Hanya Melissa

1931 Words
Reza masuk tanpa mengetuk. Dia berdiri di depan pintu cukup lama, mengedarkan pandangan dan mencari sosok ibu yang sudah pasti akan meributkan kepergiannya beberapa hari terakhir ini. Namun, Ranti tak nampak sama sekali. Reza terus masuk ke dalam rumah, Bi Sumi sedang sibuk menyiapkan makan malam. “Mama mana, Bi?” tanya Reza tiba-tiba. Bi Sumi sampai terkesiap karena tidak menyadari dengan kedatangan Reza. “Di kamar, Den.” Reza kemudian menyusul ke kamar ibunya. Ranti tengah tidur meringkuk. Reza hanya mematung dan menatapnya dari jauh, kalau bukan karena Melissa yang memintanya pulang, dia tidak akan pulang, kalau hubungan ibu dan anak bisa diputuskan, tentu akan Reza lakukan, dia tidak ingin hidup dalam tekanan terus-menerus. “Kamu masih inget Mama?” gumam Ranti tanpa berbalik dan tetap tidur membelakangi pintu. Nalurinya memang kuat, dia yakin itu Reza, dia dengar sendiri saat Reza bertanya pada Bi Sumi. Reza menghela napas. “Aku kembali karena Melissa, dia sendiri yang memintaku untuk pulang,” ucap Reza seraya mendekat. “Mama udah hina dia, caci maki dia, tapi dia tetap memintaku untuk pulang dan kembali pada Mama, padahal aku sudah berniat untuk tidak kembali ke rumah ini.” Ranti segera berbalik dan duduk. “Kamu tidak tahu diuntung, kamu bela-belain pergi dan ninggalin Mama sendiri cuma buat wanita jalang itu?” Reza menarik napas, sungguh dia benci karena ibunya itu sudah menghina wanita yang dia nikahi. “Cukup, Ma! Jangan pernah hina dia lagi, karena aku sakit saat mendengar Mama mengatakan itu. Salah Melissa sama Mama apa? Dia yang rawat Mama saat di rumah sakit.” “Dia, ‘kan dokter, ya wajar rawat pasien, itu, ‘kan tugasnya,” pungkas Ranti. Percuma Reza bicara, ibunya tetap bersikap seperti itu. “Aku akan tetap di sini, asalkan mama nggak menghina Melissa lagi.” Ranti bergeming sesaat. Dia ingin Reza tetap di rumah ini, tapi dia tidak ingin Reza menjalin hubungan dengan wanita itu. “Mama nggak akan hina dia kalau kamu putus hubungan dengannya.” “Kenapa begitu, Ma?” Reza membasahi tenggorokannya. “Aku cinta sama dia, aku sayang sama dia, aku mau hidup dan membina rumah tangga sama dia, salahnya di mana?” “Kenapa harus sama dia?” pekik Ranti. Reza menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. “Karena cuma dia yang aku cintai.” “Persetan dengan cinta kamu itu! Kamu juga bisa cinta sama Tania, ‘kan, itu artinya kamu juga bisa cinta sama Shafiyya.” “Aku nggak pernah cinta sama Tania!” tegas Reza seraya bangkit. “Aku bohong! Aku cuma memenuhi keinginan Mama, Tania nggak pernah percaya kalau aku cinta dia, aku cuma manfaatin dia untuk beberapa kasus.” Ranti menatap tajam mata anaknya itu, tak ada kebohongan dari sorot mata Reza. Namun, tetap saja, ada rasa hina saat dia harus mengalah, kalau dia merestui Melissa dan mengizinkan wanita itu menikah dengan anaknya, itu artinya dia sudah menarima keluarga pelakor itu masuk dalam hidupnya. Tidak! Ranti tidak akan biarkan itu terjadi. “Aku bukan boneka Mama,” ucap Reza pelan, dia kemudian berjongkok di depan Ranti yang sedang duduk di tepi ranjang. “Sejak kak Rega pergi, Mama berubah. Mama nggak lagi ingat soal aku, apa yang aku mau, bagaimana kehidupanku, bahkan Mama pura-pura nggak tahu kalau aku meninggalkan Leia, orang yang aku cinta di Swedia, semua itu aku lakukan untuk kebahagiaan Mama. Kurang apa, Ma, aku cuma minta sekarang mama restui aku dengan orang yang aku sayang.” Reza menarik napas, dia mencoba melunak dan bicara baik-baik, semoga dengan begitu Ranti mau mendengarnya. “Sampai detik ini, aku bahkan nggak ngerti kenapa Mama ingin sekali Tania menjadi menantu di rumah ini. Mama terlalu menutup mata, padahal Mama juga tahu kalau aku tidak inginkan itu.” Reza mencoba membasahi tenggorokannya, Ranti enggan menanggapi, tapi bukan berarti dia tidak mendengar dengan apa yang dikatakan Reza. “Semua yang aku jalani akhir-akhir ini karena keinginan Mama, aku mencoba menjalankan amanat, amanat, amanat, untung Tania mau berontak, kalau tidak, mungkin saat ini kami sedang menjalani hubungan penuh kepalsuan.” Ranti masih tertunduk. Hatinya teriris karena Reza terus menyalahkannya soal ini. Padahal yang dia lihat, Reza tampak tak ada beban dalam menjalankannya, lalu kenapa setelah kehadiran Melissa, dia mengungkit semua yang sudah berlalu dan soal keterpaksaannya dalam hal ini? “Mau sampai kapan Mama bawa-bawa Tania, padahal Mama sendiri sudah tahu kalau dia sudah menikah dengan orang pilihan hatinya?” Ranti menghela napas. “Sejak kamu mengenal Melissa, kamu menjadi pembangkang, kamu berubah,” pekik Ranti tertahan. Reza menggelengkan kepala. “Aku nggak membangkang, aku cuma lagi perjuangin apa yang aku mau.” Kemudian dia bangkit, lalu membuang muka sembari mengusap kasar wajahnya. “Dari dulu, Mama sama Papa bilang aku ini anak pembangkang, itulah kenapa kalian kirim aku ke Swedia untuk tinggal dengan Opa dan Oma. Terus sejak kapan kalian bilang kalau aku ini penurut?” Ranti semakin murka pada anak tak tahu diri ini. Dia kemudian bangkit dan melayangkan tamparan tepat di pipi Reza. Hingga suara tamparan itu menggema memenuhi seisi ruangan, Ranti bahkan dapat merasakan kalau telapak tangannya ikut panas, apalagi pipi Reza yang terasa seperti terkoyak. Reza menarik napas sembari mengusap kasar pipinya yang berdenyut nyeri, panas dan perih. “Jika kalian anggap aku penurut, kalian salah, karena sudah sejak lama aku ingin berontak, jadi boneka Mama adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan.” “Reza!” Reza tak ingin berhenti berkata, dia belum puas dengan segala unek-unek yang dia pendam sejak kematian kakaknya. “Aku cuma ingin buktiin kalau aku bisa lebih baik dari Kak Rega, tapi bukan berarti aku harus menjadi dia!” Napas Ranti berat. Reza sudah tidak menghormatinya lagi. “Aku Reza, Ma, anak yang merasa dibuang karena tidak bisa menjadi seperti Rega!” pungkas Reza. Dia kemudian menarik napas dalam dan mengeluarkannya kasar. “Kalau Mama tetap seperti ini, aku akan pergi. Jangan pernah menyesali kepergianku, Ma!” “Reza!” panggil Ranti saat melihat Reza berbalik dan angkat kaki dari kamarnya, dia segera menyusul pemuda itu. “Kamu akan menyesal, Za!” Reza menoleh dan menatap Ranti dengan tajam. Ranti tidak menyangka bahkan Reza bisa menatapnya dengan tatapan seperti itu, seolah dia adalah musuh terbesar dalam hidupnya. “Kamu berubah setelah mengenal Melissa, kamu bahkan tidak lagi menghargai Mama, kamu menganggap Mama musuhmu?” tanya Ranti pelan. “Berubah?” Reza berdecak. “Bahkan aku nggak yakin kalau selama ini Mama mengenal aku.” Reza kemudian melenggang pergi ke kamarnya, dia mengemasi semua barang-barangnya ke dalam koper. Waktu terasa cepat, hingga Ranti melihat Reza kembali dari kamar dengan kopernya. “Kamu mau ke mana?” tanya Ranti. “Pergi, memang seharusnya aku nggak di sini,” ucap Reza tanpa menghentikan langkahnya. Ranti tergemap, dia tidak bisa mencegah Reza, Melissa telah menang. Wanita itu berhasil merebut satu-satunya orang yang dia sayang dan dia harapkan di dunia ini. Reza melesat dengan menggunakan mobil Melissa. Melissa memintanya pulang untuk memperbaiki semuanya, menemani ibunya dan meminta maaf, bukan malah semakin memperkeruh keadaan. Kini dia sudah berada di depan rumah Pram, menurunkan koper dari garasi dan masuk ke dalam rumah. Melissa yang sedang menggendong Biru sambil bernyanyi, tiba-tiba berhenti dan menatap pria itu. “Kenapa?” Reza menggelengkan kepala. Melissa menghela napas. “Kamu harus sabar, harusnya kamu dekatin mama kamu dulu, bukan datang sehari dan ingin langsung mengantongi restu, mama kamu mungkin butuh pendekatan yang lebih.” tutur Melissa seraya menidurkan bayi itu ke tempat tidurnya, dia lalu menarik tangan Reza untuk pergi ke kamarnya. Setelah sampai di kamar Melissa mengunci pintu. “Kamu jadiin aku pelarian dari masalah yang sedang kamu hadapi?” tanya Melissa, sejujurnya dia kesal dengan pria itu, kenapa tidak bisa lebih tenang sedikit dan bicara baik-baik agar semuanya tidak semakin memanas, kenapa dia harus bersikap bodoh dengan memutuskan untuk tidak bertahan di rumah ibunya selama beberapa hari saja. Reza menarik napas, dia tidak ingin terpancing amarah dan meneriaki Melissa. “Aku jadiin kamu kekuatan, Mel.” Melissa tercenung beberapa detik, dia kemudian berkata, “Seharusnya, kamu jangan buat Mamamu semakin membenci aku, Za,” ucap Melissa seraya duduk. Dia menyeka air matanya yang baru saja turun. “Aku perlu waktu, Mel, Seharusnya kamu nggak memintaku pulang secepat itu, karena mama belum merasakan kehilangan aku.” Melissa menarik napas, dia pikir Reza bisa cepat lupa dengan masalah yang tengah dirasakannya. Reza menarik tangan Melissa. “Aku bukan orang yang berhati malaikat seperti kamu.” Melissa tercenung, dia bahkan tidak mengerti dengan kalimat yang baru saja Reza ucapkan. “Aku perlu waktu untuk bisa memaafkan,” imbuh pria itu. “Kamu pikir aku nggak? Aku cuma mencoba untuk melenyapkan egoku, bisa saja malam itu aku marah sama mama kamu. Cuma aku tidak ingin membuat mama kamu semakin terluka, dia hanya sedang berduka, dan dia sedang butuh kamu untuk menguatkannya dalam menjalani hari.” Reza termangu menatap Melissa. “Dan aku butuh kamu, Mel.” Dia lalu menarik Melissa ke dalam pelukan. “Aku masih menunggu kesiapanmu untuk meminta maaf dan aku akan temani kamu ke sana,” ucap Melissa. “Hubungan ibu dan anak sangat sensitif,” sambung Melissa sembari menggenggam pipi Reza, “Bahkan, keberkahan akan terputus saat kamu mencoba memutuskan hubungan dengannya.” Kali ini Reza tertunduk. Melissa segera mengangkat wajah suaminya. “Maafkan, ikhlaskan, dan lupakan. Semua akan baik-baik saja.” Melissa kemudian memeluk Reza. Reza merasakan ketenangan dalam pelukan istrinya itu. Melissa mengerti sekuat apapun yang Reza tunjukkan dia juga bisa serapuh ini. Kehilangan sang ayah yang juga meninggalkan pengkhianatan, belum lagi sikap ibunya yang terus mendesak dan memaksakan kehendak terhadapnya. Ada kalanya Reza merasa kalau dunia terus saja memojokkan dan menentang apa yang dia inginkan. Melissa juga sering mendengar kalau semenjak kakaknya meninggal, Reza kehilangan jati dirinya, kedua orang tuanya seolah ingin memindahkan jiwa Rega ke dalam diri Reza. Perlahan Melissa mengurai pelukannya. Dia menyiapkan tempat tidur untuk Reza. Reza tersenyum saat mengingat kilas balik dirinya yang selalu menyiapkan tempat tidur Melissa di perbatasan Indonesia dan Malaysia. “Tidur,” ucap Melissa seraya menoleh pada Reza. Reza benar-benar seperti anak kecil, dia menurut saja perintah Melissa. Namun, dia tak langsung tidur dan memilih duduk di tepi ranjang. Melissa hendak pergi, tapi Reza menahan pinggang ramping wanita itu. Melissa terkesiap apalagi saat Reza menariknya ke dalam pangkuan pria itu. “Kamu nggak mau temenin aku tidur?” bisik Reza di telinga Melissa. Melissa menoleh. “Aku mau lihat Biru dulu.” Reza menggelengkan kepala. “Aku cemburu sama anak itu,” bisiknya sembari merekatkan pelukan dan meletakkan dagu di bahu Melissa. “Mel?” Reza mengecup ceruk leher Melissa pelan dan lembut membuat Melissa geli, hingga bahu dan leher wanita itu sedikit berayun. “Mel?” bisik Reza lagi sembari terus memberi kecupan. Melissa semakin terbuai, dia segara berbalik dan menatap Reza. “Maaf, aku belum siap,” ucapnya seraya bangkit. Reza tergemap dan mengurai pelukan. Sudah dua kali Melissa menolaknya, pertama di malam setelah pernikahannya, kedua, di malam ini. “Maaf, Za, untuk satu itu aku benar-benar belum siap.” Melissa mundur selangkah. “Apa kamu mau menunda ini sampai aku mendaftarkan pernikahan kita?” Melissa tak menjawab, dia terdiam menatap kedua mata Reza. “Aku anggap iya,” ucap Reza. “Aku hargai keputusan kamu.” “Makasih, Za.” Reza mengangguk. “Kita akan jadikan ini sebagai perayaan. Di malam di saat aku sudah mendaftarkan pernikahan kita, aku akan menyewa kamar hotel,” ucapnya seraya tersenyum. Melissa ikut tersenyum, dia kemudian mengangguk. Sesaat setelah itu, dia pergi ke kamar Biru dan memilih untuk tidur di sana, sementara Reza di kamarnya. Mereka sudah sama-sama mengerti dan saling menghargai keputusan masing-masing, jadi mereka tidak merasa terdzolimi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD