Setiap sore sepulang praktek, Melissa dan Reza berjalan ke tepi sungai, mereka menikmati sore hingga senja meredup, mengobrol banyak hal di sana. Mereka semakin dekat dan Reza semakin memahami Melissa, sesekali mereka juga mengulang kejadian seperti waktu itu berenang bersama dengan anak-anak.
“Udah gelap, Mel,” Reza kemudian bangkit, dia mengulurkan tangan untuk membantu Melissa berdiri.
Sepanjang jalan Reza tak melepaskan genggaman tangannya dari Melissa. Tak terasa sudah lima bulan mereka di sini. Ada banyak hal yang mereka lalui, terutama perasaan yang mulai berkembang dari salah satu di antara mereka, atau bahkan mungkin dari keduanya.
Kini mereka sudah sampai di depan rumah. Reza membantu Melissa untuk naik dan melewati tiga undakan tangga. Di depan pintu, Melissa berbalik dan menatap Reza. Dia tercenung menatap seorang wanita yang tengah hamil berdiri tepat di belakang Reza.
“Za?” Melissa segera turun dan Reza terkesiap karena Melissa hampir saja melewati satu undakan tangga.
Melissa segera menghambur ke arah wanita muda itu. Begitupun dengan Reza. “Kayaknya dia mau melahirkan,” ucap Melissa. “Za, kamu bisa tolong panggilkan bu Nur ke sini? Aku butuh bantuannya.”
Reza mengangguk. Dia segera berlari ke rumah ibunya Marinka. Melissa segera mengajak wanita itu untuk masuk dan tidur di atas tikar. “Nama ibu siapa?” tanya Melissa seraya mengenakan handscoon. “Saya baru lihat ibu.”
Wanita itu malah menjerit, meraung-raung merasakan sakit yang teramat sangat di perut dan pinggulnya. Melissa menarik napas. “Oke. saya periksa dulu, ya.” Melissa membantu wanita tersebut untuk membuka celana. Ternyata darah sudah tercecer di sana. “Astaghfirullah.”
Melissa mengambil lentera untuk melihat apakah kepala bayi sudah terlihat di jalan lahir, benar saja, maka dia pun segera meminta wanita itu untuk mendorongnya dengan cara mengejan.
“Iya, terus, Bu.”
Jantung Melissa terus berdebar, dia seperti baru menangani ini, padahal ini bukan kali pertama, namun, baru kali ini dia menanganinya dalam kondisi gelap dan sendirian seperti sekarang. Dia terus berharap Reza cepat kembali.
Wanita itu terus mengejan sekuat tenaga. “Ibu kuat, Adek bayi juga, ayo semangat.” Melissa membimbing wanita itu untuk menarik napas dan kembali mengejan. “Iya, terus, sedikit lagi, Bu.”
Terdengar lenguhan dari sisa-sisa jeritan yang keluar dari mulut wanita itu saat mengejan. Melissa kembali membimbingnya untuk menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, lalu kembali mengejan.
Reza dan Bu Nur datang, ibunya Marinka itu segera mendekat, sementara Reza tetap mematung di depan pintu. Melissa menoleh mencari keberadaan pria itu.
Jerit dan tangis bayi akhirnya menggema bersamaan dengan suara adzan maghrib dari surau terdekat. “Alhamdulillah,” ucap Melissa seraya menatap Bu Nur yang juga mengucapkan syukur itu.
“Selamat ibu, bayinya laki-laki,” ucap Melissa seraya meletakkan bayi itu ke d**a wanita tersebut dan dia segera memotong plasenta.
“Za, tolong siapin air hangat untuk mandi bayinya.”
Reza tampak bingung. Entah ke mana dia harus lewat, dia panik seperti seorang ayah. “Reza!”
“Iya, iya, Mel.” Reza berjalan cepat seraya tertunduk menuju dapur.
Bu Nur membantu membersihkan sisa-sisa darah dengan sarung bekas yang sudah dia bawa. Reza membawa satu baskom air hangat dan meletakkannya dekat Melissa. “Makasih,” ucap Melissa.
Melissa segera mengambil bayi itu dari d**a ibunya, dia lalu memandikannya. Sementara ibunya terlihat begitu lemas. Bu Nur bangkit dari duduknya. “Saya mau ambilkan makan.”
“Iya, makasih, Bu Nur.”
Bu Nur pun berlalu, dia yang semula hanya menjadi juru masak Melissa, kini merangkap menjadi asisten Melissa bersama Ubud di Klinik. Sejak kejadian tempo hari Marinka kembali dan tinggal bersama dengan suaminya.
“Za, aku di sini aja. Kamu temenin Bu Nur pulang buat ambil makan, biar nanti nggak bolak-balik, kasihan beliau pasti capek.”
