Sebenarnya dengan Reza berpikir kalau dia ingin sekali memeluk Melissa dan mengajaknya terombang-ambing dalam kehidupannya, itu semua tidak benar-benar dia inginkan, saat itu dia hanya sedang merasa gemas pada Melissa. Sungguh dia menyesal berpikiran demikian.
“Mel, meski seluruh dunia menentang hubungan kita, itu tidak akan mengubah perasaanku terhadapmu, Mel. Aku tetap mencintai kamu.”
Melissa mengangguk. Namun, nyaris tanpa ekspresi. Kejadian yang dia alami barusan membuatnya syok. Melissa mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Reza. “Aku juga merasakan apa yang kamu rasa,” bisiknya.
“Aku yakin suatu saat mama akan merestui kita,” ucap Reza.
Melissa tak menyahut, dia hanya mematung menatap Reza dengan segala apa yang pria itu yakini. “Aku antar kamu pulang.”
Melissa kembali mengangguk. Reza menarik tangan Melissa, dia kemudian berdiri di depan motornya. “Ini adalah hujan pertama yang kita nikmati bersama.” Reza memakaikan helm di kepala Melissa. “Nggak apa-apa, ‘kan kalau kita naik motor?”
Melissa tersenyum seraya menggerakkan kepala yang artinya dia tidak keberatan sama sekali. Usai memakai helm, Reza naik ke atas motor, dia kemudian menoleh dan meminta Melissa untuk naik ke atas motornya.
Reza kemudian menarik tangan Melissa untuk melingkar di perutnya. Melissa tersenyum dan segera melakukannya, dadanya merapat dengan punggung Reza. Kemudian motor menggeber bersahutan dengan suara derasnya hujan.
Dari jendela kamar Ranti menatap mereka, hatinya merasa terbakar, baru kemarin Reza katakan kalau dia tidak akan mengkhianatinya dan sekarang semua sudah tak sejalan, Reza benar-benar telah mengkhianati cintanya sebagai ibu.
Melissa tengadah menatap langit, tetesan demi tetesan hujan itu turun menghantam wajahnya beberapa kali. Tak pernah dia melakukan ini sebelumnya, memang tak pernah ada yang mengajaknya untuk menikmati hujan dengan cara seperti ini. Melissa kembali menatap ke depan dan merapatkan pelukannya pada Reza. Kemeja biru milik Reza basah, begitupun dengan blus merah miliknya.
Reza berhenti di depan coffee shop. Mereka turun dari motor, sedangkan kuda besi itu masih berada dibawah guyuran air hujan. Reza masuk ke dalam dan meminta Melissa untuk menunggu di luar, kemudian dia memesan satu cup vanilla latte. Sembari menunggu barista membuatkan pesanannya, sesekali dia menoleh pada Melissa yang tampak membelakangi pintu dan menghadap ke motor. Hatinya miris sekali, dia pikir semua akan terasa mudah dengan menyatakan cinta pada wanita itu, ternyata semua tak semudah bayangannya.
Reza keluar usai menerima kopi pesanannya, dia kemudian menarik pintu kaca yang sebenarnya bisa didorong, tapi dia terlalu takut membuat Melissa terkejut.
Reza berdiri di belakang Melissa, kemudian memeluknya, lalu dagunya mengenai bahu wanita itu, satu tangannya menunjukkan cup kopi di depan wajah Melissa.
Melissa tak menoleh, bahkan dia tak bergerak sama sekali. Namun, dia bertanya, “Cuma satu?”
“Buat kamu aja,” ucap Reza seraya melepas pelukan dan terus menganjurkan cup kopi itu karena Melissa tak langsung menerimanya. Perlahan hujan mereda dan hanya menyisakan gerimis. Melissa perlahan naik ke atas motor saat Reza sudah berada di motornya.
Sesekali Melissa menyeruput kopi hangat itu, lalu dia menganjurkan ke depan melalui bahu Reza dan mendekatkan sedotannya pada mulut pria itu. Reza menatap sedotan di cup tersebut, dia kemudian tersenyum sembari menyeruput isinya.
Melissa sengaja membuat sedotan itu tetap berada di depan bibir Reza, padahal dia tahu kalau Reza sudah selesai meminumnya.
“Hmm …,” sahut Reza sembari mengedikkan bahunya.
Melissa tersenyum sembari menjauhkannya, lalu dia kembali menyeruput kopi tersebut. Saat motor melintas dan langit mulai kembali cerah, sepintas Reza melihat ada pelangi di langit. Dia kemudian berhenti di depan danau.
“Kok berhenti?” tanya Melissa sembari tetap merapatkan tubuhnya ke Reza, seolah dia benar-benar merasa nyaman, tanpa berpikir kalau Reza merasa berat akan dirinya.
Reza mengedikkan dagu ke langit. Seketika Melissa menegakkan tubuhnya, dia terperangah melihat bias warna-warni itu melengkung di permukaan langit putih. Dia kemudian turun dari motor dan berjalan ke bibir danau.
“Za, foto,” teriak Melissa.
Reza segera menegakkan standar motornya, dia kemudian turun dan mendekat pada Melissa, lalu kedua tangannya terbuka. “Hape aku basah,” ucapnya.
Melissa kemudian membuka tas dan merogoh ponselnya, lalu memberikannya pada Reza.
“Kenapa hape kamu nggak basah.”
“Tasku anti air.”
Bibir Reza membulat, dia kemudian mundur dan mengarahkan kamera ponselnya pada Melissa. Tak lupa dia membidik dengan tepat, sehingga warna-warni pelangi, danau dan Melissa tercakup dalam satu gambar dan satu jepretan. Reza tersenyum menatap wajah Melissa di dalam foto, dia jadi teringat saat mereka berenang bersama di sungai, rambut Melissa saat itu benar benar basah dan terlihat memukau.
Melissa mendekat ke arahnya, dia kemudian tersenyum sembari melongkok gambar dalam ponselnya yang sedang dipegang Reza. “Kamu cantik dan selalu cantik,” ucap Reza sembari mengembalikan ponsel Melissa.
Melissa menarik kedua sudut bibirnya, dia kemudian menyerahkan cup kopi pada Reza dan meminta pria itu untuk mundur karena dia akan mengambil gambarnya. “Biar ada bukti kalau aku ke sini sama kamu dan menikmati pelangi ini juga sama kamu,” ucap Melissa sembari mengarahkan kamera ponselnya pada Reza yang kini sudah berada di bibir danau.
Setelah beberapa jepret diambil, Reza mendekat pada Melissa, dia kemudian mengajak Melissa untuk berdiri dan bersandar di depan motornya. “Aku harap kamu nggak kayak pelangi, Mel.”
Melissa meneguk liurnya, dia kemudian bertanya, “Kenapa?”
“Pelangi datangnya sebentar, bahkan dia datang tak bisa diprediksi, meski indah, tapi dia datang dan pergi seenaknya.”
Melissa tersenyum. “Puisi kamu bagus, aku nggak nyangka kamu puitis juga.”
Reza tersenyum kecil sembari tertunduk, kemudian dia kembali menatap langit. “Aku harap kamu juga jangan seperti senja, meski indah dan memberi banyak kenangan, tapi senja datang sebagai penghiburan di kala lelah, karena setelah senja itu pergi aku kembali terkungkung dalam gelapnya malam yang sunyi.”
Melissa bertepuk tangan mendengar penuturan Reza. “Aku nggak nyangka dibalik menyebalkannya Bapak Reza, ternyata dia seseorang yang jago bikin puisi.”
Reza menahan tangan Melissa dan seketika wanita itu berhenti bertepuk tangan dan menatap Reza. “Aku serius, Mel, nggak ada perumpamaan di dunia ini yang menggambarkan kamu, tetaplah menjadi Melissaku apapun yang terjadi.”
Sebenarnya sedari tadi Melissa terharu, hatinya bahkan sudah melayang-layang ke angkasa, tapi dia tak ingin menunjukkannya pada Reza dan membuat pria itu besar kepala.
“Aku akan mengabulkan keinginanmu,” ucap Reza.
“Apa?” Melissa menggaruk keningnya. “Keinginan yang mana?”
“Soal kamu yang memintaku untuk menjagamu seumur hidupku, Mel.”
Kening Melissa mengerut. “Memang aku pernah meminta itu dari kamu?”
Reza mengangguk.
“Aku lupa, inginku terlalu banyak, Za.”
“Tapi, aku ingat, Mel. Di rumah Pak Rumbun dalam satu kasur.”
Melissa tersenyum dengan rona merah di pipi, Reza tak perlu mengingatkannya sedetail itu, lagipula Melissa masih ingat dengan dia mendengar kalimat itu saja. Dia hanya malu mengakuinya, malu kalau dia pernah meminta itu pada Reza.
“Kita pulang.” Melissa menarik tangan Reza. Dia kemudian memakai kembali helm basah itu dan naik ke atas motor sementara Reza masih berdiri, Melissa tak biasa naik motor sehingga dia kehilangan keseimbangan dan motor hampir jatuh, beruntung Reza segera menahan stang motornya.
“Kaget,” ucap Melissa seraya turun dan mengelus dadanya sendiri.
Reza tersenyum. Dia hanya tak menyangka dibalik ketegasan Melissa ternyata dia mudah gugup. “Sudah siap, ayo, Mel.”
Reza menengok ke samping, Melissa masih berdiri di sebelahnya. “Mel?”
“Aku lapar, Za, tapi dingin, anter aku pulang aja deh.”
Reza mengangguk dan Melissa pun segera naik ke atas motor, lalu memeluk Reza dan motor melesat pergi. Melissa mulai tak nyaman, dingin semakin menjadi-jadi, sepertinya angin masuk ke dalam tubuhnya tanpa izin.
Sudah cukup lama mereka di motor dan Melissa tidak tahu sampainya kapan. “Aku baru loh lewat jalan ini,” ucap Melissa.
“Iya, memang, aku juga baru lewat sini.”
“Jadi, berapa lama lagi sampai rumah? Aku udah dingin banget, Za.”
“Aku nggak tahu.” Namun, tak berapa lama mobil berhenti di depan rumah Pram. Sedari tadi Reza hanya sedang menggoda Melissa saja, Melissa pasti sering melewati jalan itu. Namun, dia tidak menyadari saja karena mungkin dia terbiasa naik mobil.
“Katanya nggak tahu,” ucap Melissa sembari menganjurkan helm. Reza tersenyum lebar.
“Aku nggak diajak masuk?” tanya Reza.
“Untuk pertama kalinya aku ngusir kamu.”
“Jadi ceritanya kamu marah?”
“Nggak!” Melissa segera pergi meninggalkan Reza. Namun, Reza lekas menegakkan standar motornya, dia lalu turun dan menahan pintu saat Melissa hendak masuk.
Melissa menghela napas. “Pulang, Za, aku capek, mau istirahat.”
Reza malah mematung sembari terus menahan pintu. Sungguh dia tidak ingin pergi. Kalau bisa dia ingin menginap di sini bersama dengan Melissa.
“Za, please, aku capek banget. Kalau kamu mau masuk ya udah, masuk aja.” Melissa memukul tulang lengan Reza, hingga pria itu meringis dan menjauhkan tangannya dari daun pintu. Melissa segera masuk dan tak menghiraukan Reza. Entah pria itu pulang atau tetap di sana. Dia tidak peduli yang jelas, dia capek, lapar dan ingin segera tidur.
Melissa benar-benar mengabaikan Reza, dia sibuk mandi, mengganti pakaian, bersiap dengan sangat cantik seperti biasanya, setelah hampir satu jam setengah dia akhirnya turun, namun, sesaat kemudian mematung melihat Reza masih berdiri di depan pintu.
“Kamu masih di situ?” tanya Melissa seraya mendekat.
“Aku nungguin kamu, Mel, nggak bisa masuk bajuku basah,” keluh Reza.
“Ya ampun, kenapa nggak pulang?” Melissa mendelik. “Tunggu di sini!” Dia kemudian masuk ke dalam dan pergi ke dapur. “Gun, pinjam baju sama celana buat Reza, bajunya basah, sekarang dia lagi nunggu di depan.”
“Tapi, Bu, baju saya jelek-jelek.”
“Nggak apa-apa yang robek juga dia nggak bakal protes,” ucap Melissa. “Buruan Gun, kasihan dia kedinginan.”
“Iya, Bu.” Guntur segera pergi ke kamarnya mencari baju yang pas dipinjamkan pada Reza. Dia kemudian kembali dengan kaos polos berwarna marun dan celana training berwarna hitam.
“Makasih ya, Gun.”
Melissa kemudian berjalan ke depan pintu dan memberikan baju itu pada Reza.
“Aku ganti di sini?” tanya Reza dengan kening mengerut.
“Jalan ke samping. Nanti aku tunggu kamu di sana.”
Reza mengangguk. Sementara Melissa segara mengambil handuk dari lemarinya. Dia kemudian turun dan langsung memberikan handuk itu pada Reza. “Baju kamu langsung masukin mesin cuci aja, biar nanti Bi Narsih yang cuciin.”
Reza mengangguk. Melissa kemudian duduk di depan meja makan dan mulai menyantap makanan tanpa menunggu Reza, lagi pula Reza terlalu lama. Saat Reza kembali dan berdiri di depannya, dia tertawa dengan kencang, dia pikir baju Guntur akan muat di tubuh Reza, ternyata tidak. Celana Guntur berada di setengah betis Reza dan bajunya benar-benar kekecilan, hingga mencetak tubuh kekarnya.
“Nggak ada baju yang lebih besar, Mel.”
Melissa terus tertawa. Dia kemudian bernyanyi. “Bajuku dulu tak begini,” godanya sembari menarik baju yang dikenakan Reza. Dia lalu menepuk-nepuk perut rata pria itu. Reza segera menahan tangannya dan seketika tawanya terhenti dan tergantikan gugup.
Melissa segera membasahi tenggorokannya. “Baju papi cukup deh kayaknya.” Melissa kemudian menoleh dan menatap Bi Narsih. “Papi mana, Bi?”
“Belum pulang, Neng.”
“Pakai itu dulu deh, Papi belum pulang,” ucap Melissa. Dia meminta Reza untuk duduk di sebelahnya dan mulai makan makanan yang tersedia di meja.
Setelah makan, Reza masuk ke kamar Biru dan bermain dengan bayi itu, sementara Nana diminta untuk keluar dari kamar, katanya ini urusan laki-laki karena Melissa pun tak diizinkan masuk, padahal Reza sedang curhat, dia tidak ingin Melissa tahu apa yang hendak dia ceritakan pada Biru.
“Papa bakalan nikahi mama kamu secepatnya,” begitu kata Reza pada bayi yang bahkan belum mengerti apa yang dia katakan itu. Reza terus berbicara soal perasaannya, bagaimana dia merasa bahagia bisa menghabiskan sore tadi dengan Melissa sambil menikmati hujan. Senyum dan tawa Melissa membuatnya lupa dengan kemarahan dan sumpah serapah ibunya.
Reza tak sadar berapa lama dia berada di kamar Biru, sampai tak terasa kantuk menyerang dan mimpi mulai memeluknya.