Perlahan Reza naik ke atas ranjang, lalu tidur di sebelah Biru, di dekat bayi itu ada wanita berbulu mata lebat dan beralis tebal tengah terlelap dengan nyenyak, betapa damainya ibu dan anak ini, tak ada seorang pun yang merecoki hidup mereka, tak seperti dirinya yang terus-menerus diarahkan, padahal sudah dewasa untuk menentukan hidupnya sendiri.
Reza ikut terpejam di sana. Dia memang sudah mendapat izin dari Pram untuk langsung masuk ke kamar Melissa. Betapa Pram percaya kalau Reza tidak akan membuat kekacauan, benar saja dia malah menumpang tidur di kamar wanita itu. Tubuh lelah, lesu dan pikiran mumetnya perlahan sirna, wajah damai Melissa dan Biru adalah obatnya, belum lagi aroma dari kedua makhluk itu, membuat Reza merasa kalau hanya itulah obat ketenangan baginya.
Selang lima belas menit, Melissa membuka mata dan orang yang pertama kali dia lihat adalah Reza. Takut sekali dia dikira berhalusinasi, Melissa pun terus mengerjapkan mata, mengucek matanya berulang kali.
Tangisan Biru membuat Reza terbangun. Dan sejak saat itu Melissa yakin dia tidak sedang bermimpi. Bibirnya tersungging tipis. Sejak kapan pria bermata coklat terang itu ada di sini?
Sesaat Reza mematung menatap Melissa, begitupun dengan Melissa. Namun, saat tangisan Biru semakin kencang, mereka berdua segera menegakkan tubuhnya dan segera menenangkan bayi itu.
"Ssshhhh…" Melissa menepuk-nepuk p****t bayi itu. Namun, Biru tetap menangis.
"Dia mungkin haus, Mel?" ucap Reza, Melissa malah terperangah seperti asing mendengar suara pria itu. "Mel?" Reza memiringkan wajahnya.
"Iya, iya." Melissa mengerjapkan matanya. "Kamu ke bawah minta susunya sama Bi Narsih."
"Oke." Reza mengayun kaki dan turun dari ranjang. Kemudian berlari menuruni anak tangga. Lalu ke dapur menemui Bi Narsih.
"s**u Biru, Bi." Baru dua kali ke rumah Pram, Reza sudah menyesuaikan diri, dia sudah menganggap itu seperti rumahnya sendiri.
Dua menit menunggu, s**u sudah tersaji dalam botol. "Mas, kayaknya Den Biru mau mandi, bibi siapin air ya."
"Oh, iya, Bi, makasih." Reza kemudian berlalu membawa botol itu ke kamar dan memberikannya pada Melissa.
Melissa memberikan s**u itu sembari menggendong Biru. Bayi itu benar-benar haus.
"Za, duduk," pinta Melissa tegas, namun tetap lembut, sehingga Reza sulit menolak.
"Bukan di situ, tapi di sini." Melissa menunjuk kursi goyang dekat jendela.
"Kamu nggak ngomong," dengkus Reza sembari tetap mengikuti perintah wanita itu, entah kenapa karisma Melissa membuat Reza sulit menolak perintahnya, padahal dia juga tidak mengerti kenapa dia harus duduk di sana.
Melissa kemudian membungkuk dan meletakkan Biru di atas pangkuan Reza. "Nitip, aku mau mandi," ucap Melissa sembari menahan botol s**u agar tidak menimpa wajah imut bayi yang sedang menyusu itu.
Reza malah tampak bingung. Melissa kemudian menoleh. "Pegangin dong Papa," ucap Melissa. Alih-alih mengikuti interupsi Melissa, Reza malah semakin tersihir, entah ada apa dengan dirinya, hingga Melissa berdecak kesal. "Reza!"
"Iya, aku di sini, Mel," ucap Reza cepat.
"Jiwa kamu di mana?" Melissa mendelik. "Pegangin botol susunya!"
Reza segera mengambil alih botol s**u yang dipegang Melissa. Wanita itu kemudian menegakkan tubuhnya. Lalu pergi ke depan lemari pakaiannya untuk memilih dan memilah baju yang akan dia kenakan pagi ini.
"Kamu datang ke sini menemui aku, tapi kamu lupa nggak bawa jiwa kamu." Melissa menoleh pada pria itu. "Kamu jadi kayak Zombie."
Melissa menyampirkan tunik merah marun ke atas lengannya. "Jangan bilang jiwa kamu ketinggalan di Kalbar buat nemenin Marinka," gerutu Melissa sembari lewat ke samping Reza.
Reza menggelengkan kepala. Tentu dia akan menyanggah perkataan Melissa. "Mama kamu kenapa, masih cemburu aja," monolog Reza sembari menatap Biru.
Melissa menyembulkan kepala dari balik pintu kamar mandi. "Aku nggak cemburu, aku jijik," pekik Melissa.
"Buruan mandi, bau," cibir Reza tanpa menoleh.
In your head, in your head
Zombie, zombie, zombie-ie-ie
Melissa sengaja meninggikan suaranya, dia memang sedang menyindir Reza lewat lagu. Namun, Reza malah tersenyum mendengarkan Melissa bernyanyi.
What's in your head, in your head
Zombie, zombie, zombie-ie-ie, oh.
Bi Narsih berdiri di depan pintu, dia kemudian mengetuk dan Reza segera menoleh.
"Bibi udah siapin buat mandi Den Biru."
"Oh iya. Saya lupa bilang sama Melissa. Dia lagi mandi dan Biru juga kayaknya masih ngantuk, barusan habis minum s**u dia tidur lagi," tutur Reza.
"Oh ya udah kalau gitu, nanti bibi tunggu Neng Melissa aja."
"Ya," sahut Reza. Bi Narsih kemudian berlalu dari depan kamar Melissa.
Tak berapa lama, Melissa ke luar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap. Reza tampak asik berfoto dengan Biru. Melissa sampai mengernyit menatapnya. “Kamu narsis juga,” komentarnya.
“Buat kenang-kenangan.” Reza menegakkan tubuhnya. “Kamu udah?”
“Kalau belum, aku nggak akan ke luar dari kamar mandi, Reza!”
Reza tersenyum dan menunduk sembari geleng-geleng kepala. Dia kemudian menatap Melissa. “Tadi, Bi Narsih ke sini, katanya mau mandiin Biru.”
Seketika senyum Melissa terbit. “Ya udah yuk,” ucapnya sembari membungkuk dan mengambil alih Biru dari pangkuan Reza.
Reza kemudian bangkit. Melissa menoleh menatap pria itu. “Kita akan mandiin dia.”
“Kita?”
“Iya,” sahut Melissa sembari melangkah.
“Mandinya di mana?”
“Di balkon sambil berjemur.”
“Kenapa nggak di kamar mandi.”
Melissa menoleh seketika. “Bisa nggak sih nggak usah banyak nanya?”
Reza tergemap. Dia terkadang heran, kenapa ada wanita seperti melissa, yang sialnya dia tidak bisa lepas, meski Melissa terkesan sangat otoriter dan menyebalkan. Dan kini Reza hanya bisa bersikap seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
Dia memandangi Melissa dari belakang yang sedang memandikan Biru. “Sini, Za,” panggil Melissa. “Ambilin handuknya.”
“Astaga,” gumam Reza. “Handuk ada di sebelah kamu juga, rewel banget.”
“Susah, Za, aku kan pegangin Biru.”
Terpaksa Reza mendekat dan menganjurkan apa yang Melissa minta. Melissa menatapnya tajam dari atas ke bawah. “Yang ikhlas, Bapak Reza.”
Reza mendengkus. Dia membukakan handuk itu dan meletakkannya di pangkuan Melissa, lalu Melissa meletakkan tubuh mungil Biru dan membalutnya dengan handuk tersebut.
“Kadang papa nggak ikhlas bantuin mama,” ucap Melissa seraya mendelik.
“Nggak ada yang tahu betapa ikhlasnya aku diinjak-injak sama kamu.”
“Ouch … Reza,” Melissa menepuk-nepuk d**a Reza, “kamu terlalu serius.” Melissa kemudian membawa Biru ke kamar untuk dipakaikan baju, sementara Reza masih mengikutinya dari belakang. “Bi, tolong diberesin,” ucap Melissa sembari melongok ke lantai bawah.
“Iya, Neng,” sahut Bi Narsih.
Melissa segera memakaikan telon ke tubuh merah bayi itu. Reza hanya memperhatikan bagaimana Melissa mengurus bayi itu, wanita itu tampak seperti sudah berpengalaman.
“Kamu harus temani aku jalan ke mall pagi ini. Kita akan beli keperluan Biru.”
“Hmmm ....,” sahut Reza depan pintu dengan kedua tangan dilipat di depan.
“Kamu di sini sama Bibi dulu, mama sama papa mau belanja,” ucap Melissa pada bayi itu. Dia kemudian menoleh pada Reza. “Za, aku harus ganti baju lagi, soalnya ini basah, kamu tunggu di luar.”
“Iya, Nyonya.” Reza berlalu dari depan kamar Melissa.