“Saya dengar dari Pak Imran, kalau Marinka itu istri keduanya pak Aria, umurnya baru 18 belas tahun dan Pak Aria 47 tahun,” tutur Reza lengkap seperti sedang menyensus warganya.
“Apa?” pekik Melissa, mereka memang sedang dalam kamar, tapi tak seharusnya Melissa berteriak seperti itu.Sedari tadi Reza bicara dengan pelan dan terkesan seperti berbisik-bisik, tapi Melissa malah memekik. Mungkin itulah reaksi alami para perempuan saat mendengar kata istri kedua.
“Amit-amit,” ucap Melissa sembari mengedikkan bahu. Beberapa detik kemudian Melissa tampak mengacak rambutnya sendiri di depan cermin dengan pelan dan seperti gerakan memutar. Reza tidak mengerti apa yang tengah dilakukan Melissa.
Reza segera merapikan tempat tidur. “Tidurlah, Bu, jangan banyak pikiran, nanti ibu sakit,” godanya.
“Apa?” Kaki Melissa mengentak dengan kuat. “Jangan panggil saya ibu,” ucapnya seraya berbalik, “Mbak, atau ….” Melissa mendekat, “Lisa, aku nggak suka!”
“Oke.” Reza segera bergeser, “Silakan tidur Princess.” Dia sedikit membungkuk dan menepuk-nepuk bantal.
Melissa mendengkus dan segera menjatuhkan tubuhnya di kasur tanpa adanya ranjang. Dia tahu kalau Reza tidak akan ikut tidur di atas kasur, pria itu tahu tugasnya di sini apa.
Seseorang mengetuk pintu dan Reza segera berjalan ke dekat pintu, lalu membukanya. “Iya, bu Marinka?”
Marinka tersenyum menatap Reza cukup lama, hingga suara batuk terdengar dari dalam kamar dan Reza segera berbalik, lalu berlari ke dekat Melissa dan menganjurkan segelas air pada wanita itu yang sekarang duduk sembari terus terbatuk.
Marinka terkesima menatap ini.
“Aku cuma batuk,” ucap Melissa sembari mengambil gelas dari tangan Reza dan menenggaknya hingga habis.
“Aku akan tetap mastiin kalau kamu baik-baik aja,” tutur Reza.
Melissa tersenyum kecut, dia kemudian menoleh ke pintu. “Eh ada Bu Marinka,” ucapnya seraya bangkit dan memberikan gelas kosong itu pada Reza. “Ada apa, ya, Bu?” tanya Melissa seraya bangkit dan berjalan ke dekat pintu.
“Maaf mengganggu istirahatnya. Saya mau memberikan ini, selimut sama bantal, tadi saya lupa meletakkannya di sana.”
“Oh iya, terima kasih, padahal suami saya nggak pakai bantal juga nggak apa-apa, dia biasa kok tidur sambil berdiri,” ucap Melissa sembari menoleh pada Reza dan memberikan bantal itu pada Reza dengan kasar, seperti setengah mendorong pria itu.
Marinka tersenyum menatap Reza dan Reza membalas senyuman ramah Marinka seraya mengangguk, sedangkan kedua alis Melissa mengernyit menatap Reza, kemudian menoleh pada Marinka. “Terima kasih ya, Bu,” kata Melissa cepat sembari menarik gagang pintu.
“Iya, sama-sama, saya tinggal, mari,” ucap Marinka ramah, sedetik kemudian dia berlalu dan Melissa segera menutup pintu.
Reza meletakkan bantal di atas karpet. Dia heran, kenapa tamu bisa lebih judes dari pemilik rumah?
Mungkin Melissa memang seperti itu, sudah terlihat sejak pertemuan pertama mereka. Tak ingin berpikir yang macam-macam, Reza segera merebahkan tubuh lelahnya di sana, sementara Melissa naik dan tidur di atas kasur. Kenapa Melissa merasa ada yang aneh dengan tatapan Marinka pada Reza.
***
Melissa terus mengarahkan kamera ke luar jendela, tampak ladang hijau di setiap pinggiran jalan masih sangat asri, bersih dan nyaman. Di jok depan Marinka duduk di sebelah Pak Imran yang sedang mengemudi dan Reza tampak sibuk membaca buku, lagi-lagi Melissa mencuri gambar Reza yang sedang asyik dengan bukunya.
“Biar papi tahu, gimana cara kamu menjaga saya,” gumam Melissa usai membidik gambar dan menatap Reza yang ada di dalam kameranya.
Reza menoleh dan menatap Melissa. Namun, tak berkomentar sama sekali, hingga wanita itu tampak salah tingkah kala mendapat tatapan dari Reza, maka Melissa pun segera berbalik dan kembali menatap ke luar jendela, Reza pun kembali membaca bukunya.
Sesekali Marinka mengintip di balik cermin yang langsung mengarah ke jok belakang. Reza hanya terlihat sedikit, tapi Melissa malah menguasai penglihatannya. Namun, tak seperti pasangan pengantin baru, Reza tampak dingin pada Melissa, begitupun dengan Melissa yang tampak judes pada Reza.
Melissa menggeliat. “Ini masih lama nggak sih?” tanyanya.
Reza menoleh dan menatap wanita itu, sepertinya semua masih aman dan tampak baik-baik saja, Melissa tak seperti ingin muntah atau buang air kecil.
“Lumayan, Bu Dokter,” jawab Marinka.
“Lumayan itu jauh apa dekat?” tegas Melissa. Dia tidak suka jawaban menggantung seperti itu.
“Bisa jauh, bisa juga dekat,” sahut Reza tanpa menoleh dan masih sibuk menatap buku. Sedetik setelah dia menyampaikan kalimatnya, dia menoleh dan menatap Melissa. “Kamu mau apa? Tidur, makan, atau buang air kecil?”
Melissa malah melayangkan tatapan tidak suka pada Reza. Andai dia bisa berteriak, dia cuma ingin satu, yaitu Reza enyah dari hadapannya dan membiarkan dia bertugas di sini sendiri. Dia kemudian membuang muka tanpa menjawab pertanyaan Reza.
Dua jam perjalanan dengan jalan licin dan tanah merah berbatu membuat seluruh badan Melissa terasa sakit. Dia mending terjebak macet ibu kota dari pada harus menikmati jalan curam dengan pria menyebalkan seperti Reza, harusnya pria itu berakting membangun kemistri di antara mereka, bukan diam seperti sekarang hingga menimbulkan curiga di hati Marinka dan Pak Imran, mungkin begitu atau itu hanya dugaan Melissa saja.
Mobil berhenti di depan sebuah dermaga. “Mohon maaf, saya hanya bisa mengantar sampai sini,” ucap Pak Imran seraya membuka sabuk pengaman dan menoleh.
“Maksudnya gimana, Pak?” tanya Melissa dengan kening yang mengerut.
“Kita akan naik perahu kayu untuk bisa menyebrang ke desa, jangan khawatir Bu Dokter, ini pasti akan sangat menyenangkan,” ucap Marinka pada Melissa, namun sesekali mata Marinka melirik Reza yang sedang merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas.
Melissa menarik napas dalam dan membuang sialnya jauh-jauh, kenapa dia harus terlibat dua orang aneh seperti Marinka dan Reza. Melissa pun segera ke luar dari dalam mobil yang sialnya di luar lebih panas dari dia berada di dalam mobil tersebut.
“Pak kenapa di sini panas banget, padahal sepanjang jalan di sini masih banyak hutan?” Itulah pertanyaan yang sejak tadi membuat Melissa merasa penasaran.
“Karena di sini punya cadangan matahari,” sahut Reza yang kini sudah berada di luar.
“Ih, aku nggak nanya sama kamu,” dengkus Melissa.
Marinka tersenyum. “Itu karena pulau ini berada di bawah garis khatulistiwa, Bu.”
Sebenarnya Melissa juga tahu itu, tapi adakah jawaban lain yang membuatnya tidak merasa seperti sedang dipermalukan. Ini semua gara-gara Reza, seharusnya dia tidak ikut-ikutan menjawab.
“Di sini hutan sudah mulai berkurang,” jawab Pak Imran sembari membuka bagasi. “Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memberikan izin besar-besaran kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk menggarap lahan milik masyarakat di sini.”
Kali ini Melissa mendapat jawaban yang cukup memuaskan dan tidak membuatnya merasa dipermalukan.
Pak Imran dan Reza menaikan dua koper ke atas perahu kayu. Setelah itu dia mengulurkan tangan dan hendak membantu Melissa untuk naik ke atas perahu. Namun, wanita itu mengabaikan Reza dan melewatinya begitu saja, hingga tangan Reza mengambang di udara, dia malah tercenung saat Marinka meraih tangannya dan kemudian naik ke atas perahu. “Terima kasih,” ucap Marinka.
Reza hanya mengangguk, dia kemudian duduk di belakang Marinka, sementara Melissa ada di paling depan. Marinka menoleh sembari mengulas. “Sepertinya Bu Dokter sama suami sedang ada masalah.”
Reza tersenyum. “Dia memang cemburuan,” ucap Reza agak keras sehingga Melissa dapat mendengarnya dengan jelas.
Melissa segera tertunduk. Dia menekan giginya kuat-kuat. “Najiss!” gumam pelan, nyaris tak ada yang mendengarnya sama sekali.
Monyet-monyet menggelantung di pohon, ada yang meloncat dari dahan satu ke dahan lain. Melissa segera menyalakan kamera dan mengambil gambar, setelah itu memasukkan tangan ke dalam air yang di lewati perahu, hal itu sudah dilakukan Reza sejak tadi, rasanya sejuk sekali di tengah teriknya matahari. Waktu memang baru menunjukkan pukul sepuluh dan matahari di sini panas seperti sudah pukul satu siang.
