Calon Istri Reza

1231 Words
Melissa tersenyum menatap bayangannya di cermin, sementara Biru tampak anteng tak bersuara. Melisa segera bersiap dengan mengganti pakaiannya, merapikan rambut, dan memakai parfum kesayangannya.  Dia kemudian turun, kaki jenjangnya berbalut skinny jeans berwarna biru dongker, dipadu padankan dengan kemeja berwarna biru yang lebih terang dari celananya. Rambut bergelombangnya dibiarkan tergerai dan dibuat curly.  Reza tak ingin terpedaya dengan penampilan sederhana Melissa. Dia pura-pura saja tidak melihat wanita itu.   “Ayo, Za.” Melissa mencari keberadaan Bi Narsih. “Bi, Biru di kamar aku, bawa ke bawah aja, takutnya bibi nggak dengar suara tangisnya.” “Iya, Neng.”  Melissa menatap arlojinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10. “Papi udah berangkat ya?” “Iya, tadi pukul delapan,” jawab Bi Narsih. “Katanya jam sembilan?” Bi Narsih menggelengkan kepala.  Melissa mendengkus. “Pantes nggak pamit.” “Neng lagi tidur.” Wanita dua puluh lima tahun itupun mengangguk. “Terus yang nyuruh Reza ke kamar aku siapa?” “Pak Pram,” sahut Reza seraya mendekat ke arah Melissa.  Melissa salah tingkah “Ya udah ah, aku berangkat ya, Bi.” Melissa segera menyambar tangan Reza. “Ayo cepet, keburu panas banget,” ajak Melissa ke tempat di mana mobilnya berada.  Mereka kini sudah berada di dalam mobil, Reza siap menancap gas dan Melissa tengah memasang sabuk pengaman.  “Kemarin malam aku telpon kamu, berkali-kali,” jelas Melissa. “Ya aku tahu,” sahut Reza sembari memutar roda kemudi.  “Kenapa nggak angkat?” “Setidaknya aku balas pesan kamu, Mel,” jawab Reza sembari menoleh sekilas. “Iya, iya, iya.” Melissa memutar bola matanya. “Katanya kalau butuh apa-apa, telepon kamu.” “Ya aku, ‘kan baru pulang, Mel, aku capek.” “Ya emang aku nggak capek?” Melissa memberi jeda. “Orang tua kamu gimana? Masih mendesak kamu?” Reza mengedikkan bahu. “Ya begitulah mereka.” Mobil terus melaju menerjang panas yang perlahan menyengat seiring bertambahnya waktu. “Kamu mau beli apa aja?” tanya Reza mengalihkan pembicaraan.  “Banyak. Stroller, tempat tidurnya, mmm … tempat mandinya, banyak pokoknya.” Reza menarik napas. “Oke. Aku nyumbang.” “Ya, haruslah, orang kamu bapaknya.” Reza menoleh sekilas. Dia kemudian fokus kembali pada kemudinya.  “Ibram belum tahu kalau aku pulang.” “Kenapa?”  “Aku belum siap buat ngasih tahu dia semuanya tentang Biru, tentang kita.” “Kita?” Reza menoleh dan memiringkan wajahnya. Dia membasahi tenggorokannya, kemudian kembali menyetir.  Melissa mengangguk. “Iya, kita.” Melissa memberi jeda. “Kita yang jadi orang tua angkat Biru.” Reza menghela napas sembari mengangguk. Dia kemudian masuk ke kawasan  mall, setelah parkir, dia dan Melissa turun. Ada jarak dalam langkah mereka. Tak ada hubungan khusus, keduanya memang merasa lebih cocok jadi sahabat, meski mereka adalah orang tua angkat Biru.  “Abis ini kita makan, jujur aku lapar,” ucap Melissa berbisik dekat wajah Reza.  “Iya,” ucap Reza seraya mundur untuk menghindari Melissa. Wanita itu mengernyit kenapa Reza seperti tidak ingin terlalu dekat dengannya. “Kenapa sih?” Melissa menatap apa yang sedang Reza lihat di depannya. “Dia siapa?” tanya Melissa.  “Reza?”  “Tania?” Melissa terperangah, dia menatap wanita yang tengah berdiri dengan seorang pria itu dari atas ke bawah. “Jadi, ini Tania?” celetuk Melissa. Wanita itu kemudian mengulurkan tangan dan berujar, “Kenalin dr. Melissa Sp.PD, calon istri Reza.” Reza menoleh cepat dan menatap Melissa. Bukannya tersenyum, dia malah terperangah. “Tania,” ucap Tania singkat. “Ini Delon suami saya,” imbuhnya sembari merengkuh tangan Delon.  “Hai,” sapa Melissa ramah. “Reza banyak cerita tentang kalian,” imbuhnya ceria. “Cerita?” Tania mengernyitkan kening.  “Iya, banyak. Gimana kalau kita makan bareng, sambil ngobrol,” ajak Melissa.  Reza tampak gugup. Kenapa Melissa harus bersikap seperti itu? Ah sial! Reza tak bisa mencegah keinginan Melissa, nanti malah dia dianggap menyembunyikan sesuatu entah dari Melissa atau dari Tania sendiri.  “Boleh,” ucap Tania, dia kemudian menatap Delon. “Nggak keberatan, ‘kan, Sayang?” “Nggak,” ucap Delon sembari tersenyum. Reza malah tampak keberatan, dia tertunduk sembari menggaruk kepalanya.  Melissa segera menarik tangan Reza dan merangkulnya mesra. “Ayo, Sayang, aku nggak apa-apa, kok,” ucap Melissa yakin. Reza menarik napas dan menegakkan tubuhnya. Mereka berjalan beriringan. Sementara Tania dan Delon berjalan di belakang mereka. “Kita ke sini aja.” Melissa kemudian menoleh pada Tania dan Delon. “Makan di sini nggak apa-apa?” Tania mengangguk. “Boleh.” Melissa berbalik dan memutar bola matanya. Dia kemudian menarik kursi dan duduk, Reza segera mendaratkan b****g di sebelah Melissa. Delon dan Tania mengambil kursi di depan mereka terhalang meja bundar.  “Langsung pesan aja?” tanya Melissa mengedarkan pandangan. Dia memanggil pelayan dengan melambaikan tangan. Acara hari ini di sponsori oleh Melissa, sementara Reza tampak tak nyaman, begitu pula dengan Tania, sedangkan Delon tampak biasa saja sama seperti Melissa.  “Saya mau combo platter yang reguler.” Melissa kemudian menatap Reza. “Kamu mau apa?” tanyanya.  “Aku nyicip punya kamu aja, soalnya aku masih kenyang, Mel,” tutur Reza. “Oke.” Melissa tak keberatan, lagi pula selama di Kalbar, mereka selalu saling mencicipi makanan, bahkan terkadang mereka menikmatinya sepiring berdua. “Ya udah deh kalau minumnya kamu mau apa?” “Iced tea,” ucap Reza.  “Saya mmm … samain aja.” Melissa kemudian menatap Tania dan Delon. “Kalian mau pesan apa? Aku yang traktir, kan aku yang ngajak makan.” Tania mengangguk sembari tersenyum.  “Ayo jangan malu-malu,” bujuk Melissa.  “Nggak kok, kita nggak malu-malu, biasanya kita malu-maluin,” kekeh Delon.  Segera saja Melissa tergelak, namun, tangannya mencubit perut Reza yang hanya diam saja. Sepertinya Melissa gagal memecah kebekuan antara Reza dan Tania.  “Kalian masa nggak pesan, ya udah deh,” Melissa menarik napas dan menatap pelayan. “Mas, samain aja, jadi, combo platter yang regulernya dua.” “Boleh,” ucap Delon. “Minumnya saya mau coke untuk istri saya sweet iced tea aja.” “Ya udah itu aja, Mas,” ucap Melissa. “Cepat ya.” “Iya, mohon ditunggu ya, Mbak, Mas.” Pelayan berseragam kuning khas resto  itu pun berlalu dari pandangan mereka. “Ini kesayangannya aku kenapa sih, diem terus,” goda Melissa sembari menyenggol bahu Reza. “Biasanya kamu bawel.” Melissa mengerjapkan mata pada Reza, senyum ejekan tersungging jelas di wajahnya. “Oh iya.” Melissa kemudian menatap Tania. “Selamat ya, untuk pernikahan kalian, maaf kami nggak bisa datang waktu itu kami berdua lagi tugas di Kalimantan. Baru pulang dua hari yang lalu,” tutur Melissa.  “Nggak apa-apa,” ucap Tania. “Selamat juga untuk kalian, kami tunggu undangan pernikahannya.” “Oh, pasti, tenang nanti kami undang, secepatnya,” ucap Melissa. Reza menenggak liurnya. Melissa benar-benar cari mati. Memangnya wanita itu mau menikah dengannya?  “Emmm.” Delon kemudian berdehem. “Maaf, berapa lama kalian?” “Setahun yang lalu,” bohong Reza, sudah kepalang basah, dia tidak ingin terlihat bodoh dan membiarkan Melissa menguasai permainan. “Kenal setahun dan baru berkomitmen sekitar tiga bulan yang lalu.”  “Mmmhh … cepat ya, move on nya,” komentar Delon. “Oh jelas, saya laki-laki dan tak seharusnya saya terpuruk, hilang satu akan tumbuh seribu,” ungkap Reza. Bibir Melissa tersungging lebar. Dia berhasil menyalakan api dalam diri Reza.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD