Melissa memang tidak suka pada adik dari ayahnya itu, seperti yang pernah dia ungkapkan sebelumnya kalau dia benci pelakor sampai ke tulang, seperti apa yang pernah dia katakan pada Reza soal Marinka, memang ketidak sukaannya itu berawal dari tantenya sendiri. Padahal seharusnya Melissa juga mengerti kalau itu semua tak melulu salah perempuan, bisa memang itu terjadi karena kesalahan laki-laki termasuk mungkin ayahnya Reza. Namun yang Melissa sayangkan seharusnya perempuan bisa menolak keinginan laki-laki beristri, tapi apalah daya jika semua perselingkuhan mengatasnamakan cinta.
Melissa diminta untuk datang sebagai perwakilan Bianca, namun, dia menolak mentah-mentah permintaan Indah. Dia benar-benar tidak ingin ikut campur. Melissa dan Pram mengucapkan belasungkawa sebagai orang terdekat Reza, begitupun dengan Rahmat, Endyta dan yang lainnya. Tak ada yang memenuhi keinginan Indah maupun Bianca, seharusnya mereka datang sebagai diri mereka sendiri, mengakui meski mungkin keberadaan mereka tidak diakui.
“Sabar ya, Za.” Pram menepuk bahu Reza.
Sementara Melissa mematung di depan Reza. Wanita itu kemudian mengukir senyum terbaiknya untuk pria yang hampir tujuh bulan dikenalnya, lalu dia meletakkan telapak tangannya di pipi Reza dan ujung jarinya sedikit menyentuh bagian rahang dan telinga pria itu. “Kapanpun kamu butuh seseorang, aku ada buat kamu,” ucap Melissa.
Reza membalas senyuman itu. Melissa kemudian berjinjit dan mengecup pipi Reza. Sementara kedua tangannya sudah berada di d**a bidang pria itu. “Aku pulang,” ucap Melissa seraya mundur.
Reza mengangguk. Debaran yang dia rasakan kala Melissa mendaratkan bibir di pipinya begitu berarti, membuat dirinya seakan lupa pada kesedihan dan duka yang tengah melanda. Reza segera menahan tangan Melissa. Melissa kemudian berbalik seraya tersenyum, waktu terasa singkat saat Melissa menyadari sudah berada di pelukan Reza. Pria itu merengkuhnya erat. Melissa membalas pelukan itu seraya menepuk-nepuk punggung Reza. “Don’t give up.”
Perlahan Reza mengurai pelukannya, dia kemudian menatap Melissa, senyum Melissa lembut dan menenangkan, hingga dia ingin menahan wanita itu lebih lama di sini, namun, sepertinya tidak bisa lantaran Pram terus menatap mereka. “Aku pulang ya, kamu bisa telepon aku," tutur Melissa.
Reza mengangguk. Perlahan semua orang berlalu usai mengucapkan bela sungkawa mereka, kini menyisakan Reza dan ibunya di depan tanah merah yang mengubur jasad Anton.
Dari jauh, Indah dan Bianca berdiri, mereka menyaksikan prosesi pemakaman dari jarak yang cukup jauh, Indah tak berani menampakan diri. Dia adalah sekretaris sekaligus istri siri Anton selama belasan tahun terakhir ini dan selama itu pula Anton tidak mengenalkannya sebagai istri sah secara agama pada khalayak ramai.
Pram sebagai kakak sudah lama menentang hubungan mereka. Namun, saat Bianca lahir dan butuh sosok ayah, Pram terpaksa menikahkan adiknya itu dengan Anton hingga sekarang.
“Bentar lagi hujan, Ma, kita pulang,” ajak Reza seraya merengkuh bahu sang ibu. Ranti mengangguk dan tak berkata apa-apa, selain memenuhi ajakan Reza. Sesekali dia menoleh pada makam suaminya yang bersebelahan dengan makam Rega.
Sesampainya di rumah. Ranti duduk bersandar di atas kursi malas, dia menatap jauh ke ujung langit. Reza datang membawakan air jahe merah. Tarikan napas ibunya itu membuat Reza merasa getir.
“Mama nggak nyangka, mama harus kehilangan papa dengan cara seperti ini.” Ranti menghela napas. “Mama kira cinta papa sama mama itu beneran suci, nggak ada orang ketiga,” kata Ranti sembari meneteskan air mata.
Reza tak dapat menanggapi apa-apa, selain anggukan yang menyiratkan kalau dia setuju dengan apa yang dikatakan ibunya.
“Papa selalu memenuhi keinginan mama, mama kira itu semua cinta, ternyata dia hanya takut kalau rahasia besarnya terungkap.”
Lagi-lagi Reza mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan ibunya.
“Kurang mama apa, Za, sampai papa kamu harus mengkhianati mama dan selingkuh dengan sekretarisnya sendiri?”
“Nggak ada yang kurang dari mama, bahkan mama terlalu sempurna untuk papa.” Itu hanya anggapan Reza saja, dia ingin membesarkan hati ibunya, dia tidak ingin ibunya merasa rendah diri.
“Kenapa nggak dibawa mati saja rahasianya, kenapa mama harus tahu!” lirih Ranti.
Reza menghela napas. “Ya, seharusnya memang seperti itu, tapi anak itu juga anak papa, cepat atau lambat dia akan meminta haknya.”
“Kamu benar.” Ranti membasahi tenggorokannya, sementara embun di matanya terurai. “Papa kamu nggak sesempurna yang mama kira, cintanya nggak seluas yang mama rasakan.”
Reza bangkit dan memeluk ibunya. “Ada Reza, Ma. Anak mama yang nggak akan pernah mengkhianati cinta mama.”
Ranti mengangguk. “Makasih, Sayang.”
Mungkin ini juga merupakan salah satu jawaban kenapa tugas Melissa dipersingkat dan Reza pun harus kembali ke kehidupannya, semua itu karena dia harus tahu rahasia besar ayahnya dan harus menemani ibunya yang tengah terpuruk seperti sekarang.
Hujan belum reda, bahkan terasa semakin lebat. Beberapa pesan masuk ke ponsel Ranti, tapi sampai detik ini dia tidak membukanya. Apa kata teman-teman arisannya kalau tahu selama ini Anton telah membagi cinta Ranti. Semua yang terlihat sempurna ternyata begitu bobrok dan cacat dari dalam.
Rangkaian bunga belasungkawa dibiarkan basah terkena hujan. Gemericik air bahkan sampai ke teras rumah mereka.
“Kamu harus gantiin papa di kantor. Perusahaan papa itu untuk kamu, milik kamu, bukan anak haram papa kamu,” tutur Ranti penuh kebencian.
Reza mengangguk. “Secepatnya aku akan ke kantor, Ma.”
“Pengacara papa kamu datang, dia bilang ada wasiat yang papa kamu tinggalkan.” Ranti memberi jeda, dia mencoba untuk merelakan semuanya meski perih. “Soal waris, semuanya.”
Reza kembali mengangguk.
“Mama nggak mau menguasai harta papa kamu, setelah istri siri dan anak haram papa kamu itu mendapat bagiannya, mama nggak mau melihat, atau mendengar tentang mereka sedikit pun.”
Reza hanya terdiam, dia bahkan tidak mengangguk sama sekali.
“Kenapa papa harus meninggalkan kebencian di hati mama?” tanya Ranti sembari memukul-mukul dadanya sendiri.
Perlahan Reza bangkit. “Sekarang Mama tidur aja.” Reza membantu Ranti untuk berdiri. “Nanti aku minta Bi Sumi untuk mengantarkan makan malam Mama ke kamar.”
Ranti merebahkan tubuhnya di kasur.
“Ikhlaskan semuanya, Ma, ini semua sudah ketetapan Yang Di Atas,” ucap Reza seraya menyelimuti tubuh ibunya.
Ranti masih saja mengurai air mata, yang dia sesalkan adalah kenapa dia begitu percaya pada Anton, kenapa dia sama sekali tidak curiga, kenapa suaminya begitu pintar menyembunyikan kebohongan ini?
Reza sudah berlalu dari kamar Ranti. Dia menutup pintu kamar itu perlahan, lalu pergi ke kamarnya. Dia memandangi foto kecilnya dan foto kecil kakaknya. Kenapa waktu terasa singkat, dia percaya satu-persatu orang yang dia sayangi akan pergi, meski tak sebesar apa yang dirasakan ibunya, tapi dia juga merasa kecewa pada ayahnya lantaran menyembunyikan pengkhianatan dengan sangat cerdas dan sangat halus.
Dia ingat saat hadir untuk pertama kali di acara rapat perusahaan ayahnya. Indah hadir sebagai sekretaris yang sangat keibuan, dia membimbingnya untuk mengenali perusahaan, bahkan saat itu Reza merasa terpukau dengan kelembutan wanita itu. Mungkin itulah salah satu yang menarik hati Anton.
Reza merogoh ponsel dari lacinya. [Good night, Za.] pesan tersebut tersemat di layar ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Melissa, setiap malam wanita itu tak pernah lupa mengirimkan pesan itu pada Reza.
Bukannya membalas pesan tersebut, Reza malah mencoba mendial nomor wanita itu. Menunggu hingga beberapa menit akhirnya panggilan tersambung, suara sehalus beledu itu menyapanya ramah. Mendesirkan perasaan yang membuatnya ingin memeluk wanita itu.
[Za, belum tidur?]p
Reza tersenyum, entah kenapa saat dia mengumandangkan kalau dia butuh Melissa sewaktu di rumah sakit kemarin malam, dia jadi orang yang tak bisa jauh dari Melissa, seolah dia telah meyakinkan apa yang selalu dia rasakan pada wanita itu.
"Aku nggak bisa tidur."
Melissa menghela napas panjang, bahkan terasa begitu memenuhi pendengaran Reza. [Tidur, Za.]
“Sudah lama aku tidak mendengar cerita kamu sebelum tidur." Reza memang terdengar seperti sedang mengeluh.
Melissa tersenyum. [Za, apa yang kamu rasakan?]
Reza tersenyum, pertanyaan Melissa sedikit berbeda dari sebelum-sebelumnya, mungkin karena saat ini bukan otak dan pikiran yang sedang menguasai Reza, melainkan hati dan perasaan.
“Rindu,” jawab Reza seraya tersenyum.
[Aku tahu kamu pasti merindukan ayahmu.]
“Kamu. Kita,” jawab Reza tegas. “Aku rindu kehidupan kita di Kalbar.”
Melissa tersenyum, semburat merah muda terbit di pipinya, andai Reza ada di dekatnya dia akan berkata ‘pinjam’ saat meletakkan kepala di bahu pria itu, padahal itu hanya alasannya saja untuk bisa dekat dengan Reza. [Aku juga, Za.]
Reza tersenyum, setidaknya bersama Melissa dia lupa masalah terberat dalam hidupnya, bersama Melissa dia tidak pernah bosan menjalani hari, bersama Melissa dia selalu yakin semua ada jalan keluar.
Sesaat keduanya terdiam merasakan gema di balik d**a masing-masing. Andai saling berhadapan, Melissa akan segera menyanggah apa yang dia rasakan, menyembunyikannya sebisa mungkin agar Reza tidak mengetahuinya.
Reza menarik napas. “Ceritakan tentang kamu,” pintanya.
[Kamu suka warna biru, kamu sering memuji orang lain lewat aku, terkadang kamu sarkas, kamu tahu aku benci pelakor sampai ke tulang, tapi, kamu selalu bawa-bawa Marinka dan suasana hatiku langsung gelap.]
Reza tertawa. Melissa senang mendengar tawa pria itu, mungkin dia berhasil membawa lentera dan menerangi gelap yang menyelimuti hati Reza saat ini.
Melissa menarik napas. [Ceritakan tentang kamu.]
“Kamu suka warna merah darah, terlalu berani dan menonjolkan diri agar semua orang tahu siapa kamu sebenarnya, kamu otoriter, kamu diktator, tapi setiap aku berada dekat kamu, aku merasa terintimidasi dan bahkan lebih bodoh dari itu, aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya.”
Melissa tertawa keras sekali mengalahkan debaran yang Reza rasakan. Dia tak pernah sakit hati saat Reza berkata buruk tentang dirinya, mungkin itulah mereka sebenarnya, sudah saling mengenal satu sama lain. Bahkan Melissa merasa tak ada yang mengenali dirinya sejauh Reza.
“Apa yang kamu pikirkan sekarang?” Pertanyaan yang sering Melissa ajukan setiap malam, kini diambil alih oleh Reza.
[Membawakan lentera untuk menerangi sisi gelapmu.]
Reza tersenyum. Sungguh itu adalah kalimat terindah yang pernah dia dengar dari mulut Melissa.
[Apa yang kamu pikirkan sekarang?] tanya Melissa.
“Tetap berada di pelukanmu, agar kehidupan tak lagi mengombang-ambingkan perasaanku.”
Melissa terbang menyentuh awan. Dia sampai berguling-guling saking senangnya mendengar jawaban Reza.
“Besok kita ketemu,” pungkas Reza pada akhirnya.
[Di mana?]
“Di kehidupan baru, di mana cuma ada aku dan kamu, cuma kita.”
Ah, lagi-lagi Melissa melayang, kenapa kalau dalam keadaan melow seperti sekarang, Reza tampak manis dan romantis. Apa harus Melissa buat pria itu terus melow, agar kalimat indah terus terucap, sehingga tercipta sebuah lagu yang akan menemani tidurnya setiap malam?
[Za?]
“Iya, Mel?”
[Jika apa yang kamu rasakan ini benar, buktikan sama Papi kalau kamu layak. Jika salah, maka aku tidak akan mengharapkan apa-apa dan untuk mendapatkan adopsi Biru aku akan menikah dengan kakaknya Endyta.]
Paham, Reza paham sekali dengan kalimat Melissa, itu artinya Melissa memang pernah mengharapkannya, untuk kali ini dia tidak akan melewatkan Melissa hanya karena dia tak mampu untuk bicara, bahwa dia inginkan Melissa ada di hidupnya. Seperti lirik lagu yang sempat menyindirnya beberapa waktu lalu.