Tidak Seperti Suami Istri

2173 Words
Melissa tersenyum melihat para warga begitu antusias menyambut kedatangannya. Bergantian warga ingin mengecek kondisi kesehatannya, mengukur tensi darah dan kesehatan lainnya. Melissa hanya memberikan obat pada orang yang benar-benar membutuhkan saja. Waktu menunjukkan pukul empat dan jingga sudah mulai nampak di ujung langit sana, sementara Reza belum juga pulang, untuk pertama kalinya Melissa merasa kekhawatiran yang mendalam tentang seorang pria yang baru dikenalnya.  “Reza berangkat dari tadi pagi dan sekarang belum pulang,” ucapnya seraya menghela napas.  “Perbatasan memang cukup jauh, Bu Dokter, harus menyebrang sungai terus melalui jalur darat hingga dua jam,” sahut Marinka.  “Apa? Jadi pulang pergi empat jam?” “Lebih.” Melissa menarik napas. “Mungkin dia istirahat dulu kali ya.” “Iya, sepertinya.” “Saya takut dia nyasar,” ucap Melissa gelisah, seperti tengah mengkhawatirkan anaknya saja. Marinka tersenyum. “Bu Dokter sama Pak Reza awalnya sahabatan ya?” “Hmm … maksud kamu?” “Maaf, soalnya saya lihat, ibu sama pak Reza tidak seperti suami istri.” Seketika Melissa bangkit sembari merapikan alat-alat kedokterannya. “Seperti sahabat maksud kamu?”  Marinka mengangguk.  “Memang dan kami lebih suka seperti ini. Bagi kami kemesraan itu tidak perlu diumbar,” kilah Melissa..  Marinka tergemap sembari menggerakkan kepala.  Rupanya Reza mendengar apa yang dikatakan Marinka. “Assalamualaikum,” ucapnya usai berdehem. “Sayang, aku pulang.” Jantung Melissa tiba-tiba berdebar kala mendengar suara berat dan halus itu. Panggilan sayang yang di gaungkan Reza barusan sampai ke relung hatinya. Melissa kemudian tersenyum lega. “Aku khawatir,” ucapnya seraya mendekat dan memeluk pinggang Reza. Marinka tertunduk. Mungkin dugaan dia salah, karena buktinya Reza dan Melissa begitu mesra saling melepas rindu, padahal baru ditinggal beberapa jam saja. “Aku belikan kamu sesuatu,” ucap Reza seraya menganjurkan kantong kresek ke depan Melissa.  Kedua mata Melissa berbinar saat membuka apa yang ada di dalam kantong kresek itu.  “Itu kerupuk amplang, kue bingke sama coklat lidah buaya. Kamu pasti suka,” ucap Reza seraya melepas tas ranselnya. Dia lalu berjalan ke meja dan membuka tasnya perlahan. “Aku juga beliin kamu ini.” Melissa segera menoleh dan mendekat. “Apa?” tanyanya.  Sepasang suami istri gadungan itu seolah ingin memecah kecurigaan Marinka. Reza mengeluarkan sebuah gelang manik-manik khas suku dayak. “Tadinya aku mau beli kalung, tapi takut kamu nggak suka.” Melissa terus saja tersenyum, apalagi saat Reza meraih tangannya dan mencoba memakaikannya. “Bagus, cantik,” puji pria itu.  “Makasih ya.” Reza mengangguk sembari mengelus puncak kepala Melissa. Akting yang bagus, Melissa suka saat Reza totalitas seperti ini dan berhasil membungkam mulut Marinka yang mempertanyakan kalau mereka tak seperti suami istri, itu mungkin karena kemarin-kemarin Reza tampak kaku.  “Sekarang kita pulang, aku capek,” ucap Reza. Reza kemudian menggandeng tangan Melissa. “Nanti kamu pijitin aku.” Reza tak sungguh-sungguh mengatakan itu. Melissa mengangguk, namun, Reza juga tahu Melissa tak benar-benar mengiyakan, kemudian dia menoleh pada Marinka yang masih pura-pura membaca buku darinya. “Marinka, saya pulang duluan.” Marinka segera mengangkat wajah sembari tersenyum, kemudian mengangguk. “Hati-hati, Bu.” Melissa mengangguk dan berjalan beriringan dengan Reza. “Akting kamu bagus,” gumam Melissa sembari menatap gelang yang beberapa menit lalu dipasang Reza di tangannya. Reza hanya tersenyum. Sebenarnya sejak semalam dia sudah tidak ingin berakting dan benar-benar melakukannya dari hati. Dia hanya ingin membuat Melissa merasa aman selama berada di sini dan jangan sampai ancaman itu justru datang dari dirinya.  Sepanjang jalan Melissa dan Reza tersenyum ramah menyapa warga yang kebetulan mereka temui di jalan. Melissa kemudian menoleh pada Reza. “Tadi gimana, bisa?” Reza mengangguk. “Kita bicarakan ini di rumah.” Melissa memutar pandangan takut kalau ada seseorang yang mengikuti. Sesampainya di rumah Reza tak langsung menceritakannya. Pria itu tampak membuka jaket hitamnya. lalu menggantung di tiang tengah rumahnya, hanya itu paku yang tersedia, sebenarnya paku itu untuk lentera.  Kemudian dia merogoh ponsel dan mendekat  pada Melissa. “Cari di file, tadi aku merekam percakapan ku dengan Pak Pram,” ucapnya sembari memberikan ponsel itu pada Melissa. Wanita itu langsung mengambilnya dengan antusias.      “Aku mau mandi dulu,” ucap Reza seraya berbalik, dia kemudian mencari handuk miliknya. “Mel handukku di mana?” “Di luar, Za, tadi aku jemur.” Reza segera ke luar dan mengambilnya, lalu masuk kembali ke dalam rumah.  “Koper kamu udah aku pindahin lagi ke kamar, maaf kemarin sempat aku keluarin,” ucap Melissa sembari mencari file yang di maksud Reza. “Hmmm,” sahut Reza sembari ke kamar mencari pakaiannya di kamar di dalam koper. “Ada nggak, Mel?” tanyanya sembari mendekat.  Melissa mengangguk tanpa menatap Reza. Pria itu kemudian berlalu dari tempat Melissa duduk di atas tikar. Dia segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri di sana.  Melissa tercenung mendengarkan obrolan Reza dan ayahnya. Sesekali dia ikut tersenyum saat ada hal yang membuat hatinya menghangat atau ada sesuatu yang menurutnya lucu. Ini akan menjadi kenangannya selama di sini.  Tak berapa lama saat Melissa sudah selesai mendengarkan rekaman itu, dia bangkit untuk menyimpan ponselnya. Tiba-tiba saja suara ketukan mengalihkan tujuan Melissa. Marinka datang membawakan makanan untuk makan malam. Begitu Melissa membuka pintu, mata wanita itu langsung tertuju pada Reza yang baru saja ke luar dari kamar mandi dengan rambut basah yang menetes pada handuk yang menyampir menutupi kedua bahunya.  “Marinka?” Sedari tadi Melissa mencoba membuat Marinka tersadar dari lamunannya. Namun, wanita itu terlalu asyik menikmati pemandangan langka itu. Melissa segera menoleh dan  melihat Reza yang mematung tak jauh dari tempatnya berada. Jantung Melissa bertabuh secara tiba-tiba dan membuat pemiliknya sedikit gempar. Pemilik jantung yang berdebar kencang itu segera berdehem sembari menatap Reza, agar pria itu segera mengembalikan kesadaran Marinka yang seolah tersihir olehnya.  Reza mengerjap dan segera mendekat pada ke pintu. “Marinka, ada apa ya?” Marinka terkesiap. Dia kemudian menarik napas. “Saya bawakan makanan untuk makan malam.” Reza mengangguk. “Terima kasih,” ucapnya seraya mengambil rantang plastik itu dari tangan Marinka. Melissa mendelik pada Reza sampai pria itu mengedikkan bahu karena tidak paham maksud dari delikkan Melissa padanya.  Sementara Marinka masih mematung di depan pintu. Melissa tak enak hati mengusirnya dia pun meminta Marinka masuk dan benar saja Marinka memang sepertinya ingin sekali bertamu.  “Mel, kamu harus mandi sekarang sebelum hari makin gelap, aku nggak mau nemenin kamu di kamar mandi,” goda Reza yang sudah duduk di atas tikar bersama dengan Marinka di depannya.  Melissa mendengkus. “Bu Dokter, saya mau ajarkan bu dokter menyalakan tungku untuk memasak air panas,” ucap Marinka.  “Ya, kamu betul, kita memang butuh air panas untuk bikin teh.” Marinka mengangguk kemudian bangkit. “Kebetulan saya sudah bawa koreknya.” Marinka kemudian berjalan ke dapur dan Melissa mengikutinya. Namun, sebelum itu Melissa menoleh pada Reza.  Reza mengangguk dan bangkit, dan masuk ke dalam kamar, mumpung Melissa ada di dapur, dia akan merebahkan tubuh lelahnya di kasur, tentu Melissa tidak akan keberatan.  Kini Melissa berdiri di atas papan di belakang Marinka yang sudah berjongkok di bawah yang di sana tersedia tungku dan kayu bakar di sebelahnya.  Marinka menoleh. “Bu Dokter sini.” “Ah iya.” Melissa kemudian menurunkan kaki dan kini sudah berjongkok di depan Marinka, kakinya terasa kotor sekali, seharusnya dia membawa sandalnya. Namun, sudah terlambat, biarkanlah untuk hari ini.  Marinka menghidupkan api dari korek. Dia membakar beberapa potong kayu kecil yang sudah ditumpuk menjadi satu. “Kayunya sudah kering sekali, jadi akan sangat mudah terbakar.” Melissa menggaruk tengkuknya. Sebenarnya dia tidak bodoh-bodoh amat, ini sudah sering dia lakukan ketika berkemah. “Airnya di mana?” “Di kamar mandi, di bak mandi.” “Tapi?” Marinka bangkit dan membawa teko hitam yang sepertinya sudah akrab sekali dengan api besar. “Di sini nggak ada air mineral, Bu.” Dia naik ke atas papan. “Air di sini masih sangat jernih jadi aman untuk diminum,” imbuhnya.  “Pipa kayu yang mengalirkan air ke bak mandi ini berasal dari mata air,” ucap Marinka yang sudah kembali dengan satu teko air yang siap dipanaskan. “Dulu warga di sini harus mengambil air ke sungai, mandi di sungai, sekarang tidak lagi,” tambah Marinka yang kini sudah berada dekat Melissa dan meletakkan teko di atas perapian.  “Ini koreknya buat Bu Dokter.” Marinka memberikan korek api itu ke Melissa. “Makasih, sahut Melissa, meski di rumah itu sudah ada untuk menyalakan lentera, namun, dia tidak pantas menolak pemberian Marinka. “Kalau begitu saya pulang ya, Bu. Ini tinggal di tunggu mendidih aja ko, kalau apinya mengecil atau mati, ibu tinggal nyalakan lagi. Melissa mengangguk. “Sekali lagi terima kasih.” “Iya,” sahut Marinka, seraya berlalu dari sana, wanita itu mencari keberadaan Reza, seharusnya pria itu ada di depan, seperti yang selalu dilakukan suaminya, Aria Lubis, menikmati senja dengan secangkir kopi dan sebatang rokok yang mengeluarkan asap hitam. Namun tidak ada, Reza sepertinya bukan pria seperti itu. Marinka pun segera pergi meninggalkan kediaman Dokter Melissa, meski sebenarnya rasa penasaran pada sosok Reza masih menggantung di hatinya.  Setelah kepergian Marinka, Melissa mandi dan sudah mengenakan piyama, seperti biasa, Reza dan Melissa duduk berhadapan dan di tengah mereka tersedia makanan. Melissa menuangkan nasi untuknya beserta lauk, lalu setelah itu Reza, pria itu selalu bagian terakhir, sudahlah dia harus banyak mengalah pada Melissa. Melissa mulai menyantap, namun dia tidak bisa dan tidak suka keheningan yang selalu terjadi, maka dia akan menceritakan banyak hal.    “Tadi aku ngobrol sama warga di sini, katanya untuk penerangan di sini menggunakan Pembangkit Listrik tenaga Mikro Hidro, tapi itupun hanya musim hujan aja, karena kalau kemarau kayak gini terpaksa pakai lentera,” tutur Melissa sembari mengunyah nasi bersama dengan wadi ikan, yaitu  ikan patin yang kemudian difermentasi dengan berbagai bumbu tradisional bersama beras yang sudah disangrai sebelum dimasak dengan cara digoreng atau dikukus, kali ini yang dimakan Melissa dan Reza wadi ikan yang di goreng di temani sambal dabu-dabu. Reza hanya menanggapi perkataan Melissa dengan anggukan karena dia juga sibuk menikmati makanan.  “Nanti kita di sini bakal kebagian nggak ya?” tanya Melissa iseng. “Soalnya pas kita ke sini, baru aja masuk kemarau dan sungai sudah mulai surut.” “Kita di sini setahun, pasti kebagian nanti di akhir-akhir masa tugas kamu,” jawab Reza.  Melissa menelan makanannya, dia kemudian tersenyum. Entah magnet apa, yang jelas kehadiran Reza selalu membuatnya merasa kalau semua akan baik-baik saja.  “Tapi kamu tahu, ‘kan tenaga listrik seperti itu hanya berskala kecil,” tambah Reza.  “Iya, tahu, katanya di sini cuma kebagian satu lampu untuk satu rumah , tapi ya lumayan, ‘kan?” Reza mengangguk dan kembali makan menggunakan jari-jarinya, tanpa sendok. Begitupun dengan Melissa. Makan malam kali ini berkesan untuk keduanya karena obrolan hangat di antara mereka, tidak seperti kemarin, Reza tampak pendiam dan kaku. Namun, ternyata setelah Melissa mencoba dekat semua yang dia pikirkan tentang Reza sangat berbanding terbalik.  “Tadi acaranya lancar?” tanya Reza. “Ya.” Melissa mengangguk. “Mereka menerima kedatanganku dengan antusias,” sambung Melissa. Ada binar yang membuat Reza suka sekali menatap kedua mata Melissa.  Jantung Melissa berdegup saat sepasang matanya bersirobok dengan Reza. Pria itu segera menunduk sembari berdehem. “Kamu aja yang diterima, aku nggak?” ucap Reza sembari kembali mencomot nasi dan melahapnya.  “Apapun yang ada hubungannya denganku mereka pasti menerima, kamu ‘kan suamiku,” cetus Melissa.  Jantung Reza tiba-tiba berdegup, dia kemudian tersenyum tipis dan terus makan tanpa melihat Melissa.  Kedua mata Melissa membola, dia lupa tidak menyematkan kata yang seharusnya ada. “Maksudku yang mereka tahu kamu, ‘kan suamiku.”  “Iya, nggak usah diperjelas, aku ngerti kok,” ucap Reza kikuk. Seketika kekakuan hadir diantara mereka. Namun, justru jantung Melissa mencelus, harusnya dia tak usah memperjelasnya lagi. Ah, sudahlah, semua sudah terlanjur.  Piring Reza sudah bersih tak tersangkut satu butir nasi pun. Dia kemudian cuci tangan di dalam baskom yang sudah tersedia di sana, lain dengan Melissa, wanita itu tidak akan mau cuci tangan di dalam kobokan seperti ini, dia memilih membawa segelas air dan menumpahkannya di jendela sembari mencuci tangannya di sana.  “Air panasnya di mana?” tanya Reza.  “Di belakang kamu, udah aku bikinin teh.”  Reza segera berbalik, tampak segelas teh panas masih mengepul di dekat dinding kayu. “Pakai gula?” “Iya.” Melissa berbalik dan berjalan kembali ke tempatnya. “Nggak suka?” tanya Melissa.  “Suka-suka, makasih ya, Mel.” “Hmmm …,” sahut Melissa sembari mengangguk. “Manis?” Melissa menunggu reaksi Reza. “Gimana udah lebih manis dari aku?”  Seketika tenggorokan Reza tertutup dan membuatnya tersedak, hingga air sedikit memercik ke luar. Wanita di depannya ini memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Melissa terbahak, betapa lucu reaksi Reza saat ini, kalau tidak dalam terang lentera, pasti dia dapat melihat kulit putihnya berubah merah,  Melissa kemudian berdehem dan kembali mengendalikan keadaan. “Bahan pangan di sini di d******i sama Negeri tetangga, katanya ke Malaysia lebih dekat dibanding ke negara sendiri,” tutur Melissa.  Reza mengangkat wajah dan mulai menyimak apa yang tengah Melissa sampaikan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD