Hanya Enam Bulan

1148 Words
Setengah jam dari jalan tadi, kini mobil berhenti di depan rumah Pram. Melissa dan Reza turun usai memarkirkan mobilnya. Melissa meminta Guntur agar membantu Reza menurunkan barang-barangnya dari bagasi mobil.  “Assalamualaikum,” ucap Melissa seraya masuk. Dia terperangah menatap  Rahmat dan ayahnya sedang mengobrol di ruang tamu. “Om.” Melissa mendekat dan mengecup tangan Rahmat.  “Mel,” teriak Endyta dari dalam sembari menggendong Biru.  “Endy? Melissa menghambur memeluk sahabatnya itu. “Katanya nggak bisa datang?” tanyanya usai mengurai pelukannya. “Iya nih nyebelin, jadwalku diundur.”  Melissa menghela napas, dia kemudian merangkul lengan Endyta untuk mengajaknya duduk.  “Aku udah periksa Biru, aku juga udah dengar ceritanya dari Om Pram, aku akan bantu kamu buat rawat dia, Mel,” tutur Endyta seraya duduk.  Melissa tersenyum lebar. “Makasih ya, End.” Saat Endyta hendak menyerahkan Biru padanya, Melissa menolak. “Bentar aku cuci tangan dulu,” katanya sembari bangkit.  “Mel, ini kemanain?” tanya Reza sembari masuk dan membawa barang-barang yang dibelinya bersama Melissa. Dia tiba-tiba tersenyum kikuk. “Pak Rahmat.” Reza segera meletakkan barang-barang yang dibawanya di sudut pintu, dia kemudian bersalaman dengan Rahmat.  “Sehat, Za?” “Alhamdulillah.” “Pak Pram sudah cerita semuanya. Kami tetap bangga sama kamu, sama Melissa juga,” tutur Rahmat.  “Makasih, Pak.” Endyta terus menatap Reza. Dia kemudian menyerahkan Biru pada Melissa yang baru kembali dari dapur usai mencuci tangan. “Kayaknya aku kenal dia deh,” ucap Endyta pada Melissa. Wanita itu lalu menoleh pada Reza. “Rega, ‘kan?” tanyanya sedikit ragu. Reza menenggak liurnya. “Saya Reza,” ucap Reza seraya mengulurkan tangan. Endyta tercenung, namun, dia tetap membalas uluran tangan Reza. “Saya adik kembarnya almarhum Kak Rega,” jelas Reza.  “Oh. Aku turut berduka, aku baru tahu kalau Rega udah meninggal. Dulu kami sempat tugas bareng,” tutur Endyta. “Jadi, kamu ayah angkat Biru?” tanyanya. Reza mengangguk. Dia kemudian duduk di antara Rahmat dan Pram Gunadi. Melissa pun demikian, usai menidurkan Biru di kamar tamu yang sebentar lagi akan disulap menjadi kamar bayi itu. Dia duduk menyimak hal penting apa yang akan disampaikan ayahnya dan juga Rahmat.  “Om bisa bantu kalian buat urus surat adopsi Biru,” ucap Rahmat tiba-tiba mengawali pembicaraan itu dengan hal yang memang Melissa inginkan. Wanita itu benar-benar sumringah mendengar penuturan ayah dari sahabatnya itu. “Tapi, ada syaratnya.” “Tiba-tiba senyum di wajah Melissa memudar dan dia menatap Reza. Pria itu hanya mengedikkan bahu untuk menanggapi tatapan Melissa.  “Hanya dalam enam bulan saja Biru akan akan tinggal sama kalian sambil menunggu siapa diantara kalian yang lebih cepat menikah itu yang akan menjadi orang tua adopsi Biru,” imbuh Rahmat.  “Maksud Om gimana?” tanya Melissa menuntut.  “Hanya enam bulan, Mel, Biru boleh tinggal sama kamu, kalau dalam waktu enam bulan itu, diantara kalian belum ada yang menikah. Terpaksa Biru akan tinggal di yayasan Om dan siapapun yang akan menjadikan Biru sebagai anak adopsinya, Om akan serahkan.” “Apa?” Kedua mata Melissa membola, dia kemudian menoleh menatap Reza. “Aku nggak mau.” “Ya mangkanya nikah cepat-cepat,” sahut Pram. Kening Melissa seketika mengernyit saat mendengar ayahnya berkata demikian. “Om sama Papi kerjasama buat rencanain ini, ya? Padahal aku tahu, Biru bisa tinggal sama aku lebih lama, iya, ‘kan?” tuduh Melissa.  “Lebih lama juga percuma kalau kamu nggak nikah-nikah mah,” sahut Pram Gunadi lagi.  Melissa segera menoleh pada Reza yang duduk di sampingnya. “Za, kamu aja deh yang nikah duluan,” titah Melissa tanpa perasaan. Reza berdehem sembari menggaruk tengkuk lehernya. “Kamu aja, Mel, kamu kan udah punya pacar, aku calon aja belum ada,” tukas Reza.  “Aku nggak yakin Ibram mau nikahi aku dalam waktu dekat, Za.”  Pram Gunadi tersenyum sembari mengerlingkan alisnya pada Rahmat.    “Kenapa nggak kalian aja yang nikah?” usul Endyta. “Lagian masih ada waktu enam bulan untuk saling mengenal. Eh kalian, ‘kan udah kenal selama lima bulan, ‘kan, jadi langsung nikah juga nggak apa-apa.” “Nggak!” sahut Melissa. “Reza cocoknya dijadikan sahabat aja. Lagian dia nyebelin, kadang kalimat yang dia ucapkan sarkas, nggak cocok jadi suami,” tambahnya. Berbanding terbalik dengan kejadian beberapa jam yang lalu saat Melissa mengenalkan dirinya pada Delon dan Tania sebagai calon istri Reza. Reza membasahi tenggorokannya, kemudian menatap Melissa. “Melissa otoriter, dia diktator, saya nggak mau dijajah sama istri saya sendiri,” pungkas Reza.  Kedua mata Melissa menatapnya tajam. Reza memang orang terjujur yang pernah Melissa temui, tapi dia tidak suka perkataan Reza yang terlalu blak-blakkan. Tak bisakah Reza berkata dengan lembut dan mengganti semua kalimat negatif itu menjadi yang lebih layak diucapkan dan ditunjukkan pada perempuan? Rahmat, Pram dan Endyta saling tatap. “Kayaknya kalian cuma lagi bohongin diri kalian sendiri deh,” goda Endyta.  Melissa dan Reza duduk saling membelakangi. Mereka persis seperti anak kecil yang berebut mainan, kemudian saling marah.  Rahmat kemudian berdehem. “Jangan dijadikan beban, Mel, pokoknya segitu yang bisa Om bantu,” ucap Rahmat. “Kamu isi formulir itu, nanti Biru resmi ada di bawah lembaga sosial Pelita.”   “Tapi, Om.” Melissa merengut. “Please,” mohonnya.  Rahmat menggelengkan kepala seraya bangkit. “Pak Pram, saya harus kembali ke kantor.” Dia kemudian menatap Reza. “Za, ditunggu senin, kamu tugas lagi.”  Reza bangkit, kemudian berujar, “Siap, Pak.” Endyta tercenung menatap Melissa yang tampak sedih. Wanita itu kemudian berdiri dan pergi ke kamar menemui Biru yang sedang tidur. “Aku nggak mau pisah sama kamu,” ucapnya agak keras di depan pintu kamar. Dia kemudian berjalan dan mendekat ke ranjang. “Gimana kalau kamu dapet orang tua adopsi yang jahat kayak di film-film?” gumam Melissa seraya membaringkan tubuhnya di sebelah Biru.  Endyta bangkit dan mengikuti Melissa. Dia berdiri di depan pintu memperhatikan wanita itu, tapi juga Endyta mendengar apa yang dikatakan Reza pada Pram.  “Pak, saya minta maaf soal ucapan saya barusan tentang Melissa,” ucap Reza.  “Iya, nggak apa-apa, Za, saya ngerti. Kalau kamu sebenarnya tidak benar-benar mengatakan itu dari hati.” Tebakan Pram memang selalu tepat. Namun, Reza hanya tidak ingin menikahi seseorang karena alasan lain selain cinta. Dia hanya ingin menjadikan cinta sebagai satu-satunya alasan untuknya membina rumah tangga. Dia tidak ingin kejadian di masa lalu terulang kembali.   Endyta mendekat pada Melissa. “Mel, Reza cocok kok jadi suami kamu. Dia kayaknya sayang sama kamu.” Melissa tercenung menatap Endyta. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, namun, hatinya berharap ucapan Endyta memang terbukti. Melissa memang merasa tak ada orang yang memiliki kepedulian besar terhadapnya selain Reza. Melissa hanya tidak ingin membuat Reza terpaksa melakukan pernikahan, dia ingin dengar sendiri kalau Reza menikahinya karena cinta, bukan paksaan dari pihak manapun, dia takut kejadiannya sama seperti yang sering diceritakan Reza soal pernikahan pura-puranya dengan Tania. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD