Hari Kita

1767 Words
Seperti sebelum-sebelumnya rumah besar itu tampak sepi, meski dihuni oleh satu Nyonya, satu tuan muda dan dua orang pembantu tetap saja rumah itu lebih mirip rumah tak berpenghuni, rumah tersebut memang seperti sudah kehilangan jantungnya, sudah kehilangan cinta yang seharusnya bisa menghangatkan hubungan ibu dan anak itu. . “Reza udah bangun, Bi?” tanya Ranti pada Bi Sumi.  “Den Reza belum ke luar dari kamarnya, Nyonya.” “Emang dia nggak lapar?” tanya Ranti. Dia memang sudah lebih baik dan sudah terbiasa dengan kehilangan suaminya, karena jika ada pun dia akan merasakan sakit yang lebih dalam dari sebuah pengkhianatan. Memang lebih baik ditinggal mati daripada dikhianati dalam keadaan masih ada. Siapa yang rela melihat suami hidup bahagia dengan wanita lain. Sama seperti Melissa, Ranti pun tidak suka pelakor sampai ke tulang, itulah sebabnya dia membenci siapapun yang ada kaitannya dengan pelakor tersebut.  “Za …,” panggil Ranti seraya bangkit meninggalkan tempat makan. Dia berjalan pelan menaiki anak tangga. “Za ….” Ranti berdiri di depan pintu kamar anaknya seraya mengetuk. “Ini udah siang, kamu belum mau makan?” Ranti terus mengetuk. “Za ….” Tak ada jawaban apa-apa, Ranti menganggap kalau Reza masih marah padanya soal kejadian semalam, Dia kemudian memutar knop pintu, tercenung saat melihat Reza tak ada di tempat tidurnya. “Mungkin di kamar mandi,” ucap Ranti seraya melangkahkan kaki dengan cepat. “Za ….” Ranti mengetuk pintu kamar mandi, dia kemudian mendekatkan telinga ke daun pintu. Tak ada tanda-tanda kalau Reza ada di dalam. Secepat kilat dia mendorong pintu dan benar saja, ubin tampak kering, Ranti curiga kalau Reza pergi sejak semalam.  Jantungnya mencelus. Reza benar-benar telah menentangnya. Dia tidak menyangka Reza bisa mengkhianatinya cuma gara-gara Melissa. Ranti mengangkat kaki dan pergi dari kamar Reza. Apa yang Reza lakukan benar-benar telah menyulutkan api dalam jiwanya.  *** Berpakaian serba putih, Pram Gunadi mengabulkan keinginan Reza untuk menikahi  anaknya secara agama terlebih dahulu. Berbalut gaun putih sederhana. Melissa duduk di depan ayahnya yang akan langsung menikahkannya dengan orang pilihan hatinya sendiri.  Sekilas Melissa menoleh pada Reza. Perlahan pria itu menautkan jemari di jari-jarinya dengan manis seperti yang sering Reza lakukan.  “Kalian sudah siap?” tanya Pram. Melissa dan Reza mengangguk.  Pak Haji Warsa orang yang paling dituakan oleh Pram di tempatnya tinggal, diundang untuk menyaksikan pernikahan ini. Dengan menyebut nama Allah. Pram secara sadar menikahkan anaknya dengan Reza dan Reza langsung menerimanya dengan memberi mahar seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar satu juta dollar Amerika. Nana sembari menggendong Biru, Guntur, Bi Sumi, Rahmat, Endyta dan Barra adalah saksi pernikahan mereka. Endyta dan Barra mengabadikan momen pernikahan siri Melissa dan Reza dengan menggunakan kamera ponsel dan kamera milik Melissa.  Dalam bentuk Video juga diambil sebagai bukti kalau mereka sudah menikah. Para saksi mengucapkan sah, begitu Reza selesai mengucap ikrar akad suci. Pram tersenyum dan segera melepaskan tangannya dari genggaman Reza.  Reza segera menghadap Melissa dan Melissa mengecup punggung tangan Reza, lalu Reza mengecup kening wanita itu cukup lama.  Secara agama mereka sah sebagai sepasang suami istri. Namun, pernikahan mereka belum tercatat di Negara. Setelah mengikrarkan akad pagi ini, mereka mengambil sesi foto bersama. Wajah Reza dan Melissa tampak cerah, senyum terus tersungging dari keduanya.  Pram terharu, dia sampai memeluk Reza cukup lama. “Aku titipkan anakku, jangan sakiti dia, sekali saja kamu menyakitinya, aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Reza mengangguk. “Pak Pram bisa pegang janji saya.” Meski sudah menjadi menantu Pram, kenyataannya Reza tetap bicara formal dan belum berani memanggilnya Papi seperti Melissa memanggil Pram.  “Sekarang kamu juga anakku, Za. Panggil aku seperti Melissa memanggilku.” Reza mengangguk. “Iya, Pi.” Dia tampak kaku mengucapkannya. Pram tersenyum lebar. Dia kemudian menatap Melissa dalam diam, sekarang Melissa sudah bukan lagi tanggung jawabnya, namun, Pram tidak ingin melepas Melissa begitu saja, putri kesayangannya itu akan tetap meramaikan rumahnya. Dia tidak akan mengizinkan Reza untuk membawa putrinya, meski Reza setengah memaksa sekalipun.  Perlahan tangan Pram terulur dan membelai puncak kepala anaknya. “Kamu sudah dewasa, kamu sekarang adalah seorang istri.” Melissa tersenyum, namun, air matanya menetes membasahi pipi. Pram segera membuka tangan dan memeluknya. Segera saja Melissa membalas pelukan ayahnya itu.  Pram memang tidak pernah memaksa kapan Melissa harus menikah, meski sekarang usia Melissa sudah matang untuk menjalani rumah tangga, namun, baginya Melissa masih punya banyak waktu untuk menikmati masa lajangnya, tapi setelah Pram bertemu dengan Reza, dia sempat berangan-angan agar pemuda itu menjadi menantunya.  Tak disangka angan-angan Pram kesampaian, tapi sayang sekali jalannya tak semudah yang dia bayangkan, dia hanya berharap semoga Melissa dan Reza bisa melewati ujian ini.  Perlahan Melissa mengurai pelukannya. “Doakan Mel bisa mendampingi Reza dalam hal apapun.” Pram mengangguk. “Papi percaya kamu wanita hebat,” ucapnya seraya mengusap puncak kepala Melissa. Melissa meraih tangan ayahnya dan mengecup telapak tangan ayahnya itu untuk meminta keberkahan darinya.    “Papi percaya kalian bisa melewati semua ini.”  Reza menggenggam tangan wanita yang beberapa menit yang lalu sah menjadi istrinya. Dia dan Melissa pun kemudian mengangguk.  Endyta mendekat dan mengucapkan selamat, selain Pram, Endyta adalah orang kedua yang tahu alasan Melissa menerima pinangan Reza dan mensahkan hubungan mereka secara agama terlebih dahulu.  “Makasih, ya, End.” Endyta mengangguk. “Aku akan selalu dukung kamu apapun yang terjadi, Mel.” Melissa mengangguk dan memeluk kembali sahabatnya itu dengan erat, dari kecil mereka memang dekat sehingga Melissa merasa ikatan mereka tak sekedar sahabat.  “Tiap bulan aku akan dateng ke sini untuk mengontrol tumbuh kembang Biru,” ucap Dokter spesialis anak itu.  Melissa mengulas senyum. Anak itu memang beruntung karena nyatanya semua orang menerima kehadirannya.  Rahmat mengucap selamat dan memeluk Reza sekilas, kemudian Barra, orang sudah Reza anggap seperti adiknya sendiri.  “Makasih, Barr, tolong jadi saksi jika suatu saat ibuku tidak percaya dengan pernikahan ini.” Tentu Barra mengangguk. Diam-diam sebenarnya dia bangga karena Reza berani mengambil keputusan terbaik.   “Makan sudah siap, Pak,” ucap Bi Narsih pada Pram.  “Iya, ayo, kita makan dulu,” ajak Pram pada semua orang. Beberapa detik kemudian mereka sudah berada di depan meja makan dan duduk melingkari meja makan, sebagian duduk di ruang keluarga lantaran kursi meja makan tidak cukup diduduki oleh semua orang.  Setelah selesai dengan syukuran kecil-kecilan itu, para tamu sekaligus saksi pernikahan itu pun pulang. Menyisakan penghuni rumah Pram Gunadi dan hanya di tambah Reza.  “Jalan-jalan, yuk,” ajak Reza pada Melissa.  Melissa tersenyum. Mungkin inilah yang diinginkan Reza, tak seperti kebanyakan pengantin yang memilih mengurung diri di kamar usai melakukan akad atau resepsi. Mereka malah memilih untuk bersiap pergi jalan-jalan seperti yang dikatakan Reza.  “Kalian mau ke mana?” tanya Pram heran.  “Kami mau jalan-jalan, Pi,” ucap Reza, kini dia sudah resmi menjadi menantu  Pram Gunadi, lalu apa salahnya jika dia menyebut Pram sama seperti Melissa menyebut ayahnya itu.  Pram menatap arlojinya, waktu menunjukkan pukul lima sore. Baik Melissa dan Reza mereka sama-sama tidak masuk kerja, maka dari itu mereka memilih untuk pergi menghabiskan sore dan malam ini dengan pergi jalan-jalan, entah kemana karena sebenarnya Reza belum memiliki tujuan.  Reza dan Melissa sempat bersitegang tentang apa yang hendak mereka kendarai, motor kah atau mobil kah? Namun, pilihan jatuh pada mobil, Melissa tak ingin ambil resiko dengan memilih pulang dalam keadaan basah seperti waktu itu. Kini mobil melesat pergi tak tentu arah. Namun, ada satu tempat yang ingin Reza kunjungi.  “Kita mau ke mana?” tanya Melissa.  “Ke suatu tempat. Nanti kamu akan tahu.” Mobil terus melaju cukup jauh dari kediaman Pram Gunadi dan kini berhenti di depan tempat pemakaman umum. Melissa menoleh menatap Reza. Namun, Reza tak menjelaskan apa-apa, Melissa hanya menduga kalau Reza hendak berziarah ke makam ayahnya.  Melissa mengikuti Reza tanpa bertanya sepatah katapun, kini mereka sampai di depan sebuah makam, tapi bukan makam Anton. Dia ikut berjongkok saat Reza berjongkok di depan makam dengan nisan yang bertuliskan Rega Darwanto Sigstein William bin Antoni William. Melissa tercenung dan masih belum bertanya terkait kenapa Reza mengajaknya ke sini.  “Ini makam kakakku,” ucap Reza seraya menoleh pada Melissa, dia kemudian menatap kembali rumput yang menyelimuti gundukan tanah tersebut. “Kak, aku sudah menikahi wanita yang aku inginkan, maaf karena tidak memenuhi keinginan terakhirmu. Tania punya pilihannya sendiri, begitupun aku.” Melissa masih belum bicara, dia hanya terdiam sembari menatap makam itu.  “Ini Melissa, wanita yang aku cintai. Dia juga Dokter sama sepertimu, mama harusnya bangga mempunyai menantu seorang Dokter karena aku tahu betapa bangganya saat kamu berhasil menjadi Dokter seperti inginnya.” Jantung Melissa mencelus sembari menatap Reza. Getaran suara pria itu membuat hatinya sedikit tercubit, entah kenapa dia merasakan kesedihan yang Reza rasakan, mungkin pria itu tengah merasakan rindu yang mendalam pada mendiang kakaknya.  “Aku merasa sendiri saat mama menentang perasaanku.” Reza menarik napas dalam-dalam. “Andai kamu masih ada, aku tak akan sesulit ini dalam menjalani hidup.” Melissa segera memeluk tangan Reza. Dia hanya tidak ingin Reza merasa seperti apa yang dia dengar barusan. Apalah artinya dia di sini jika Reza masih merasa sendiri. Reza menepuk punggung tangan Melissa yang ada di atas lengannya. “Dia adalah kekuatanku, Kak. Meski mama menentang apa yang aku rasakan padanya, aku tidak akan berhenti sampai di sini.” Melissa terharu. Namun, dia merasa bersalah karena telah memisahkan anak dari ibunya, ibu dari anaknya. Tak seharusnya cinta menjadi jurang penghalang antara ibu dan anak. “Za.” Melissa melepaskan rangkulan tangannya.  Reza segera menoleh dan menatap Melissa.  “Aku sudah kabulkan keinginan kamu, sekarang kamu pulang temui mama kamu dan jangan buat dia khawatir,” ucap Melissa.  “Tapi, Mel, ini hari kita.” “Setiap hari adalah hari kita,” ucap Melissa. “Mumpung mama masih ada, kamu bahagiain dia,” imbuhnya.  “Tapi, kamu?” “Aku nggak masalah. Tolong, Za, aku butuh restu mama kamu agar kita bisa menjalani semua ini dengan tenang.” “Kamu menyesal?” Melissa segera menggelengkan kepala. “Aku nggak pernah menyesali apa yang terjadi, aku tak pernah menyesali apa yang aku lakukan dan aku tidak pernah menyesali pilihanku, Za.” Reza menarik napas. Dia memang mendengar kalau Melissa akan mengabulkan keinginannya, tapi setelah itu dia harus kembali pada ibunya.  “Kamu bisa temui aku kapanpun,” ucap Melissa meyakinkan. “Kapanpun dan dimanapun.” “Sekarang mama kamu lagi labil, suasana hatinya sedang tidak baik, jangan tinggalkan dia terlalu lama, takutnya dia berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.” Kali ini Reza merasa ucapan Melissa telah menamparnya, dia memang tidak pernah berpikir sejauh itu. “Aku akan pulang, tapi besok aku akan datang buat kamu.” “Iya.” Melissa tersenyum, dia kemudian memeluk Reza dengan erat. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD