Bukan Zaman Siti Nurbaya

1146 Words
Kafe Cahaya Utara cukup ramai, penyanyi kafe sedang mengiringi pertemuan setiap orang di kafe tersebut dengan sebuah lagu dan petikan gitar yang indah.  Reza berdehem dan menatap wanita di depannya itu. “Katanya kamu tugas di Bandung?” tanyanya pada Shafiyya yang sedang memainkan sedotan di dalam gelas berisi smoothies strawberry. “Maaf, Kak aku bohong,” ucap Shafiyya seraya tertunduk.  “Kenapa?” selidik Reza. Bukan karena penasaran atau peduli, tapi karena dia merasa tak ada lagi tema pembicaraan yang bisa dia angkat dari pertemuan ini.  “Ya, karena--” tiba-tiba ucapan Shafiyya terhenti, “karena aku nggak mau Kak Reza mikir kalau aku di sini nungguin pesan dari Kakak.” Reza tersenyum sinis. “Saya nggak pernah mikirin itu. Jaringan di sana susah, jangankan mau kirim pesan, saya juga nggak ada waktu buat kirim surat.” Shafiyya menarik napas. Kafe yang ramai dengan obrolan orang, celotehan dan petikan gitar tiba-tiba terasa sunyi, setiap Shafiyya duduk berhadapan dengan Reza seperti ini, dia selalu merasa seperti terintimidasi, entah itu karena sikap Reza yang tak ramah atau karena hal lain, Shafiyya sendiri tidak mengerti. “Bisa nggak kamu nolak orang tua kamu buat dijodohin sama saya?” Pertanyaan Reza tiba-tiba membuat jantung Shafiyya kembali terasa mencelus. “Kamu masih muda, kamu bisa dapat yang lebih baik dari saya.” “Kenapa?” tanya gadis berhidung mungil itu. “Apa karena aku bukan tipe kak Reza?” Shafiyya memberanikan diri bertanya akan hal itu.  Reza menghela napas, kemudian mengangguk. “Maaf.” “Kenapa nggak Kak Reza aja yang tolak keinginan tante Ranti?” “Sudah,” pungkas Reza. Jawaban tegas Reza membuat Shafiyya membasahi kerongkongannya susah payah. “Lalu, kenapa Kak Reza sekarang ada di sini?” “Saya cuma mau pertemuan ini untuk terakhir kalinya, saya mohon.” Shafiyya menarik napas. Dia kemudian mengangguk. “Nanti aku akan bilang sama Mama.” Reza mengangguk. “Makasih,” ucap Reza. Dia kemudian menyeruput sisa kopi miliknya. “Saya harus pergi,” imbuhnya seraya bangkit. Pria berseragam polisi itu kemudian pergi dari kafe tersebut meninggalkan Shafiyya sendirian.  Gadis itu menarik napasnya pelan. Ingin sekali dia mengabulkan keinginan Reza, tapi dia tidak bisa membantah keinginan ibunya yang sekarang tengah sakit.  Reza tak lagi menengok ke belakang. Ingin sekali dia tegas pada dunia, dia tidak ingin gadis seperti Tania lagi yang begitu pasrah saat semua orang mendesaknya, tapi di saat dunia menjungkirbalikan kehidupan, Tania menjadi pembangkang dan tak lagi menuruti semua keinginan orang lain terhadapnya, di saat itulah Reza benar-benar kehilangan Tania dan amanat Kakaknya, dia juga menjadi satu-satunya sasaran orang tua untuk terus mewujudkan apa yang mereka inginkan. Sialnya kenapa orang tuanya tak mengerti sedikitpun dengan apa yang sebenarnya dia inginkan.  Reza pulang ke rumah tanpa mengantar Shafiyya seperti yang pernah dia lakukan, dia benar-benar membiarkan wanita itu pulang sendirian. kemudinya terus diputar, tak ada hal lain yang dia pikirkan selain dia berharap Shafiyya berhasil mengabulkan keinginannya.  Mobil berhenti di depan rumah. Reza segera turun dan Ranti tampak kesal karenanya. “Kamu nggak nganter Shafiyya pulang?” tanya Ranti begitu Reza masuk ke dalam rumah. “Dia bisa pulang sendiri,” ucap Reza sembari melewati ibunya di depan pintu. “Za, ibunya lagi sakit. Kenapa kamu nggak antar dia, terus kamu jenguk ibunya, perhatian dong sedikit,” pinta Ranti seraya mengikuti Reza.  “Aku nggak tahu,” ucap Reza sembari terus masuk dan berhenti di depan tangga saat Ranti kembali memanggilnya.  “Za, kenapa kamu jadi egois kayak gini?” Ranti terus mendekat dan berdiri di belakang anaknya. “Aku nggak egois,” sahut Reza seraya berbalik. “Justru Mama sama Papa yang egois. Sejak Kak Rega pergi, kalian terus memaksakan kehendak kalian, aku harus begini, aku harus begitu, semuanya diatur, aku bahkan merasa telah kehilangan hidupku sendiri.” Ranti tercenung menatap Reza yang terus berlari menuju ke kamarnya. Reza berdiri di depan lemari, dia mengambil koper dan mengemasi pakaiannya. Jika dia harus kembali ke Swedia, akan dia lakukan, tapi dia tidak mungkin mengingkari janjinya pada Melissa untuk menjadi ayah angkat Biru.  “Kamu mau ke mana?” tanya Ranti di depan kamar Reza.  “Aku mau pergi.” Reza terus ke sana ke mari sembari mengumpulkan barang-barang penting miliknya dan memasukkannya ke dalam koper.  Anton datang dan tercenung di belakang Ranti. “Ini ada apa?” tanyanya dengan dahi yang mengernyit heran.  “Aku nggak bisa tinggal di sini lagi, aku punya hidupku sendiri,” jawab Reza.  “Maksud kamu apa?” Anton mengedikkan dagu.  Reza membasahi tenggorokannya. Dia kemudian menoleh, lalu mendekat. “Sejak dulu kalian nggak inginkan aku di sini, sekarang meski kalian menginginkan aku di sini, kalian tetap tak memberikan hak-hakku sebagai anak. Kalian terus memaksakan kehendak kalian.” Anton menatap anaknya tajam. “Apa ini cara kamu bicara sama orang tua?” Satu tamparan mendarat di pipi Reza. Pemuda itu telah menyulut amarahnya sebagai orang yang dituakan di rumah ini.  Reza memegangi pipinya yang berdenyut nyeri. “Sejak Kak Rega pergi, kalian terus mendesakku untuk mewujudkan keinginan kalian.” “Iya, karena tinggal kamu anak kami satu-satunya,” sahut Anton dengan nada tinggi. “Apa kalau cuma Kak Rega yang tersisa dan aku yang mati, mama sama papa akan bersikap seperti ini, nggak, ‘kan?” Reza memberi jeda dengan berjalan beberapa langkah untuk mengambil kopernya. “Aku bahkan nggak kenal orang tuaku sendiri,” imbuhnya seraya berjalan melewati Ranti dan Anton yang ada di depan pintu.  “Selangkah saja kamu ke luar dari rumah ini, selamanya kamu nggak boleh kembali,” ancam Anton. Reza terus saja melangkah, dia bahkan tidak peduli jika dia dicoret dari daftar waris.    “Za!” teriak Ranti seraya turun. “Mama harus apa biar kamu tetap di sini?” Reza tak menoleh dia terus berjalan menuju pintu sembari menyeret kopernya.  “Reza!” Waktu terasa begitu cepat saat tubuh Ranti menggelinding jatuh dari tangga.  “Mama!” teriak Anton sembari berlari menuruni anak tangga.  Reza segera menoleh. “Mama?” Dia kemudian kembali dan memburu Ranti yang pingsan tepat di ujung tangga. “Mama?” Reza mencoba mengangkat tubuh ibunya dan meletakkan kepala wanita itu kepangkuannya.  “Ini semua gara-gara kamu, kalau terjadi sesuatu sama Mama, papa nggak akan maafin kamu!” tegas Anton tanpa membungkuk dan hanya berdiri di belakang Reza. Reza tak berkata apa-apa, dia hanya tercenung menatap ibunya. Anton pun segera memanggil ambulan.  “Ma, maafin Reza, Ma,” sesal pria berambut ikal itu.  Situasinya menjadi rumit, bagaimana kalau Ranti menjadikan sakitnya sebagai sebuah kelemahan agar Reza mau memenuhi keinginannya untuk menikah dengan Shafiyya? Jelas ini bukan zaman Siti Nurbaya. Perjodohan seharusnya sudah tidak berlaku di era modern seperti sekarang.  Tak berapa lama ambulan datang. Raza segera membawa ibunya ke dalam ambulan. “Papa yang bareng sama ambulan, aku mau bawa mobil,” ucap Reza pada Anton.  Anton bersikap dingin. Namun, dia mengikuti keinginan Reza dengan masuk ke dalam ambulan menemani istrinya yang tengah pingsan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD