Satu Minggu sebelumnya.
Kendrick berlari menembus lebatnya guyuran air hujan yang membasahi tubuh. Dia mengabaikan rasa dingin yang menerpa kulitnya terus melangkah hingga langkah kakinya berhenti di sebuah rumah minimalis dengan gerbang tinggi terbuat dari kayu.
Dia membuka sedikit gerbang itu dan mulai masuk ke dalam rumah. Sepatunya yang basah mulai menyiprati lantai di latar rumah. Meninggalkan jejak-jejak tanah di lantai berwarna putih. Rasa sakit itu mungkin akan meninggalkan jejak yang sama di hati Sara untuk selamanya.
Tubuhnya sedikit menggigil kedinginan karena baju yang dikenakannya basah kuyup.
Dia ingin segera menemui kekasihnya yang bernama Sara, wanita yang telah mengisi hari-harinya selama dua tahun ini. Jiwanya kini bagai kapal yang terombang-ambing di pusaran badai dan membutuhkan tempat berlabuh yang tenang dan mendamaikan.
Sara, istri sirinya tapi tidak sah secara hukum. Bukan karena dia ingin bermain-main dengan wanita itu. Tapi pekerjaannya sebagai polisi rahasia tidak membiarkan ada orang dekat berada di sampingnya. Jika tidak, mereka bisa saja menjadi korban dari musuh-musuhnya. Dia hanya menemui Sara jika misi yang dijalankan telah usai.
Kali ini dia sedang menjalankan misi solo. Hati nuraninya tidak membiarkan salah satu anak buahnya mati sia-sia dalam sebuah penyergapan berdarah tiga bulan silam. Dia berniat mencari dalang di balik kegagalan misi mereka kali ini dan dalang kematian Ryan, sahabat sekaligus kakak dari Sara.
Sepanjang hidupnya dia bekerja untuk sebuah kebenaran membuang ketidakadilan. Namun, kali ini pilihan-pilihan yang dia ambil mengaburkan batasan-batasannya, sehingga dia tidak tahu lagi mana yang salah dan mana yang benar.
Tangannya kini telah diangkat di depan pintu berniat untuk mengetuknya. Namun, dia turunkan lagi dan mulai berpikir. Dia merasa tidak bisa untuk melakukan ini. Ini terasa tidak adil untuk Sara. Dia akan menyakiti hati wanita itu sangat dalam.
Dia membalikkan tubuhnya lagi. Dia mantap dengan keputusan ini. Karena hanya ini satu-satunya jalan agar wanita itu selamat dari musuh yang sedang mengejarnya kini.
Pintu mulai di ketuk satu kali. Tidak terdengar suara. Mungkin wanita itu sedang berada di luar. Atau mungkin sedang tidur sehingga tidak mendengar bunyi ketukan pintu. Dia mengulang satu kali lagi. Tetap tidak ada suara. Kendrick pun menaikkan kedua alisnya ke atas. Dia mulai ragu untuk melakukannya lagi. Dia lalu membalikkan tubuh ketika sebuah suara mulai terdengar dan knop pintu mulai berputar.
Wanita itu berdiri di hadapannya. Tersenyum, tetapi matanya memperlihatkan kesedihan, kekhawatiran dan kelegaan yang teramat dalam.
Wanita itu sangat tulus hatinya sehingga membuat Kendrick yang keras ingin menjadi ksatria kuda putih yang akan menyelamatkan nyawanya dari naga-naga dunia yang bisa menyakitinya.
Tetapi sekarang Kendrick lah yang jadi naga itu, dia mungkin akan menyakiti jiwanya yang murni dan putih itu hingga berkeping-keping.
Jika wanita lain mungkin akan marah berada di posisinya. Sudah sebulan dia tidak pulang dan tidak memberinya kabar sedikitpun. Bahkan ponselnya tidak aktif sama sekali. Akan tetapi, berbeda dengan Sara. Dia laksana pelabuhan hati yang menenangkan dan memberi kehangatan bagi jiwa yang dingin dan kesepian seperti diri Kendrick.
"Masuklah!" ucap wanita itu tenang tanpa bertanya darimana atau pertanyaan sejenisnya.
Kendrick masuk ke dalam rumah, sejenak dia melihat sebuah foto besar yang dipajang di rumah ini. Foto Ryan bersama Sara.
Ryan mungkin akan memarahinya jika dia melihat Ken masuk ke rumahnya pada tengah malam. Bahkan akan menendang tubuhnya langsung keluar dari pintu gerbang. Namun, itu semua tidak akan terjadi lagi. Ryan telah tiada mungkin ini akan menjadi mimpi buruk yang menghantui dirinya sepanjang hidup.
"Bajumu basah, aku akan mengambilkan handuk. Kau bisa mengganti bajumu di atas."
