Bias Jingga

2047 Words
Ranti menangis sembari memandangi jendela yang basah akibat percikan air hujan. Bukan cuma hidupnya, hatinya juga terasa sunyi, orang-orang yang dia sayangi benar-benar pergi meninggalkannya, termasuk Reza satu-satunya orang yang dia miliki. Setiap dia ingin mengakhiri hidupnya dia selalu teringat, kalau dia mati, Reza dan Melissa pasti akan hidup bahagia, itu yang tidak dia inginkan, melihat wanita lain menguasai anaknya.  Tiba-tiba suara ketukan menggema. Dia segera menoleh. Mungkinkah itu Reza? Tergopoh-gopoh dia menuju pintu. Namun, tiba-tiba dia mematung saat pelukan hangat mengoyakan tubuhnya.  “Maaf, Ma, aku baru ke sini, aku dengar papa Anton meninggal.” Tania mengurai pelukannya. “Aku turut berduka.” Ranti mengurai kembali air matanya. Dia senang Tania bisa datang dan tidak melupakannya, meski waktu pernikahan dia sengaja tidak memenuhi undangan. Tania memang bukan kacang yang lupa kulit, dia tetap mengingat dan menghargai dirinya, meski waktu sempat merubahnya. Ranti mengajaknya masuk ke kamar, sementara Delon berada di dalam mobil, dia enggan turun dan lebih memilih menunggu Tania di mobil, pria itu mengerti kalau Tania mungkin butuh waktu berdua dengan Ranti, walau bagaimanapun mereka pernah dekat seperti layaknya mertua dan menantu, meski hanya dalam angan Ranti saja.  “Reza pergi,” ucap Ranti tiba-tiba. “Dia memilih Melissa daripada Mama,” lirihnya. “Kenapa?” tanya Tania lembut. “Ada masalah?” Ranti mengangguk. “Besar,” gumam wanita itu. Dia kemudian menoleh. “Suami kamu mana?” “Di mobil, Ma.” “Kenapa nggak diajak masuk?” Mungkin sudah saatnya Ranti membuang ego dan menerima keputusan orang yang dia sayang, meski tidak sesuai dengan inginnya. Orang egois memang begitu, dia selalu ingin mengendalikan semua orang, bahkan dia seperti ingin mengendalikan seluruh dunia dan isinya.  “Aku nggak lama kok, Ma.” Ranti menggenggam tangan Tania. “Di sinilah sampai hujan reda, ajak suami kamu masuk.” Tania mengangguk. “Nanti, setelah mama cerita apa yang terjadi.” “Papa Anton selingkuh, dia punya anak dari perempuan lain usianya 18 tahun,” tutur Ranti lemah, sebenarnya dia murka menceritakan ini.  “Apa?” Tania mengernyit. “Sejak kapan?” “Kalau anaknya sudah sebesar itu, itu artinya sudah lama, Tan.” Tania menarik napas dalam, kemudian mengangguk.  Ranti terus mengurai air mata, bukan kehilangan dan pengkhianatan Anton yang membuatnya ingin terus menangis, tapi orang yang masih hidup, namun, tak ingin lagi membersamainya.  “Melissa itu keponakannya istri kedua papa Anton.” “Hah? Reza tahu ini sudah lama?” Ranti menggelengkan kepala. “Da tahu setelah papa meninggal dan Melissa juga bilang kalau dia tahu saat mama masuk rumah sakit, Dokter itu baru tahu kalau Anton suami dari adik ayahnya.” Ranti mencoba tegar, meski berkali-kali dia merasakan jatuh. Tania mengangguk, cukup rumit, sudah lama dia meninggalkan keluarga ini, tapi dia prihatin dengan masalah yang dihadapi Ranti saat ini, wanita itu selalu menganggapnya seperti anak, sudah sepatutnya Tania menemani dan menguatkannya sekarang. “Reza sama Melissa sudah lama?” tanya Tania tiba-tiba penasaran.  