Melissa merengut saat melihat Marinka ada di kamar Reza. Ingin sekali dia tarik rambut wanita itu dan mengusirnya keluar. “Tak tahu diri sudah punya suami masih ingin pria lain,” gumamnya di depan pintu kamar mandi.
“Pak Aria baru bisa ke sini besok,” ucap Marinka. “Saya ke sini lebih dulu karena lebih dekat dari desa kita di banding dari tempat pak Aria, lagipula katanya beliau sedang sibuk membantu Pak Pram dan Pak Rahmat,” tambahnya.
Reza hanya menjawab penuturan Marinka dengan anggukan. Sudut matanya justru menangkap bayangan Melissa yang tampak kesal di depan kamar mandi. “Mel,” panggil Reza.
“Ya,” sahut Melissa seraya mendekat. Wanita itu kemudian duduk di ranjang sebelah Reza. Dengan mesra dia meraih tangan Reza dan mengelus-elusnya. Reza tersenyum merasakan setiap sentuhan yang Melissa berikan, setelah perdebatan semalam, Melissa benar-benar menjauh darinya. Namun, kedatangan Marinka membuat Melissa kembali bersikap normal, sepertinya dia ingin menunjukkan kemesraan di depan Marinka.
“Bu Dokter.” Marinka mengangguk ramah, wanita itu seolah lupa telah membuat Melissa marah karena menyatakan perasaannya pada Reza. Bahkan Melissa semakin tidak ramah pada Marinka, namun, Marinka benar-benar bersikap tebal muka.
“Kamu mau makan sekarang?” tanya Melissa pada Reza.
Reza mengangguk manja, dia akan menjadikan ini sebagai kegilaan. Maka dia pun menyandarkan kepala di bahu Melissa. Melissa menggerakkan bahunya agar Reza tidak bersikap berlebihan, namun, Reza malah semakin membuat bahu Melissa terasa berat.
“Suami saya kalau sakit manja,” ucap Melissa sembari menjauhkan kepala Reza dari bahunya, “padahal kulitnya cuma robek kena pisau,” celetuk Melissa.
“Tapi nggak parah, ‘kan Pak Reza?” tanya Marinka.
Argh! Melissa ingin sekali menendang dua makhluk ini menjauh dari pandangannya. Marinka menyebalkan diajak bicara olehnya, malah cari muka pada Reza.
Akhirnya Melissa memilih diam saja, ternyata Reza juga diam dan tidak menanggapi pertanyaan Marinka. Biarkanlah Reza tidak peduli jika dianggap suami takut istri, dia hanya tidak suka perhatian perempuan bersuami. Lagi pula Reza tak berminat pada Marinka.
“Aku laper,” ucap Reza pada Melissa. Saat Melissa bangkit untuk mengambil nasi yang sudah disediakan petugas rumah sakit beberapa menit yang lalu, Reza malah berujar, “Sayang, aku mau mencoba makan apel yang dibawa Marinka.”
“Oh.” Melissa kembali mendekat dan duduk di ranjang dekat Reza.
“Biar saya yang kupaskan,” ucap Marinka.
Melissa memutar bola matanya. “Awas kegores pisau, kamu masih terlalu kecil.”
“Mel.” Reza menatap Melissa. Dia kemudian menggelengkan kepala. Malissa justru malah membelalakan matanya di depan Reza. “Marinka,” panggil Melissa seraya menoleh dan menatap Marinka yang sedang mengupas apel.
“Iya, Bu Dokter?” Marinka mengangkat wajahnya dan menatap Melissa.
“Jangan anggap saya nggak tahu kalau malam itu kamu menyatakan perasaan pada suami saya.”
Marinka tiba-tiba tergemap. Namun, dua detik kemudian dia berujar, “Saya minta maaf, Bu. Saya cuma suka kok. Rasa suka saya hanya sebatas kagum.”
Entah kenapa Marinka berani sekali berkata demikian. Membuat Melissa semakin geram. Dengan tergesa Melissa bangkit dan meninggalkan Reza dan Marinka.
“Mel!” teriak Reza.
Marinka masih belum merasa berdosa dengan apa yang telah dia lakukan. Dia masih asyik mengupas apel. Reza sampai heran terbuat dari apa Marinka itu.
Melissa tak menghiraukan Reza, dia terus saja pergi ke luar untuk menghindari perhatian Marinka terhadap Reza.
Reza tercenung. Sampai-sampai dia tidak menyadari saat Marinka menyodorkan apel yang sudah dikupas. “Pak Reza,” panggil Marinka untuk ketiga kalinya.
“Terima kasih,” ucap Reza.
“Sepertinya Bu Dokter tidak suka saya jenguk Pak Reza.”
“Lebih tepatnya dia tidak suka dengan perasaan kamu ke saya,” ucap Reza seraya mengunyah apel yang suda masuk ke mulutnya.
Marinka tercenung. “Saya minta maaf, Pak,” gumamnya tanpa menatap Reza dan hanya gerakan bibir saja. Seolah tidak menyesal dan justru seperti menginginkan hal ini.
“Lebih baik sekarang kamu pulang,” pinta Reza.
Marinka mengangkat wajahnya dan menatap Reza. “Saya baru sampai, masa langsung pulang?”
“Kalau kamu tidak bisa memperbaiki hubungan saya dengan Melissa mending kamu pergi karena saya dan istri saya butuh privasi untuk membicarakan soal ini.”
“Soal apa?” Kening Marinka mengernyit.
“Soal dia yang cemburu karena kamu terus menyatakan perasaanmu padaku.”
“Saya cuma bilang saya kagum, rasa suka saya sebatas kagum.”
“Harusnya rasa kagum kamu itu simpan saja dalam hati. Maaf saya ulangi ‘dalam hati!’ Karena kalau sampai Pak Aria tahu mungkin kamu ada dalam masalah.” Reza mengatakan itu seolah dia sedang menasehati dan seolah dia tidak ada sangkut pautnya dengan ini.
Marinka perlahan bangkit, dia kemudian berujar, “Kalau begitu saya pamit.” Dia berbalik dan berjalan menuju pintu dan saat itu juga dia berpapasan dengan Pram Gunadi dan Melissa.
“Za,” panggil Pram.
“Siap Pak.” Reza segera menegakkan tubuhnya.
“Gimana sekarang?” tanya Pram seraya duduk.
“Sudah lebih baik, semoga nanti sore sudah boleh pulang,” jawab Reza.
Pram mengangguk. Dia kemudian menoleh pada Melissa yang tengah berdiri di sebelahnya. “Kalian lagi ada masalah?” selidik Pram.
Reza ikut menatap Melissa. Wajah wanita itu tampak merengut. “Si Marinka, istri muda Pak Aria, masa suka sama Reza,” keluh Melissa pada ayahnya..
“Kamu cemburu?” tuduh Pram.
“Nggak!” tegas Melissa. “Cuman ya … takutnya itu malah jadi masalah aja. Nanti gimana kalau mereka tahu?”
“Nggak akan ada yang tahu, kalau kamu nggak ngomong,” ucap Reza. “Akting cemburu kamu sudah bagus.” Reza meletakkan telapak tangan di dadanya sendiri. “Menjiwai.”
Melissa mendelik. “Aku beneran nggak suka, tapi kamu harus catat, aku nggak cemburu. Aku hanya nggak suka! Dia anggap apa suaminya itu.”
“Dia masih muda, Mel, dia terpaksa terima Pak Aria, karena Pak Aria menjanjikan akan membantu mewujudkan cita-citanya,” tutur Reza.
“Tahu banget kamu.”
“Ya, dia cerita.”
“Jangan-jangan kamu suka sama dia?” tuduh Melissa.
“Nggaklah.”
“Kagum?”
“Nggak, Mel.”
“Reza lebih suka kamu, Mel,” ucap Pram seraya bangkit.
Reza tersenyum menatap Pram Gunadi. Namun, Melissa tak melihat itu, dia malah berjingkat dan memilih pergi dari hadapan kedua pria itu.
“Mel,” panggil Pram. Dia kemudian duduk kembali, lalu menatap Reza. “Kamu beneran suka sama anak saya?”
Bukannya menjawab, Reza malah tersenyum. Pram langsung mengerti dan menepuk lutut Reza. Dia kemudian berbisik, “Titip anak saya.”
Reza membalasnya dengan anggukan. Pram kemudian beranjak dan pergi meninggalkan Reza yang masih tersenyum.
Perawat datang untuk mengecek kesehatan Reza dan juga lukanya. Namun, Melissa kembali dan berdiri di belakang perawat dengan kedua tangan dilipat di depan. Wajah judesnya menatap Reza dengan sinis.
Reza pura-pura tidak melihat. Dia memang belum mengerti dengan sikap Melissa, bahkan sedari tadi wanita itu hanya keluar masuk kamarnya.
“Gimana?” tanya Melissa.
“Baik, sore nanti boleh pulang.”
Melissa tersenyum. Namun, kesan judes masih kentara, apalagi cara dia berdiri dan melipat tangannya di depan seperti itu. “Terima kasih.”
Perawat itu mengangguk, kemudian pergi meninggalkan Reza dan Melissa. Wanita itu masih tetap pada posisinya sembari menatap Reza.
“Kenapa?” tanya Reza.
“Kamu pulang deh.” keinginan Melissa masih tetap sama, mengirim Reza kembali ke Jakarta.
“Ya, aku akan pulang sama kamu.”
“Nggak, kamu akan kembali ke Jakarta sama papi, sama Om Rahmat juga,” ucap Melissa seraya mendekat dan duduk di sebelah Reza. Andai Reza tahu, sulit bagi Melissa bersikap biasa di tengah-tengah rasa kesalnya pada pria itu.
“Melissa!”
“Reza! Kalau kamu tetap ikut, aku akan cuekin kamu.”
“Udah biasa.”
Melissa mendengkus.
“Kamu kenapa sih, Mel? Nggak akan ada orang yang ngertiin kamu kalau kamu nggak mau ngertiin diri kamu sendiri.”
Melissa mengernyit. “Maksud kamu apa?”
“Kamu butuh aku, Mel,” ucap Reza penuh percaya diri.
“Najis, Reza! Pede banget sih, lo,” ucap Melissa kesal sembari meninju lengan pria itu.
Reza malah tersenyum, namun, secepat kilat dia menghapus senyum di wajahnya itu. Melissa menarik napas dan berkata, “Dengar ya, Za, aku akan buktikan kalau aku bisa sendiri di sini tanpa kamu.”
“Kamu nggak perlu buktiin apa-apa, Mel.”
“Ya udah deh ah, terserah kamu aja.” Melissa bangkit dan merapikan barang-barangnya dan barang Reza. “Sebaiknya mulai dari sekarang kamu jaga sikap, jangan buat Marinka tambah geer.”
“Aku nggak pernah bikin dia kayak gitu, itu emang dianya aja, Mel. Kok kamu masih cemburu aja?”
“Aku nggak cemburu, aku cuma jijik!” ucap Melissa sembari memasukkan baju bekas Reza ke dalam tas dengan kasar.
Reza memperhatikan setiap gerakan Melissa. Ada emosi dalam setiap gerakannya, bagaimana kaki Melissa yang mengentak, tangan yang menyambar kasar setiap apa yang dia ambil.
“Kamu kangen ya sama Ibram? Coba kamu telepon dia,” usul Reza.
“Aku nggak kangen, aku nggak pernah kangen sama dia.”
Reza membasahi tenggorokannya. “Terus kamu kenapa?” tanyanya lembut.
Melissa menoleh dan berhenti dari pekerjaannya. Dia menatap Reza cukup lama.
“Aku tahu, kamu nggak suka sama Marinka, tapi kamu harus bersikap biasa aja, Mel. Aku nggak terganggu sama perasaan dia dan seharusnya kamu juga begitu.” Reza memberi jeda sembari tetap menatap Melissa. “Apa kamu meminta aku pulang ke Jakarta, hanya agar Marinka nggak deketin aku lagi, gitu?”
Melissa mengangguk. “Aku takut kita ada dalam masalah, Za.”
“Masalah apa? Nggak akan ada masalah, semua akan baik-baik aja.” Reza meraih tangan Melissa. “Kamu terlalu mengkhawatirkan hal sepele seperti ini.”
“Sepele?” Nada bicara Melissa meninggi, dia juga menarik tangannya dari genggaman Reza. “Kamu bilang sepele?”
Reza tergemap. Sepertinya dia memang harus belajar untuk berkata yang baik dan benar agar bisa diterima makhluk sensitif seperti perempuan, tapi memang tak biasanya Melissa bersikap seperti itu.
“Kalau semua orang tahu, kita bukan suami istri, mereka bisa aja membuat kita dalam masalah.”
“Maksudnya apa sih, Mel, aku nggak ngerti.”
“Otak kamu benar-benar dangkal, Za.” Melissa membelalakan mata. “Kita hidup di Indonesia, hal yang paling tabu adalah laki-laki dan perempuan tinggal satu rumah tanpa ikatan apapun.”
Reza tercenung. Dia mencoba membasahi tenggorokannya. “Tapi, Mel, aku nggak mungkin biarin kamu sendirian di sana, kamu takut gelap dan selama ini aku nggak biarin lentera di rumah kita mati. Coba kamu bayangin, kalau saat kamu bangun tengah malam, lentera dalam keadaan mati karena kehabisan minyak, kamu mau teriak panggil nama siapa, Mel? Aku bukan superman yang bisa terbang dari Jakarta ke Kalbar dalam hitungan detik cuma buat idupin lentera dan mengisinya dengan minyak.”
Melissa ingin menjerit. Kalimat yang Reza ucapkan berantakan dan mengganggu pendengarannya. Namun, dia hanya bisa menelan jeritannya itu, dan menarik napas dalam-dalam.
“Kita akan berusaha untuk menjaga rahasia ini, Mel. Kalau sudah ketahuan, itu diluar kuasa kita, artinya Tuhan memang ingin tunjukkan pada dunia.”
“Nggak tahu ah.”
“Loh, kok nggak tahu.”
“Lagian, aku heran sama Marinka, hilang kemana coba rasa malunya itu. Udah tahu, ‘kan aku ini istri kamu, kamu itu suami aku, harusnya dia nggak secara terang-terangan bilang suka sama kamu.” Melissa memberi tekanan di d**a Reza dengan telunjuknya, tapi pria itu segera menahan tangan Melissa. Entah kenapa kalimat Melissa barusan begitu indah di telinganya.
“Apa sih, Za.” Melissa mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Reza. Namun, pria itu tetap menahannya. “Pelakor adalah sesuatu yang paling aku benci sampai ke tulang,” imbuh Melissa sembari menjauhkan tangannya dari d**a Reza begitu pria itu mengurai genggamannya.
Reza malah tertawa. “Harusnya kamu nggak usah bersikap seperti itu, kita hanya pura-pura, ‘kan?”
Melissa tercenung menatap Reza. “Kamu benar,” dia mengangguk, “tapi se-Kalimantan Barat tahu kita ini sepasang suami istri dan Marinka juga tahu itu.” Melissa memberi tekanan pada kalimat terakhirnya.
Reza tersenyum sembari menggaruk kepalanya. Mungkin memang Melissa berlebihan dalam hal ini. “Cuma sedesa itu aja, Mel, nggak se-Kalbar,” sanggah Reza.
Melissa mendengkus. “Iya, iya. Tunggu di sini, aku akan urus kepulanganmu,” ucapnya judes.
Saat Melissa berjalan ke luar, Pak Amir sedang menunggunya di depan resepsionis. “Pak Amir?”
Pak Amir mengangguk ramah sembari tersenyum. “Saya kemari kebetulan ada urusan, jadi saya mampir.”
Melissa mengangguk seraya membalas senyuman Pak Amir. “Sore ini kami sudah boleh pulang.”
“Wah syukurlah kalau begitu, pulang bareng saya saja.”
“Siap. Pak Amir mau ketemu Reza?” tanya Melissa.
Pak Amir mengangguk dan dia mengikuti Melissa. “Bagaimana keadaannya sekarang?”
“Sudah membaik,” jawab Melissa sembari menoleh.
Dia kemudian membukakan pintu kamar rawat Reza. “Za, ada Pak Amir,” ucap Melissa pada Reza. “Masuk, Pak.”
Pak Amir mengangguk.
“Za, kamu ngobrol dulu sama Pak Amir, aku urus administrasi sama kepulangan kamu dulu,” ucap Melissa di depan pintu. Wanita itu kemudian pergi dari sana setelah mengantar Pak Amir.