“Iya.” Reza pun bangkit dari duduknya. Bu Nur membawa sarung yang banyak darah dengan plasenta bayi itu.
“Bu, itu mau dikemanain?” tanya Reza yang kini berjalan di sebelah Bu Nur.
“Di kubur, Nak.”
Reza mengangguk. Sembari berjalan membersamai Bu Nur. “Di mana?”
“Di belakang rumah ibu.”
“Bu Nur kenal sama perempuan tadi?”
Bu Nur tak langsung menjawab, dia menoleh ke belakang, langit sudah meredup sempurna. Melihat gerak-gerik Bu Nur, Reza jadi khawatir pada Melissa.
“Wanita itu korban perk*saan,” bisik Bu Nur pada akhirnya.
Mata Reza membulat.
“Dia nggak bisa bicara,” tambah Bu Nur.
“Tunawicara?” Reza memberi jeda dan Bu Nur mengangguk. “Rumahnya di mana?”
Bu Nur menggelengkan kepala. “Katanya di kampung sebelah. Ibu juga nggak tahu banyak .”
Reza mengangguk. “Saya ninggalin Melissa di rumah, Bu,” tutur Reza khawatir.
“Nggak apa-apa, Ubud datang kok, tadi ibu lihat.”
“Syukurlah.”
Reza menemani dan membantu Bu Nur mengubur plasenta beserta kain-kain bekas darah. “Kainnya juga di kubur, Bu?”
“Iya, siapa yang mau nyuci?”
Reza menarik napas kemudian mengangguk. Setelah selesai Reza mengikuti Bu Nur ke dalam dan mengambil makanan untuk makan malamnya.
“Ibu nggak bisa ikut lagi ke sana,” ucap Bu Nur seraya mengambil air gentong tanah liat, kemudian mencuci tangannya.
“Iya, nggak apa-apa, saya mengerti makasih ya, Bu.”
Bu Nur menuangkan air di atas tangan Reza, pria itu ikut mencuci tangannya. “Mau masuk atau tunggu di sini?” tanya Bu Nur.
“Saya tunggu di sini.”
“Ya udah ibu ambil dulu ya.” Bu Nur kemudian masuk ke dalam rumah, sementara Reza menunggu di luar.
Ibu 45 tahun dengan enam orang anak itu kembali dan menganjurkan rantang plastik dua susun pada Reza, Reza pun segera kembali usai mengucap salam. Dia berjalan cepat, entah kenapa dia merasa khawatir sekali pada Melissa. Firasatnya buruk tentang wanita yang melahirkan di rumahnya itu.
Saat sampai di depan rumah, dia segera masuk sembari mengucap salam, Melissa tampak bahagia menggendong bayi itu, padahal sedari tadi hati Reza resah sekali memikirkannya.
Ubud beringsut saat Reza mendekat. Gadis enam belas itu terus tersenyum melihat Melissa.
“Za, sini deh,” pinta Melissa seraya tengadah menatap Reza yang masih berdiri. Perlahan Reza duduk di depan Melissa, memperhatikan wajah polos penuh damai itu, dia kemudian menatap Melissa. “Aku perlu ngomong, Mel.”
“Ngomong, aja,” ucap Melissa tanpa menoleh dan tetap memperhatikan bayi yang terlelap dalam pelukannya itu.
Reza kemudian menoleh pada wanita yang baru saja melahirkan itu, jantungnya mencelus.
“Za?” Melissa mengangkat wajah dan menatap Reza.
“Iya?” Reza segera menatap Melissa.
“Katanya mau ngomong?”
Reza menarik napas. “Di luar, sebentar.”
Melissa tersenyum seraya mengangguk. Dia kemudian meletakkan bayi itu di sebelah ibunya. Temaram cahaya lentera membuat Melissa kesulitan melihat ekspresi wanita yang tengah terbaring itu, entah sedih, atau senangkah, pasalnya sedari tadi wanita itu tidak berbicara apa-apa padanya.
Melissa kemudian bangkit. “Bud, saya ke luar sebentar, titip mereka ya.”
“Iya, Bu.” Ubud mengangguk patuh, gadis yang hanya tinggal bersama sang nenek itu senang diajak untuk membantu Melissa yang praktek di klinik.
Reza terus berjalan agak menjauh dari kediaman mereka, Melissa masih berjalan mengikutinya. Cahaya bulan malam ini menerangi gerak langkah mereka.
“Kenapa, Za?” tanya Melissa seraya menoleh dan mengimbangi langkah Reza.
“Kita harus ke rumah kepala desa.”
“Buat?” Melissa mengernyit.
Reza berhenti melangkah dan menoleh pada Melissa. “Mel, Bu Nur bilang perempuan yang melahirkan itu, korban perk*saan, dia tidak bisa bicara.”
Melissa menghentikan langkahnya, dia mematung dan jantungnya terasa mencelus, dia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Semua akan baik-baik aja, Mel,” ucap Reza sembari merengkuh bahunya.
Melissa mengangguk. “Bu Nur bilang nggak, dia tinggal di mana?” tanyanya seraya melepas pelukan Reza.
“Bu Nur bilangnya di kampung sebelah, tapi kayaknya dia juga nggak begitu tahu, mending kita tanya langsung sama kepala desa,” ucap Reza seraya melangkah.
Melissa mengangguk seraya melangkah mengikuti Reza. Dia tercenung saat perlahan Reza menyentuh jemarinya kemudian menautkannya. Pria itu selalu seperti ini, tak pernah bertindak dengan tergesa.
Bibir Melissa melengkung membentuk senyum seraya tertunduk. Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di depan rumah Pak Rumbun.
Reza mengizinkan Melissa untuk naik ke tangga lebih dulu, namun, pria itu tak mengizinkan tangannya lepas dari tangan Melissa.
Melissa mengetuk seraya mengucap salam. Dia kemudian menoleh pada Reza, tak berapa lama Pak Rumbun menyambut dan memintanya untuk masuk. Melissa dan Reza duduk di tikar. Reza menjelaskan duduk persoalannya, juga dia yang tahu hal ini dari Bu Nur, ibunda Marinka.
Pak Rumbun mengangguk paham. “Untuk malam ini kita tidak bisa berbuat apa-apa, selain karena ini sudah sangat malam, dia juga pasti lelah baru selesai melahirkan, tidak apa, ‘kan jika dia tinggal dulu di rumah kalian?”
Melissa mengangguk dia mengerti dengan keadaan pasiennya itu. Reza mengajaknya ke sini untuk jaga-jaga jika sesuatu tiba-tiba terjadi di luar kendali mereka.
“Besok bapak minta Ampong untuk ke kampung sebelah. Kalau memang wanita itu masih satu desa sama kita tentu bapak tahu dan akan lebih mudah ke mana mengantarnya pulang.”
Melissa dan Reza mengangguk.
***
Melissa dan Reza tidur sekamar karena di ruang tengah ada wanita yang sampai sekarang belum diketahui namanya. Sedari tadi Reza mendengar suara tangis bayi yang tidak berhenti. Reza mencoba membangunkan Melissa.
“Mel.” Wanita itu hanya menggerakkan tubuhnya sedikit. “Mel.” Reza sampai heran kenapa Melissa bisa tidur senyenyak itu padahal suara tangis bayi sangat memekik.
“Mel, bangun, Mel.”
Melissa mengerjap, dia kemudian menoleh pada Reza. “Kenapa?”
“Bayinya nangis terus,” ucap Reza seraya duduk.
“Mungkin dia haus,” sahut Melissa sembari bangun dan mengikat rambuatnya. “Permisi, Za.” Reza segera beringsut untuk memberi Melissa jalan. Untuk saat ini Reza tetap di kamar, dia yakin Melissa bisa mengatasi sendiri, mungkin bayi itu tidak bisa menyusu, atau air s**u ibunya yang kering. Entahlah Reza merasa canggung, bukan karena hal apapun, tapi memang dia seperti itu dengan wanita yang baru ditemuinya, apalagi wanita itu baru saja melahirkan.
Namun, satu detik saat Melissa ke luar dari kamar, lengkingan dan jeritan telah memecahkan keheningan malam itu. Reza terperanjat dan segera bangkit, dia kemudian menghambur ke arah Melissa. Kedua matanya membola saat melihat seutas tali terikat di tiang rumahnya dan memutus urat leher ibu bayi tersebut.
Dia segera mendekap Melissa dalam damainya. Namun, itu tak berarti apa-apa, Melissa tetap menangis dan menjerit bersahutan dengan suara tangis bayi. Tubuh Melissa bergetar hebat, dia benar-benar ketakutan.
Ubud dan neneknya datang mengetuk. Reza yang masih memeluk Melissa mencoba mendekat ke pintu dan segera membukanya. Melissa masih menangis seraya tertunduk di depan d**a Reza.
Waktu baru saja menunjukkan pukul dua dini hari. Sama seperti Melissa, Ubud menjerit, namun tak sehisteris Melissa. Dia langsung ke luar dan berdiri dekat Melissa. Sementara nenek Ubud segera menggendong sang bayi. Dia kemudian ke luar dari rumah dan mendekat pada Reza. “Kamu ke rumah Pak Rumbun, beritahu dia.”
Reza mengangguk dan segera pergi. Pikirannya benar-benar kalut. Kenapa wanita itu harus bunuh diri di rumah yang dia dan Melissa tempati, kenapa tak pergi saja ke luar, menenggelamkan diri di sungai? Hati Reza terus saja menggerutu. Kesal, marah, tapi juga miris.
Reza menggedor pintu rumah Pak Rumbun dengan keras, seisi rumah langsung terbangun. Dia tak bisa lagi menunggu matahari terbit. Pak Rumbun segera memakai baju. Dia bersama Reza pergi ke kediaman Dokter Melissa. Kejadian pagi ini seolah telah mengguncang perut bumi.
Warga sudah berkerumun di depan rumah Melissa. Kejadian ini murni karena bunuh diri. Reza memotret menggunakan kemera milik Melissa. Dia meminta agar semua warga tidak boleh ada yang menyentuh satu benda pun sebelum tugasnya selesai. Meski, sebagian warga bersikukuh agar mayat segera diurus.
Melissa tampak trauma, bagaimana cara Reza menghapus ingatan Melissa soal ini, dia tak dapat membayangkan malam-malam selanjutnya. Pada akhirnya ada dua trauma dalam gelap yang dialami Melissa.
Waktu terus bergulir, hingga perlahan matahari terbit, warga kampung sebelah yang berkepentingan sudah hadir untuk melihat apa yang terjadi, mereka datang bersama dengan polisi. Benar saja, wanita yang diketahui bernama Bulan itu, merupakan korban perkosaan, para penjahat sudah dipenjarakan sejak kejadian itu mencuat.
“Bulan hanya ingin mengakhiri semua penderitaan, tanpa dia sadari penderitaan akan terus terjadi pada orang yang mati dengan cara seperti ini.”
Terdengar jelas obrolan salah seorang warga oleh kedua telinga Melissa. Dia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Reza yang tampak sibuk sekali menyelidiki kasus ini dengan para polisi yang dibawa oleh warga kampung sebelah.
Melissa mematung saat Reza sudah berada di depannya, air mata terus saja membasahi pipi Melissa, ada keresahan yang Reza rasakan di setiap getaran yang keluar bersama isakan dari mulut Melissa.
Tiba-tiba pelukan Melissa membuat tubuh Reza terkoyak. “Aku mau pulang,” isak Melissa. Disaksikan semua warga yang ada di sana Melissa terus menangis dalam pelukan Reza. Pria itu segera membalas pelukan Melissa.
“Za, aku takut, aku mau pulang.”
Reza tak menjawab, dia terus saja membelai rambut Melissa yang tampak berantakan. Melissa menjauhkan kepala dari d**a Reza, dia kemudian terdongak menatap pria itu. “Aku takut,” lirihnya.
Reza menyeka air mata Melissa yang hendak membasahi pipi wanita itu lagi dengan ibu jarinya. Dia kemudian menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pipi merah Melissa. Sungguh Reza bimbang, entah kalimat apa yang Melissa butuhkan saat ini sebagai penghiburannya. Untuk pulang, Reza sendiri tidak dapat menjanjikan apa-apa, sama seperti Melissa, pikirannya pun tengah berada dalam kekalutan.
Reza kembali memeluk Melissa dengan erat saat mayat wanita itu dibawa pergi oleh warga dari rumahnya. Dia hanya tidak ingin menambah kengerian Melissa. Dia, Melissa dan seluruh warga menjemput pagi dengan kengerian yang tak terperi.
Garis polisi terbentang mengelilingi rumah itu. Reza segera mengeluarkan barang-barangnya dan barang milik Melissa, dia menitipkannya di rumah neneknya Ubud.
Kata para warga rumah itu harus dikosongkan. Mereka percaya orang yang mati bunuh diri arwahnya tertahan di rumah itu.
Melissa menggelengkan kepala, sungguh dia tak ingin percaya hal-hal seperti itu. Bayi merah itu disusui oleh ibu yang kebetulan sama-sama memiliki bayi. Reza dan Melissa sedang berada di rumah Ubud.
Melissa terus berpegangan pada Reza, seolah dunianya hendak runtuh dan Melissa tak ingin terbawa arus.
Reza mengusap punggung wanita itu. Setiap terbayang leher wanita itu menggantung di tiang dengan tali kain yang panjang, Melissa langsung mengerjap dan menggelang dengan cepat, lalu dia membenamkan wajahnya di bahu Reza.
Sedari tadi Reza juga tak bicara apapun, dia seperti kehilangan kata-kata untuk menenangkan Melissa, dia juga tidak dapat menjanjikan apapun pada wanita itu.
Melissa tak dapat berpikir, apa jadinya jika Reza tak ada, meski terkadang memang Reza menyebalkan dan mengganggu pikirannya, namun, ternyata kehadirannya sangat penting dan sangat berarti dalam tugasnya di sini.