Mengikatmu

1669 Words
Sejak kemarin Ranti mengurung diri dan meratapi pengkhianatan suaminya. Sudah Reza katakan sebelumnya kalau sekarang tak ada gunanya untuk bersedih, memang Tuhan yang menutup rapat semuanya dan hanya ketahuan saat ayahnya pergi meninggalkan mereka. “Kamu dari mana?” tanya Ranti saat melihat Reza tengah berada di meja makan menyiapkan makan malam setelah kemarin anaknya itu tak pulang ke rumah.  “Ma?” Reza masih sibuk menuangkan makanan yang dia beli ke dalam piring. “Kita makan, aku tadi beli makanan kesukaan mama.” “Mama nanya kamu dari mana?” tanya Ranti seraya mendekat.  “Ada perlu, Ma.” Seharian kemarin Reza memang lebih memilih menginap di rumah Melissa dan tidur di kamar Biru, hingga dia tidak menyadari wangi bayi menempel di tubuhnya.  Ranti mengendus dan mencium aroma bayi yang menguar dari dalam diri Reza. “Ngapain aja kamu sama Dokter itu?” selidik Ranti Reza tergemap dan menatap ibunya, dia memang sedang mencoba bersikap lunak, dia tidak ingin menentang ibunya, sungguh dia tidak berani melakukan itu. Dia kemudian duduk dan memberikan piring berisi nasi dan ayam taliwang itu pada ibunya. “Makan, Ma.”  “Mama nggak suka kamu sama dia,” ucap Ranti sembari duduk.  “Karena dia keponakannya Tante Indah?”  Ranti tak menjawab karena dia yakin Reza sudah tahu jawabannya.    “Ma, Melissa nggak ada hubungannya dengan ini,” ucap Reza seraya menggenggam tangan ibunya yang berada di atas meja. “Aku mau menikah, Ma, secepatnya. Biar secepatnya juga kami bisa memberi cucu buat Mama.” Bukannya senang Ranti malah menarik tangannya dari genggaman Reza. Ranti menatap kedalaman mata anaknya, sudah dia katakan kalau dia tidak akan memberikan restu untuk Reza dan Melissa.  “Aku cinta dan aku akan bahagia sama Melissa, Ma.” “Mama tetap nggak akan restui kamu menikah sama keluarga pelakor itu. Kalau kamu memang mau menikah, kamu harus menikah sama Shafiyya.” “Ma, Melissa nggak ada hubungannya sama ini. Lagipula aku nggak mencintai Shafiyya, nggak ada perempuan yang aku cintai selain Melissa.” “Hubungan Melissa dengan Indah itu lebih dekat dari sekedar tetangga.”  Reza mencoba menarik napas dalam-dalam. “Aku sama dia punya anak, Ma.” “Apa?” Ranti mundur, dia menyeret kursi dengan kakinya. “Pantas kamu wangi bayi, Jadi, selama ini kamu?” Reza terpaksa mengangguk mengiyakan prasangka buruk yang tengah menyelimuti hati ibunya.  “Perempuan jalang! Pantas kamu tidak mau memperjuangkan Tania dan amanat kakak kamu!” ucap Ranti dengan nada tinggi. “Itu lagi,” dengkus Reza. Sungguh dia bosan mendengar kalimat itu kembali keluar dari mulut ibunya. “Kita nggak jodoh, Ma, takdir aku bukan Tania dan bukan untuk menjadi bayangan Kak Rega.” Kali ini nada bicara Reza sedikit meninggi. “Mama nggak mau kamu menikah dengan perempuan jalang itu!” pekik Ranti sembari menepis kasar piring berisi nasi dan ayam taliwang yang dibelikan Reza.  “Dia bukan perempuan jalang, Ma, bahkan dia lebih baik dan lebih terhormat daripada Tania,” tegas Reza. Dia hanya sedang teringat bagaimana Tania menghabiskan malam-malamnya di club bersama dengan pria yang kini menjadi suami wanita itu.  “Kalau dia wanita terhormat, dia nggak akan ngasih kamu anak di luar nikah!” Reza menarik napas. Dia menyesal tidak dekat dengan ibunya, sehingga dia tidak sempat menceritakan kebenaran yang terjadi. “Dia anak adopsi kami, aku ke Kalimantan untuk menjaga Melissa, di sana dia membantu ibu yang melahirkan dan ibu itu memberikan anaknya untuk kami,” tutur Reza tenang.  Namun, kemarahan tak membuat Ranti percaya dengan kalimat yang baru saja disampaikan Reza. “Jawabannya tetap sama, Za, selama mama masih hidup kamu tidak akan mendapat restu mama.” Ranti kemudian melenggang pergi ke kamar. Sungguh dia tidak ingin memiliki menantu hina dan berasal dari keluarga terhina.  Sudah Reza duga, ibunya tidak akan percaya dengan apa yang dia katakan. Reza menyesal mengatakan dia dan Melissa punya anak dan mengiyakan praduga ibunya. “Ma, masa aku harus doain mama cepat meninggal biar aku bisa dapat restu mama?” pekik Reza.  Ranti mematung di depan pintu kamarnya.  “Bi,” panggil Reza, “Bi Sumi!” “Iya, Den?” Tolong diberesin,” ucap Reza sembari melihat pecahan piring dan nasi yang tercecer. Dia kemudian membawa piring nasinya dan memilih makan di kamar. Sementara Bi Sumi mulai membersihkan kekacauan yang dibuat tuan rumahnya itu.  Reza meletakkan piring di meja, bukannya langsung makan, dia malah merebahkan tubuhnya di ranjang, dia menumpu kepala dengan kedua tangannya.  Reza menghela napas panjang, dia memang tidak begitu dekat dengan ibu dan ayahnya seperti Rega yang sangat dekat dengan mereka. Dia memang masih saja merasa ada jurang pembatas antara dia dan kedua orang tuanya, hingga kata-kata terbuang selalu tersemat dalam hatinya. Sejak kecil dia memang lebih dekat nenek dan kakeknya dan kini orang yang dia harapkan kehadirannya tak dapat lagi menemaninya, sekedar memberi petuah bermanfaat untuk menguatkan jiwa yang tengah lemah itu. Sekarang di dunia ini dia hanya merasa memiliki Melissa. Hanya wanita itu yang membuatnya merasa penting dan berarti. Reza merogoh ponsel, dia kemudian menelepon wanita itu.  [Za.] Suara sehalus beledu itu selalu sampai ke relung hatinya yang terdalam, hingga ketenangan dan kehangatan menguar membalut keresahan yang tengah membakarnya. “Kalau aku menikahimu secara agama dulu, apa kamu keberatan?” tanya Reza tiba-tiba, dia tidak peduli jika harus menikah tanpa restu ibunya, yang dia inginkan sekarang adalah mengikat Melissa dalam ikatan pernikahan sebelum ibunya mencoba untuk menjauhkan wanita itu dari hidupnya. [Kenapa harus secara agama dulu? Aku maunya kita menggelar pernikahan penuh suka cita, semua bahagia untuk pernikahan kita dan nggak ada yang bermuram durja.] Reza terdiam. Dia tidak bisa meyakinkan Melissa soal ini, mungkin ini hanya keegoisannya saja.  [Za?] “Aku butuh kamu, Mel, setiap hari, setiap malam, setiap waktu,” tutur Reza. Melissa terdiam. Reza mengerti kalau Melissa tidak mau dan belum yakin kepadanya. Dia kemudian memutuskan sambungan telepon dan tercenung menatap langit-langit kamarnya.  Sedangkan Melissa hanya bisa mengurai air mata di ruang prakteknya di rumah sakit. Dia meletakkan jari-jemarinya di dahi. Dia bingung dengan permintaan Reza, entah apakah dia harus mengabulkannya, lalu apa dengan begitu dia akan mendapatkan restu?  *** Sudah dua hari Reza dan ibunya mengurung diri di kamar masing-masing. Bahkan Reza mengabaikan panggilan Melissa, membuat wanita itu merasa khawatir.  “Reza kemana?” Melissa terus mencoba melakukan panggilan. “Tersambung, tapi kenapa nggak diangkat, ayo dong, Za,” ucapnya panik. Dia melirik Biru yang sudah bisa tengkurap. Bocah itu memang cepat sekali belajar.   Melissa menarik napas. Kedua sikunya bertumpu pada meja, sembari terpejam dia teringat dengan kalimat Reza yang memintanya untuk menikah secara agama terlebih dahulu, tapi Melissa ingin tahu apa alasan Reza.  Wanita itu kemudian bangkit. “Na!” teriaknya. “Nana!”  Nana tergopoh menghampirinya ke kamar Biru. “Iya, Bu.” “Saya ada urusan, titip Biru, jagain dia sekarang udah bisa tengkurap sendiri.” “Baik, Bu.” Melissa kemudian pergi ,sembari menyambar jaketnya.  Dia melesat dengan mobilnya menuju kediaman Reza, entah ke mana dia harus mencari selain ke rumah pria itu, sejak ayahnya meninggal, Reza memang belum kembali bertugas.  Hampir satu jam akhirnya Melissa sampai di depan rumah Reza. Dia mengetuk pintu dan Bi Sumi langsung membukakannya.  “Reza ada?” ucap Melissa pelan. “Dua hari Den Reza nggak ke luar kamar, Neng,” bisik Bi Sumi.  Jantung Melissa mencelus. Dia meraih tangan wanita tua itu. “Tolong sampaikan, Melissa datang,” ucapnya pelan.  Bi Sumi mengangguk. Namun, Melissa menahan tangan Bi Sumi. “Jangan sampai tante Ranti tahu.”  Bi Sumi kembali mengangguk. Dia kemudian berlalu dan segera ke kamar Reza, sementara Melissa menunggu di depan pintu.  Bi Sumi mengetuk pintu kamar Reza dengan gerakan cepat. “Den, ada Mbak Melissa.” Reza mengerjap dan berjalan gontai menuju pintu. “Di mana?” tanyanya.  “Di depan.” Reza melenggang pergi menuju depan. Namun, terdengar keributan di depan rumah tersebut.  “Mau apa lagi kamu?” tanya Ranti pada Melissa.  “Tante, saya mau ketemu Reza.” “Pergi! Dasar w************n,” caci Ranti.  Seketika kening Melissa mengerut. Dia tidak mengerti kenapa ibunya Reza sampai mengucapkan kalimat kotor seperti itu padanya. “Za!” pekik Melissa. “Reza!” Melissa terus berteriak. Reza segera berlari menuruni anak tangga.  “Mel?” Reza terus berlari. “Mel?” Ranti segera mendorong Melissa agar ke luar dari rumahnya. “Pergi, wanita jalang, kamu tidak pantas untuk anak saaya!” pekiknya seraya membanting pintu.  “Za!” Melissa terus menggedor-gedor pintu dengan keras.  “Melisa!”  Ranti segera berdiri di depan Reza, dia terus menghalangi Reza agar tidak sampai ke depan pintu.  “Za, aku sayang sama kamu, Za, aku cinta kamu!” pekik Melissa sembari terus memukul-mukul daun pintu.  "Mel, kamu tunggu di situ!" teriak Reza dari dalam. Namun, Ranti terus menahan d**a Reza agar tidak pergi dari tempatnya berdiri.  "Sekali saja kamu melangkah, kamu bukan anak Mama!" ancam Ranti.  "Ma, aku cinta sama Melissa."  "Cinta kamu nggak ada gunanya, udah berapa kali Mama bilang, Mama tidak akan pernah merestui kamu dengan wanita jalang itu." Jantung Reza mencelus. "Cukup!" Reza mengacungkan telapak tangannya ke depan. "Melissa wanita terhormat, dia baik dan aku sayang sama dia."  "Cinta kamu bodoh. Kamu sudah dibutakan, Reza!"  Reza menarik napas dalam-dalam. "Mama akan menyesal, bukan cuma malam ini, tapi mungkin selamanya Mama akan kehilangan aku," pungkas Reza seraya pergi ke kamarnya.  "Kalau kamu berani ninggalin Mama demi perempuan itu, durhaka kamu, Za! Surga haram untuk kamu!"  Sumpah serapah Ranti terdengar oleh Melissa yang masih berdiri di depan pintu. Melissa menarik napas dan menyeka air matanya. Dia kemudian berjalan ke tempat mobilnya berada sembari menelepon Reza. "Za, kamu tetap di rumah sama ibu kamu. Mungkin belum saatnya kita ketemu. Aku sayang kamu," ucap Melissa singkat, dia bahkan tidak menunggu apa yang dikatakan Reza dan langsung mematikan teleponnya.  Reza terus menggaungkan nama wanita itu. "Melissa!" pekiknya memecah keheningan malam di depan ponsel. Reza tak menangis saat ayahnya pergi, tapi saat Melissa pergi karena penghinaan ibunya, dia benar-benar membiarkan air mata jatuh menyusuri pipinya. "Maaf, Mel." Reza terjatuh dan berlutut di depan ranjangnya. Dia kembali mengerang. “Arrrggghhh ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD