Suami Gadungan

2337 Words
Melissa mengedarkan pandangan ke rumah kayu yang akan dia dan Reza tempati. “Kamarnya cuma satu,” bisik Melissa.  “Saya bisa tidur di ruang tengah,” bisik Reza seraya lewat ke depan Melissa dan masuk ke dalam kamar kemudian meletakkan dua koper dan satu ransel di kamar.  “Bagaimana, Bu?” tanya Pak Rumbun. “Maaf seadanya.” Melissa mengangguk. “Sudah cukup, Pak, terima kasih.” “Untuk makanan jangan khawatir nanti ibunya Marinka akan masakan hasil bumi di sini.” Melissa tersenyum lebar. Dia kemudian mengangguk. Beberapa menit kemudian Reza ke luar dari kamar. “Kamar mandinya di mana, Pak?” tanya Reza sembari mengedarkan pandangan.  “Di belakang, Pak. Rumah ini kecil, hanya ada kamar tidur, ruang tengah, dapur dan kamar mandi,” tutur Pak Rumbun.   Reza mengangguk seraya tersenyum kikuk. Dia kemudian berlalu. Melissa sampai heran dibuatnya, seharusnya Reza tak usah bertanya, lagi pula dia tidak akan nyasar ke rumah orang. “Maaf, Pak, suami saya jarang bicara sekalinya bicara ya seperti tadi, aneh.” Pak Rumbun tertawa. “Kalau begitu saya tinggal ya, Bu. Nanti sore biar Marinka yang bawa Bu Melissa sama Pak Reza ke klinik.” “Ya, Pak, silakan.” Tak berapa lama Reza kembali dari kamar kecil. Pria itu kemudian masuk ke kamar untuk mengambil handuk. Melissa sampai mengerutkan kening dibuatnya, sepertinya Reza harus diingatkan lagi soal batasan, dia tak bisa seenaknya ke luar masuk kamarnya begitu saja. “Maaf, aku mau ambil peralatan mandi,” ucapnya sembari mengacungkan handuk dan peralatan mandi lainnya, dia kemudian berlalu dari kamar Melissa dan kembali ke kamar mandi.  Melissa kemudian bangkit dari tempat tidur, dia menyeret koper dan ransel Reza ke ruang tengah, lalu dia kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur. Tak butuh sampai tiga puluh menit Reza kembali dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk dengan kondisi rambut yang basah. Tiba-tiba dia tercenung melihat barang-barangnya yang sudah di luar kamar.  Reza menghela napas, tak bisakah Melissa bersikap sopan padanya, setidaknya wanita itu mengizinkannya untuk berganti di dalam kamar dan Melissa yang ke luar. Namun, Reza tak ingin ribut, lagi pula yang mempunyai peran di sini adalah Melissa, dia hanya ajudan yang bertugas untuk menjaga wanita itu.  Reza pun segera membungkuk dan mengambil beberapa pakaiannya lalu kembali ke kamar mandi dan mengenakannya di sana. Tak berapa lama, seseorang datang dan mengetuk pintu, Melissa bangkit dari tidurnya dan segera ke luar kamar, lalu dia berjalan ke dekat pintu.  “Selamat siang, Bu Dokter.” “Siang.” Melissa tersenyum ramah.  “Saya, Ubud, rumah saya di seberang sana.” Gadis 17 tahun itu menunjuk rumah yang cukup jauh dari rumah yang ditempati Melissa. “Saya bawakan makanan untuk makan siang bu Dokter.” “Wah, terima kasih, Ubud,” ucap Melissa sembari mengambil apa yang dibawakan gadis itu. Reza kembali dari kamar mandi, kali ini dengan pakaian lengkap. Kaos oblong abu misty dan celana cargo hitam, pendek. Gadis yang tengah mengobrol dengan Melissa tersenyum padanya yang sedang mengeringkan kepala dengan handuk sembari berdiri jauh di belakang Melissa.  Melissa segera mengikuti arah pandang Ubud, dia mendengkus saat tahu kalau Ubud tersenyum pada Reza. “Kalau begitu, saya permisi, Bu Dokter,” kata Ubud.  “Iya, sekali lagi, makasih ya.” Ubud mengangguk, dia kembali tersenyum pada Reza, meski kali ini agak tipis karena dia menyadari kalau Melissa sedang memperhatikannya.  “Assalamualaikum,” ucap Ubud pada Melissa.  “Waalaikumsalam.” Melissa kemudian duduk di atas tikar. Dia menengok pada Reza yang kini berdiri di depan jendela. “Jangan cari perhatian, kayaknya usia gadis tadi nggak jauh dari Marinka,” ucap Melissa sembari membuka dua susun rantang plastik yang berisi nasi putih dan lauknya berupa daging ayam kampung yang digoreng kering.  Reza mendekat tanpa berkomentar, dia kemudian duduk di depan Melissa dan menatapnya.  “Makan,” kata Melissa, dia kemudian membagi nasi itu menjadi dua bagian kebetulan piring sudah tersedia di sana, warga di sini memang sudah menyiapkan rumah itu untuk Melissa tinggali, namun, mereka tidak tahu kalau Melissa datang dengan suami. Reza tak banyak bicara, dia makan apa yang diberi Melissa. Tak banyak meminta kurangkah atau kelebihankah, yang jelas saat ini dia benar-benar menikmati.  Melissa sesekali melirik pria itu dengan ujung matanya. Diam, Reza benar-benar diam dan sibuk mengunyah, bahkan sindiran tadi soal jangan cari perhatian, sama sekali tak dihiraukan pria itu. Hingga makanan tandas tak bersisa Reza tetap diam tak bersuara. Melissa tak biasa sesunyi itu.  “Kapan Papi minta kamu buat jagain aku di sini?” tanya Melissa pada akhirnya.  “Seminggu yang lalu, dia meminta Bima, tapi tidak bisa, akhirnya dia memintaku.” “Terus kenapa mau?” “Aku nggak tahu kalau tugasku di sini jagain orang.” “Orang itu punya nama,” dengkus Melissa.  “Iya ….” “Kamu terpaksa?” “Awalnya iya. Menjaga perempuan itu akan merepotkan, apalagi kalau dia manja.” Melissa mendelik. “Jadi, kamu nggak suka ada di sini?” Melissa terus menginterogasi. “Kenapa nggak bilang dari awal? Kalau kaya gitu, ‘kan aku bisa yakinin papi, aku juga bisa di sini sendiri.” “Saya tahu, saya yakin dan percaya kalau Bu Melissa bisa jaga diri, tapi sayangnya Pak Pram nggak percaya dan lebih percaya saya untuk berjaga di sini.” Melissa berdecak. “Kamu butuh uang?”  “Uang saya banyak,” ucap Reza tanpa ekspresi.  Melissa mencebik. Ingin dia teriaki betapa sombong pria di depannya ini, kenapa Pram tak kirim Bima saja, dia sudah mengenal Bima dari kecil, kenapa harus Reza? “Terus kenapa mau aja? Papi nyogok kamu berapa untuk berada di sini?” desaknya. Kalau Reza katakan dia menerima perintah Pram karena dia merasa bosan hidup di Jakarta dengan kedua orang tua egois yang terus-menerus memintanya untuk meyakinkan Tania agar mau menjalankan amanat itu. Itulah sebabnya dia katakan keputusan Tania menentukan hidupnya. Lalu apa tanggapan Melissa soal ini? Dia rasa wanita di depannya tidak perlu tahu apa alasannya mau berjaga di sini dua puluh empat jam.  “Kenapa diam?” “Tidak ada yang perlu dijelaskan.” Reza kemudian bangkit untuk mencuci tangan.  Melissa mendengkus. Dia rasa Reza terlalu menutup diri.  *** Rambut hitam panjang dan bergelombang itu kini dikuncir kuda. Pemiliknya mengenakan blouse merah longgar. Dapat Reza tebak kalau Melissa menyukai warna merah mencolok seperti darah. Reza memang berada di belakangnya sementara Melissa berjalan di depan bersama Marinka. “Kamu masih muda,” ucap Melissa. “Tapi sudah menikah.” Marinka hanya tersenyum sembari mengangguk. Dia kemudian menoleh pada Reza yang tampak sedang mengedarkan pandangan sembari sesekali tersenyum menyapa warga. “Suami bu Dokter kerja apa?” tanya Marinka sembari menatap Melissa.  “Oh dia, bisnis keluarga.” “Terus setahun di sini, nanti bisnisnya gimana?” “Nggak gimana-gimana,” ucap Melissa sembari mengarahkan kamera pada seorang ibu tua yang sedang memberi makan ayam dan induknya. Melissa kemudian tersenyum melihat hasil gambarnya.  “Oh iya, ini masih jauh, nggak?” tanya Melissa sembari menoleh pada Marinka.  “Lumayan, di depan belok kiri.” Melissa mengangguk. Dia kemudian menoleh pada Reza yang masih berjalan di belakangnya, tak enak hati membiarkan Reza seperti itu, nanti apa kata orang tentang dirinya yang terus menerus mengabaikan suami sendiri. Ini memang gara-gara Pram Gunadi, semua urusannya jadi repot.  Melissa segera menarik tangan Reza, agar pria itu berjalan di sebelahnya. “Bersikaplah selayaknya suami,” ucap Melissa sembari pura-pura merapikan baju Reza.  Reza tersenyum, dia dan Melissa memang belum membicarakan apa dan bagaimana mereka berakting di depan warga, selain karena Reza yang terlalu membatasi diri dan Melissa yang tampak judes, sejauh ini mereka belum sama-sama saling mengenal. Melissa mendekat ke telinga Reza. “Tapi cuma saat kita berada di luar, tidak di rumah,” tambahnya. Reza mengangguk. Lagi-lagi dia tidak berkata apapun. Sungguh dia bingung cara menghadapi Melissa, tapi, meski agak ragu, namun, perlahan Reza menyentuh ujung jari Melissa. Melissa segera tertunduk dan menatap jari-jemarinya yang tengah disentuh Reza, lalu sedetik kemudian dia merasakan kalau Reza baru saja menautkan jemari ke jari-jari lentiknya.  Seketika Melissa merasakan ada gelenyar yang tak biasa dalam dirinya, seperti ada aliran listrik yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Tidak pernah dia merasakan hal ini saat bersama dengan Ibram.  Reza tak menoleh pada Melissa sama sekali, tatapannya lurus ke depan. Entah kenapa jantung Melissa berdebar kencang, bahkan dia merasa kalau pipinya panas, jangan sampai dia jatuh hati pada pengawalnya sendiri.  “Kita sudah berjalan cukup jauh,” ucap Reza, dia kemudian menoleh dan menatap Melissa. Melissa segera memalingkan wajahnya. “Kamu capek?” tanyanya sembari berhenti melangkah.  Melissa mematung, dia segera membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Harusnya tidak seperti ini, baru satu hari di sini perasaannya sudah tumbuh, ini terlalu aneh, dia harus segera menghentikan ini sebelum perasaan itu membesar.  “Kamu haus,” ucap Reza sembari melepaskan tangan dari tangan Melissa dan dia segera membuka ransel lalu memberikan botol minum itu pada Melissa. Melissa tercenung menatapnya, beberapa detik kemudian, tangan Reza menganjurkan air ke depannya dengan botol yang sudah terbuka. “Mel?” panggil Reza.  Melissa mengerjap. “Iya, iya.” Melissa menarik napas dan mengambil botol itu dari tangan Reza. “Makasih.” Melissa kemudian mencari tempat duduk, lalu dia pergi dan duduk di atas batu besar di bawah pohon, kemudian membasahi tenggorokannya dengan air mineral tersebut.  Reza dan Marinka masih berdiri di bawah sinar matahari yang perlahan sudah tidak sepanas waktu siang tadi. Di sini memang siang terasa lebih panjang, padahal itu hanya karena panas yang terasa begitu menyengat.  Melissa bangkit dan kembali pada Reza. “Sudah?” tanya Reza.  Melissa mengangguk sembari mengembalikan botol itu pada Reza. “Makasih.” Sudah dua kali Melissa mengucapkannya.  Mereka kembali berjalan, namun kali ini Melissa tampak menjauh dari Reza. Entahlah kenapa Melissa merasa kalau Reza terlalu berlebihan, atau itu hanya dia yang terlalu bereaksi secara berlebihan dengan perhatian yang pria itu berikan. Marinka berhenti di depan sebuah bangunan. “Ini yang akan menjadi klinik,” ucapnya seraya berbalik. Melissa mengacungkan kameranya. “Kenapa jauh dari tempat kita tinggal?” tanya Melissa seraya membidik gambar. “Tapi ini dekat dengan balai desa, jadi orang bisa dengan mudah mencari tempat ini.” Melissa mengangguk. “Iya, saya ngerti.” Melissa kemudian melepas kamera yang menggantung di lehernya. “Mmm, Marinka bisa tolong fotokan saya sama Reza?” pinta Melissa seraya memberikan kamera itu pada Marinka yang sudah mengangguk sejak pertama kalimat permintaan Melissa terucap.  “Bangunan ini harus terbawa semua. Kamu bisa cari posisi yang pas untuk mengambil gambarnya.” “Iya.” Marinka kemudian mundur, sementara Melissa dan Reza berdiri bersebelahan. Reza yang mengenakan kaos oblong abu misty dengan celana cargo pendek dan tas ransel dalam gendongannyaitu bergaya dengan tangan menjuntai ke bawah, sungguh gaya yang teramat sangat sopan, begitupun dengan Melissa.   Marinka sampai merasa heran, biasanya kalau Pak Aria Lubis bersikap sangat manis dengan merangkul bahunya, tapi tidak dengan Reza yang terkesan sangat malu-malu pada istrinya itu.  “Bagus nggak?” Melissa mendekat. Jantungnya mencelus, dia dan Reza tampak kaku seperti dua mahasiswa yang baru saling mengenal. “Sekali lagi deh ya,” pintanya. Dia kemudian mendekat kembali pada Reza, lalu merangkul lengan pria itu.  Reza tercenung. Dia kemudian menoleh, siapa tahu Melissa hendak berkata sesuatu padanya. Namun tidak, wajah Melissa menghadap lurus ke kamera sembari tersenyum. Marinka sudah mengambil beberapa jepret gambar, sehingga dia juga tak sengaja mengambil gambar Reza yang sedang menatap kepala Melissa.  Melissa segera melepaskan rangkulannya dan berjalan cepat ke arah Marinka. Dia terus menggeser layar kamera digitalnya. Marinka mengambil tiga gambar dengan posisi berbeda, dia tidak tahu kalau Reza terkejut dengan rangkulan di tangannya. Mungkin seharusnya Melissa meminta izin agar tidak mengejutkan pria itu.  “Makasih ya, Marinka.” “Iya, sama-sama, Bu Dokter.” Marinka kemudian maju dan membuka kunci bangunan yang akan dijadikan klinik itu. Marinka berkeliling mengenalkan bangunan itu. Sementara Melissa terus mengikutinya, sedangkan Reza tetap di depan berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang mencurigakan.  “Nyaman,” ucap Melissa yang baru kembali dari dapur. “Bangunan ini lebih mirip seperti rumah dengan tiga kamar satu ruang tamu yang nyambung sama ruang keluarga terus dapur dan kamar mandi di belakang. Ini tidak seperti aula,” tutur Melissa, sebenarnya Melissa menjelaskan ini pada Reza, tapi pria itu tampak tidak mendengarkannya. “Za?”  “Iya?” Reza segera menoleh. “Kenapa?” “Hmmm ….” Melissa menghela napas. “Marinka, jadi besok kita mulai pukul berapa?” “Kata Pak Rumbun, kita mulai adakan sosialisasi pukul delapan pagi, Bu Dokter.” Melissa mengangguk. “Sekarang kita?”  “Gimana kalau Bu Melissa ke rumah saya, ibu lagi masak buat makan malam ini.” “Wah boleh tuh.” Melissa kemudian menoleh pada Reza yang langsung mendapat anggukan dari pria itu. Senyum yang baru saja Reza berikan membuat Melissa salah tingkah. Dia segera tertunduk dan berjalan mengikuti Marinka. Ada apa dengan dirinya? Baru sepuluh hari yang lalu ayahnya mengenalkan Reza dan meminta pria itu untuk berpura-pura jadi suaminya, tidak mungkin, ‘kan, dia langsung jatuh hati? Reza kemudian mengikuti Melissa dari belakang, sebenarnya ini pekerjaan terberat dari Pram Gunadi, selain menjaga anaknya, dia juga harus bersikap manis layaknya suami yang mencintai istrinya. Sungguh Reza benci karena ini tidak mungkin jika tidak melibatkan hati. Reza bukan seorang aktor, dari kemarin dia bersikap dingin karena tidak mengerti  harus bagaimana memperlakukan Melissa, selain dia yang bertugas sebagai seorang pengawal.  Biasanya penyamaran dia hanya berfokus pada satu saja, seperti saat dia menyamar menjadi pengunjung club selama berahari-hari dan saat bertemu dengan Tania, dia merubah rencana dan menyamar menjadi pria hidu*g bel*ang yang menawar Tania dengan harga tinggi, lalu sekarang? Harusnya penyamaran Reza bisa lebih baik dari sebelumnya.  Kini mereka sudah berdiri di depan rumah kayu yang sama dengan rumah lainnya, semua rumah di desa ini memang hampir mirip dan mungkin saja Melissa kesulitan membedakan yang mana rumahnya.   “Masuk yuk, Bu,” ajak Marinka seraya menoleh pada Melissa.  “Iya.” Melissa menarik napas dan mencoba menaiki anak tangga, Reza segera memegang tangan wanita itu agar tidak jatuh. Melissa menoleh, dia tercenung menatap Reza dan tersadar saat Reza membantunya berdiri tegak. Melissa kemudian melangkahkan kaki pelan, meski masih terasa seperti mengawang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD