Tuduhan Keji

1127 Words
Melissa melambaikan tangan pada pria yang sedang berdiri di pintu utama resto. Pria itu segera masuk dan berdiri tepat di depannya. “Kamu beneran udah pulang?” Melissa mengangguk. “Maaf baru ngabarin, aku pulang sekitar seminggu yang lalu.”  ucapnya sembari duduk. Resto tampak ramai karena tak sedikit pula yang menikmati makan di sore hari seperti sekarang ini. Usai memesan semua yang ingin dia makan, Ibram menanggapi apa yang baru saja Melissa katakan. “Kamu kok gitu sih, kenapa nggak bilang kalau kamu pulang, udah seminggu lagi?” kata Ibram kesal. Melissa mencoba tersenyum, meski sebenarnya dia juga kesal karena Ibram tak pernah menghubunginya selama dia tugas di sana. Ibram berdecak. “Katanya setahun, tapi lima bulan udah pulang?”  “Ya, memang kenapa, kamu nggak senang aku pulang?” “Senang … senang dong, Mel, tapi aku merasa nggak dianggap aja. Karena kamu baru memberitahuku sekarang.”  “Iya, soanya ada masalah, jadi aku pulang.” “Kenapa? Apa kalian ketahuan kalau kalian bukan suami istri?” tebak pria berahang tegas itu.  “Nggak, nggak ada yang tahu,” Bohong melissa. Dia hanya tidak ingin mengakui kalau Marinka pernah berada diantara Reza dan dirinya.  Ibram mengangguk percaya. “Terus kenapa?” “Ceritanya panjang dan rumit.” “Serumit apapun aku akan dengarkan kok, Mel.” Melissa menghela napas. “Aku malas cerita, lain kali aja deh.” “Kalau bukan buat cerita, terus buat apa kamu ajak aku ketemu di sini?” “Kenapa? Nggak mau?” “Mau,” ucap Ibram semangat, soalnya makanan mewah baru saja mendarat tepat di atas meja dan itu berhasil menerbitkan liur di rongga mulutnya. Ibram mulai menikmati apa yang tersaji di meja. “Bram,” panggil Melissa serius.  “Hmmm?” sahut Ibram sembari mengunyah. “Nanti aja deh, Mel, kita makan dulu aku laper.  Alih-alih menjawab Melissa malah tampak kesal, apalagi setelah melihat mejanya terisi penuh oleh makanan mewah yang ada di resto ini, dia menyesal karena mengajak Ibram untuk bertemu di sini. Melihat kerakusan pria itu, dia malah merasa tidak yakin untuk bertanya tentang ini. “Kapan kamu siap nikahin aku?”  Tiba-tiba Ibram tersedak mendengar pertanyaan Melissa, dia sampai menghabiskan setengah gelas air di atas meja. Dia lalu berdehem untuk mengusir rasa gatal yang tersangkut di tenggorokannya. “Aku belum mau menikah, Mel, aku masih mau berkelana.” Sudah Melissa duga, jawaban kekanak-kanakkan Ibram membuatnya merasa kesal. Lagi pula Melissa juga tidak begitu tahu apa pekerjaan Ibram selain dia yang mengaku memiliki studio musik, tapi Melissa sendiri belum pernah diajak ke sana.  “Aku masih terlalu muda, Mel. Kita juga baru dua bulan pacaran. Aku belum siap terkungkung dengan satu perempuan, terus punya anak,” sambung Ibram sembari menghela napas, namun, tetap sembari menikmati makanannya. “Ya, iya aku tahu.” Ibram menatap Melissa, seolah dia sedang menelisik apa yang disembunyikan wanita itu darinya. “Kamu hamil?” tuduh Ibram tiba-tiba. “Hah?” Kedua mata Melissa membola, “Emang aku kelihatan kayak orang hamil?” tanyanya kesal. “Ya, enggak sih, kali aja, kalau kamu beneran hamil harusnya kamu minta pertanggung jawaban polisi itu,” usul Ibram santai, “bukan aku,” tambahnya. “Maksudnya apa? Aku nggak hamil, aku sama dia nggak ngapa-ngapain!” ucap Melissa dengan nada tinggi. Ibram mengacungkan telapak tangannya ke depan. “Santai aja, Mel. Aku ngomongnya juga biasa kok.” Melissa menghela napas. Dia kemudian bangkit. “Kita putus!”  “Loh, Mel.” Ibram terperangah, dia tengadah menatap Melissa. “Kamu kenapa, Mel?” Pria itu ikut bangkit dengan segera. “Aku cuma bercanda kok, Mel. Kamu kok anggap aku serius?”  Melissa benar-benar kesal dengan tuduhan keji yang Ibram layangkan, Ibram pikir dia perempuan apaan, mau dihamili pria yang baru dia kenal dan tanpa ada ikatan pernikahan. Jadi, selama ini Ibram menganggapnya murahan?  Melissa terus berlalu dengan mobilnya. Sementara Ibram hanya bisa menghela napas sembari menatap semua makanan yang ada di meja. Ini adalah kali pertama Ibram mengeluarkan uang untuk membayar makan dan minumnya. Kalau Melissa tidak marah, pria itu beruntung karena Melissa akan membayarkan apapun yang dia mau.  Melissa terus meluapkan kekesalan dengan menjerit-jerit di dalam mobil. Perkataan Ibram sudah membuat Melissa merasa terhina, bertanya kepastian kapan Ibram akan menikahinya saja dia merasa seperti tak punya harga diri, kalau bukan karena Biru dia tidak akan sudi melakukan ini.  Melissa pulang ke rumah dengan wajah yang masam. Namun, saat melihat senyum Biru, semangatnya langsung kembali, masalahnya seketika lenyap tak berbekas. “Ibram emang nggak pantes jadi bapak kamu, Biru.” Pram tersenyum di depan pintu kamar Biru. “Jadi yang pantas cuma Reza?”  Melissa segera menoleh. Dia tak menjawab dan malah kembali menatap Biru.  “Kalau menurut kamu cuma dia yang pantas, kenapa nggak dia aja yang jadi suami kamu,” usul Pram. “Papi cuma usul, kalau nggak mau juga nggak apa-apa, tapi emangnya cari suami gampang, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, tau-tau enam bulan, udah deh kamu nggak bisa adopsi Biru.” Melissa memutar bola matanya, dia sedang kesal, namun, dia masih bisa menahan diri untuk tidak marah pada ayahnya, meski ayahnya itu sudah membuat suasana hatinya semakin buruk.  Bi Narsih berdiri di belakang Pram. “Pak, ada Mas Reza.” “Suruh masuk aja,” ucap Pram seraya berbalik dan ternyata Reza sudah berada di belakangnya. “Za. Mau ketemu Melissa ya?” “Biru, Pak,” ralat Reza.  Di dalam kamar Biru, Melissa mendelik. Dia kemudian bangkit dan berlalu dari sana.  “Loh, Mel mau ke mana?” tanya Pram.  Melissa tak menoleh, namun, dia menjawab, “Dia mau ketemu Biru, ‘kan? Jadi biarin aja, dia ketemu anaknya.” Pram tersenyum. “Melissa lagi sensi.” “Iya, tahu, Pak, biasanya dia nggak pernah marah dan nggak pernah masukkin ke hati ucapan saya.” Pram kembali tersenyum sembari menepuk pundak Reza. “Biru lagi di kamar, kamu masuk aja.” “Siap, terima kasih, Pak.” Kalau bukan karena alasan Biru, Reza tak akan bisa ke luar masuk rumah Pram dengan seenaknya dan bisa mendapatkan ketenangan di sini, di dekat Biru yang sedang terlelap dengan aroma bayi yang khas. Sweet blossom dan telon bercampur, hingga menguasai penciumannya, menenangkan pikirannya yang sedang kalut.  Reza naik ke atas ranjang usai mencuci tangan dan kaki. Dia meletakkan bantal printing berwarna biru yang ada gambar dia, Melissa dan Biru. Sebenarnya Reza bisa saja hanya memasukkan foto dirinya dan Biru tanpa ada Melissa, tapi nanti Melissa marah, biarkanlah anggap sebagai kenang-kenangan sebelum Melissa mendapatkan ayah adopsi untuk Biru.  “Aku mau menikah atas dasar cinta. Bukan karena orang tuaku, bukan juga karena kamu, Biru, biar mamamu saja yang menikah dengan pilihan hatinya. Mungkin aku tidak akan menikah dalam waktu dekat,” ucap Reza. Dia benar-benar galau sehingga hanya bisa mencurahkan perasaannya pada bayi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD