Aku Ingin Pulang

1998 Words
Melissa duduk di depan sungai, sementara kebisingan anak-anak yang sedang berenang di sungai itu tak dia hiraukan, dia tetap merasa sunyi, senyap, hanya ada gelap dengan kedua mata membola dan seutas tali dari kain panjang, sungguh kematian yang sangat mengerikan. Melissa hanya sering melihat kematian itu di rumah sakit dengan wajah pucat pasi atau korban kecelakaan bersimbah darah, kali ini berbeda, tak pernah dia membayangkan orang akan mengakhiri hidup di depan matanya sendiri. Reza menggenggam tangan mungil Melissa. Seketika membuat Melissa terkesiap dan membuyarkan kepahitan yang dia rasakan, dia kemudian menoleh. “Za, aku nggak seperti yang Bu Nur bilang, aku sama sekali nggak percaya hantu, arwah gentayangan atau apapun itu.” Reza mengangguk. “Iya,” gumam Reza sembari mencakup tangan Melissa dengan kedua tangannya.  Melissa menarik napas dan menjatuhkan kepalanya di bahu Reza. “Terima kasih karena sampai detik ini kamu nggak ninggalin aku. Aku ingin pulang secepatnya,” ucap Melissa sembari menatap lurus matahari yang bersinar seperti semburan kembang api. “Senja ini nggak seindah kemarin.” Reza tersenyum lembut, dia belum mempunyai kalimat indah untuk menanggapi kalimat Melissa. Wanita itu menoleh pada Reza yang sedari tadi pagi hanya diam seperti terguncang. “Za?” “Ya?” Reza menoleh dan menatap Melissa. Tak ada Melissa judes dengan tatapan tajam dan delikan yang terkesan kejam. Kini hanya ada Melissa yang sama sekali tidak Reza kenal, terasa asing dan mengkhawatirkan. “Ngomong dong, Za, jangan bikin aku khawatir.” Reza mengulas senyum. “Aku bingung harus ngomong apa,” ucapnya sembari menepuk punggung tangan Melissa yang sedari tadi ada dalam genggamannya. “Apa kek, yang bisa bikin aku tenang.” Melissa kembali menyandarkan kepala di bahu Reza.    Reza menoleh dan mengecup puncak kepala Melissa cukup lama, hingga Melissa benar-benar merasa tenang dan merasa yakin kalau dia tak sendiri dan Reza akan selalu ada untuknya.  Melissa memejamkan mata dalam sandarannya. Perlahan senja meredup meninggalkan cahaya jingga yang tipis. “Kita harus kembali.” Melissa menggelengkan kepala. Jantung Reza mencelus, ya, dia mengerti kalau ini sangat berbeda dengan orang mati di rumah sakit. Menyaksikan orang mati bunuh diri tentu mengerikan.  “Bu Dokter,” panggil Ubud yang kini sedang berdiri di belakang mereka. Seketika Melissa menjauhkan kepala dari bahu Reza. Dia kemudian menoleh pada Ubud, begitupun dengan Reza,  “dipanggil sama Pak Rumbun, kita diminta untuk berkumpul di balai desa.” Melissa kemudian bangkit disusul Reza. Mereka berdua mengikuti Ubud dari belakang. Genggaman tangan Melissa dan Reza tetap bertaut, bahkan semakin erat, seolah mereka siap untuk menghadapi apapun yang akan terjadi setelah ini. Semua warga sudah berkumpul di balai desa, tempat yang biasa dijadikan klinik oleh Melissa. “Kami mohon maaf sebelumnya telah mengumpulkan bapak dan ibu sekalian di sini,” ucap Pak Rumbun. “Ada hal penting yang harus kami sampaikan terkait kejadian dini hari tadi,” tambahnya. Jantung Melissa mencelus, dia mendongak menatap Reza. Reza tersenyum dan segera merengkuh bahu Melissa.  Melissa masih menatap Reza dan tiba-tiba Nenek Ubud datang menyerahkan bayi itu padanya. “Kami serahkan bayi ini pada Bu Dokter, tolong rawat dia sebaik-baiknya, kalau tidak pun kami harap ada yayasan atau panti asuhan yang mau merawatnya.”  “Polisi menemukan surat ini di bawah tikar,” ucap Bu Nur sembari menyerahkan surat itu sebagai bukti.  Melissa segera mengambilnya. Dia membuka tiap lembarnya dan membaca surat itu dalam hening.  Saya Bulan. Saya mau ucapkan terima kasih pada Dokter karena telah membantu saya melahirkan. Saya rasa tugas saya selesai,  saya mau menyerahkan bayi ini pada beliau, semoga beliau mau merawatnya, tolong jaga dia, besarkan dengan penuh cinta, ajarkan nilai-nilai kebaikan padanya. Bu Nur juga memberikan selembar foto seorang perempuan bergaun putih motif bunga, di belakang foto tersebut tertera nama Bulan. “Tadi pamannya memberikan itu. Katanya mereka percaya Bu Melissa dan Pak Reza bisa menjaga, merawat dan membesarkan bayi ini dengan baik.” Melissa terharu, dia kemudian memeluk hangat bayi itu. “Mungkin memang tempat bayi ini bukan di sini,” ucap Melissa. Dia kemudian menatap para warga yang mengangguk setuju.  “Besok pagi, Ampong akan mengantar Bu Dokter dan Pak Reza pulang. Maaf atas semua ketidaknyamanan ini,” tambah Pak Rumbun. "Untuk malam ini kalian bisa menginap di rumah saya." Melissa semakin terharu, dia memang ingin pulang. “Terima kasih untuk penerimaan Bapak sama Ibu sekalian, saya dan Reza mohon maaf apabila ada kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.” Mereka akhirnya membubarkan diri dari balai desa, Melissa dan Reza mengikuti pak Rumbun untuk menginap di sana. Reza dan Ampong mengambil barang-barangnya dan sibuk berkemas.  Melissa dan istri Pak Rumbun duduk di atas tikar, sementara bayi itu disusui oleh anak Pak Rumbun yang kebetulan sama-sama memiliki bayi, dia juga membagi beberapa stel baju untuk dipakai bayi itu.  “Nak, nanti sepulang dari sini, beli s**u saja ,” usul istri Pak Rumbun.  Melissa mengangguk.  “Maaf karena meminta kalian pulang lebih cepat. Warga di sini sudah berembuk dan mereka tidak tega, takutnya Dokter Melissa tertekan dengan apa yang terjadi, waktu ada penjahat itu, terus yang sekarang ini.” Melissa kembali mengangguk, kali ini dia menyeka air matanya yang terus terurai.  “Sudah sekarang kamu istirahat,” pinta Bu Rumbun. “Kalian bisa tidur di kamar si bungsu. Ibu udah minta sama dia buat pinjam kamarnya semalam.” “Makasih ya, Bu, maaf merepotkan.”  “Harusnya kami yang berterima kasih karena Nak Melissa sudah mau membantu warga di sini.”  Tak berapa lama Reza datang, dia meletakkan barang-barangnya di dekat pintu. “Permisi, Bu.” Dia kemudian ikut bergabung dan duduk di sebelah Melissa.  Setelah kembali mengobrol banyak hal, Reza dan Melissa akhirnya masuk ke kamar dan tidur di sana. Dalam tidurnya beberapa kali Melissa terperanjat dan tercenung. Namun, dia benar-benar mengantuk, sehingga tak lama dia kembali terlelap, lalu dalam keadaan setengah sadar Melissa merasa seperti ada sesuatu yang menjeratnya, tubuhnya tidak bisa bergerak, dadanya sesak dan tak bisa menjerit, padahal dia sudah berusaha untuk berteriak, bahkan dia ingin memanggil Reza.  