Ranti mengangguk. Dia tidak salah dengar saat Reza berkata kalau Reza punya anak dari Melissa, itu artinya hubungan mereka berjalan cukup lama. “Reza banyak berubah setelah mengenal Melissa. Dia melawan mama dan memilih pergi dengan wanita itu.” Tania meneguk liurnya. “Aku udah ketemu sama Melissa, dia baik kok, Ma dan Reza juga nggak banyak berubah.” “Di mana kalian ketemu?” “Nggak sengaja waktu itu ketemu di mall.” Tania menghela napas. “Kenapa Reza harus pergi?” tanyanya kemudian sembari mengedarkan pandangan. “Mama nggak setuju dia berhubungan dengan Melissa.” “Kenapa?” selidik Tania. Namun, tetap hati-hati.  “Karena dia berasal dari keluarga selingkuhan papa,” tutur Ranti setengah berteriak.  Tania sedikit terkesiap. Tak banyak berubah, Ranti masih bersikap seperti itu, Tania kecewa karena Ranti mudah menghakimi, satu tipe dengan Anton, padahal Ranti tidak pantas menimpakan semua kebencian pada Melissa. Meski baru sekali bertemu, tapi Tania merasa Melissa baik dan cocok dengan Reza.  “Mama ingin menantu seperti kamu,” ucap Ranti sembari menggenggam tangan Tania.  Tania tak melambung, justru dia takut dengan sikap Ranti yang seperti ini, bumi terus berputar, bahkan waktu sudah bergulir hingga enam bulan lamanya sejak dia memutuskan menikah dengan Delon, tapi Ranti masih bersikap begitu. “Mama jodohkan dia dengan Shafiyya, dia sama seperti kamu, dia anak baik dan dia perawat.”  Jantung Tania mencelus. Dia mencoba menyunggingkan bibir, meski terkesan kaku. “Apa hebatnya perawat, Melissa lebih baik, dia Dokter,” puji Tania dari hati. Dia bukan merendahkan profesi Shafiyya, dulu juga dia pernah menjadi perawat dan dia mengagumi Rega sebagai Dokter yang sangat teliti dalam mengurus pasiennya.  “Dia murahan! Dia tidak lebih baik dari kamu, bahkan dia dan Reza sudah mempunyai anak.” Tania tergemap. Namun, dia tak percaya begitu saja, hati nuraninya berkata kalau Reza tak mungkin melakukan hal diluar norma. Melissa membasahi tenggorokannya. “Mama percaya?” tanya Tania.  “Mama nggak ingin percaya.” “Bagus, seharusnya mama memang nggak percaya.”  “Tapi, Reza sendiri yang bilang kalau dia dan Melissa punya anak.” “Reza bohong, harusnya mama lebih kenal Reza, dia tidak mungkin melakukan itu, mungkin dia hanya ingin mama memberikannya restu,” bela Tania. Ranti tercenung, dia teringat perkataan Reza yang meragukan kalau dia tidak mengenalinya. Dan itu benar, amarah telah membutakannya.  “Mungkin kamu benar, Reza telah membohongi Mama.” Tania mengangguk. Jika dia harus terlibat kembali dengan keluarga Rega hanya untuk membantu memperbaiki hubungan Reza dan Ranti, tidak masalah Tania akan lakukan, Delon juga pasti mau membantunya.  Hujan mulai mereda. Ranti melongok ke luar jendela. “Kamu ajak suami kamu masuk, kita makan malam, sejak kemarin mama makan sendiri.” Tania mengangguk. Sepertinya Ranti memang sudah menerima dan mengikhlaskannya hidup bahagia dengan Delon. “Ada salam dari tante Mia, maaf nggak bisa datang ke sini untuk berbela sungkawa.” “Nggak apa-apa, bilang makasih udah mau memperhatikan mama di sini.” Ranti meletakkan ujung telunjuknya ke kaca jendela. “Tan,” panggilnya.  “Iya, Ma?” Tania bangkit dan mendekat.  “Mama mau Reza pulang, tolong kamu bujuk dia untuk kembali sama mama, katakan kalau mama nggak benar-benar menyebutnya anak durhaka, cuma dia yang mama punya, Tan.” Tania tercenung. Dia sebenarnya tidak begitu mengerti dengan apa yang dirasakan Ranti. Namun, dia memang harus membantu.  “Tolong, Tan,” mohon Ranti sembari memegang pergelangan tangan Tania. Tania mengangguk. “Iya, nanti aku temui dia.” “Mama ingat kalau waktu Reza ke Kalimantan itu, tugas dia di sana cuma jagain Melissa.” Tania mengernyit. “Maksudnya?” Ranti mengedikkan bahu. “Mama hanya merasa kalau Reza memang ingin menjauh dari mama.”  Jantung Tania mencelus. Entahlah dia harus berpihak pada siapa, kalau bukan karena Delon yang memintanya berbela sungkawa dengan datang ke rumah ini, dia tidak akan melakukannya, karena sebenarnya Tania juga ingin bersikap egois seperti Ranti yang memilih egois dan tidak datang ke acara pernikahannya, bahkan sekedar mengirimkan doa pun tidak.  Tania yakin ada banyak alasan Reza memilih pergi, meski dia tidak tahu dengan pasti, tapi mendengar dari penuturan Ranti sepertinya memang keputusan Reza adalah jalan terbaik yang dia ambil. Namun, Reza juga tak sepantasnya meninggalkan ibunya yang sedang berduka seperti ini.  “Reza kirim salam lewat Rinda, waktu aku nikah, dia ada Kalimantan dan katanya di sana nggak ada sinyal. Dia mengirimkan doa,” ucap Tania. “Sebelum ke Kalimantan dia pamit dulu dengan datang ke kafe.” Tania mengulas senyum. “Kadang aku nyesel karena udah cuekin dia.” Ranti menoleh cepat.  “Harusnya aku anggap dia kakak. Dan mama tetap mamaku,” ucap Tania. Dari awal dia memang tidak ingin menganggap mereka musuh. Namun, terkadang sikap Ranti dan Anton selalu membuatnya merasa muak, mungkin Reza merasakan hal yang sama. “Nanti aku temui Reza, sebagai adik yang baik aku harus menasehati kakakku agar segera pulang ke rumah, iya, ‘kan?” Ranti mengangguk. Meski sebenarnya dia tidak suka kalimat yang Tania ucapkan. Dia masih selalu berharap Tania berpisah dari suaminya dan kembali pada Reza untuk menjalankan wasiat Rega. Harusnya Tania percaya kalau Reza bisa lebih baik dari Rega dalam membahagiakannya.  “Aku panggil Delon dulu, katanya mama mau kita makan malam di sini,” ucap Tania seraya bangkit. “Iya, biar mama minta Bi Sumi untuk siapkan makan.” Tania mengangguk. Dia kemudian berjalan ke luar dan menemui suaminya. Dia melambaikan tangan di depan teras, rintik hujan masih membasahi bumi yang di pijaknya. Delon segera ke luar dan berlari ke arahnya, lalu menangkap pinggang Tania. “Gimana?” Tania mengangguk. “Nanti aku cerita di rumah. Kita diundang makan malam dulu di sini. Reza nggak ada dia pergi meninggalkan rumah, kata mama Ranti, Reza lebih memilih Melissa dibanding dirinya.” Delon menghela napas, kemudian dia mengangguk. “Ada masalah?” “Banyak,” jawab Tania singkat, dia kemudian merangkul lengan Delon dan mengajaknya masuk.    “Tante,” sapa Delon ramah. Namun, Ranti tak seramah saat dia menyambut Tania, meski dia meminta agar Tania mengajak suaminya, namun, nyatanya itu hanya basa-basi wanita itu saja. “Tante sehat?” tanya Delon lagi.  “Baik,” jawab Ranti singkat. “Masuk.” Dia kemudian mengajaknya ke meja makan. “Sudah beberapa hari ini Reza tidak pulang.” Tania dan Delon saling tatap, mereka bingung harus menanggapi dengan kalimat apa, pasalnya mereka terlalu takut akan menyinggung Ranti.   “Ayo di makan.” “Iya.” Tania menciduk nasi dan menuangkannya ke piring Delon, lalu ke piringnya, dia juga mengambilkan lauk untuk Delon dan untuknya. Makan malam ini terjadi dengan penuh kekakuan.  *** Reza merebahkan tubuhnya di atas tikar yang terhampar di atas permukaan rumput. Melissa selalu suka mengajaknya ke taman menikmati senja, sayangnya sudah dua hari senja tertutup hujan, kali ini senja itu kembali berseri.  Melissa tidur di atas perut Reza dan sama-sama menatap langit dengan bias jingga yang cantik. Sementara Biru tengkurap bermain dengan kerincingannya. Melissa kemudian menoleh. “Biru,” panggil Melissa sembari menjauhkan mainannya agar bayi itu maju padanya.  Melissa kemudian tertawa saat Biru berhasil mendekat padanya. “Dia lincah,” ucap Melissa sembari menoleh pada Reza. Reza tersenyum dan duduk, hingga kepala Melissa beringsut ke bawah dan berada di atas pahanya. Reza memasukkan tangan di pangkal ketiak Biru dan mengangkat tubuh montok bayi itu ke atas, lalu dia merebahkan tubuhnya kembali dan membuat Biru berada di atas seperti hendak menerbangkan pesawat.  “Mama, lihat Biru mau terbang,” ucap Reza. Mulut basah bayi itu terbuka, pekikan kecil yang lucu ke luar dari bibir mungilnya. “Awas-awas, pesawatnya jatuh, nanti ekor pewasat Biru kena muka mama,” imbuh Reza sembari membuat kaki Biru mengenai wajah Melissa.  “Astaga, pilotnya nakal!” Melissa duduk tegak dan mencubit hidung Reza. Dia tertawa, apalagi Biru juga ikut tersenyum.  “Sini sama mama aja.” Melissa mengambil alih Biru dari tangan Reza. “Kamu mau jadi Pilot, iya?” Melissa menyatukan hidungnya dengan hidung mungil Biru. Bayi itu tertawa gemas. Melissa terus mengecup kedua pipi anak itu hingga merasa geli. Reza tersenyum memperhatikan, dia suka seperti ini, membina keluarga bahagia dengan wanita yang dia cintai. Seakan dia lupa kalau ada orang yang tidak merestui dan menginginkannya bahagia.  “Tania kirim pesan, dia tahu kalau kamu pergi dari rumah, dua hari yang lalu dia menemui mama di rumah,” ucap Melissa sembari memainkan jari-jemari Biru. “Tumben,” sahut Reza.  Melissa mengedikkan bahu. “Dia ingin bertemu dan mengundang kita ke kafenya.” Jantung Reza mencelus, pastilah wanita itu diminta ibunya untuk melakukan ini. Melissa kemudian memiringkan wajahnya dan menatap Reza. “Dia ingin menengahi dan menjembatani hubunganmu dengan mama.” “Kamu?” “Iya.” Melissa mengangguk. “Aku juga.” Dia memberi jeda. “Jangan menolak bantuan orang yang ingin berbuat baik, siapa tahu dengan begitu mama kamu berubah, hubungan kamu dan Tania dan ibu kamu bisa jauh lebih baik.”   Reza tersenyum kaku, entah terbuat dari apa wanita di depannya ini yang mau bersabar untuk dirinya.  “Udah gelap. Pulang yuk,” ajak Melissa seraya bangkit dan menggendong Biru. Sementara Reza melipat tikar dan membawa keranjang berisi makanan dan s**u Biru. Menyenangkan bisa piknik di taman seperti ini. Melissa selalu ingin menikmati hal yang menyenangkan secara berulang-ulang. Padahal Melissa tahu hal yang menyenangkan hari ini belum tentu sama di waktu lain. Di dalam mobil, Melissa terus mengajak Biru bermain dia sampai lupa kalau pria yang tengah mengemudi itu suaminya, bukan sopir taksi online. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD