“Katanya cuma butuh dua jam menggunakan jalur darat untuk bisa sampai ke sana, coba ke kecamatan sendiri, bisa sampai delapan jam menyebrang sungai sekaligus jalur darat,” tutur Melissa, ada emosi dalam setiap kata yang wanita itu sampaikan, mungkin dia sedikit kecewa pada para penguasa karena menelantarkan sebagian rakyatnya di sini.
Reza menyesap tehnya, sementara kedua matanya masih tetap memperhatikan Melissa. Wanita itu mengunyah saja lama, apalagi sambil mengobrol seperti sekarang, bisa-bisa satu jam baru selesai makan, apa enaknya makan terlalu lama.
“Mereka lebih sering menjual hasil panen mereka ke Negara tetangga.”
“Mungkin mereka juga memperhitungkan ongkos, Mel.” Kali ini Reza ikut berkomentar.
Melissa mengangguk. Dia masih menikmati makannya. “Sebagian saudara Pak Rumbun sudah pindah kewarganegaraan mereka menjadi warga negara Malaysia. Di sini tuh sekolah dasar aja jauh, lebih dekat ke sana, belum lagi kalau sakit, warga sini juga berobatnya ke sana.” Melissa menghela napas di akhir kalimatnya.
Reza tergemap menatap Melissa, dia tidak berani memberi komentar apa-apa.
“Aku pikir Indonesia benar-benar sudah merdeka, Za, tapi ternyata masih ada saudara kita yang tidak merasakan kemerdekaan itu secara hakiki.”
Reza tercenung memperhatikan. “Mel, cepat selesaikan makanmu, nanti kita ngobrol lagi,” ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Melissa mengangguk dan segera menghabiskannya. Sementara Reza bersandar di dinding papan. Dia hanya bisa membaca buku di siang hari saja, saat hari benar-benar terang. “Tadi aku bayar ke warung untuk ikut mencharger hp kamu, hp-ku, mmm … laptop sama power bank,” ucapnya seraya tersenyum. “Semua penuh Mel, kamu bisa pakai.”
Melissa ikut tersenyum. Namun, kemudian dia mengejek. “Percuma nggak ada sinyal.”
“Ih, jangan dipakai main sosmed biar kuota kamu awet untuk setahun di sini.”
Melissa tertawa sembari menumpuk piring kaleng bermotif bunga di atas piring bekas Reza yang juga dari bahan kaleng atau seng. “Yang ada kartu SIM-ku hangus,” dengkusnya kemudian.
Wanita itu mengambil gelas berisi air putih dan berjalan ke dekat jendela. Sudah Reza duga wanita itu akan mencuci tangannya di sana. “Apa jadinya kalau aku di sini sendirian, Za.”
Itu lagi yang Reza dengar sejak kemarin. Kali ini Reza tak menjawab, ‘nyatanya tidak’ seperti kemarin-kemarin, kini dia malah berkata, “Kamu pasti ditemani Marinka dan Pak Aria Lubis.”
“Yah itu lagi,” dengkus Melissa sembari menutup jendela. Dia kemudian mengeringkan tangannya dengan tisu di depan Reza. “Aku heran kenapa Marinka mau menjadi istri kedua pria tua.”
“Ssshhh … jangan salah, laki-laki itu tidak benar-benar tua meski umur terus bertambah. Lagi pula umur itu hanya angka, dia pasti masih kuat,” goda Reza.
“Ih.” Melissa menampar paha Reza dengan telapak tangannya. Reza malah tertawa melihat Melissa yang tampak gemas. Tapi kemudian Melissa tercenung. “Mungkin kalau aku jadi Marinka akan melakukan hal yang sama, dia hanya ingin keluar dari masa sulit ini.”
“Bisa jadi,” sahut Reza.
Melissa menatap Reza dalam remangnya cahaya. Kemudian senyumnya tersungging malu-malu. Sebenarnya Reza tahu kalau Melissa tengah memperhatikannya, tapi dia pura-pura tidak tahu dan lebih memilih tetap pada posisinya menatap langit-langit rumah itu.
Melissa menghela napas, kemudian dia bangkit dan mengambil lentera yang ada di tiang. “Aku pinjam ini, mau ke kamar mandi,” ucapnya.
“Bawa aja.”
Melissa menoleh dan menatap Reza cukup lama. “Kamu nggak mau anterin aku?” tanyanya.
“Kamu, ‘kan bawa lentera, Mel.”
“Za!”
“Iya-iya.” Reza kemudian bangkit dan berjalan mengikuti Melissa dari belakang, saat sudah sampai di depan pintu kamar mandi, Melissa membawa masuk lentera itu dan menggantungnya di dalam, lalu menutup pintu dan membiarkan Reza berdiri di depan pintu.
Reza tersenyum kecut. “Dasar perempuan, katanya minta diantar, tapi aku dibiarkan menunggu di sini,” gumamnya.
“Memang kamu mau ikut masuk, hm?” sahut Melissa dari dalam.
Reza tersenyum seraya bersandar di dinding kayu sementara kepalanya menunduk menatap kaki. “Mel, kira-kira di sini ada tikus nggak ya?”
Melissa tidak menyahut.
“Mungkin nggak kali ya, habis di makan babi,” ucap Reza lagi. Kembali Melissa tak menyahut, wanita itu sedang sibuk mencuci muka dengan sabun wajah. Kemudian terdengar gerusan sikat gigi di permukaan giginya yang mirip biji mentimun.
Reza menghela napas. Ini adalah pengalaman pertama yang paling berharga dalam hidupnya, dia tidak menyangka bisa menemukan secercah kebahagiaan di sini, sesuatu yang terkadang bisa dia tertawakan tanpa mengingat kejemuan Jakarta, dan membuatnya lupa dengan semua masalah yang pernah mampir di hidupnya.
Melissa ke luar dari kamar mandi. Dia mematung depan pintu memperhatikan Reza yang tampak melamun. Melissa kemudian berdehem dan membuat Reza terkesiap. “Sekarang giliran kamu.”
“Aku nggak mau ke kamar mandi. Nanti aja kalau kamu udah tidur.”
“Nggak! Mending sekarang aja.”
“Aku belum mau ke kamar mandi, Mel.”
“Za, sekarang aja biar sekalian!” lembut, namun diktatorial, sehingga Reza tak bisa membantah. Melissa persis seperti ibunya. Reza kemudian menghela napas. Dia hendak mengambil lentera dari tangan Melissa.
“Biar aku yang pegang,” ucap Melissa seraya menjauhkannya.
Kening Reza mengerut menirukan gaya wanita itu. Namun, dia tidak bisa sepintar Melissa yang pemikir, sehingga dahi wanita itu mengerut sempurna.
“Kamu emang curang, Mel,” protes Reza seraya masuk dan menutup pintu. Beruntung di saku celananya ada ponsel, sehingga dia bisa menyalakan senter untuk meneranginya.
Melissa tersenyum lebar sembari menatap pintu. “Jangan lama, Za.”
“Memangnya kamu mau nunggu di situ sampai aku selesai? Aku lama loh, Mel.”
“Katanya belum mau ke kamar mandi tapi kok lam--” Melissa tergemap karena baru saja Reza membuka pintu dan menyorotkan senter ponsel ke wajahnya.
Pria itu kemudian melewati Melissa yang masih mematung di depan pintu kamar mandi, entah apa yang dipikirkannya saat melihat Reza ke luar dari kamar mandi dengan wajah dan ujung rambut bagian depan yang basah.
“Kamu mau langsung tidur?” tanya Reza seraya menoleh ke belakang.
Melissa tergopoh dan segera mendekat. “Nggak tahu, aku bingung harus apa.” Wanita itu kemudian menggantungkan lentera ke tiang.
“Mempelajari kultur di sini mungkin,” usul Reza.
“Seiring berjalannya waktu, karena kita nggak mungkin langsung menguasai semua dalam satu waktu”
Reza mengambil sapu lidi dan membersihkan tikar pandan bekas mereka makan. “Ya, kamu benar.” Dia kemudian beranjak dan ke kamar mengambil bantal, lalu meletakkannya di tikar yang baru saja dia bersihkan, kemudian merebahkan tubuhnya di sana. “Begini terus setiap hari, bisa-bisa aku gendut,” keluhnya.
Melissa masih tercenung memperhatikan. Dia tidak enak membiarkan Reza tidur di sana di depan dinding kamarnya, tapi dia juga tidak mungkin membagi tempat tidurnya lagi dengan pria itu. Lagi pula sekarang dia sudah terbiasa dengan gelap.
“Kamu mau sampai kapan di situ, Mel?” tanya Reza seraya menatapnya.
Melissa mengerjap, dia kemudian menarik napas dan masuk ke dalam kamar, masih sama dengan hari sebelumnya, dia sengaja tidak menutup gorden kamarnya itu. Hanya untuk memastikan kalau Reza tidak pergi meninggalkannya sendiri dalam gelap.
“Za,” panggil Melissa.
“Hemm,” sahut Reza yang tengah menyangga kepala dengan kedua tangan sementara kedua matanya menatap langit-langit ruangan itu.
“Apa yang kamu pikirkan sekarang?”
Reza tersenyum. “Take care of you.” Pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama. Namun, dengan nada yang berbeda dan tak seserius kemarin. “Kamu kayak laman f*******:, Mel.”
“Ya, kamu benar, tahun 2009-2015 f*******: menjadi satu-satunya yang perhatian sama aku. Papi sibuk kerja, sedangkan sejak mami meninggal aku udah lupa gimana rasanya mendapat kasih sayang dari mami. Aku juga lupa gimana rasanya berkeluh kesah pada seorang ibu.”
Reza tercenung mendengarkan.
“Aku tinggal sama tante Miranda, adiknya mami, tapi Om Wahyu, suaminya tente Miranda nggak pernah suka kalau aku tinggal di rumahnya,” keluh Melissa. “Akhir pekan papi akan jemput aku dan kita akan habiskan waktu bersama.”
“Teman-teman kamu, atau mungkin pacar?”
“Aku nggak ada waktu buat pacaran, aku sibuk les ke sana kemari, aku juga nggak punya teman.”
“Kamu pasti nyebelin, jadinya nggak punya teman, iya, ‘kan?” goda Reza.
“Ya, menurut mereka aku seperti itu. Mungkin aku nggak asyik di mata mereka.” Melissa menarik napas kemudian tersenyum. Dia tidak sedang meratap, dia hanya sedang membagi kisah. “Menurut kamu gimana, Za?”
Reza tertawa kecil. Penting sekali Melissa menanyakan itu. “Kamu otoriter, Mel, persis kedua orang tuaku.”
“Iyakah? Apa kamu merasa terancam?”
“Kadang.”
Melissa terbahak. Entahlah baginya ini adalah hal yang lucu, bagaimana seorang Ajun Komisaris Polisi merasa terancam oleh seorang Melissa. Namun, Melissa tidak begitu yakin dengan keakuratan kalimat yang baru saja Reza katakan tentang dirinya.
“Za, kamu punya mantan berapa?” tanya Melissa lagi.
Reza kembali tersenyum kecut. Kenapa Melissa selalu mempertanyakan hal yang menurutnya tidak penting sementara mungkin bagi Melissa ini menjadi teramat penting.
“Aku, mmm ….” Sungguh Reza malas sekali membahas masa lalu. Entah kapan dia akan kembali ke Swedia, hampir tiga tahun berlalu, mungkin kekasihnya di sana sudah menikah dengan pria lain.
“Za, berapa?”
“Hmm. Nggak penting,” ucap Reza seraya berbalik.
Melissa menghela napas. Mungkin memang para lelaki malas membahas masa lalu terkait percintaan mereka, padahal Melissa ingin sekali mendengar kisah Reza, pasti sangat seru seperti kisah yang Reza ceritakan tempo hari soal dia, kakaknya dan Tania.
“Aku gadis polos, Za. Aku nggak tahu apa-apa soal cinta.”
Reza mencebik. Pasti Melissa sedang membual. “Tidur, Mel, udah malam!”
“Za, aku masih mau ngobrol.”
Reza tak menyahut, dia pura-pura terpejam untuk menghindari pertanyaan Melissa yang akan memaksanya bercerita tentang apapun itu.
“Reza!” pekik Melissa dari dalam kamar.
Reza tersenyum. Namun, kedua matanya terpejam. Bibir Melissa mengerucut. Wanita itu kemudian bangkit dan ke luar kamar, tampak Reza sedang tidur meringkuk membelakanginya. Dia kemudian mendekat dan duduk di sebelah punggung pria itu. Telunjuk jahilnya menekan-nekan pinggang Reza. Pria itu tampak nyaman, dia seperti sedang di pijat. “Aku tahu kamu nggak tidur,” Melissa memberi jeda, “Za.” Wanita itu kemudian melongokkan kepala menatap pipi Reza.
Namun, Reza masih bergeming. Apa pria itu benar-benar tidur? “Please, Za, aku nggak bisa tidur,” ucap Melissa pelan. “Aku takut,” imbuhnya tepat di samping pipi Reza.
Aku baru tahu kalau anaknya Pak Pram ternyata penakut?” sahut Reza.
Melissa kembali melongokkan kepala menatap pipi Reza, tiba-tiba saja dia terkesiap saat Reza berbalik dan kedua matanya bersirobok dengan kedua manik coklat terang milik Reza.
Baik Reza maupun Melissa sama-sama mematung seolah tengah menyelami dari sorot mata terdalam itu, debaran dibalik d*da mereka tak terkendali. Saat tersadar, Reza segera berbalik dan kembali membelakangi Melissa dan Melissa pun segera menegakkan tubuhnya.
Melissa terdiam, begitupun dengan Reza. Perlahan wanita itu bangkit dan kembali ke kamar, dekat tiang pintu Melissa berdiri, kemudian menoleh dan berujar, “Good night, Za.”
Reza tersenyum, namun, tak ada suara untuk menjawab ucapan selamat tidur dari Melissa. Wanita itu menarik napas dan kembali ke tempat tidur.