Melissa berhasil menjerit saat dia melihat bayangan Bulan yang terus menatapnya dalam gelap. Reza terperanjat dan segera menoleh. “Kenapa, Mel?”  Melissa tak menjawab kalau sebenarnya baru saja dia terkena sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. Namun, halusinasi membuatnya melihat bayangan Bulan.  Reza segera merengkuh Melissa. Namun, Melissa masih tampak melamun. Bu Rumbun dan Pak Rumbun menghambur ke kamar.  “Nak Melissa nggak apa-apa?” Melissa benar-benar bergeming. Tatapan matanya kosong. Pak Rumbun dan Bu Rumbun bersitatap. Sementara Reza masih mencoba menyadarkan Melissa.  Waktu menunjukkan pukul dua dini hari sama seperti kejadian di mana Melissa mendapati Bulan mati bunuh diri. “Mel, sadar, Mel, istighfar, ada aku di sini, Mel,” ucap Reza sembari terus memeluk dan menepuk-nepuk pipi Melissa.  Tiba-tiba jerit dan tangis bayi di sebelah Melissa menyadarkannya. Melissa terperanjat dan kembali menjerit, dia memeluk Reza. Dan Bu Rumbun segera mengambil bayi itu dan membawanya ke luar untuk diberikan pada anaknya dan susui.  “Aku takut, Za, aku nggak mau di sini, aku mau pulang, aku nggak suka gelap,” isak Melissa dalam pelukan Reza.  Reza menghela napas. Syukurlah Melissa tidak apa-apa. “Istighfar, Mel. Kamu mimpi?”  Melissa menggelengkan kepala dalam pelukan Reza sembari terus beristighfar dalam hati, dia kemudian teringat kalau dia ingin pulang. “Aku pengen pulang, Za, aku pengen pulang.” “Nanti pagi kita pulang, Mel.”  “Aku nggak mau di sini, Za, aku nggak mau di sini.” Melissa terus menangis, Reza sampai bingung bagaimana caranya menghentikan tangis Melissa.  Bu Rumbun kembali dengan segelas air. “Minum, Nak.” Melissa menatap air dalam gelas itu, dia lalu menatap asing Bu Rumbun. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Reza. “Kita di mana, Za?” “Kita menginap di rumah Pak Rumbun, Mel.” Reza mengambil gelas dari tangan Bu Rumbun dan memberikannya pada Melissa. “Minum dulu.” Melissa menggenggam gelas itu dengan kedua tangannya, namun, Reza tak serta merta melepaskan gelas itu karena yang Melissa ganggam adalah tangannya.  Bu Rumbun mengusap puncak kepala Melissa. Dia kemudian bangkit. “Ibu tinggal dulu, ya, kalian istirahat lagi.” Melissa dan Reza kembali istirahat. Namun, sepanjang malam menjemput pagi mereka tak bisa tidur, Melissa takut memejamkan mata, dia terus merapat ke tubuh Reza dan tak ingin ingat apapun, apalagi soal kejadian itu.  “Katakan sesuatu, Za, apapun yang bisa bikin aku lupa sama kejadian itu,” gumam Melissa.  Reza tampak bingung. Namun, panggilan Melissa membuatnya mengerjap. “Iya.” “Apapun, Za, apapun, aku pengen lupa,” rengek Melissa. Reza menarik napas, dia kemudian berujar, “Aku pernah cium cewek di koridor sekolah. Saat itu usiaku baru 17 tahun. Rasanya manis, Mel. Aku nggak tahu, apakah rasa berciuman itu selalu manis.” Reza terlalu bingung harus bercerita apa yang dia ingat cuma itu.  Melissa tersenyum dalam rengkuhan d**a Reza.  “Oh iya, aku ingat, waktu itu hari libur dan aku pulang ke Indonesia. Kakakku lagi ada study tour, teman ceweknya maen ke rumah, dia nggak tahu kalau aku ini kembarannya Kak Rega.” “Dan kalian berciuman?” tanya Melissa tanpa merubah posisi.  “Iya.” Reza tertawa begitupun dengan Melissa.  “Kakak kamu tahu?” “Nggak.” Reza tersenyum sembari menatap kepala Melissa, wanita itu masih menyembunyikan wajah di dadanya. Syukurlah mungkin Melissa merasa lebih baik dengan mendengar ceritanya.  “Mel.” “Hmm ….” “Waktu aku kuliah aku pernah ditembak anak SMA,” bisik Reza.  “Terus kamu cium?” tebakan Melissa lebih cocok dijadikan sebagai tuduhan. Reza malah tergelak. “Aku bilang kalau aku lebih suka tante-tante.”  Melissa malah memukul d**a pria itu. “Pembohongan publik.” Reza tertawa sembari merapatkan pelukannya pada Melissa. Tak pernah Melissa sedekat ini dengan pria manapun, tak ada jarak hingga tubuh keduanya merapat seperti sekarang. Entahlah dia hanya merasa ada damai yang dia butuhkan dalam diri Reza. “Kamu mau tau nggak si anak SMA itu bilang apa?” “Apa?”  “Dia nanya ‘apa kakakmu punya anak, kalau punya, aku mau jadi tentenya, biar bisa disukai sama kamu.” Melissa terbahak. Semakin banyak Melissa tertawa, Reza semakin merapatkan pelukannya. Mereka sampai lupa sedang ada di rumah siapa. “Sekarang kamu tidur, Mel, besok kita melakukan perjalanan panjang,” ucap Reza.  Melissa mengangguk. “Boleh nggak kalau tetap seperti ini?”  Reza tersenyum, dia kemudian mengangguk dan kembali merekatkan pelukannya. Dia mengecup puncak kepala Melissa cukup lama. Yang dirasakan Reza sekarang bukan lagi soal dia yang ingin menjaga dan melindungi Melissa, tapi entah kenapa terbesit dalam angannya kalau dia ingin memiliki wanita itu.  “Aku harus banyak-banyak minta maaf sama pacar kamu,” gumam Reza.  Melissa tersenyum tipis. Semenjak dia di sini Ibram tak pernah menghubunginya, tak pernah ada notifikasi Ibram meneleponnya, mengirim pesan atau apapun, padahal beberapa kali dia berada di tempat yang ada sinyal. “Ayah kamu pasti bahagia kita pulang lebih cepat.” Melissa mengangguk. Rupanya dia belum juga tidur.  “Sisa tugasku jagain kamu 7 bulan lagi.” “Kalau aku minta kamu jagain aku seumur hidup kamu, kamu keberatan nggak?” pertanyaan Melissa berbentuk gumaman, namun, Reza masih dapat mendengarnya, tapi sayangnya dia ingin mendengar itu lebih jelas lagi.  “Kenapa, Mel? Coba diulangi barusan kamu ngomong apa?” Melissa menggeleng. “Aku cuma lagi ngawur aja.” Kali ini dia berkata lebih jelas.  “Kenapa yang ini malah kedengaran jelas, yang tadi masa kamu kayak orang yang lagi kumur-kumur,” goda Reza. “Atau orang yang nahan napas di air. Belepbepbepbep.”  Melissa tertawa sembari mencubit pinggang Reza.  “Awww.” Reza membalas cubitan Melissa dengan gelitikan di pinggang wanita itu, membuat Melissa menggeliat dan tertawa. “Udah, Za, udah,” pekik Melissa. “Kita jadi ganggu yang lain,” bisiknya.  Kedua mata Reza membola. “Aku lupa kita lagi numpang,” gumam Reza sembari menyatukan keningnya dengan kening Melissa.  Melissa tersenyum. Sementara Reza terus menatapnya dalam. Pria itu terus mendekatkan wajahnya pada Melissa, membuat jantung wanita itu berdebar tak karuan sehingga dia merasa ada yang salah dengan dirinya.  Melissa tergemap dengan kedua mata membola saat Reza mengecup hidungnya, lalu berbisik, “Good night, Mel.” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD