Mobil melesat menuju kediaman Melissa. Waktu terasa lama, padahal Reza ingin segera sampai ke rumah Pram untuk menemui wanita yang berhasil membangun takhta di hatinya. Perlu ratusan hari sampai dia benar-benar yakin kalau dia telah jatuh cinta pada Melissa.
Sedangkan Melissa terus teringat dengan ucapan Reza. Entah apakah ini benar, apakah dia dan Reza memiliki perasaan yang sama, atau itu hanya perasaannya saja.
“Hari ini Papi nggak kemana-mana?” tanya Melissa seraya duduk di sebelah ayahnya yang sedang menikmati koran dengan secangkir teh panas.
“Nggak, Mel,” jawab Pram singkat.
Melissa menarik napas panjang. “Aku baru dengar rekaman percakapan Papi sama Reza waktu di Kalbar.”
“He-emh, terus?” Pram masih sibuk membaca.
“Papi serius, ingin Reza jadi menantu Papi?”
Pram melipat korannya dan meletakkannya di meja. Dia kemudian mengambil cangkir dan menyesap teh panasnya, setelah itu dia meletakkannya kembali di meja, lalu berujar, “Iya, Reza baik, dia bertanggung jawab dengan perkataannya, dan dia memegang janjinya.”
Melissa tercenung. “Cuma itu?”
“Ya, memang apa lagi? Kamu nggak akan nemu hal seperti itu pada Ibram.”
Ya, ayahnya memang benar, dia juga merasakan itu, semakin hari perasaannya pada Reza berkembang. Memang berulang kali dia sempat menolak karena dia hanya meyakini kalau apa yang Reza jalankan semata-mata karena tugas dari ayahnya. Namun, setelah kembali ke sini Reza tetap ada untuknya, Reza tetap Reza yang dia kenal seperti waktu di Kalbar.
“Plus-minus, manusia itu nggak ada yang sempurna, Mel.”
Melissa mengangguk.
“Kalau kamu mencari yang sempurna kamu nggak akan nemu sampai kapan pun, papi jamin.” Pram tiba-tiba berubah haru, lalu dia berdehem. “Sebenarnya Reza selalu mengingatkan papi pada kakak kamu. Entah apa yang Reza miliki sampai papi harus teringat Edgar berulang kali setiap bertemu dengannya.”
Melissa terenyuh, dia memeluk lengan ayahnya dan menyandarkan kepala di bahu ayahnya itu.
Reza sudah sampai di depan rumah Pram, jantungnya tak berhenti bertabuh. Dia mencoba menarik napas berulang kali melepaskan kegugupan yang tengah merajai dirinya. Perlahan tangan Reza terulur dan mengetuk pintu rumah itu.
Melissa terkesiap dan menoleh pada ayahnya. Perlahan Pram bangkit untuk membukakan pintu. Namun, Melissa menahan tangan ayahnya. “Biar aku aja, Pi.” Melissa menginterupsi. Pram kembali duduk dan membiarkan Melissa pergi ke depan pintu utama.
Melissa tiba-tiba mematung di depan pintu yang sudah terbuka. Tatapannya terpaku pada sepasang mata coklat terang yang tenang. “Za?”
Reza tersenyum dan menarik tangan wanita itu, kemudian mendekapnya hangat. “Jangan biarkan kehidupan mengombang-ambingkan perasaanku lagi, Mel.”
Melissa tersenyum, tanpa ragu dia membalas pelukan Reza. Cukup lama hingga mereka lupa sedari tadi tengah berdiri di depan pintu.
“Ehem,” deheman Pram menyadarkan Melissa dan Reza, hingga dengan terpaksa mereka mengurai pelukan dan saling merelakan satu sama lain.
“Pak.” Reza menegakkan tubuhnya dan menatap Pram Gunadi.
“Masuk,” ucap Melissa seraya bergeser memberi jalan.
Reza kemudian masuk dan memberi salam seraya mengecup punggung tangan Pram untuk pertama kalinya, sampai pria itu tercenung dengan apa yang dilakukan Reza terhadapnya.
“Saya ke sini, sebagai orang yang mempunyai maksud baik untuk melamar putri semata wayang Pak Pram,” ucap Reza seraya menoleh pada wanita yang tengah berada di belakangnya. Tanpa basa-basi dan tanpa kata pengantar lainnya.
Pram menepuk bahu pemuda itu, dia kemudian mengangguk mengizinkan Reza mengungkapkan isi hatinya. Reza menarik napas, dia membalas anggukan Pram dengan anggukan pula.
Reza kemudian berbalik pada Melissa dan merogoh kotak beludru berwarna biru dongker dari saku jaketnya. Tak ada adegan berlutut atau menekuk satu kaki di depan si wanita, Reza tetap berdiri di depan Melissa. “Mel, aku ingin memperistri kamu, bukan karena Biru, tapi karena aku cinta sama kamu.”
Melissa tersenyum menatap cincin bermata biru itu. Reza adalah pria kepercayaan Pram untuk menjaga dirinya. Pria pertama yang kemudian datang padanya dan langsung melamar tanpa meminta untuk pacaran terlebih dahulu.
“Aku sudah menyiapkan ini dari seminggu yang lalu, Mel.” Reza memberi jeda dan menatap senyum di wajah Melissa. “Jadi, gimana?” tanya Reza.
“Ya, daripada sama Ibram, mending sama kamu,” jawab Melissa.
Reza tersenyum, dia kemudian mengambil cincin tersebut dan menyematkannya di pangkal jari manis Melissa. Tiba-tiba kekakuan datang tanpa persetujuan, hingga sesaat Reza bingung harus apa usai menyematkan cincin itu di tangan Melissa.
“Alhamdulillah,” sahut Pram. “Kamu mau tetap berdiri, atau mau duduk?”
Reza tampak linglung, namun, dia segera mendaratkan bokongnya di sofa diikuti Melissa, tak berapa lama Bi Narsih datang membawakan minum.
Reza melirik wanita yang kini ada di sebelah kanannya, perlahan ujung jarinya menyentuh jemari Melissa, selalu seperti ini hingga akhirnya bertaut, Melissa sampai malu dan segera tertunduk.
Pram pun masih terdiam, entah dari mana datangnya tiba-tiba semua kaku dan beku, padahal ini adalah hal yang membahagiakan. “Sehat, Za?” Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari mulut Pram.
Reza terkesiap dan segera melepaskan tangannya dari Melissa. “Sehat, Pak.”
Baru kemarin dia kehilangan sosok ayah, tetapi, dia tak biasa terpuruk lama, meski sedih, namun dia harus menjalani hidupnya, bukan meratapi nasibnya.
“Kamu yakin dengan keputusanmu, ‘kan, Za?”
“Yakin, Pak.” Memang baru tujuh bulan mereka kenal, tapi Reza tak pernah seyakin ini.
“Masih ada waktu empat bulan dari syarat yang Papi sepakati dengan Pak Rahmat, empat bulan cukup untuk mempersiapkan pernikahan.”
Reza mengangguk.
“Kalian mau ngambil hari, tanggal dan bulan apa?” tanya Pram pada akhirnya.
Reza dan Melissa bersitatap. “Hari dan tanggal pertama kita bertemu,” ucap Melissa. “Ya, ‘kan, Za?”
“Ya, kapanpun itu, semua hari adalah baik,” ucap Reza.
“Syukurlah papi senang dengarnya. Semoga kalian bahagia dan semua lancar sampai hari-H.”
Melissa mengangguk. “Makasih, Pi, udah percayakan Reza untuk jaga aku, percayakan dia untuk mengenali aku, sampai aku sendiri merasa heran, kenapa Reza bisa kenal aku lebih daripada aku kenal diriku sendiri.”
Pram tersenyum, kemudian mengangguk.
“Aku harus mengenali berlian yang aku jaga, gimana caranya agar dia tetap aman bersamaku,” ucap Reza. Kali ini lebih baik, Reza berkata dengan benar tanpa membuat Melissa gondok dan malah Melissa merasa terenyuh dengan apa yang baru dia dengar.
“Dan kamu memberiku ribuan warna di tengah gelap yang tengah menyelimuti hatiku kala itu, Mel,” tambah Reza.
Melissa kembali tersenyum, dia benar-benar terharu dengan apa yang dia dengar barusan. Dia pikir Reza benar-benar suka wanita seperti Tania, sampai-sampai Melissa merasa tak ada jalan untuk bisa masuk ke hati Reza, nyatanya tidak seperti itu, Reza menerima lebih dan kurang dirinya.
Pram ikut terharu. Dia kemudian bangkit. “Papi tinggal dulu ya.”
Melissa mengangguk. Kekakuan kembali membekukan hawa dingin yang tengah menyelimuti, meski begitu suasana hati Reza dan Melissa tak semendung cuaca hari ini.
“Andai kita masih di Kalbar, kita akan menikmati hujan di sana,” ucap Melissa sembari menatap ke luar jendela, hujan tengah mengguyur kota pagi ini.
“Oleh-oleh kita dari Kalbar mana?” tanya Reza seraya mengedarkan pandangan.
“Maksudnya?” Melissa menoleh seraya mengernyit.
“Biru,” ucap Reza seraya tersenyum.
“Oh, dia masih tidur.”
“Aku kangen.”
“Kangen aku?” tebak Melissa percaya diri.
“Kangen Biru.”
Melissa mendengkus.
“Kamu juga, Mel.” Reza merangkul bahu wanita itu dan merapatkan ke tubuhnya, lalu dia mengecup puncak kepala Melissa cukup lama.
***
Setelah hujan mereda, Reza mengajak Melissa untuk bertemu dengan ibunya. Pegangannya membuat Reza seolah tidak mengizinkan Melissa jauh darinya.
“Mama kamu di mana?” tanya Melissa sembari mengedarkan pandangan.
“Bentar aku panggilin.” Reza kemudian bangkit dan meninggalkan Melissa yang duduk di ruang tamu. Bi Sumi datang dan meletakkan minum di meja. Melissa tersenyum ramah pada Bi Sumi.
Sementara Reza berdiri di depan kamar ibunya, dia kemudian mengetuk. “Ma.”
“Masuk, Za,” ucap ibunya dari dalam.
Reza memutar knop, lalu mendorong pintu itu. Reza kemudian mendekat dan duduk di tepi ranjang di sebelah ibunya yang terbaring di bawah selimut. Beginilah cara Ranti meratapi takdir hidupnya. Sedih dan marah berkepanjangan.
Reza menarik napas. Dia kemudian tersenyum. “Aku habis melamar Melissa, Ma, dia terima aku.”
Kedua mata Ranti membola dan segera menyingkap selimut, lalu duduk dan menatap anaknya. “Kamu serius?”
Senyum Reza terus tersungging, dia mengangguk sembari meraih tangan ibunya. “Aku akan segera menikahinya, Ma. Mama nggak akan kesepian lagi, nanti kita akan kasih mama cucu, rumah ini akan ramai,” ucap Reza antusias. Namun, Ranti menepis tangannya.
“Nggak mama nggak setuju kamu sama dia!”
Jantung Reza mencelus. “Hah … kenapa, Ma?”
“Dia itu berasal dari keluarga selingkuhan papa kamu, Za. Sampai kapanpun mama nggak akan terima apapun yang berhubungan dengan selingkuhan papa kamu dan anak haramnya!”
Jantung Reza kembali mencelus, kali ini dadanya sesak sekali. Perlahan dia bangkit dan mundur beberapa langkah, dia mencoba membasahi tenggorokannya. “Aku cinta sama dia, Ma. Aku sayang dan aku ingin dia menjadi satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku, Ma.”
Ranti bangkit dan keluar dari kamarnya, pijakan kakinya menekan kuat permukaan lantai, dia kemudian berdiri di depan Melissa. Tentu saja Melissa tersenyum dan hendak menjabat tangan Ranti. Namun, Ranti tak menyambut kedatangannya, dia bahkan menepis tangan Melissa.
“Sampai kapanpun saya tidak akan merestui kamu dengan Reza.”
Melissa tercengang. Seperti ada gelegar petir yang menyambarnya dan dia hanya bisa mematung di tempat.
“Sekarang kamu keluar!” pekik Ranti menunjuk pintu.
Melissa masih saja mematung, dia menunggu kedatangan Reza. dan Reza berjalan gontai keluar dari kamar ibunya.
“Kamu nggak dengar saya ngomong apa?” Ranti benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. “Dia menarik tangan Melissa dengan kasar, hingga tulang kering Melissa mengenai sudut meja dan Melissa meringis sampai terjatuh.
Reza terkejut, dia berlari dan segera membantu Melissa untuk berdiri. Sementara Ranti berkacak pinggang. “Selama mama masih ada di dunia ini, kamu nggak akan dapat restu mama untuk menikahi wanita ini.”
Reza bangkit bersama dengan Melissa. “Ma, aku nggak mungkin, ‘kan membunuh mamaku sendiri agar aku dapat restu,” ucapnya kesal.
“Reza!” Ranti menggampar Reza sekuat tenaga.
Melissa memekik. “Za!” Dia segera mendekat pada Reza, namun, Ranti menarik tangan Melissa dan mendorong tubuh wanita itu hingga keluar, lalu dia membanting pintu dan menguncinya.
Ranti sedang tidak stabil, depresi berat membuatnya ingin memaki dan mencaci semua yang dapat mengingatkannya pada pengkhianatan suaminya. Semua itu terjadi sejak dia mengetahui kalau suaminya telah menyeleweng darinya hingga belasan tahun.
“Mel!” Reza bangkit dan berjalan ke pintu. “Ma, aku mohon, Ma.” Dia memohon di depan ibunya. Namun, itu tak mengubah apapun.
Hujan kembali mengguyur kota, kali ini disertai dengan gelegar petir yang terus bersahutan dengan hujan dan angin.
Melissa terduduk dan menangis di depan pintu rumah Reza. Dia terus mengetuk dengan telapak tangannya. “Reza ...” Tangis melemahkan nya. Dia tidak ingin kehilangan Reza. “Za ...”
Reza mencari cara untuk keluar, Ranti telah mengambil kunci pintu utama. Dia berlari ke dapur, namun, Ranti tak kalah cepat, dia sudah menyembunyikan semua kunci pintu keluar.
“Kamu nggak akan bisa ke mana-mana!”
“Mama!” Reza berlari ke arah Ranti. “Mama nggak bisa kayak gini, Ma!”
“Terserah, kamu nggak bisa melawan mama!” Ranti kemudian pergi ke kamar dan meninggalkan Reza. Reza segera berjalan menuju garasi. Beruntung Ranti lupa mengambil kunci garasi. Dia segera mendorong rolling door, hujan lebat terbawa angin besar seolah menyambut kedatangannya. Sedangkan Melissa sudah berjalan ditengah derasnya hujan.
“Mel?” teriak Reza. Dia kemudian berlari dan memeluk wanita itu dengan erat. “Jangan tinggalin aku, Mel. Aku nggak bisa melewati ini tanpa kamu.”
Melissa menggelengkan kepala pelan. “Aku nggak bisa, Za, mama kamu nggak restui kita,” lirih Melissa dalam pelukan Reza.
“Aku nggak peduli, Mel.”
Melissa mendorong tubuh Reza. “Buat aku restu itu penting, Za, apalagi dari seorang ibu,” teriak Melissa bersahut hujan lebat.
“Terus apa itu artinya kamu akan ninggalin aku? Kamu mau ingkar janji, gitu?”
Melissa menggelengkan kepala.
Reza mendekat dan menggenggam kedua pipi Melissa. Raut kesedihan tergambar jelas, mendung telah melenyapkan kegembiraan di wajah Reza beberapa saat lalu, mendung yang datang dari amarah ibunya.
“Aku cinta sama kamu, Mel, aku merasakan itu sejak kita masih di Kalbar. Aku benar-benar menemukan diriku ada dalam diri kamu, Mel.”
Melissa terisak sembari mengangguk. “Aku juga, Za.”
Reza menyatukan keningnya dengan kening Melissa, dia kemudian memiringkan wajahnya dan memagut bibir wanita itu lama, lembut dan berirama, tetesan air dari langit mengiringi keromantisan mereka, Reza melumat bibir manis itu dengan lembut, kemudian mengulumnya kembali. Menyesapkan lidah di antara rongga mulut Melissa.
Ini adalah bukti kalau Reza memang tak main-main. Dia kemudian melepaskan jeratannya dan menatap Melissa. “Kamu lebih manis dari ciuman pertamaku, Mel.”
Melissa tersenyum dan menghambur memeluk Reza.