Ketahuan

1929 Words
Melissa mengurai rambut panjangnya, dia duduk di depan rumah menikmati senja yang perlahan meredup tertutup gelap, sementara Reza ada di belakang sedang memperhatikannya.  Reza mendekat kemudian duduk di sebelahnya. Melissa menoleh sekilas tanpa ada seulas senyum yang menyambut kehadiran Reza. “Sore ini langit indah,” gumam Melissa sembari menatap langit.  “Kemarin-kemarin kenapa?” tanya Reza seraya ikut menatap langit.  Melissa mendengkus, bisakah Reza tidak mengganggunya dengan membuat pertanyaan bodoh yang bisa saja merubah suasana hati Melissa.  “Aku suka senja yang tenang,” ucap Reza sembari tetap menatap langit, “apalagi di sini.” Dia kemudian menoleh pada Melissa. “Terima kasih sudah izinkan aku untuk ikut kamu lagi. Di Jakarta aku nggak pernah merasa setenang ini.” Melissa menoleh dan mengangguk.  “Ibuku mendesak agar aku segera mencari pengganti Tania. Di pikirannya hanya Tania, Tania dan Tania, entah kenapa cuma wanita itu yang mama inginkan, bahkan dia tidak pernah bertanya kalau sebenarnya aku meninggalkan cinta di Swedia.” Reza menghela napas panjang, dia terus menatap langit yang memancarkan warna jingga itu.  “Apa yang mamamu suka dari Tania?” tanya Melissa penasaran.  “Penurut.” Reza terdiam sejenak. “Tapi sebenarnya dia hanya mencoba agar tidak mengecewakan orang lain. Dia orang yang tidak enakkan, di pikirannya hanya kebahagiaan orang lain, dia bahagia atau tidak itu urusan nanti.” Melissa mencebikkan bibir. “Minta mamamu buat cari menantu dari yayasan, pembantu biasanya nurut sama majikan.” Kalimat pedas Melissa membuat Reza tertawa. Setelah kekehannya berakhir Reza kembali menyambung ceritanya. “Tapi, semenjak keluarganya meninggal dalam kecelakaan, dia nggak lagi mikirin kebahagiaan orang, dia menjadi sosok yang egois, dia menemukan hidupnya di club malam.” “Hah?” Melissa memiringkan wajahnya. “Mabuk?”  Reza mengedikkan bahu. “Kalau aku tidak mendapat tugas untuk menyelidiki kasus  di club tersebut, aku mungkin tidak akan menemukannya di sana.” Melissa menggelengkan kepala. “Ck, ck,ck, ck.”  “Tania berubah.” “Berapa persen?” Melissa memiringkan wajahnya. “99 persen. Dia seperti memurkai hidupnya sendiri.” “Seperti, baru seperti jangan sok tahu!” tukas Melissa menatap langit itu kembali.  Reza menarik napas kemudian menoleh. “Yang aku kenal, dia lembut, nggak banyak ngomong dan--” Melissa mengacungkan telapak tangannya untuk menghentikan perkataan Reza. “Nggak banyak ngomong sama kamu, mungkin sama yang lain dia bawel.” Melissa mengedikkan bahu. “Biasanya cewek akan terbuka dan banyak bicara kalau sama orang yang benar-benar bisa membuat dia nyaman, senyaman-nyamannya.” Kalimat Melissa adalah tamparan bagi Reza. “Sebenarnya aku nggak begitu yakin dengan perasaanku sama dia, sejatinya aku hanya mencoba dekat karena amanat kak Rega.” “Seperti itu,” goda Melissa sembari menyikutnya.  “Aku nggak yakin kalau itu cinta, aku hanya merasa aku wajib melindungi dia.” “Amanat,” tukas Melissa. Reza mengangguk “Kamu pernah bilang cinta?” Reza kembali mengangguk. “Untuk apa?” “Ngeyakinin dia, orang tuaku ingin aku menunaikan amanat almarhum kakakku untuk menikahinya dan menjadikan dia satu-satunya menantu untuk mereka.” Melissa menggelengkan kepala. “Ck, ck, ck, ck.” “Kenapa?” “Absurd!” Kedua mata Melissa membulat. “Aku jadi penasaran kayak apa si Tania itu," Melissa menegakkan tubuhnya dan berbalik pada Reza, wanita itu kemudian memegang bahu Reza agar menghadap padanya, "cantikan mana sama aku?"  Reza termangu menatap dalam  Melissa cukup lama, seolah dia tengah menelisik setiap inci wajah wanita itu.  Melissa terus menggerakkan kepalanya ke kanan, ke kiri, kemudian memiringkan wajahnya ke kanan lalu ke kiri, senyum di wajahnya tersungging, dia sebenarnya tidak begitu serius menanyakan ini karena dia percaya standar kecantikan orang berbeda-beda.  Perlahan tangan Reza terulur, jarinya menyentuh anak rambut Melissa dan menyampirkannya ke telinga wanita itu. “Kalian sama-sama cantik,” gumam Reza. Jantung Melissa berdegup kencang dan dia segera bangkit untuk menghindari Reza, dia tidak ingin pria itu mendengar debaran asing di balik dad*nya.  Tangan Reza tertahan di udara, dia terperangah melihat kepergian Melissa. Ada apa dengan wanita itu? Padahal Reza tak mengatakan kecantikan Melissa secara spesifik. Meski begitu, hal itu berhasil menerbitkan senyum di wajah Reza.  Melissa mondar-mandir di kamarnya. Kedua tangannya saling bertautan, dia terkesiap saat mendengar Reza memanggilnya. “Astaga, ini kenapa?” gumam Melissa gusar.  “Mel.” Reza terus berteriak.  Melissa menggosok-gosokan telapak tangannya. Dia menarik napas dan meniupkannya. Melissa mengerjap beberapa kali untuk menghilangkan bayangan sorot mata Reza dari pikirannya.  Melissa hendak ke luar dengan menyingkap gorden, di waktu yang bersamaan Reza juga menyingkapnya. Kedua mata mereka bersirobok, hingga mereka merasa detik terasa melambat, hanya debaran yang terasa begitu cepat. “Mel?” suara Pram Gunadi membuyarkan imajinasi Reza. Melissa mengerjap dan menggeser tubuh Reza. “Papi,” teriak Melissa seraya mendekat dan menghambur ke pelukan ayahnya. Sementara Reza berjalan lambat di belakang Melissa.  “Ketiga penjahat itu sudah ditangkap,” ucap Pram sembari mengurai pelukan Melissa.  “Iya?” Kedua alis Melissa terangkat. “Alhamdulillah,” sahut Melissa dan Reza bersamaan.  “Kemarin saat kalian pulang, nah malamnya kami berhasil mengepung mereka.” “Makasih ya, Pi.” Melissa kembali memeluk ayahnya.   “Terima kasih, Pak.” Reza mengulurkan tangan pada Rahmat yang langsung mendapat sambutan hangat, begitu Melissa mengurai pelukan ayahnya, Reza mengulurkan tangan pada Pram Gunadi. “Terima kasih, Pak.”  Pram Gunadi tersenyum, dia menempatkan tangan kirinya di atas tangan kanan Reza yang sedang menjabat tangan kanannya. Wajahnya tersenyum ramah, selalu seperti itu saat kalimat, ‘titip anak saya’ akan terucap. Namun, kali ini tidak terucap dan hanya terucap dari hati dan sampai ke hati saja. “Pi, duduk dulu yuk, Mel bikinin teh,” ajak Melissa.  Pram menata arlojinya yang menunjukkan pukul lima sore. “Udah hampir gelap. Penerbangan kita pukul delapan, Mel dari Malaysia.” “Oh, aku kira ….” “Nggak, kita memang sengaja, akses ke sini jauh banget jadi Papi ambil yang dekat aja.” Melissa mengangguk. “Ya udah nggak apa-apa.” Melissa kemudian menatap Rahmat. “Makasih ya, Om,” ucapnya sembari menyalami tangan Rahmat.  “Iya, Mel, hati-hati di sini ya.” Melissa mengangguk seraya tersenyum. Pram dan Rahmat akhirnya berlalu usai berpamitan dengan Melissa dan Reza. Pram tidak akan mengkhawatirkan ini lagi, hanya saja tugas Reza di sini menjaga Melissa masih tetap sama.  Reza dan Melissa masih berdiri di depan rumah. “Bentar lagi maghrib,” ucap Reza seraya berbalik.  “Pak Reza sudah pulang?” tanya Marinka seraya mendekat. Begitu saja datang tanpa salam. Reza menoleh dan berbalik. “Sudah, Alhamdulillah.” Melissa mendelik tidak suka karena Miranka terlalu akrab dengan Reza.  “Saya mau mengobrol sebentar sama Pak Reza, bisa?” Reza menatap Melissa. Melissa segera mengedikkan bahu seraya mencebik. “Saya nggak bisa.” “Kenapa nggak bisa? Ngobrol di dalam aja,” ucap Melissa kesal.  Marinka tampak kaku. “Saya cuma sebentar.” “Ya udah di dalam. Nggak enak ngobrol di luar,” kata Melissa tegas dan tak suka di bantah.  Marinka mengangguk dan naik tiga undakan anak tangga. Dia kemudian duduk di atas tikar. “Ada apa?” tanya Melissa. Marinka menoleh, namun, wanita itu terus menatap Reza. “Kamu kenapa sih?” Melissa terdongak menatap Reza. Dia kemudian menatap Marinka. “Aku tahu kamu suka sama Reza, tapi kamu juga harus ingat kalau Reza itu suami saya.” “Saya tahu kalian bukan suami istri, saya dengar sendiri waktu di rumah sakit.” Jantung Melissa mencelus, begitupun dengan Reza. “Kamu nguping?” Melissa geram. Reza segera duduk untuk menenangkan. “Ya memang kita bukan suami istri, tapi kamu harus ingat,” Melissa menatapnya lekat seraya mendekat, “kamu itu istri muda Pak Aria.” “Iya, betul, kalau saya suka sama Reza apa salahnya.” “Salah! Karena kamu udah jadi istri orang.” “Sebatas suka boleh, ‘kan, lagipula dia juga bukan suami Bu Dokter, dan saya bisa beritahu warga kebenarannya, kalian akan di usir,” tantang Marinka.  Melissa mengerutkan kening. Berani sekali wanita di depannya ini. Entah terbuat dari apa, apakah dia merasa hebat karena sudah menjadi istri orang penting di daerahnya? “Marinka,” panggil Reza lebih tenang. “Saya Polisi dan ayahnya Melissa itu Jenderal Polisi. Kami tidak pernah mengotori kampung ini. Kami tinggal serumah, tapi kami tidak berbuat apa-apa, saya di sini menjaga Melissa, seperti kejadian kemarin penjahat datang ke sini.” “Kenapa harus mengaku suaminya?” desak Melissa.  “Pak Pram yang minta, agar saya bisa menjaga Melissa dua puluh empat jam.” Marinka tergemap dia tak berani berkata-kata lagi.  “Kamu jangan macam-macam, Kami harap kamu tidak main-main dengan Melissa karena urusannya akan sangat runyam, selain kamu berurusan denganku, kamu juga akan berurusan dengan ayahnya.” ucap Reza.  Marinka tergemap, dia kemudian mengangguk. Melissa terpana melihat Reza, pria itu berhasil membuat Marinka bungkam.  “Ada lagi?” tanya Reza.  Marinka menggeleng. “Saya minta maaf.” Reza mengangguk. “Kami memaafkan asal kamu tidak menganggu kami selama bertugas di sini.” “Saya permisi.” Marinka kemudian bangkit. Dia berjalan ke luar tanpa melirik ke belakang lagi.   Melissa menghela napas. “Astaga!” Dia kemudian menoleh pada Reza. “Gimana dong?” “Nggak gimana-gimana, udah kamu tenang aja, dia nggak akan berani ngomong apa-apa.” “Kamu yakin?” Reza mengangguk, dia kemudian bangkit untuk menutup pintu dan menguncinya. Melissa meletakkan lentera pemberian Pak Rumbun di kamarnya sedangkan lentera lainnya ada di ruang tengah. “Sekarang lebih terang. Kenapa harus ada kejadian kayak kemarin dulu baru Pak Rumbun ngasih dua lentera,” dengksunya sembari kembali ke ruang tengah, Reza tampak duduk bersila sementara segelas air dingin ada di depannya.  Melissa ikut duduk di depannya, kemudian dia menyangga wajah dengan telapak tangan. “Kata Bapak tadi nggak apa-apa.” “Emang nggak apa-apa, terus gimana?” “Terus kenapa sekarang malah melamun, takut digerebek kayak waktu malam itu?” goda Melissa.  Reza menghela napas sembari menatap Melissa. “Itu cuma mimpi, Mel.” Reza mendekatkan wajahnya ke depan wajah Melissa, lagian kalau digerebek, biasanya warga bakal nikahin kita. Nanti aku pulang bawa istri,” goda Reza.  Melissa meneguk liurnya, napasnya terasa sesak seolah Reza telah menghabiskan jatah oksigennya. Perlahan dia memundurkan wajahnya.  “Kenapa, Mel, muka kamu pasti merah?” Reza tersenyum memperhatikan. Melissa segera berbalik kemudian bangkit.  “Aku mau siap-siap bentar lagi maghrib,” ucap Melissa gugup sembari pergi ke kamar.  Reza mengangkat kedua alisnya, namun, bibir terus saja menyunggingkan senyum. Dia kemudian menggaruk keningnya gugup. Dia yang menggoda Melissa, lalu kenapa dia malah ikut gugup? Ada-ada saja. Tiba-tiba Melissa melongok dari kamar. “Kamu mau jadi imam aku nggak?” tanya Melissa.  Reza terkesiap dia menoleh dengan suara jantung yang menggema mengalahkan suara jangkrik. “Maksudnya gimana, Mel? Kamu--” Dia menunjuk Melissa, kemudian menunjuk dirinya sendiri, “aku--” Reza mengerjap melihat Melissa yang terus mengernyitkan kening. “Kamu meminta aku buat jadi imam kamu?” “Shalat, Za,” ucap Melissa sembari tersenyum tipis, “udah adzan.” jari telunjuk Melissa mengacung, sementara satu tangan lain memegang mukena yang siap dipakai. Reza menghela napas dan mencoba membuang rasa besar kepala dalam dirinya. Dia kemudian bangkit dan hendak pergi ke kamar untuk mengambil sarung, Melissa segera bergeser untuk memberi Reza jalan masuk ke kamar, dia tersenyum tipis memperhatikan punggung pria itu.  Kemudian Reza berbalik dan seketika senyum Melissa memudar tergantikan wajah merah yang gugup. Reza mematung menatap Melissa, wanita itu segera tertunduk dan membuang napas pelan. Reza kemudian berujar. “Aku pakai sajadah ini,” ucap Reza. Melissa mengangkat wajah sembari menghela napas, dia kemudian mengikuti Reza ke luar dari kamar dan menggelar sajadah di atas lantai papan tepat di belakang Reza.  “Sudah,” ucap Melissa tanpa menunggu Reza menoleh kepadanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD