Memohon Setengah Memaksa

1639 Words
Untuk kali pertama Reza merasa hidupnya tak berguna, dia bahkan merasa dia adalah laki-laki terbodoh karena terus mengalah saat takdir mempermainkan hidupnya.  Dia memasukkan beberapa pakaian ke dalam ransel, dan barang berharga lainnya. Dia tidak membawa barang banyak, hanya motor yang akan membersamainya menuju kediaman Melissa.  Reza telah menentang ibunya sendiri, dia bersumpah ibunya akan menyesali perbuatannya, tak seharusnya seorang ibu berkata sedemikian kotor dan menghina wanita lain hanya untuk mempertahankan keegoisannya. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Reza turun perlahan dan segera menuju garasi mobil, motornya teronggok di sana. Dia membuka pintu garasi itu sedikit, lalu menuntun motornya ke luar, beberapa detik setelah mengunci garasi dan membuka pagar, tak lupa dia juga menguncinya kembali, kebiasaan pulang malam membuat dia menggandakan semua kunci utama di rumahnya.  Motor menggeber memecah keheningan malam. Reza telah menjadi anak durhaka seperti apa yang dikatakan ibunya. Reza sadar, ibunya tidak akan berubah, dan mungkin saja dia akan gila jika terus-menerus menuruti keinginan wanita yang telah melahirkannya itu. Kini Reza berhenti di depan rumah Melissa, dia membuat kegaduhan dengan terus-menerus menekan klakson motornya.  Guntur bergegas membukakan pagar dan mengizinkan Reza untuk masuk, semua penghuni di rumah Pram sudah tahu kalau Reza adalah calon suami Melissa. “Makasih,  maaf mengganggu malam-malam. Saya mau ketemu Melissa.” Guntur tercenung, ingin dia bertanya kenapa harus bertamu di malam selarut ini? Namun, melihat raut wajah Reza membuat dia begitu enggan untuk bertanya.  “Reza terus mengetuk pintu dengan keras. “Mel!” panggilnya sembari terus mengetuk.  Melissa yang tidur di kamar depan bersama Biru mengerjap mendengar suara Reza. Sesaat dia termangu, apakah dia sedang bermimpi lantaran kejadian yang telah dia alami beberapa jam yang lalu. Namun, suara Reza semakin jelas, kala pria itu terus menerus memanggil namanya.  Perlahan Melissa bangkit dan tak lupa dia mengecup kening Biru. “Kayaknya itu beneran papa kamu,” desisnya.  Melissa berjalan ke dekat pintu, dia memutar kunci dan membukanya. Sedetik setelah pintu terbuka dia terkesiap saat Reza merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan. Napas pria itu terasa begitu memburu dan berat.  Melissa tidak senang dengan kedatangan Reza, dia tidak merasa menang karena jelas ini bukan kompetisi merebut Reza dari ibunya. Melissa tidak ingin memperlebar jurang yang selalu Reza katakan menjadi pembatas antara Reza dan kedua orang tuanya.  Melissa menggenggam kedua pipi pria itu. “Ibumu adalah jembatan kamu menuju surga, sedangkan aku? Aku bisa saja adalah jembatanmu menuju neraka.” Reza menggelengkan kepala, dia meraih tangan Melissa dan mengecup telapak tangan wanita itu. Melissa terenyuh, apalagi bersamaan dengan itu, Reza meneteskan air mata.  Melissa menarik napas getir. Dia menjatuhkan kepala ke d**a Reza. Terisak dalam damai pria itu. Begitupun dengan Reza, tak pernah dia bersedih hingga sedalam ini dalam pelukan seorang wanita, selama ini dia selalu bersikap seolah dia kuat, seolah dia bisa menghadapi semua badai dalam hidupnya sebesar apapun itu. Namun, untuk kali ini dia menyerah, dia tak sanggup lagi, dia tidak ingin kehilangan Melissa, dia tidak peduli jika harus mengorbankan hidupnya demi wanita yang ada dalam dekapan.  Perlahan Melissa mengurai pelukannya, dia meminta Reza untuk masuk ke dalam rumah, kemudian menutup pintunya lagi. Reza duduk tertunduk di atas sofa, menahan kening dengan kedua tangannya.  Melissa berjalan ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk pria itu. Dia kemudian kembali dan meletakkannya di meja. Pram tercenung di puncak tangga memperhatikan mereka sedari tadi. Melissa sudah cerita semua yang terjadi, Pram tidak menyangka kalau anaknya akan dibenci karena sesuatu yang tidak diperbuatnya. Melissa mengempaskan bokongnya di sebelah Reza. Dia kemudian menyandarkan kepala di bahu pria itu. Reza segera menoleh dan menjauhkan tangan dari keningnya. “Aku udah janji, akan memberikan apapun dan berapapun yang kamu minta,” ucap Melissa tetap pada posisinya. “Kamu masih ingat?” Reza mengangguk. Melissa kemudian menjauhkan kepalanya dari bahu Reza. Wanita itu menarik tangan Reza ke dalam genggamannya. “Kapanpun kamu mau, kapanpun kamu perlu, aku akan siapkan, tapi setelah itu kamu kembali sama mama kamu.” Reza malah tercenung menatap Melissa. Bukan harta yang dia inginkan, dia tidak butuh uang, untuk apa kaya jika tak ada Melissa di sisinya.  “Aku nggak mau karena aku, kamu menjadi semakin jauh dengan mama kamu, kamu sendiri yang bilang cuma dia yang kamu punya di dunia ini sekarang.” Reza terenyuh, Melissa benar-benar berhati malaikat, setelah sumpah serapah yang diluncurkan Ranti, Melissa tak berniat membalasnya sedikitpun, dia memang sakit hati, tapi didikan Pram tak menjadikan Melissa sebagai pendendam.  “Aku ingin kamu memenuhi janji kamu.” Reza menatap kedalaman mata Melissa. “Menikahlah denganku secara agama dulu, setelah itu aku akan kembali pada mama.” Melissa termangu menatap Reza.  “Aku akan tetap memenuhi kewajibanku sebagai suami kamu, Mel dan selama itu aku akan berusaha untuk mendapatkan restu mama.” Melissa menarik napas dalam-dalam, dia kemudian bangkit. “Kalau itu aku nggak bisa, Za. Maaf,” ucap Melissa seraya membelakangi Reza.  Jantung Reza mencelus. Dia kemudian bangkit dan memegang kadua bahu Melissa, lalu meminta wanita itu untuk menghadap padanya. “Kenapa, Mel?” Melissa menggelengkan kepala. “Aku nggak bisa, Za, please, aku nggak mau nikah dengan cara seperti ini, nggak!” “Lalu Biru?” Melissa menarik napas. “Kamu sendiri yang bilang, aku harus nikah karena cinta, bukan karena hal lain.” “Jadi, kamu nggak cinta sama aku?” Melissa segera meraih tangan Reza. “Aku cinta sama kamu, bahkan sebenarnya aku nggak mau kehilangan kamu, tapi ini bukan soal aku sama kamu, ini juga soal mama kamu.” Jantung Reza kembali mencelus. “Mel ….” Melissa segera menghambur ke pelukan Reza. “Maaf, Za ….”  Reza tak membalas pelukan Melissa, Tubuhnya malah luruh ke sofa, dia duduk dan tercenung di sana. “Ini pertemuan terakhir kita, Mel, kamu nggak akan bisa temui aku lagi, selamanya,” gumam Reza.  Kedua mata Melissa membola.  Reza mengeluarkan dompet dan ponselnya, lalu meletakkannya di meja. “Ini terlalu berharga untuk dibawa mati. terlalu banyak kenangan kita di ponsel ini,” ucap Reza. Dia kemudian bangkit dan berujar, “Kalau Biru sudah besar, ceritakan kalau aku ayah angkat, aku menyayangi dia seperti anakku sendiri.” Melissa tercengang. Reza kemudian berjalan ke depan pintu dan kembali naik ke atas motor. Melissa masih mematung di depan meja. Reza seperti tak sedang bercanda.   “Melissa!” Pram Gunadi menyadarkan anaknya. “Keluar, Mel, hentikan dia.” Reza masih menyelah motornya yang mendadak ngadat, sepertinya benda mati itupun tidak ingin dibuat rusak dengan ditabrakkan ke pembatas jalan, tiang listrik, atau di ajak terjun ke jurang oleh pemiliknya.  “Za!” teriak Melissa seraya memeluk pinggang Reza. Tubuh Reza hampir terkoyak dengan pelukan Melissa yang terlalu kencang. “Jangan lakukan hal bodoh, Za, aku nggak mau kehilangan kamu.”  Reza mencoba menjauhkan kedua tangan Melissa dari perutnya. “Mel, nggak ada gunanya aku hidup, aku nggak tahu harus apa selain aku mengakhiri semuanya.” Motor itu akhirnya menderu. Melissa segera berdiri membentangkan kedua telapak tangan di depan motor Reza. “Kalau kamu mau mati, kita mati bareng,” tantang Melissa.  Biru menangis dalam pangkuan Nana, Bi Narsih dan Pram Gunadi, tak terlupa Guntur sudah ada di depan rumah menyaksikan kebodohan dua manusia itu. Reza menoleh mengedarkan pandangan dan menatap mereka satu persatu. Dia lalu menurunkan standar motornya dan berjalan gontai ke dekat Melissa.    Reza menggeser tubuh Melissa dari depan motornya. “Biru butuh kamu.” Dia kemudian berbalik dan kembali ke motor. Namun, Melissa memeluknya dari belakang.  Reza kembali mencoba mengurai tangan Melissa dari perutnya. Namun, Melissa malah mengeratkan pegangannya. Wanita itu memang keras kepala.  “Aku mau. Aku mau nikah sama kamu,” teriak Melissa. Jika itu adalah syarat agar Reza bisa tetap berhubungan baik dengan ibunya, Melissa tidak masalah mengorbankan dirinya, mengorbankan mimpi besar pernikahannya.  Reza berbalik dan memeluk Melissa cukup lama. Pram tersenyum kecil menatap mereka, tapi dia terlalu takut masalah akan semakin besar menghadang cinta mereka.  "Kamu jahat, kamu bodoh, kamu t***l, kamu g****k," caci Malissa sembari memukul-mukul d**a Reza. "Kamu memohon tapi setengah memaksa!" Melissa terus memukuli d**a Reza, tapi Reza malah tersenyum sembari menahan tangan Melissa di dadanya.  Melissa terperangah dan menatap kedua mata Reza. Sesaat mereka terdiam dan saling menyelami isi hati masing-masing. Namun, seperti biasa Melissa tak kuat dengan keadaan seperti ini, dadanya seolah ingin meledak.  “Kamu capek," ucapnya sembari menjauhkan tangan dari d**a Reza, "kamu terlalu banyak pikiran, sekarang kamu istirahat, biar aku antar kamu ke kamar," tambahnya gugup. Reza mengangguk. Semua orang sudah masuk ke dalam, waktu menunjukkan pukul setengah satu malam. Reza mendekat pada Pram dan berdiri di depannya. “Pak, saya minta maaf karena sudah egois, tapi saya benar-benar butuh Melissa, Pak.”  Pram tersenyum dan mengangguk, dia lalu memeluk Reza dan menepuk punggung pria itu. Namun, tidak berkata apa-apa, dia kemudian melepaskan pelukannya. “Nggak ada yang paling indah dari sebuah hubungan selain restu. Saya mengirim kamu ke Jakarta karena sejak awal saya ingin menjadikan kamu menantu, lalu kamu punya niat baik pada Melissa, tentu saya tidak akan menolak.” Reza terharu begitupun dengan Melissa.  “Besok pagi, Papi akan nikahkan kalian secara agama.” Jantung Melissa mencelus. Namun, dia sudah berjanji untuk menikah dengan Reza. Reza merasa kalau Melissa berhasil meredakan badai yang bergejolak di hatinya, dia merasa lebih baik dengan memutuskan datang dan menemui Melissa, meski setan sempat menguasainya.  “Sudah terlalu malam, kita istirahat dulu.” Pram menginterupsi.  Melissa kemudian mengantar Reza ke kamarnya. “Kamu tidur di sini,” ucapnya seraya membuka pintu.  Reza mengangguk. Dia berbalik dan meraih tangan Melissa. “Maaf karena udah egois, aku cuma nggak mau mama ngejauhin kamu dariku, Mel.”  Melissa mengangguk, dia mengerti keinginan Reza. Dia juga tidak ingin kehilangan Reza dan Biru. Melissa menarik napas dan melepaskan tangan Reza. “Sekarang kamu istirahat. Jangan lupa cuci tangan, cuci kaki, aku nggak mau kasurku kotor.” Reza tersenyum mendengar perintah Melissa, inilah yang dia rindukan, Melissa tak sejaim perempuan kebanyakan, dia apa adanya dan yang pasti Reza sangat menyayanginya.  ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD