Senin yang agak lenggang. Melody baru saja melayani 1 pelanggan. Setelahnya, mengelap meja. Sembari, menatap Bintang yang duduk di meja pojok. Bermain dengan beberapa robotnya.
Sekolah Bintang di liburkan. Karena, beberapa pengajar mendapat tugas dinas ke luar. Setidaknya, tidak membuat Melody melakukan jurus seribu bayangan pagi ini.
"Selamat datang," sapa Melody. Ketika mendengar lonceng atas pintu berbunyi. Senyum yang semula mengembang, kini berubah jadi kerutan di dahi.
"Ben? Kenapa kamu di sini?"
"Ini rumahku juga, kan?"
"Maksudku, ini masih pukul 10.00 pagi. Kenapa kamu sudah pulang?"
"Ah, Pak Toni memberiku izin pulang lebih awal. Dan, libur 2 hari. Karena, sudah berhasil membuat Pak Johny menanam modal yang besar untuk perusahaan kami."
"Kok tumben sekali? Nggak biasanya botak licin itu berbaik hati. Pasti akan terjadi sesuatu nantinya."
"Jangan berprasangka buruk. Mungkin saja, memang dia lagi gembira. Lagi pula, beberapa tahun ini, aku juga tidak bisa mengambil cuti karena sibuk."
"Yah, memang. Sangat keterlaluan, kan?"
Ben hanya diam. Mengedarkan pandangan. Melihat Bintang tengah menunduk, menatap robotnya. Seolah menghindari kontak mata dengan Ayahnya.
Mendesah panjang dilakukan oleh Ben, kemudian, menghampiri Anaknya.
"Lagi apa?"
"Main robot."
"Wah, itu yang di belikan Ayah, kan?"
"Ibu."
"Hehe. Ayah yang belikan. Tapi, Ibu yang berikan ke kamu."
Bintang hanya diam. Ben berdeham.
"Toko mainan seberang kafe kita tadi memajang robot transformers yang terbaru."
Kelopak mata Bintang melebar.
"Ah, sungguh? Pasti sangat bagus," pancing Melody.
"Tentu saja. Bisa bergerak. Terus, berubah menjadi mobil."
"Benarkah? Pasti bagus sekali!" pekik Bintang, dengan senyuman merekah.
Menatap Ben. Namun, sedetik kemudian ia kembali membuang muka. Dan, cemberut. Lagi.
"Bintang, nggak mau? Ayah lagi baik hati, nih."
Lagi-lagi, Bintang membuang muka.
"Ya sudah. Ayah berikan sama anak lain saja kalau begitu."
Ben berdiri. Sekejap, Bintang memegang tangannya.
"Setelah itu, beli es krim coklat. Boleh?"
Ben tersenyum seketika.
"Tentu saja, boleh. Ayah belikan 2 es krim."
"Nggak. 1 saja. Nanti bisa batuk kata Ibu."
"Haha. Baiklah. Kita berangkat sekarang?"
"Yeay! Asik! Ibu.. boleh aku beli robot sama Ayah?"
Melody tersenyum dan mengangguk. Girang bukan main, sampai ia berdiri di atas kursi. Melompat bahagia. Melody menatap kedua laki-laki yang sangat berharga di hidupnya. Rekaman momen seperti ini mungkin akan di putar kembali kelak. Entah di saat paling bahagia mereka. Atau, bisa jadi di saat paling terpuruk.
"Kamu, nggak ikut? Kamu juga es krim coklat, kan? Sekalian, kita makan siang di luar," gagas Ben.
Kali ini, Melody menggelengkan kepala.
"Sebentar lagi, banyak karyawan yang istirahat. Biasanya ramai."
"Eh? Kemarin, kamu bilang nggak apa-apa berangkat, meskipun hari minggu ramai. Tapi, sekarang.."
"Sudah beda cerita," kata Melody. Di akhiri dengan senyuman.
**
Satu hari yang agak sibuk, di lalui dengan cukup sempurna oleh Melody. Usai mematikan mesin kopi, ia duduk sebentar. Menarik keluar ponselnya dari saku apron. Menilik satu aplikasi menulis, yang sudah ia gunakan sejak 2 tahun belakangan. Melebarkan mata. Ada beberapa komentar tersemat di salah satu ceritanya. Tersenyum. Menggoyangkan kedua tangannya.
Menjadi penulis. Cita-cita Melody sejak remaja. Sudah banyak buka catatan yang terisi dengan puisi, dan cerita pendeknya. Ben selalu mendukung apapun yang di kerjakan oleh Melody. Namun, setelah memiliki Bintang, Melody harus melempar impiannya ke langit. Sangat tinggi. Hingga, susah ia gapai kembali.
"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Ben, yang baru saja masuk.
Melody buru-buru mematikan ponselnya. Bukan ingin menyembunyikannya dengan buruk, tapi, lebih ke merasa tidak enak. Ben juga harus melupakan impiannya, semenjak menikah dengan Melody. Jadi, harusnya impas jika Melody juga menyerah, pikirnya.
"Oh, sudah selesai semua, kok," kata Melody, melepaskan apron.
"Bintang sudah tidur?" lanjutnya.
"Ya. Dia gembira sekali. Sampai-sampai, robotnya di bawa tidur."
"Hehe. Sangat mudah, kan? Membuatnya bahagia kembali."
"Iya. Makasih."
"Nggak perlu bilang makasih. Itu sudah tugas kita berdua untuk saling membantu. Demi bintang, tumbuh bahagia dan sehat."
Lantas, keduanya keluar dari kafe, setelah mematikan lampu. Mengunci pintu."
"Ikut aku sebentar," pinta Ben. Menggandeng tangan Melody.
"Mau kemana?"
"Ikut saja."
"Tapi, Bintang-"
"Sebentar saja."
Keduanya berjalan melewati toko roti. Salon kecantikan. Toko baju. Toko parfum. Toko elektronik, mereka berhenti. Dan, masuk ke dalam toko.
Ponsel. Laptop. Dan, berbagai perlengkapannya, terpajang di etalase. Juga, di lemari kaca di belakang kasir.
"Pesananku sudah siap?" tanya Ben, pada pemilik toko.
"Tentu saja, sudah."
Roy, sang pemilik toko memberikan sebuah tas laptop pada Ben.
"Kalau saja, bukan kamu yang meminta, aku nggak akan membuka tokoku sampai selarut ini," gerutu Roy, yang berdarah Indo-Cina.
"Terima kasih."
Melody hanya diam, karena bingung dengan situasi yang sedang terjadi.
"Ini buatmu."
Ben menyerahkan tas laptop pada melody, begitu berada di luar toko.
"Ben.. ini.."
"Aku tahu, ini sangat mahal. Jangan di jual atau di gadaikan. Gunakan sebaik mungkin."
"Karena itu, kenapa kamu beli ini? Memangnya, kamu punya uang sebanyak itu?"
"Si botak licin itu memberikan aku bonus cukup banyak hari ini."
"Sungguh?"
Ben mengangguk.
"Kamu, nggak bohong, kan?"
"Nggak. Kamu bisa cek rekeningku nanti."
"Lalu, sisanya?"
"Ada. Tapi, sedikit. Hehe."
"Kembalikan saja laptopnya."
"Kenapa? Bukannya kamu lagi nabung buat beli ini?"
"Kok, kamu tahu?"
"Aku juga tahu, kamu diam-diam menulis online, kan?"
"Ben, itu.."
"Nggak apa-apa, Lody. Itu impianmu sejak dulu. Meskipun, kamu bilang akan melupakannya, tapi, aku paham perasaanmu."
"Saat menulis, aku melihat wajahmu sangat bahagia. Kamu menjadi dirimu sendiri. Selama ini, kamu melupakan jati dirimu. kamu lupa jika dirimu adalah Melody. Selama ini, kamu berperan menjadi Istri Benjamin. Juga, Ibu dari Bintang. Sisi Melody mu sudah hampir hilang. Namun, saat kamu kembali menulis lagi.. Melody itu, muncul kembali. Karena itu, jangan menyerah. Buat dirimu sukses. Ciptakan bahagiamu sendiri. Sebisa mungkin, aku akan membantumu."
Alih-alih menerima pemberian Ben, Ia memeluk Ben dengan erat.
"Tak pernah sedikit pun aku menyesali keputusanku untuk mencintaimu. Lemparan bola yang aku sengaja itu, membawaku pada kebahagiaan lain. Menangisi mu, saat kau akan pergi membuat hidup baru, yang akhirnya membuatmu kembali, membuatku merasa lega. Menerima pinanganmu, saat kita sama-sama berjuang, adalah keputusan terhebat ku. Jika, semua itu tak aku lakukan.. mungkin, semua sudah beda ceritanya."
**
Tahun 2009
"Impianmu apa?" tanya Melody, sembari mengunyah mi yang baru saja di seruputnya.
"Emm, memiliki keluarga?"
"Hei, ayolah. Itu terlalu klise."
"Hehe. Apa pentingnya cita-citaku untuk saat ini? Aku hanya ingin segera menikah denganmu. Lalu, membuka usaha."
"Semua orang pasti memiliki impian, kan? Kamu sudah tahu apa impianku. Kita akan menikah. Tapi, aku belum tahu banyak tentangmu."
Ben tersenyum. Meneguk es tehnya. Di malam hari yang gerah, es teh memang yang terbaik.
"Impianku.. berada di atas panggung. Memainkan gitar. Memiliki karya yang bisa di nikmati semua orang."