Reza menyalakan lentera, dia baru tahu kalau di sini belum ada listrik, bagaimana dia mencharger ponsel jika begitu. “Mel, kamu tidur?” tanya Reza seraya menoleh. Namun, Melissa tak ada di belakangnya, dia segera mencari ke kamar. “Mel?” Melissa tak ada di kamar, Reza segera ke dapur, siapa tahu Melissa memang di dapur sedang membuat minum, atau bisa jadi Melissa sedang dikamar mandi.
Reza menghela napas, kenapa Melissa harus pergi tanpa dirinya, bagaimana kalau Pram Gunadi tahu? “Mel?” Reza kembali berkeliling di dalam rumah, dia bahkan kembali membuka gorden kamar, siapa tahu Melissa mengerjainya dan bersembunyi, tapi wanita itu tetap tidak ada.
Reza segera ke luar sembari berteriak memanggil Melissa. Tampak wanita itu tengah menangis di tangga depan rumah. “Mel?” Reza segera duduk di belakang Melissa berjarak satu anak tangga. Melissa tampak sedang menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Kamu kenapa?” tanya Reza pelan.
Perlahan Melissa menjauhkan tangan dari wajahnya.
“Kenapa Mel, ada apa?” Kalau ini adalah kedua kalinya Melissa ke pelosok, harusnya wanita itu tidak akan sesedih ini jauh dari orang tua dan kemewahannya sebagai anak jenderal.
Reza mengusap punggung Melissa. “Aku di sini, buat jagain kamu, Mel, Pak Pram sendiri yang minta, kamu harus tahu kalau Pak Pram sudah memberikan tugas padaku, aku akan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab, jadi kamu harus percaya kalau kamu aman bersamaku.”
Entahlah tiba-tiba kalimat dengan penuh kebanggaan itu keluar dari mulut Reza, seolah itu bisa membuat Melissa tenang. “Kita ngobrol di dalam ya, di sini takutnya ada orang yang curiga,” ucap Reza pelan sembari mengurai pelukannya.
Melissa mengangguk kemudian berdiri bersama Reza, pria itu tampak merangkul bahu dan memegangi tangannya, seolah dia adalah wanita yang tengah hamil tua.
Reza kemudian membiarkan Melissa di depan pintu yang masih terbuka, lalu dia menggelar tikar dan mengajak Melissa untuk duduk. “Sekarang kamu duduk,” ucap Reza sembari memegangi bahunya. “Ada apa?” Dia pun duduk di depannya.
Melissa duduk sembari memeluk lutut dan tertunduk menatap kedua ibu jarinya yang ditelan gelap, dia kemudian menghela napas, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah tersebut. Sebenarnya dulu Melissa tidak bertugas ke pelosok, dulu dia masih bertugas di daerah yang dapat dikatakan masih berada di sekitar kota dan itupun dia satu kamar dengan Endyta, temannya yang sama-sama praktek di sana dan sekarang dia akan tidur sendiri dalam gelap.
“Mel?” Reza membuka cemilan kering dari dalam koper yang memang Melissa beli untuk bisa dinikmati di sini. “Maaf lancang, mungkin ngemil bisa membuat kamu tenang, ini makanan ringan kesukaan kamu semua, ‘kan?”
Melissa tercenung, ternyata Reza bisa banyak bicara juga, dia pikir pria itu akan terus diam dan menyebalkan. “Aku takut gelap,” ucap Melissa pada akhirnya, wanita itu kemudian membasahi tenggorokannya yang teramat sangat kering, tubuhnya sedikit menggigil dan masih terduduk sembari memeluk lutut.
Reza menghela napas dan kemudian menatap lentera yang menggantung di tiang rumah itu. “Apa yang kamu takutkan, hantu?”
Seketika Melissa menggelengkan kepala.
“Pada akhirnya semua manusia akan berakhir dalam gelap,” ucap Reza seraya mendekat.
“Dulu, waktu usiaku lima tahun, sekelompok orang datang menyerbu rumah kami, mereka mematikan kontak listrik dan semua menjadi gelap.” Melissa menarik napas, dia masih tertunduk menatap jari kakinya. “Aku sembunyi di belakang pintu.” Air matanya mulai jatuh menyusuri pipi.
Reza tercenung mendengarkan.
Melissa kemudian menarik napas dalam. “Papi meminta agar aku tidak kemana-kemana dan tetap bersembunyi.” Getaran dari suara Melissa membuat Reza ingin membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Melissa kembali menarik napas, kali ini dalam pelukan Reza. “Aku dengar jeritan mami dan kak Edgar, orang-orang itu–” Kalimat Melissa tersendat suara isakan. Dia tidak ingin mengenang kisah pilu itu lagi, dan sejak saat itu dia menjadi sangat penakut terhadap gelap.
Reza tergemap, itulah mungkin kenapa Parm memintanya untuk menjaga Melissa segenap jiwa dan raga, karena hanya Melissalah yang dimiliki Pram Gunadi di dunia ini.
“Aku takut gelap, aku takut orang itu datang dan mengambil papi dariku, cuma papi yang aku punya, Za, cuma papi,” ucap Melissa seraya bersembunyi di d*da Reza dan meremas baju pria itu kuat-kuat.
“Sssshhh … papi kamu aman di Jakarta dan kamu aman di sini bersamaku,” ucap Reza sembari terus memeluk Melissa. “Aku akan tetap terjaga untuk menjaga putri Pak Pram Gunadi.”
Melissa kembali menarik napas, ada damai yang dia rasakan saat berada di pelukan pria itu, aroma maskulin yang menguar dari tubuh Reza membuat Melissa tak ingin pergi dan ingin tetap seperti ini. Sekarang Melissa telah menjatuhkan kepercayaan pada Reza lebih dari dirinya sendiri. Dia setuju dengan ayahnya yang menganggap kalau Reza bisa menjaganya.
Reza mengajak Melissa untuk bangkit dan pindah ke kamar. Namun, di kamar lebih gelap daripada ruang tengah. “Aku janji, besok aku akan meminta lentera lebih banyak pada Pak Rumbun,” ucapnya seraya mengajak Melissa berjalan bersamanya untuk mengambil lentera yang menggantung di tiang tengah rumah itu.
“Aku akan letakan lentera ini dikamar,” ucap Reza seraya mengacungkan lentera tersebut, sementara Melissa berpegangan erat pada tangan Reza. Pria itu kemudian menggantungkan lentera di dekat tiang pintu kamar yang hanya ditutup gorden.
Setelah itu Reza membungkuk dan duduk di depan kasur, dia kemudian merapikan tempat tidur, memukul-mukul kasur dengan alat pemukul kasur dari rotan. Melissa mengedarkan pandangan, namun, kemudian dia mengernyit memperhatikan apa yang sedang dilakukan Reza, entah itu kebiasaan Reza atau memang itu dia lakukan karena saat ini mereka berada di tengah hutan dan takut kalau binatang hinggap di kasur dan menggigitnya.
Kini pria itu tampak menepuk-nepuk kasur dengan telapak tangannya, mengusap dan merapikannya dengan tangan. “Aman,” ucap Reza. “Tidur?”
Melissa menarik napas dalam-dalam.
“Aku bisa tidur di tikar di ruang tengah,” ucap Reza menghilangkan kegugupan yang mendadak datang menjelma di antara mereka.
Melissa bergeming, dia tidak merebahkan tubuh dan malah duduk memeluk lutut sembari bersandar di dinding papan. “Tidur Mel,” ucap Reza yang kini sudah merebahkan tubuhnya di tikar depan kamar tepat di dekat Melissa bersandar.
“Za, ini jam berapa?” tanya Melissa pelan.
“Jam delapan,” sahut Reza.
Melissa kemudian merebahkan tubuhnya perlahan. “Za.”
“Iya?”
Melissa menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. “Apa yang kamu pikirkan sekarang?”
“Take care of you.”
Melissa tercenung. Bibirnya kemudian tersungging tipis, rasanya memang cukup lebih baik, dia memang pernah menyalahkan ayahnya karena telah mengutus Reza untuk menjaganya, bahkan dia sempat menginginkan agar pria itu enyah dari hadapannya. Namun, tidak dengan sekarang, dia malah takut kalau Reza jauh darinya dan dia takut bermalam di sini sendirian.
Melissa berdehem, seolah dia sedang mencoba mengusir ribuan semut di tenggorokannya yang menghalangi suaranya.
“Kamu mau minum?” tanya Reza.
“Nggak.” Melissa kembali terdiam hingga beberapa detik, terasa suara angin seperti melintas ke depannya. Melissa kemudian mennarik selimut dan menggenggamnya kuat. “Papi nggak suka aku menjalin hubungan dengan Ibram,” tutur Melissa. Dia hanya bermaksud memulai obrolan agar tidak terlalu sepi.
“Kenapa?” tanya Reza di balik dinding papan. Dia menyangga kepalanya dengan kedua tangan dan menatap lurus ke langit-langit ruangan tersebut.
Melissa menghela napas. “Kata papi masa depan Ibram suram.”
Reza tersenyum kecut.
“Papi memang berlebihan, dia bahkan tidak yakin kalau Ibram bisa menjagaku.” Melissa memberi jeda. “Aku sampai bilang kalau aku mencari suami untuk membangun rumah tangga, bukan membangun desa lalu menjadikan suamiku hansip yang bertugas menjaga keamanan desaku selama dua puluh empat jam.”
Reza terbahak dan ini kali pertama Melissa mendengar tawanya, andai dia dapat melihat selebar apa kira-kira senyum pria itu. “Kalau bisa dua-duanya kenapa nggak, Mel?”
Melissa menghela napas. “Aku nggak mau cemburu sama rakyatku.”
Reza tersenyum. “Berarti kamu nggak cocok nikah sama Raja.”
“Iya, emang. Kasihan anakku, nanti dia nggak bisa milih jalan hidupnya sendiri selain harus menjadi putra mahkota dan meneruskan kepemimpinan ayahnya. Begitu terus sampai ke bawah.” Melissa memberi jeda. “Ah, pasti membosankan.”
Reza terdiam bukan karena mengantuk. Namun, dia tengah memikirkan perkataan Melissa.
“Za, kamu belum tidur, ‘kan?”
“Iya,” sahut Reza singkat.
Melissa terdiam, namun, sebenarnya dia masih ingin banyak mengobrol dengan Reza, tapi stok obrolannya mendadak habis, tiba-tiba terdengar suara Reza berdehem.
“Beberapa tahun yang lalu aku pulang dari Swedia untuk melihat kakakku menikah, tapi sesampainya di depan rumah, semua orang berkumpul dan aku terkejut karena--” Reza terdiam dan Melissa menajamkan telinga, “tepat di depan mataku, kakakku sedang meregang nyawa. Seseorang telah menembaknya dan menginginkannya mati.”
Jantung Melissa mencelus. “Terus?”
“Aku menggantikannya di pelaminan tanpa calon istrinya tahu kalau orang yang hendak menikahinya meninggal dua hari sebelum pernikahan.”
“Apa?”
“Hmmm … wajah kami sama, kami kembar, tapi aku besar di Swedia dan kedua orang tuaku lebih sayang dia karena menurutnya aku selalu membawa masalah di hidup kakakku itu.”
“Terus nasib pernikahan itu gimana?” tanya Melissa penasaran.
Reza menggelengkan kepala, seolah Melissa dapat melihatnya. “Malam setelah acara pernikahan itu, aku menceritakan semuanya, dia terkejut, bahkan menangis sejadi-jadinya, dan kami membuat kesepakatan kalau pernikahan itu akan tetap berjalan sampai si pembunuh kakakku itu tertangkap.”
“Siapa?”
“Dia, teman calon istrinya.”
“What?”
Reza dapat menebak kalau kening Melissa saat ini pasti tengah mengkerut. “Kenapa, bisa?” tanya Melissa.
Reza mengedikkan bahu, lagi-lagi dia merasa seolah Melissa melihat gestur tubuhnya.
“Satu hari setelah pernikahan itu, Tania diculik, padahal aku sudah berjanji pada semua orang kalau aku akan menjaga wanita itu, terutama pada ayahnya yang merupakan seorang Jenderal TNI angkatan laut.”
“Oh, namanya Tania, apa kalau dia bukan anak jenderal kamu tidak akan menjaganya?” Tiba-tiba pertanyaan itu menjadi penting bagi Melissa, kasusnya sama jika dia bukan anak jendral Pram Gunadi, apa Reza akan tetap menjaganya?
“Itu adalah sebuah janji pada kakakku, sebelum meninggal dia memberi amanat agar aku menggantikannya untuk menjaga dan melindungi Tania.” Reza menggelengkan kepala. “Aku tak peduli dia anak siapa. Intinya karena aku sudah berjanji.”
Melissa menghela napas. Dia mendadak menyadari kalau kasusnya jelas berbeda. Dia tidak akan bertemu dan tidak akan ada di sini bersama Reza jika bukan kerana ayahnya.
“Orang yang menculiknya adalah orang yang sama dengan yang membunuh kakakku.”
“Kenapa?”
“Obsesi.”
Melissa mengangguk.
“Terus kamu dan dia?”
“Kami membatalkan pernikahan itu dan dia meminta tenggat waktu dua tahun, tapi dua tahun kemudian aku menemukannya di club bersama seorang laki-laki.”
“Hah?”
Lagi-lagi kening mengkerut Melissa membuat Reza penasaran.
“Dia tidak ingin melanjutkan amanat kakakku, baginya wajah ini memberinya kesedihan yang mendalam.”
Melissa menghela napas. “Kamu yang sabar, dia bukan jodohmu.”
“Iya, aku tahu.” Reza hanya menceritakan inti dari kisah tersebut, padahal ada banyak hal yang terjadi, termasuk kenapa Tania bisa sangat membencinya, itu karena dia menjadikan Tania sebagai umpan di setiap kasusnya. Belum lagi soal--
“Terus sekarang gimana?” tanya Melissa.
Reza tercenung. Sudahlah dia tidak ingin membahas itu lagi. Meski sebenarnya dia merasa menyesal karena telah membuang banyak waktu dengan menunggu hal yang tidak pasti.
“Za?”
“Mungkin dia sudah menikah dengan pacarnya.”
“Kamu cinta sama dia?”
Reza termangu mendengar pertanyaan Melissa, selama ini belum pernah ada yang menanyakan perasaannya, termasuk kedua orang tuanya yang terus mendesak untuk menunaikan amanat itu. “Berakhirnya kisah itu menjadi satu-satunya alasan aku ada di sini pura-pura hidup berumah tangga dengan anaknya Pak Pram, orang yang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri.”
Melissa tercenung. Reza tak menjawab pertanyaannya, padahal dia masih ingin mendengarnya lebih banyak, tapi pria itu seolah menutup rapat-rapat soal perasaannya terhadap Tania, seolah tidak ingin lagi menguak luka lama.
“Padahal, Pak Pram tidak menjanjikan apa-apa padaku,” dengkus Reza.
“Kamu hanya sedang lari dari perasaanmu, ‘kan?”
“Bukan, ada banyak hal yang membuatku ingin menghilang dari hidupku sendiri.”
Melissa tergemap. Dia tidak menyangka kalau Reza ternyata menyimpan luka dan bahkan ingin mengakhiri hidup, itu yang Melissa tangkap dari apa yang Reza katakan barusan, padahal Reza bukan pria lemah seperti yang tengah Melissa pikirkan.
Reza hanya tengah merasa lelah dengan desakan kedua orang tua yang terus memaksanya untuk meyakinkan Tania soal amanat Rega sebelum meninggal, padahal orang tuanya terlalu ingin Tania untuk menjadi menantu mereka, juga soal desakan tentang perjodohan Reza dengan Shafiyya.
“Za?” Melissa memberi jeda, dia menunggu suara Reza, entah itu cuma ‘hm’ atau apapun yang menandakan kalau Reza masih hidup. “Kamu jangan dulu mati, aku masih butuh kamu di sini, Za.”
Reza tersenyum kecut seraya berbalik.
“Mungkin ini egois, tapi papi benar, aku butuh orang kayak kamu di sini, Za. Papi memang nggak janjiin sesuatu sama kamu tapi aku bisa janjiin apa yang kamu mau.”
“Apa?”
“Apapun dan berapapun itu, kamu tinggal bilang aja.”
“Apapun?”
“Iya.”
“Berapapun?”
“Heem.”
“Oke, akan aku pikirkan.”
Melissa tersenyum. “Good night, Za.”
Reza tersenyum tipis. Dia kemudian memejamkan mata, begitupun dengan Melissa.
Sebenarnya Reza tak begitu buruk dijadikan teman. Awalnya memang pria itu tampak menutup diri, kaku dan menyebalkan, tapi setelah Melissa mencoba dekat dengan membuka diri ternyata Reza pun melakukan hal yang sama.