Akhirnya perahu berhenti di tempat tujuan. Reza meloncat lebih dulu, kemudian dia mengulurkan tangan untuk membantu Marinka, setelah itu giliran Melissa yang hanya mematung memandangi tangan Reza.
“Kalau perahunya goyang terus kamu jatuh, jangan nyalahin saya, mungkin sakitnya sih nggak seberapa, tapi malunya bisa seumur hidup,” ucap Reza dengan tangan yang masih tertahan di udara. “Jangan marah terus dong, aku di sini buat kamu,” perkataan Reza terkesan seperti godaan di telinga Melissa, padahal Reza hanya ingin mencairkan kebekuan, dia juga tidak ingin Marinka curiga. Melissa segera meraih tangan Reza dan menggenggamnya kuat, hingga sebagian kuku menancap di tangan Reza, seharusnya pria itu meringis, namun, sepertinya Reza masih bisa menahannya. Melissa segera turun dari perahu dan menginjak kaki Reza.
Kali ini Reza meringis, tapi kemudian dia segera menegakkan tubuh.
“Bu Dokter ya?” tanya seorang pria.
“Iya.” Melissa tersenyum.
“Saya Ampong, saya utusan pak kepala Desa.” Pria itu mengulurkan tangan dan langsung mendapat jabatan tangan dari Melissa, kemudian pada Reza dan Marinka.
“Ini Reza, suami saya.” Sedari tadi Melissa mengumandangkan kalau Reza adalah suaminya. Dia seperti sedang membuat pengumuman, padahal sedari tadi dia menahan muntah dengan kalimat tersebut.
Ampong mengangguk. “Oh. Sini, Pak, biar saya bawakan kopernya satu,” ucap Ampong pada Reza.
“Yang ini saja, Pak, punya Melissa berat,” ucap Reza sembari memberikan kopernya dan menahan koper Melissa. Dia tidak tega karena melihat tubuh Ampong yang kurus, menurutnya tidak pantas jika membawa koper besar punya Melissa yang isinya entah apa karena sangat berat berat sekali, malah dua kali lipat dari miliknya.
“Ah iya.” Ampong mengambil alih satu koper itu, lalu memanggulnya.
Mereka kemudian berjalan beriringan, tanah coklat terang dengan debu beterbangan membuat Melissa harus segera menutup hidungnya dengan masker karena dia alergi pada debu, atau kalau tidak dia akan bersin dan terbatuk.
Melissa menurunkan masker setiap ada warga yang menyapa mereka. Sambutan para warga begitu ramah padanya, dia senang karena merasa diakui.
Kini mereka sampai di depan sebuah rumah kayu. “Ini rumah Pak Rumbun selaku kepala desa di sini,” ucap Ampong sembari menurunkan koper, Reza pun melakukan hal yang sama dan meletakkannya di sebelah koper yang baru saja di letakan Ampong.
“Siang, Pak,” sapa Melissa. Dia mengulurkan tangan dan berjabatan dengan pria yang usianya diperkirakan sudah menginjak 60 tahun. “Saya Melissa dan ini suami saya, Reza.” Melissa seolah tak merasa terbebani saat mengenalkan Reza sebagai suami gadungannya.
“Reza,” ucap Reza menyambut ramah uluran tangan itu.
“Mari masuk,” pinta Pak Rumbun. “Nanti sehabis dari sini saya tunjukkan rumah untuk kalian tinggal dan untuk ke klinik biar diantar sama Marinka.”
Melissa dan Reza naik tiga undakan tangga, rumah memang dibuat agak tinggi dengan papan-papan sebagai lantai, kini mereka sudah duduk di atas tikar sementara Marinka tetap berdiri. “Pak, saya mau ke rumah ibu dulu, nanti saya temui mereka di rumah yang akan mereka tempati.”
“Iya-iya.”
“Mari, Pak.” Marinka kemudian berlalu menuju rumah ibunya. Sementara Reza dan Melissa masih di sana disambut hangat oleh Pak Rumbun dan keluarganya.
“Selamat datang di desa kami, Bu, Pak. Mohon kerjasamanya, jika ada apa-apa, silakan mengadu pada saya,” ucap Pak Rumbun.
Melissa mengangguk. “Baik, Pak, terima kasih, jika kami melakukan salah, tolong diingatkan.”
“Tentu-tentu.” Pak Rumbun diam sejenak saat melihat istrinya meletakkan dua gelas air untuk menyambut tamunya, kemudian sang istri ikut duduk bersama mereka di atas tikar. “Di sini tidak ada fasilitas kesehatan, warga di sini mengandalkan obat tradisional.”
Melissa mengangguk paham. “Mungkin untuk sosialisasi, kami akan berkeliling ke rumah warga--”
“Tidak-tidak.” Pak Rumbun menginterupsi. “Nanti saya akan mengumpulkan warga di balai desa dan Bu Melissa bisa melakukan sosialisasi kesehatan.”
Melissa menghela napas. “Oh, baik, Pak sekali lagi terima kasih.”