"Atau mau kuambilkan segelas kopi hangat?" tawar wanita itu dengan suara lembut yang menenangkan. Dia lalu membalikkan tubuhnya hendak pergi ke dapur untuk membuat kopi seperti biasanya.
Mendengar tawaran tulus dari Sara membuat kerongkongannya tercekat. Dia menelan salivanya dalam-dalam. Rasa bersalah telah menggelayut dalam hatinya walau kata perpisahan itu belum dia ucapkan.
"Sara, aku harus pergi secepatnya," kata Kendrick dengan suara berat. "Aku tidak bisa berlama-lama di sini."
Sara menghentikan langkahnya. Dia meremas kedua tangannya. Bibirnya gemetar, matanya mulai memanas dan memerah. Tenggorokannya bergerak cepat. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali agar tangisnya tidak keluar. Namun, dia tidak bisa menahan diri lagi. Bahunya mulai bergetar. Dan wajahnya mulai menunduk. Buliran air mata itu mulai jatuh ke lantai.
"Ah, sialan," hati Ken tidak sekuat itu untuk melihat Sara menangis.
Ken lalu berjalan tiga langkah ke depan. Merengkuhnya dari belakang dengan satu tangan kirinya memeluk pinggang dan tangan kanannya melingkari kedua lengan wanita itu. Tangan Ken mulai membelai wajah Sara hingga menempel pada rahangnya.
"Jangan menangis, kau tahu jika aku tidak bisa melihatmu bersedih," ucap Ken lirih dan lembut. Dia menundukkan wajahnya dan mencium lembut rambut Sara, menghirup aroma wangi yang sudah sebulan ini dia rindukan.
Sara membalikkan tubuhnya dan dia mengalungkan tangannya pada leher Kendrick. Menatap dalam mata itu.
Astaga. Kendrick bahkan bisa melihat guratan rasa sakit yang mengiris hati wanita itu. Melihat sebuah keputusasaan di dalamnya.
"Jangan berbicara lagi, aku sangat khawatir dan sangat merindukanmu," ucap Sara.
Wanita itu mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Kendrick serta merta mengecup sekilas bibir tipis pria itu.
Ken bisa merasakan rasa asin pada bibirnya bekas jejak-jejak air mata Sara. Dia mengelap bekas itu dengan jemarinya.
Kini pertahanannya telah runtuh di hadapan wanita itu hanya karena tetesan air mata kerapuhan yang ada padanya. Dirinya telah takluk dan tunduk pada kelembutan sentuhannya yang bisa menenangkan jiwa dan raganya.
Rasa panas kembali hadir ke tubuhnya yang dingin. Kehangatan tubuh Sara mulai dia rasakan, membuat semangatnya bangkit jika bertemu dengannya. Tidak ada perlawanan atau tidak ada pengendalian. Dirinya lemah dan takluk di hadapan wanita lembut ini.
***
Sara adalah pertama dan satu-satunya wanita yang sangat Kendrick cintai. Ken bertemu dengannya sewaktu usia Sara masih 19 tahun. Masih muda dan energik. Usia mereka terpaut sepuluh tahun.
Sara selalu manja terhadapnya. Dia selalu mendekatinya hingga Ryan sering mengomel karena menganggap Kendrick tidak layak bagi adiknya yang masih lugu dan polos. Sara tidak pernah mendengarkannya. Dia masih tetap mendekati Kendrick.
Suatu hari Sara pergi ke sebuah diskotik dengan teman-temannya. Mereka ingin mengeksplor kehidupan malam seperti yang anak muda lakukan. Menari dan minum-minum sampai mabuk. Kendrick yang kebetulan pada saat itu sedang mencari hiburan dengan teman wanita terkejut melihat Sara. Matanya memperhatikan apa yang dilakukan wanita muda itu.
Ketika Sara sudah terlihat sangat mabuk, segerombolan pemuda datang menghampirinya dan kawan-kawan wanitanya. Pemuda itu mengajak Sara untuk pergi dari klub malam itu. Kendrick yang merasa tidak senang melihat hal itu langsung maju. Dia lalu mengambil Sara dari pelukan seorang pria yang ingin mempermainkannya dan mencari keuntungan dari wanita mabuk.
Pria itu tidak terima. Dia dan teman-temannya menyerang Kendrick. Namun, dengan sigap Kendrick membuat mereka jatuh dalam sekali tendangan. Membuat mereka lari tunggang-langgang. Sejak saat itu Sara mengejar Kendrick dan mengatakan jika dia mencintai pria itu walau apa pun yang akan terjadi nanti.
Kendrick akhirnya luluh. Mereka lalu menjalin hubungan. Dia lalu menikahi wanita itu walau hanya secara siri karena tidak ingin merusak Sara dan menghargainya sebagai seorang wanita.
Bersambung...