Setelah makan, mereka berpamitan karena tujuan mereka jelas berbeda. Reza dan Melissa ke kiri sementara Delon dan Tania ke kanan. Melissa sempat bertukar nomor dengan Tania, entah untuk apa, Reza sebenarnya tidak begitu suka saat Melissa bersikap hangat pada mereka.
Reza segera menarik tangan Melissa untuk berjalan lebih cepat. Melissa segera menepis tangan Reza. “Kamu kenapa?” tanya Melissa.
“Kamu tanya aku kenapa?” Reza mencoba meredam kemarahannya. “Berapa banyak kebohongan yang kamu katakan pada mereka?”
Melissa tertawa. “Nggak masalah, biasa aja,” ucapnya sembari mempercepat langkahnya.
“Apa kamu bilang?” Reza membulatkan mata. “Biasa?” Dia segera mengejar Melissa. “Mel?”
“Kamu dengar, Za. Aku cuma bantuin kamu. Biar mereka tahu kalau kamu sebenarnya udah move on, kamu udah nggak lagi mikirin Tania.”
“Ya aku emang udah nggak mikirin dia, tapi--”
“Tapi apa?” Melissa memperlambat langkahnya. “Jangan-jangan kamu masih ada hati sama dia, iya?”
“Nggaklah,” elak Reza. “Cuma aku nggak suka, kenapa kamu harus bohong?”
Seketika Melissa menghentikan langkahnya. “Kenapa nggak suka, kamu malu punya calon istri kayak aku, emang aku kurang apa?”
Reza tergemap. Dia memang tidak bodoh, namun, dia tidak ingin besar kepala dengan mengira kalau itu adalah kode keras dari Melissa untuk segera memperistrinya.
Kemudian terdengar tawa renyah Melissa. “Kamu terlalu serius,” ucap Melissa sembari merangkul lengan Reza dan mengajaknya kembali berjalan.
Reza benar-benar kehilangan harga diri. Sungguh dia tidak ingin terjerat permainan Melissa, dia tidak tahu seperti apa Melissa sebenarnya, apakah wanita itu berbisa seperti kobra atau tidak.
Wanita itu masuk ke tempat peralatan bayi. “Papa mau nyumbang apa untuk Biru?” tanya Melissa manja sembari menyenggol bahu pria itu.
Jantung Reza mencelus, sialnya dia kembali melihat Tania dan Delon. Reza segera menarik tangan Melissa untuk bersembunyi.
“Kenapa?” Melissa mengedarkan pandangan.
“Ssshhh.” Reza menutup mulut wanita itu dengan telapak tangannya. “Mereka ada di sini,” bisiknya.
“Mereka?” Melissa celingukkan. “Siapa?”
“Tania sama Delon,” bisik Reza lagi.
“Astaga!” Melissa segera bangkit. Namun, Reza menarik tangannya agar wanita itu kembali berjongkok. “Emang kenapa sih, ‘kan bagus, kita bisa cerita soal Biru.”
“Nggak!” pekik Reza tertahan.
Melissa menghela napas. “Ya oke terserah kamu.”
Perlahan Reza bangkit, begitupun dengan Melissa. Reza menunjuk wanita yang memakai dress sabrina dengan seorang pria berjaket jeans baru saja ke luar dari toko itu. “Syukurlah mereka udah pergi, sekarang kamu bebas mau pilih apa yang mau kamu beli.”
“Oke, Bapak Reza Darwanto Sigstein William,” ucap Melissa sembari melenggang pergi dengan d**a yang membusung.
Reza segera mengejar Melissa. “Tahu dari mana kamu nama panjangku?”
“KTP kamu,” ucap Melissa sembari mengacungkan tanda pengenal Reza. “Jadi, nama bule kamu Sigstein William, apa di Swedia orang memanggil kamu dengan sebutan Sig?”
Reza memutar bola matanya sembari merebut tanda pengenalnya dari tangan Melissa dan segera memasukkannya ke dompet. Bagaimana wanita itu bisa mengambil Kartu Tanda Pengenal miliknya?
Melissa membeli barang-barang kebutuhan Biru, Reza tak ikut memilih, semua dia serahkan pada Melissa, untuk kali ini dia tidak ingin berdebat. Melissa terlalu banyak bicara dan itu membuat suasana hati Reza memburuk.
Apalagi sekarang Melissa membawa barang belanjaan yang banyak. Pelayan toko tersebut juga ikut membawakan sebagian barang-barangnya ke tempat parkir, lalu memasukannya ke dalam bagasi mobil Reza.
“Hai, ketemu lagi,” ucap Delon seraya mendekat menyapa Melissa. Melissa tersenyum ramah. Delon kemudian menengok ke belakang. “Banyak banget belanjanya.”
“Iya,” ucap Melissa seraya ikut menengok ke belakang. Reza segera datang mendekat. “Buat keponakan Melissa yang baru lahir,” sahut Reza.
“Oh. Iya.” Delon menoleh sekilas ke belakang, tepat di depan mobilnya ada Tania yang sedang berdiri. “Kita mau undang kalian ke kafe.”
“Iya, iyah, tentu, kapan-kapan kita akan main ke sana. Iya, ‘kan, Za?” kata Melissa.
“Boleh,” jawab Reza sembari mengangguk.
“Ya udah kita pulang duluan ya,” ucap Melissa.
Reza melambaikan tangan. “Duluan,” ucapnya sembari masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil melesat meninggalkan mall tersebut.
Melissa menyandarkan punggung sembari menghela napas. “Capek,” gumamnya. Dia kemudian menoleh pada Reza. “Tania orangnya ngebosenin ya?”
Reza mengedikkan bahu.
“Kayaknya aku nggak bakalan cocok deh sahabatan sama dia. Orangnya pendiem, terus apa-apa boleh gitu, kayak yang nggak punya pilihan, ini menurutku aja sih, kan baru pertama ketemu.”
“Dia juga nggak akan mau sahabatan sama kamu, Mel. Orangnya nggak enakan, kamu pasti manfaatin dia, sama kayak kamu manfaatin Marinka.”
“Dih.” Melissa mengedikkan bahu begitu mendengar nama Marinka.
Reza tetap fokus pada kemudi, meski pikirannya mengulas balik apa yang terjadi saat di mall tadi.
“Tania memang cantik, pantas kakak kamu suka dan minta kamu buat gantiin dia.”
“Cantik itu nggak kekal, lama-lama juga ilang,” ucap Reza tanpa menoleh.
“Terus kamu suka dia karena apa?” tanya Melissa.
Reza tergemap, dia kemudian menoleh sekilas.
“Kamu suka dia, ‘kan? Sukanya karena apa, kalau kamu bilang cantik fisik itu nggak abadi, berarti ada satu hal yang membuat kamu suka sama dia?”
Reza menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu.”
“What?” Kening Melissa mengernyit. “Hatinya?”
Reza kembali menggelengkan kepala.
“Ah, jangan bilang kamu suka kelemahan dia.” Tiba-tiba Melissa tergelak.
Reza menepi dan berhenti mengemudi. Kemudian dia menoleh dan menatap Melissa. “Dulu, setelah kakakku meninggal, dia diculik dan kedua orang tuaku bersikukuh ingin merawat dia, padahal dia udah tahu kalau Rega udah meninggal dan aku bukan Rega. Setiap hari aku meyakinkan dia kalau aku Reza.”
Melissa merengut. “Terus, kamu mulai mencintai dia karena?”
Reza kembali mengedikkan bahu. “Aku nggak tahu, Mel, aku bilang cinta sama dia itu karena orang tuaku yang minta aku buat yakinin dia agar mau menjadi menantu mereka.”
“Jadi, kamu bohong, kalau sebenarnya kamu nggak cinta sama dia?”
Reza tergemap. Dia tidak dapat menjawab keraguan di hatinya. “Yang jelas aku ingin melindungi dia.”
“Sama seperti kamu ingin melindungi aku, gitu?”
“Kurang lebih seperti itu.”
“Jadi, perempuan yang kamu cinta dari dulu hingga sekarang siapa?” Melissa mengacungkan telunjuknya. “Jangan bilang mama kamu. Itu jawaban klise.”
“Namanya Leia. Dia cinta pertamaku, aku meninggalkannya di Swedia saat aku harus pulang dan tinggal di sini.”
“Kenapa harus putus, kalian ‘kan bisa tetap menjalani hubungan, meski jarak jauh.”
“Mel, ‘kan aku menunggu Tania untuk mewujudkan amanat kakakku itu. Dua tahun aku nunggu dia, tapi hasilnya.” Reza mengangkat kedua bahunya.
“Ya, kalau nggak cinta ngapain kamu mau nunggu dia?”
Reza menghela napas, dia merasa bercerita pada Melissa terus berputar-putar dan mengulang jawaban yang sama.
“Ya, udah oke, aku pusing sama cerita kamu yang nggak ada ujungnya, sekarang cepat kita pulang.”
Reza kembali memutar kemudi. “Aku hanya ingin menjadi anak yang baik dengan mewujudkan apa yang orang tuaku inginkan, Mel.”
“Iya, aku ngerti,” sahut Melissa malas.
Mobil kembali melesat, Melissa memilih tidur daripada harus memperhatikan jalan yang panas dan berdebu itu.