Jago Akting

1116 Words
Ambulan melesat pergi dari depan rumah, sementara Reza tetap memasukkan koper dan tasnya ke dalam bagasi. Kapanpun itu, dia siap pergi. Reza kemudian masuk ke dalam mobil dan melesat pergi mengikuti ambulan.  Dia terus memutar kemudi hingga sampai di depan rumah sakit. Reza segera turun dan berlari di koridor rumah sakit. Anton tengah menunggu di depan ruang UGD.  Reza duduk di sebelah ayahnya itu. “Aku minta maaf, Pa.” Anton tak menjawab, dia tetap bersikap dingin. Reza memang harus mendapatkan pelajaran untuk lebih menghargai orang tua.  “Mama terus mendesak agar aku menerima Shafiyya. Aku nggak mau, Pa,” kata Reza frustasi. Lagi-lagi Anton tak menanggapi. Namun, pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Sehingga dia mendengar ketidak sediaan Reza dalam mewujudkan keinginan ibunya itu. Dia juga sebenarnya tidak setuju dengan tekanan yang Ranti berikan pada Reza. Namun, dia merasa belum memiliki waktu yang tepat untuk membicarakan ini pada istrinya itu.  “Kalau papa mau aku menjalankan perusahaan papa, tolong bujuk mama agar tidak lagi mendesakku untuk menikah dengan orang pilihan mama.” Anton masih bergeming. Namun, Reza tak peduli, dia yakin Anton bisa memikirkan perkataannya dan membantunya dalam hal ini. “Aku bisa cari jodohku sendiri,” imbuh Reza sembari memberi jeda. “Kapanpun itu, biar Tuhan yang tentukan, bukan mama.” Kali ini Anton menoleh dan menatap Reza, namun, mulutnya masih terkunci dengan rapat, meski begitu dia mengerti keinginan anaknya itu.  Tak berapa lama dokter ke luar dari ruang UGD. “Keluarga Ibu Ranti?” tanyanya Ramah. “Saya,” ucap Anton seraya bangkit. Reza masih duduk di belakang Anton sembari tertunduk. “Tidak ada luka dalam, Pak, semua aman, Bu Ranti hanya mengalami cedera ringan dibagian panggul,” tutur Dokter berambut panjang dan bergelombang itu, “tapi, ini masih dalam proses pemeriksaan dan nanti dokter ortopedi akan menentukan pengobatan apa yang cocok untuk beliau.” Reza kemudian bangkit. “Mama sa--” “Reza?” “Mel?” Reza mengerjap. “Mamaku udah sadar?” “Oh, jadi Bu Ranti ini mama kamu?” tanya Melissa, dia bertanya tak membutuhkan jawaban, lagipula di awal Reza sudah mengakui kalau yang baru saja dia periksa itu adalah ibunya.  “Sudah, sudah bisa ditemui,” kata Melissa. “Nanti petugas rumah sakit, akan pindahkan beliau ke kamar rawat.” Melissa tersenyum ramah. Namun, Reza tampak judes hari ini, tak seperti yang Melissa kenal.  “Mmm … kalau begitu saya permisi,” ucap Melissa, sedetik kemudian dia pergi usai Anton mengangguk. Namun, Reza bersikap apatis padanya, membuat Melissa bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan pria itu? Namun, dia merasa bukan saatnya dia bertanya tentang apa yang membuat Reza bersikap seperti itu hari ini.  Reza berjalan pelan ke dekat ranjang ibunya. “Mama nggak apa-apa. Aku minta maaf.” Ranti meraih tangan Reza. “Nggak apa-apa, mama cuma nggak mau kamu pergi.” Reza menghela napas. “Aku nggak akan pergi kalau mama nggak mendesakku lagi untuk menikahi Shafiyya. Aku bisa cari jodohku sendiri, Ma.” “Tapi sampai kapan, Za, mama udah tua, mama takut nggak bisa menyaksikan kamu menikah, punya anak, main sama cucu, mama takut nggak diberi kesempatan untuk menikmati semua yang mama inginkan sejak dulu, Za.” Reza tergemap, dia memang tidak bisa menjanjikan apapun, lagipula ini soal waktu dan hanya Tuhan yang tahu. “Mama doakan saja ya.”  Setelah Anton masuk. Reza bangkit. “Aku permisi, ada urusan sebentar, nanti kalau mama udah dapat kamar, aku kembali.” Reza pergi meninggalkan ruang UGD. Di luar dia segera mendial nomor Melissa.  “Mel, di mana? Aku mau bicara?” tanyanya tanpa basa-basi. “Di sini,” ucap Melissa di belakang Reza.  Reza segera menoleh. “Kalau nggak salah lihat, tadi kamu pamit.” Melissa menarik napas, dia kemudian berdiri. “Aku khawatir sama kamu, Za, jadi aku balik lagi.” Reza tersenyum tipis. Dia kemudian berujar, “Aku mau bicara.” “Ya, akan aku dengarkan,” ucap Melissa sembari menyampirkan anak rambutnya ke telinga dan mendekatkan kepala ke wajah Reza.  Reza segera memundurkan kepala. Dia kemudian mengayun kaki dan melangkah. Melissa mendengkus dan segera mengikuti pria yang mendadak misterius itu.  “Mama jatuh gara-gara aku mau pergi dari rumah,” ucap Reza tanpa menoleh pada wanita berjas putih yang sekarang sedang membersamai langkahnya. “Oh ….” Melissa tersenyum mengejek, “jadi ceritanya kamu mau kabur?” “Ya.” Reza mengangkat satu alisnya.  “Ke mana? Swedia?” Melissa tampak tenang, dia terus saja dengan sengaja mengejek Reza.  Reza menoleh dan mengernyitkan kening. Namun, tak sesempurna Melissa.  “Kalau kamu mau kabur, kabur aja, Mama kamu nggak kenapa-kenapa, tadi aku bohong soal itu.” Reza menoleh cepat. “Apa?” Melissa mengangguk penuh keyakinan. “Aku curiga mama kamu nggak jatuh, kalau kamu lihat dia tergeletak di lantai, mungkin dia sengaja.” Wanita itu kemudian tersenyum. “Jago akting ya, dia.” Melissa memberi jeda. “Dia memintaku untuk mengatakan apapun soal keadaannya yang bisa membuat dia tetap berada di rumah sakit.” Melissa menoleh dan menatap Reza yang tampak bingung. “Mama kamu aneh, yang lain pengen sembuh, dia pengen sakit.”   Jantung Reza mencelus mendengar penuturan Melissa. Rahangnya mengeras, sepertinya dia marah dengan kebohongan ibunya yang baru saja diungkapkan Melissa.  Dia menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. “Mama mendesakku untuk segera menikah.” “Oh.” Bahu Melissa turun. “Sama yang perawat itu?” Reza mengangguk.  “Dia praktek di mana?” “Aku nggak tahu,” jawab Reza ketus. “Kenapa kamu nggak mau, kalau kamu cepat menikah, Biru bisa secepatnya punya status sebagai anak adopsi.” Reza menghentikan langkahnya dan menatap Melissa. “Dia terlalu mirip sama Tania. Sikapnya, gerak-geriknya, bahkan profesinya juga sama.” “Oh.” Melissa memberi jeda dan menatap Reza. “Tania perawat, kenapa nggak pernah cerita?” Reza berdecak sembari membuang muka dari tatapan Melissa. “Buat apa?” Pria itu kembali mengayun kakinya, sedangkan Melissa kembali mengimbangi gerak langkah pria itu. “Ya, mungkin obrolan kita bisa nyambung kalau soal kesehatan, ‘kan jadinya kemarin nggak kaku-kaku amat, Za.” Reza menghela napas. “Nggak penting! Aku malah merasa kalau mama emang nggak bisa move on, entah kenapa dia pengen banget punya anak perempuan seperti Tania.” “Penurut dan tidak membangkang, begitu?” Reza tergemap dan kembali menoleh pada Melissa.  “Mama kamu nggak akan suka sama aku.” Tiba-tiba kalimat Melissa terucap seperti sebuah kode, membuat Reza menatap wanita itu dengan tatapan yang tak biasa. “Ya, karena aku nggak suka diatur, Za. Aku lebih suka mengatur orang,” jelas Melissa sembari mempercepat langkahnya, padahal Melissa tengah merasa gugup dengan tatapan Reza barusan. Reza mematung dan tercenung. Dia semakin merasa kalau Melissa memang tidak ingin dijadikan istri olehnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD