Sejak bertemu di bandara dan saat di pesawat, Reza tak banyak bicara, dia benar-benar bersikap kaku, namun, Melissa tak begitu ambil pusing. Setidaknya dia terbebas dari barang bawaannya karena ajudan itu bekerja sesuai dengan perintah, meski terasa sunyi dan senyap, lantaran mereka tampak bingung untuk memulai pembicaraan.
Kini mereka baru saja turun dari pesawat dan mencari sosok Pak Imran yang sudah siap untuk menjemput kedatangan mereka. Melissa berjalan lebih dulu, sementara Reza dibelakangnya menyeret dua koper.
Melissa berjalan sembari memainkan ponsel, dia tidak memperhatikan berapa banyak orang yang berlalu lalang di selasar tersebut. Reza segera menarik Melissa ke pinggir saat dia melihat dua orang tampak sedang berlari di seberang Melissa.
Wanita itu tampak tercenung menatap Reza yang tak bicara sama sekali. Dia kemudian mengedarkan pandangan, sedetik kemudian kata terima kasih keluar dari mulut meronanya dan Reza hanya mengangguk.
Tiba-tiba seorang pria paruh baya berjalan mendekat ke arah mereka. “Dokter Melissa?”
Melissa segera menoleh saat ada orang yang memanggil namanya.
“Saya Imran, utusan Pak Camat, saya bertugas untuk mengantar Bu Dokter sampai ke tempat tujuan.”
Melissa tampak menghela napas. “Alhamdulillah, makasih, Pak,” Melissa kemudian menganjurkan tangan, “akhirnya datang juga.”
Pak Imran tersenyum menyambut uluran tangan Melissa.
“Oh, iya Pak Imran,” Melissa menoleh, “dia suami saya, maaf karena alat pendengarannya tertinggal di rumah.” Dia tersenyum miring seraya berbalik dan membelalakkan mata pada Reza, jelas sekali kalau dia tengah mengejek pria itu.
Reza mendengkus, dia mendengar dengan jelas apa yang baru saja dikatakan Melissa, namun, dia tidak peduli jika pada akhirnya dia disebut tuuli. Reza mengulurkan tangan dan berjabatan dengan pak Imran yang baru saja mendekat padanya. “Imran.”
“Reza.”
“Percuma, Pak, dia nggak dengar,” bisik Melissa sembari memiringkan kepala pada Pak Imran.
Imran tampak salah tingkah, dia sebenarnya tidak ingin percaya dengan apa yang dikatakan Melissa, agak sedikit mustahil jika Dokter secantik Melissa mau menikahi pria tuna rungu seperti Reza. “Silakan, Bu.” Pak Imran mengayun tangan ke depan untuk mengizinkan Melisa berjalan lebih dulu. “Sini, Pak, biar saya bantu.” Pak Imran mengambil alih koper dari tangan Reza.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Pak Imran menoleh, kemudian bertanya, “Apa tidak sebaiknya Bu Dokter sama suami makan dulu?”
Melissa menoleh pada Reza. “Bapak lapar?” pertanyaan Melissa langsung mendapat gelengan kepala dari Reza.
“Tidak, Pak, lagi pula kita masih punya stok roti, s**u dan air mineral untuk di jalan.” Melissa tidak ikut mengabsen cemilan-cemilan lainnya.
Pak Imran mengangguk, dia kemudian berbalik dan memutar roda kemudinya. Mobil melesat meninggalkan kawasan Bandara. Dalam perjalanan, Melissa sibuk dengan kameranya dan mengambil beberapa gambar yang menarik hatinya.
Sementara Reza memilih terpejam. Melissa bahkan heran karena pria itu tampak tidak menikmati perjalanannya, kenapa tak tolak saja keinginan ayahnya itu jika memang dia terpaksa. Melissa tampak menggerutu sembari mengarahkan kamera digitalnya pada Reza.
Reza tersenyum tipis, dia tahu kalau Melissa tengah memotretnya karena dia tak benar-benar tidur. Melissa tercenung usai mengambil gambar, dia tak salah lihat kalau Reza tersenyum saat dia mengambil gambar barusan.
Melissa tampak salah tingkah dan segera menyandarkan punggungnya ke sandaran jok. Melissa menghela napas. Kenapa dia bisa ceroboh?
Kini keduanya sudah terlelap dan hanya menyisakan Pak Imran, hingga kemudian cahaya senja sudah menjemput mereka. “Bu, Pak, kita sampai di rumah Pak Camat,” ucap Pak Imran.
Reza mengerjap dan segera menegakkan tubuhnya. “Kita di mana, Pak?” tanya Reza.
“Di rumah Pak Camat, Bapak dan Bu Dokter bisa istirahat di sini dulu, baru besok saya antar ke desa tempat Bu Dokter bertugas.”
“Oh, sebentar saya bangunkan Mb--” hampir saja Reza keceplosan memanggil Melissa dengan sebutan Mbak.
Pak Imran sampai mengerutkan kening, bukankah tadi Melissa katakan kalau suaminya itu tuna rungu, tapi kenapa Pak Imran merasa kalau pendengaran Reza baik-baik saja.
“Kalau begitu saya turun duluan, Pak. Saya mau menurunkan barang-barang bapak sama ibu,” ucap Pak Imran seraya membuka pintu mobil.
“Iya, terima kasih, Pak Imran,” sahut Reza.
Benar dugaan Pak Imran, telinga suami dokter itu tampak baik-baik saja. Pak Imran mengangguk dan turun dari mobil. Sementara itu Reza tampak kebingungan membangunkan Melissa, apa sebutan yang pantas untuk dirinya sebagai pengawal dan Melissa sebagai tuan Putri yang harus dia jaga, selain, “Bu, kita sudah sudah sampai.”
Seketika Melissa mengerjap. Dia kemudian mengedarkan pandangan. “Pak Imran mana?”
Reza menarik napas dan berkata, “Di luar, kata Pak Imran, kita menginap di sini dulu satu malam, baru setelah itu besok pagi kita akan di antar ke desa tempat Mbak Lisa tugas.”
“What?” Melissa mengernyit. Pria di depannya ini tidak konsisten memanggil namanya, entah terkadang dia mendengar Reza memanggilnya, Mbak, lalu tadi, kalau dia tidak salah dengar Reza memanggilnya, Bu, dan sekarang, Mbak Lisa? Oh my God!
Demi apa Melissa tidak suka. Dia segera membuka pintu dan turun dari mobil. Seorang pria dan wanita sudah menyambut kedatangan mereka. “Assalamualaikum, Bu Dokter, saya Aria Lubis dan ini Miranka istri saya.”
Melissa tersenyum menyambut uluran tangan Pak Aria yang masih tampak muda sebagai kepala camat. “Melissa.” Tak berapa lama Reza turun dari mobil, membawakan tas dan juga bantal kecil milik Melissa karena sepertinya wanita itu telah melupakan barang bawaannya selain kamera yang setia menggantung di leher.
“Itu suami saya, Reza.” Melissa mendekat pada Pak Aria dan Marinka, kemudian dia berbisik, “Suami saya posesif, makanya dia maksa buat ikut ke sini.”
Pak Aria tersenyum menanggapi perkataan Melissa. Reza menatap wanita yang tampak sedang membicarakannya itu. Kemudian dia menatap pada Pak Aria dan istrinya. “Reza.”
“Aria Lubis, ini istri saya, Marinka.”
Reza mangguk dan menjabat tangan Pak Aria bergantian dengan istrinya yang terlihat masih sangat muda dan cantik.
“Mari masuk,” ajak Pak Aria pada Melissa dan Reza.
Melissa menoleh pada Reza dan mengambil alih bantal dan juga tasnya yang kini tengah menyampir di bahu pria itu.
Pak Imran tampak kesulitan menyeret dua koper, Reza segera berbalik dan membantu pria paruh baya itu. “Pak, Pak Aria usianya berapa?” tanya Reza pada Pak Imran.
“Baru empat puluh tujuh tahun, Pak, anaknya tiga yang besar itu SMP, tapi sekolah di asrama, itu istri muda Pak Imran, usianya baru--” Pak Imran mendekat dan berbisik, “Delapan belas tahun.”
Reza tergemap. Dia kemudian menenggak liurnya. “Istri tuanya?”
“Ada, rumahnya di sebelah.” Pak Imran kemudian melirik ke rumah sebelah bergaya eropa. “Di sana,” imbuhnya seraya mengedikkan dagu.
Pak Imran mengangguk. Dia kemudian berjalan ke dalam dan Reza mengikutinya.
“Silakan duduk,” pinta Pak Aria.
Reza mendaratkan bok*ng dan duduk di sebelah Melissa. Tiba-tiba dia terkesiap saat Melissa meletakkan tangan di atas paha Reza.
Pak Aria memperhatikan, dia kemudian tersenyum. “Bu Dokter, desa yang akan di tempuh dari sini cukup jauh, medannya cukup berat, Bu Dokter tidak sedang hamil, ‘kan?”
Melissa terkejut, hingga tak sadar tangannya segera menjauh dari paha Reza dan menegakkan tubuhnya. “Tidak, Pak, kebetulan kami program.”
“Oh iya, bagus, omong-omong Bu Dokter sudah berapa lama menikah?”
Melissa menarik napas dan berujar, “Satu--”
“Bulan,” sambung Reza cepat.
Melissa menoleh dan menatap pria itu, kedua matanya menusuk tajam. Padahal dia hendak mengatakan satu tahun, kenapa Reza malah berkata satu bulan?
“Oh, pengantin baru, duh--” Pak Aria mengusap tengkuk lehernya. “Maaf, saya tidak menyediakan fasilitas untuk bulan madu.”
Melissa menghela napas. Sedangkan Reza tersenyum lebar. Kedua mata Melissa membola menatap Reza, dia baru melihat senyum pria itu dan terlihat cukup manis, tapi Melissa segera meleratnya dengan kata cukup menyebalkan.
“Nggak usah ngerepotin, Pak, ini memang di luar ekspektasi,” kata Melissa.
Pak Aria Lubis mengangguk. “Pantas tadi Dokter Melissa bilang kalau suaminya itu posesif, ya wajar orang baru menikah satu bulan, pasti nggak mau ditinggal jauh,” goda Pak Aria.
Kali ini Reza yang menatap Melissa dengan tajam, sudah tadi dia dikatai tuli, sekarang dibilang posesif, Reza tidak mengerti apa maunya putri Jenderal ini.
Melissa membuang muka dari Reza. Dia kemudian menggaruk kepala. Tak berapa lama istri kedua Pak Aria datang dan meletakkan dua gelas teh hangat beserta biskuit dan buah mangga yang sudah dikupas dan dipotong-potong.
Buah mangga ranum itu telah menerbitkan liur di rongga mulut Melissa. “Silakan dicicipi”,” ucap Pak Aria. “Ini buah mangga baru sejam yang lalu dipetik, masih segar.”
“Waw,” komentar Melissa.
“Iya, silakan-silakan.” Pak Aria mengayunkan tangan. “Pak Reza ayo.”
“Iya, makasih, Pak.” Reza mengambil garpu, lalu menusuk potongan buah mangga tersebut. Benar manis dan segar. Melissa menggoyangkan kepala sambil menunjuk piring buah mangga itu. “Ini benar-benar manis, Pak.”
Reza memutar mata, wanita di sebelahnya ini memang berlebihan, di Jakarta mereka juga bisa mendapat pisang semanis ini.
Marinka tersenyum sembari menatap Reza. “Oh iya.” Pak Aria menepuk lutut istrinya. “Bu Dokter itu akan bertugas di desa istri saya. Jadi, nanti Marinka sendiri yang akan menemani Dokter untuk praktek di sana dan ibunya, ya, ibu mertua saya akan membantu untuk menyediakan kebutuhan Bu Melissa dan Pak Reza selama di sana.”
Melissa tersenyum pada Marinka. Namun, sedari tadi Marinka malah curi-curi pandag pada Reza.
“Jadi, mungkin saya akan berjauhan dengan istri saya, mungkin sesekali mengunjunginya di sana,” tutur Pak Aria.
“Oh begitu.” Melissa kembali mengulas senyum “Bapak udah berapa lama menikah?” tanya Melissa pada akhirnya.
“Baru seminggu yang lalu.”
“Oww, tak kalah baru dari saya ya, Pak?” goda Melissa. Sementara jantung Reza terasa mencelus, menjadikan anak yang baru lulus SMA sebagai istri kedua, adalah hal yang tidak wajar, namun, mungkin ada banyak pertimbangan di sana.