Kembali ke Kehidupan Semula

1654 Words
Taksi berhenti di depan rumah. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh bangunan rumah tersebut. Sejujurnya dia malas pulang, meski ini rumah kedua orang tuanya sendiri. Sudah terbiasa jauh membuatnya merasa kalau lima bulan pergi terasa seperti sehari. Seandainya dia tak pernah kembali mungkin dia tak akan terkurung di sini. Seandainya dulu dia tetap pada pendiriannya untuk tetap di sana membangun karir, cita-cita dan cinta, mungkin sekarang dia sudah bahagia, meski tetap jauh dari orang tua. Terlalu banyak berandai membuatnya gila.  Perlahan kaki melangkah masuk ke dalam rumah, koper diseretnya dengan cepat untuk menghindarinya bersirobok dengan sang ibu atau ayahnya. Namun, baru sampai depan pintu, ibunya sudah tersenyum menyambut kedatangannya.  “Za, kamu pulang?” Reza tersenyum, kemudian mengangguk. Ranti menghambur memeluk anaknya.  “Kata kamu setahun, dua tahun ….”   “Iya, dipercepat, Ma,” jawab Reza sembari melepas pelukan ibunya.  Ranti tersenyum lembut memperhatikan sang anak. “Syukurlah,” ucapnya setelah beberapa detik terdiam. “Papa belum pulang, kalau sudah pulang pasti dia senang kamu pulang.” Reza termangu menatap ibunya, dia tidak yakin ayahnya akan sesenang seperti yang diungkapkan Ranti barusan.  “Kamu mau makan?”  “Udah tadi di jalan.” Ranti mengangguk. “Ya udah istirahat, Mama tahu kamu pasti capek.” Dia kemudian melenggang pergi dan Reza segera pergi ke kamar.  Reza tak langsung tidur, dia segera mandi dan mengganti pakaian, setelah itu dia mencari ponselnya yang tadi dia simpan dalam ransel. Setelah  mendapatkannya dia duduk bersandar di kepala ranjang. Sesaat setelah layar ponsel terbuka, Reza tercengang melihat tujuh panggilan tak terjawab yang datang dari Melissa, kemudian satu pesan tersemat di sana. [Good night, Za.] Reza tersenyum saat membaca pesan singkat tersebut. Dia kemudian mengirim pesan balasan pada Melissa. [Have a nice dream, Mel.] *** Pintu kamar masih tertutup dengan rapat, sang pemilik kamar masih terlelap dengan posisi tidur telungkup. Ranti terus mengetuk untuk membangunkan anak bujangnya. Reza malah sengaja menutup kepalanya dengan bantal.    Sementara itu, Melissa sudah terbangun sejak pukul tiga dini hari tadi. Biru terus saja menangis, dia mencoba memeriksa suhu tubuh bayi itu. Namun, Biru terus saja menangis. Bi Narsih sudah membuatkan s**u, siapa tahu Biru haus, tapi bayi usia tiga hari itu terus saja menangis.  “Sssshhh .... Sayang, Sayang, ini mama, Nak, cup, cup, cup.” Melissa terus mengayun-ayun bayi itu dalam gendongannya.  Pram mengintip dari balik pintu, dia terharu melihat Melissa benar-benar menyayangi bayi itu, seandainya Melissa segera mencari calon suami dan mau secepatnya menikah, mungkin dia akan bahagia. Namun, Pram tidak ingin mendesak, dia akan menunggu sampai saatnya tiba. Semoga Tuhan membuatnya panjang umur dan bisa menjadi wali nikah untuk anak gadis semata wayangnya itu. Perlahan suara tangis Biru mereda. Melissa duduk di atas kursi goyang sembari memberikan s**u pada bayi itu, setelah habis dia tetap mengayun-ayun Biru sampai bayi itu tertidur. “Anak mama nggak boleh manja, kamu harus tangguh kayak papa.” Melissa meletakkan telunjuknya di atas hidung mungil Biru.  Mata bayi berkulit merah itu tertutup dengan rapat, membuat Melissa yakin kalau Biru memang sudah tertidur. Perlahan dia bangkit dan menidurkannya kembali di tempat tidur. Saat Melissa hendak ke luar dari kamar, tak sengaja dia berpapasan dengan ayahnya.  “Papi?” Pram tersenyum dan membelai puncak kepala Melissa. “Kamu sayang banget sama Biru?” “Iya, Pi. Aku orang pertama yang gendong dia saat pertama kali lahir. Ibunya sudah percayakan pengasuhan dia ke aku, Reza bilang anggap ini sebagai simulasi untuk belajar menjadi orang tua terbaik.”  Pram tersenyum. “Biru beruntung punya kamu, punya Reza.” “Punya Papi juga,” ucap Melissa seraya memeluk ayahnya itu. Pram menarik napas, dia kemudian mengangguk. Pram tak pernah mengungkapkan keinginannya pada Melissa, soal dia yang ingin Melissa menikah secepatnya, soal dia yang akan sangat bahagia jika bayi yang sekarang di gendong Melissa adalah cucu kandungnya. Namun, dia selalu menahan agar kalimat itu tidak mencuat karena bisa saja itu mengganggu kebahagiaan Melissa saat ini.  “Papi akan minta Pak Rahmat untuk membantu kamu. Semoga dia mau mencantumkan nama Biru di yayasannya, tapi Biru tetap di sini bersama kamu.” “Makasih, ya, Pi.” Melissa kembali memeluk ayahnya. “Aku mau cuci botol susunya Biru dulu,” ucap Melissa seraya mengurai pelukannya. Di dapur Bi Narsih sedang sibuk menyiapkan sarapan. “Biru tidur di kamar aku, Bi.”  “Iya, Neng. Den Biru lucu ya, pipinya merah.” Melissa tersenyum sembari mengangguk. “Bi, tolong cuciin ini ya,” ucapnya seraya meletakkan botol s**u itu di meja.  “Iya, Neng.” Melissa hendak kembali ke kamar, namun, dia melihat Pram yang bersiap untuk menyiram tanaman seperti yang sering dilakukannya setiap pagi. “Papi mau berangkat jam berapa?”  “Jam sembilan, Mel.” “Ya udah aku ke kamar lagi ya, Pi.” “Hmm ....,” sahut Pram. Waktu memang baru saja menunjukkan pukul setengah enam dan Melissa masih ingin melanjutkan tidur bersama dengan bayi itu.  Sementara Reza sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu. Namun, usai melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, dia kembali tidur. Bahkan sejak semalam dia belum bertemu dengan ayahnya.  Panggilan datang dari Melissa, namun, Reza terus saja melewatkan panggilan dari wanita itu. Ponselnya memang ada dalam mode senyap, jadi dia tidak tahu kalau seseorang tengah merindukannya saat ini.  Melissa menghela napas. Dia kemudian mencoba menelepon nomor Endyta, sahabatnya untuk memperkenalkan Biru pada Dokter spesialis anak itu.  “Hai, End.” [Mel? dapet sinyal dari mana?] “Di rumah, aku pulang semalam, ceritanya panjang.” [Yah.] Ada helaan napas yang mengiringinya. “End, kalau sempat maen sini, ya.” [Besok paling, Mel, sekarang ada praktek sampai malam, nggak bisa ditinggalin.] “Iya, nggak apa-apa.” [Ada masalah ya, Mel?] “Banyak!” Terdengar helaan napas Endyta yang membelai telinga Melissa. [Aku turut prihatin, ya, Mel.] “Makasih.” [Nanti aku kabarin lagi ya, Mel, mau berangkat nih, takut kejebak macet.] “Iya, hati-hati,” ucap Melissa diakhir panggilannya. Perlahan Melissa kembali merebahkan tubuh di kasur, dia kembali tidur karena tiba-tiba kantuk menguasai kesadarannya.   Waktu menunjukkan pukul tujuh, Reza berlari ke lantai bawah dan mendapati ayah dan ibunya sedang sarapan.  “Pagi,” sapa Reza tak ada gairah. “Kapan pulang, Za?” tanya Anton.  “Semalam, Pa. Mama nggak cerita?” tanya Reza sembari menarik kursi.  “Nggak.” “Biar kejutan,” ucap Ranti  seraya tersenyum. “Hmmm ....,” sahut Reza sembari menuangkan nasi goreng teri ke atas piring.  “Gimana di sana?” “Aman, Pa, tugasku udah selesai, jadi nggak balik lagi ke sana.” “Bagus deh. Kamu main dong ke perusahaan papa, perusahaan sudah siap menerima kamu.” Reza menghela napas.  “Kamu satu-satunya pewaris kami, Za. Papa udah bebasin kamu sama kakak kamu untuk menjadi apa yang kalian inginkan, tapi kamu nggak boleh lupa, ada perusahaan yang akan menjadi tanggung jawab kamu setelah papa nggak ada.” Reza mengangguk, sudah ketiga kalinya dia mendengar penuturan Anton soal ini. Tak bisakah Anton memberi jeda, dia baru saja pulang. Tubuhnya masih sangat lelah, bahkan dia merasa kalau sebagian hidupnya tertinggal bersama Melissa.  Reza masih terasa seperti mengawang, lima bulan bersama Melissa menjadi sebuah momen yang tak bisa dia lupakan. Selama tinggal di sini, dia tak begitu mendekatkan diri pada perempuan, hanya pada Tania dia mencoba, itupun karena amanat kakaknya. Hingga takdir mempertemukannya dengan Melissa ada hal lain, ada warna lain yang kini hadir dalam hidupnya.  “Kamu melamun?” Ranti mencoba mengembalikan kesadaran Reza dengan menepuk tangan anaknya itu. Reza mengerjap dan menoleh pada ibunya. “Mama udah kasih tahu Shafiyya kalau kamu udah pulang.” “Buat apa?” Seketika pagi Reza berpayung hitam.  “Buat lanjutin perkenalan kalian.” “Aku nggak mau, Ma.” “Kenapa?” Ranti memberi jeda menunggu Reza menjawab pertanyaannya. Namun, anaknya itu tidak menjawab. “Mama sudah menunggu terlalu lama, mama ingin kamu segera menikah.” Reza menghela napas. “Aku nggak cocok sama dia, Ma.” “Tahu dari mana? Nyoba dekat aja belum.” Perlahan Reza bangkit. “Dia terlalu mirip sama Tania.” “Iya, iya kamu benar,” aku Ranti. “Mama emang sengaja, tapi mama yakin ada nilai plus dari Shafiyya yang tidak dimiliki Tania.” Reza menggelengkan kepala. “Kenapa mama ingin sekali punya anak perempuan seperti Tania?” “Dia baik Za, dia penurut, nggak banyak protes.” “Kalau anggapan Mama seperti itu, kenapa pada akhirnya dia memilih orang lain?” Ranti tergemap, dia menoleh menatap suaminya.  “Dia juga punya hidup sendiri, Ma. Dia memang menganggap mama ibunya, tapi nggak harus menjadi ibu sungguhan, kenapa Mama harus berharap banyak? Kenapa Mama nggak anggap saja dia seperti anak Mama, meski nggak jadi menantu?” Reza memang berbeda dengan Rega, sangat bertolak belakang, Ranti merasa Reza tak pernah memikirkan kebahagiaannya, ini semua karena didikan dari mertuanya. Seketika penyesalan datang, kenapa dulu dia tak coba untuk membesarkan Reza dan Rega bersamaan? “Aku bisa mencari calon istriku sendiri,” ucap Reza. Sedetik setelah dia menyampaikan kalimatnya dia berlalu meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamar.  Ranti tertunduk seraya menangis. “Ma.” Anton menepuk bahu istrinya. “Semua butuh waktu, Ma.” Ranti mengangkat wajahnya dan menatap suaminya. “Ini semua gara-gara Papa, coba dulu Papa nggak ngirim Reza ke Swedia. Mungkin sekarang dia nggak  akan menjadi anak pembangkang.” Seketika Anton bangkit. “Kenapa baru katakan sekarang? Kalau mama mau menyalahkan papa kenapa nggak dari dulu?” “Nggak ada gunanya!” “Ya, kalau nggak ada gunanya, kenapa dibahas?” Anton menyambar jasnya dan melenggang pergi meninggalkan Ranti sendirian di ruang makan.  Tak berapa lama Reza turun dari kamarnya, dia sudah siap untuk pergi. Reza benar-benar tak menghiraukan ibunya itu. Bahkan dia tidak berpamitan sama sekali. Entah kenapa, dia merasa heran, kenapa ibunya sulit sekali menerima kenyataan kalau Tania tidak akan menjadi menantu di rumah ini seumur hidupnya? Entah apakah Ranti lupa, kalau Tania sudah menikah dengan pilihan hatinya sendiri, hidup dan masa depannya tidak ditentukan pada sebuah amanat.  Reza memukul kasar roda kemudinya. “Arrrggghhh ….”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD