Suara jeritan memekik di telinga Reza, hingga pria itu terperanjat dari tidurnya. “Mel?” Dia langsung bangun dan menyingkap gorden, tampak Melissa sedang menangis terisak sembari duduk memeluk lutut, rambut panjangnya berantakan menutup seluruh wajahnya yang tertunduk membuat Reza terkesiap, kalau dia tidak dalam keadaan seratus persen sadar setelah terbangun dari tidur mungkin dia akan menganggap hantu telah menelan Melissa.
Reza segera mendekat dan duduk di sebelah Melissa, wanita itu mengangkat wajahnya dan segera memeluk Reza. “Papi, Za.” Napas Melissa sedikit terengah. “Papi nangis sambil meluk mami sama kak Edgar. Darah--” Melissa melepas pelukannya dari Reza, dia menunjuk tangan, kaki dan kepala, “banyak darah di tubuh mami sama kak Edgar, Za.”
“Sssshhhh ….” Reza kembali merengkuh tubuh Melissa dan memeluknya dengan erat. “Itu cuma mimpi, sebelum tidur kamu mengingat mereka, mengingat peristiwa itu lagi, jadinya kebawa mimpi,” tutur Reza tenang.
“Tapi, Papi?” Melissa kembali terisak.
“Nanti aku coba cari sinyal di sini buat mencari tahu kabar Pak Pram.”
Melissa terdiam sembari menarik napas dan mengeluarkannya perlahan, dia kemudian mendongak. “Makasih, Za.” Perlahan Melissa mengurai pelukannya, dia lalu menyeka pipinya dengan kasar.
“Sekarang kamu tidur, Mel, di sini baru pukul dua.” Reza mencoba merapikan rambut Melissa. Melissa kemudian merebahkan tubuhnya, sementara Reza masih duduk di sebelahnya menatap wanita yang kini kembali terpejam, dia lalu beringsut dan mencoba untuk pergi. Namun, Melissa menahan tangannya. Reza pun segera menoleh.
“Mel, aku ngantuk.”
Mata Melissa terbuka. “Kamu tidur di sini, aku takut, orang-orang itu pakai sebo, aku cuma bisa lihat mata merah mereka, Za.” Air mata Melissa tiba-tiba meluncur dari sudut matanya, meski dalam remang cahaya lentera, tapi Reza dapat melihatnya, dia jadi tidak tega meninggalkan wanita itu sendirian, namun, dia tidak ingin terjebak di situasi seperti ini.
“Aku di ruang tengah. Masih satu rumah, lagi pula kita cuma terhalang dinding kayu,” Reza mengetuknya beberapa kali, “jadi kamu jangan khawatir.”
Melissa malah bergeser, dia menghalangi dirinya dengan guling dan bantal sebagai batas antara dirinya dan Reza. “Kamu tidur di situ, jangan banyak bergerak.”
“Aku kalau tidur bisa berguling ke sana ke mari, Mel,” kilah pria itu.
Melissa menatapnya tajam. “Muslihat kamu nggak mempan. Cepat tidur!”
Reza menarik napas, dia kemudian tidur di sebelah Melissa. Meski terhalang oleh guling dan bantal Reza tetap saja bisa melihat wajah wanita itu, meski hanya setengahnya. Kenapa kejadian seperti ini harus terulang, dulu dia menjaga Tania setiap malam, wanita itu seolah melihat Vanessa hendak menghabisinya lagi dan berulang kali, lalu sekarang Reza terjebak di situasi seperti ini bersama Dr. Sp.PD. Melissa Tatiana Gunadi.
Reza berbalik perlahan dan membelakangi wanita itu. Sungguh pada awalnya dia benci kepura-puraan ini, dia benci berperan sebagai suami gadungan Melissa, dia lebih suka menjadi pengawal yang berjaga di depan pintu saja. Namun, sekarang dia tidak bisa lagi bersikap seperti itu. Setahun terlalu lama untuk hidup dalam kepura-puraan, tapi dia juga terlalu bingung harus apa dan bagaimana, mungkin melindungi seorang teman adalah pilihan.
Reza menarik napas perlahan, dia kemudian memejamkan mata dan tertidur dengan posisi membelakangi Melissa seperti sekarang. Tiba-tiba angin berembus kencang menerbangkan dedaunan, suara derap langkah begitu terasa mengentak menampar tanah, masing-masing warga memegang obor yang menyala-nyala. “Bakar-bakar!” sahut demi sahut terdengar jelas.
“Usir saja, usir orang Jakarta itu, mereka telah mengotori kampung kita!” Satu obor terus di dekatkan ke wajah Reza. dan Melissa.
“Aaahh ….” Reza terperanjat dan Melissa langsung terkesiap. Napas pria itu terengah, dia segera menyeka keringatnya kasar. Belum sepuluh menit terlelap semua terasa seperti nyata. Reza tercenung tanpa melirik wanita di sebelahnya.
“Kenapa?” tanya Melissa panik. Dia kemudian mengedarkan pandangan.
“Astaga!” Reza tersentak saat melihat Melissa ada di sebelahnya, dia kemudian menghela napas panjang. “Aku mimpi digerebek warga, aku mimpi kalau mereka tahu kita bukan suami istri,” ucapnya pelan seraya menyeka peluh di kening.
Melissa ikut menghela napas. Dia kemudian tersenyum, lalu senyum itu berubah tawa kecil yang sedikit mengusik keheningan. Dia pikir tak ada rasa takut dalam diri Reza, ternyata sama saja, betapa manusiawinya pria itu.
Reza terengah sembari tersenyum pada Melissa, dia kemudian menertawakan diri sendiri. “Kita dianggap mengotori kampung.”
Melissa memutar bola matanya. “Itu cuma mimpi!”
“Aku tahu itu mimpi, tapi, itu kayak nyata, Mel.” Jantung Reza mencelus. Inginnya dia bersikap seperti kemarin saat menjadi pengawal saja bukan seperti sekarang. “Mel, aku--” Kalimat Reza menggantung, cukup lama Melissa menunggu. “Aku pengawalmu dan tugasku menjaga kamu, jadi kita nggak bisa tidur di satu kamar seperti sekarang.” Dia kemudian duduk.
Melissa ikut duduk. “Ini jam berapa?”
Reza mencari jam tangannya, dia kemudian menyibak jendela dan melongok jam di dinding kayu itu. “Nggak keliatan.”
Melissa menghela napas. “Mungkin ini sudah pagi.”
Reza kemudian bangkit dan melongok jendela. “Masih gelap.” Dia tercenung menatap langit. Setahun hanya setahun, entah itu akan terasa singkat atau malah terasa lebih lambat. Dia seolah sedang menyemangati dirinya sendiri. Mungkin semua tergantung dari caranya menikmati kepura-puraan ini. Namun, kenapa dia harus terjebak di situasi seperti ini sungguh hal yang menyebalkan.
“Kenapa?” tanya Melissa.
Reza menarik napas. “Take care of you.” Dia kemudian menoleh. “Di kepalaku terngiang-ngiang.” Reza kemudian menggelengkan kepala. “Entah kenapa nggak ada yang lain. Setahun mungkin akan terasa lama jika aku hanya menjaga tanpa mengenalmu, mungkin begitu Pak Pram mengirimku, aku harus bisa memahami kamu selama di sini.”
Melissa terenyuh. Dia menatap bulan yang mengintip dari jendela yang masih terbuka sementara Reza membelakangi jendela dan tengah menatapnya. “Kita bisa berteman, Za.”
Reza mengangguk pelan. Dia kemudian berbalik dan kembali menatap bulan itu. Awan berarak cepat, dingin menusuk pori-pori kulit. Reza tercenung mengingat nasib dirinya, pergi dari Swedia dan meninggalkan seseorang yang dia cinta di sana, lalu berpura-pura mencitai Tania hanya untuk meyakinkan wanita itu agar mau menjalankan amanat Rega, semua semata untuk mengabulkan keinginan orang tuanya, namun, ternyata gagal. Dia berjanji akan temukan hidupnya di sini.
Melissa memperhatikan pria itu dari belakang. Entah kenapa Melissa harus bersikap seperti tadi. Dia bukan cari perhatian. Namun, dia sendiri tak bisa mengendalikan dirinya sendiri, mimpi tentang kejadian malam itu terulang seperti nyata, baginya di sini benar-benar gelap, sunyi, senyap dan terasingkan, jika dalam keadaan melamun, dia selalu merasa orang-orang yang sudah melenyapkan ibu dan juga kakaknya itu datang mengendap, berdiri di tengah rumah mencari keberadaannya. Melissa terkesiap, dia segera mengusap kasar wajahnya sembari beristighfar.
Melissa sudah terapi berulang kali untuk menyembuhkan traumanya, tapi sampai sekarang hasilnya nihil. Dia sampai lelah, mungkin karena dia belum bisa ikhlas dengan kepergian orang-orang yang dia sayang.
Reza kemudian menutup kembali jendelanya. “Tidur lagi, Mel.”
Melissa mengangguk. Wanita itu kemudian merebahkan tubuhnya. Reza mendekat. Namun, dia tak langsung tidur, dia membuka laptop, beruntung masih ada daya baterai sebelum benar-benar habis.
Di sana dia menuliskan tentang kesan pertama tentang Melissa dan setelah pria itu mengenal Melissa malam ini. Sesekali dia melirik wanita itu, takut jika tiba-tiba mata Melissa terbuka dan mengintip apa yang sedang ditulisnya.
Reza mengakhiri tulisannya dengan kalimat “menjaga orang lain akan lebih sulit dari menjaga diri sendiri, tapi Tuhan akan membantu, karena aku percaya Dia yang mengirimku ke sini. Bukan lagi Pak Pram”.
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Reza berdiri di depan Melissa sementara kedua telapak tangannya bertumpu pada meja. “Hari ini aku mau ke perbatasan, perjalanan mungkin akan cukup memakan waktu yang lama, kamu di sini jaga diri baik-baik.”
Melissa menarik napas seraya terdongak menatap wajah pria itu. “Hati-hati. Kamu harus janji kalau kamu akan kembali lagi ke sini.”
Marinka memperhatikan mereka berdua. Namun, dia pura-pura membaca buku yang diberikan Melissa padanya tentang kesehatan dan fungsi tubuh.
Reza tersenyum kaku. Sekilas dia melirik Marinka, kemudian dia tertunduk dan berbisik di depan wajah Melissa, hingga wajah Melissa tak terlihat oleh Marinka karena terhalang wajah Reza. “Ada Marinka, kayaknya aku harus mendaratkan bibir di kening kamu, atau mungkin di tempat lain,” ucapnya sembari menahan tawa yang seakan ingin meledak.
Melissa memukul punggung tangan Reza yang ada di mejanya. Kedua matanya membesar. “Hati-hati, Sayang,” ucap Melissa agak keras. “Kamu harus kembali ke sini dengan selamat,” ucapnya seraya terus menekan punggung tangan Reza dengan tinjunya.
Reza tersenyum dengan lebar, tekanan tangan Melissa membuatnya merasa geli. Perlahan Melissa menegakkan tubuhnya. “Aku akan mengantarmu sampai ke depan,” ucap Melissa seraya bangkit.
Reza mengangguk kemudian merangkul pinggang Melissa sembari berjalan ke depan. “Doakan sosialisasi kesehatan hari ini berjalan lancar dan aku diterima dengan baik di sini,” sambung wanita itu.
“Tentu,” ucap Reza sembari melepaskan rangkulannya di pinggang Melissa, “aku pamit. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, salam buat papi, aku di sini baik-baik aja,” ucap Melissa, dia kemudian memelankan suaranya, “selama ada kamu.”
Reza mengangguk, dia kemudian berlalu dari tempat itu dan berjalan terus menuju dermaga, tadi pagi, Melissa memberikan ponselnya pada Reza, wanita itu sudah mengirimkan beberapa gambar pada ayahnya, namun, belum terkirim karena sinyal yang tidak ada di tempat itu, tapi mungkin saat Reza mendapatkan sinyal, gambar-gambar itu akan terkirim secara otomatis pada ayahnya.
Kata Marinka, Reza hanya perlu ke perbatasan untuk mendapat sinyal, di sana fasilitas sudah cukup memadai. Namun, perjalanan memakan waktu sampai empat jam pulang-pergi menggunakan motor dan rakit. Entahlah ini perjuangan macam apa, Reza seperti berada di zaman di mana ponsel baru saja ditemukan.
Turun dari perahu, dia segera mencari kendaraan untuk bisa pergi ke perbatasan, ini bukan jalan yang kemarin dia lewati dengan Melissa saat pertama kali datang ke desa ini. Jalan yang akan Reza lalui sekarang lebih jelek dari jalan kemarin.
Menggunakan sepeda motor salah seorang warga di sana, Reza siap membayar berapapun untuk bisa sampai ke perbatasan kota. Kini dia sudah berada di sebuah warung yang menyediakan berbagai makanan ringan dan juga makanan berat. Reza mulai mendial nomor Pram Gunadi. Tentu pria itu tidak akan melewatkan panggilan yang datang dari nomor putrinya, meski yang menelepon ternyata adalah menantu gadungannya.
“Selamat siang, Pak,” ucap Reza sesaat setelah panggilannya terangkat.
[Za, saya kira Mel.] Tentu Melissa lah yang akan ditanyakan.
“Melissa sedang ada sosialisasi kesehatan dengan masyarakat setempat, Pak.”
[Oh, baguslah. Ada sinyal di sana? Kenapa baru mengabari?]
Reza tersenyum kecut. “Di sini sinyal jauh, harus ke perbatasan, Pak, atau ke kota sekalian.”
[Sudah saya duga. Gimana semalam?]
“Pak Pram tidak cerita kalau Melissa punya trauma dan bahkan dia takut gelap.”
Sudah dipastikan jantung Pram Gunadi mencelus sampai dia tidak dapat berkomentar apa-apa?
“Semalam dia bermimpi melihat Pak Pram menangis memeluk ibu dan kakak Melissa yang bersimbah darah. Maaf, Pak saya jadi tahu soal keluarga Pak Pram.”
[Bukan salah kamu, Za, tolong jaga Mel buat saya.]
“Pasti, Pak. Saya tidak akan memaafkan diri saya jika terjadi sesuatu dengan Melissa.”
[Terima kasih, saya percaya sama kamu.]
“Semalam saya menjanjikan kalau saya akan menelepon Pak Pram untuk memastikan kalau Pak Pram di sana baik-baik saja.”
[Saya baik-baik saja, Za, cuma sudah beberapa hari encok saya kambuh, kalau ada Melissa dia akan memberikan saya obat sendi, untung ada Endyta yang gantikan dia.]
Reza tersenyum. “Sehat terus, Pak. Semoga panjang umur dan kita bisa bertemu lagi tahun depan.”
[Aamiin, kamu juga di sana jaga kesehatan, kalau merasa sakit bilang sama Melissa biar dia yang rawat kamu, kalian harus saling menjaga.]
Reza kembali tersenyum. Sungguh indah bak petuah mertua yang benar-benar sayang pada menantunya.
Mie instan pesanan Reza tiba dengan telur ceplok di atasnya beserta beberapa buah cabe rawit dan beberapa lembar daun sawi sesuai pesanannya. Reza mengangguk untuk mengucapkan terima kasih tanpa suara.
“Melissa tadi titip salam untuk Pak Pram.”
[Terima kasih, sampaikan juga salam sayangku untuknya, Za.]
“Tenang, Pak, pembicaraan Pak Pram sudah saya sadap,” Reza kemudian terkekeh, “maksudnya terekam, biar Melissa tidak menerka-nerka apa saja yang kita obrolkan.”
Pram Gunadi tertawa.
“Pak, sudah dulu ya, mie instan saya sudah dingin, nanti kalau ada waktu saya akan menelepon lagi dan kalau bisa bawa putri kesayangan bapak ke sini, ke perbatasan.”
[Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.]
“Sama-sama, Pak. Assalamualaikum.”
[Waalaikumsalam, hati-hati di sana, Za.]
“Iya, Pak.” Reza kemudian menutup panggilan tersebut dan mulai menyantap mie yang sudah mulai dingin dan air yang sudah menyusut itu, sembari sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling.
***