Reza sedang berjalan-jalan di halaman rumah Pak Aria Lubis, dia sebenarnya butuh privasi, jadi, sedikit menjauh dari kediaman Pak Aria Lubis dan Marinka mungkin akan sedikit lebih baik.
Sembari terus berjalan Reza mendial nomor Pram Gunadi. Tak berapa lama telepon tersambung karena memang Pram Gunadi sudah menunggu panggilannya sejak Reza mengirimkan pesan satu jam yang lalu.
“Selamat siang, Pak.”
[Siang, Za. Gimana di sana, aman?]
“Sejauh ini aman, Pak. Melisa memaksa saya untuk menelepon Pak Pram, katanya dia rindu.”
Tak terdengar tanggapan Pram Gunadi hanya ada helaan napas yang tersampaikan ke telinga Reza. Reza menduga, Pram sedang tersenyum.
[Za,]
“Iya, Pak?”
[Bilang sama dia kalau saya juga Rindu.]
“Sudah pasti pesan rindu Pak Pram sampai pada Melissa.”
[Ah iya, saya lupa kamu pasti merekamnya.] Pram Gunadi terkekeh.
“Anak Pak Pram cerewet.” Tiba-tiba keluhan Reza membuat Pram berhenti terkekeh. Reza jadi merasa tidak enak hati. “Dia terlalu perhatian sama saya, jadi saya--” Reza memberi jeda, “mmm merasa kalau dia cerewet,” bohongnya.
Tiba-tiba Pram kembali terkekeh. [Kalian pasti sudah sangat dekat, syukurlah. Saya lega kalau kalian bisa berteman dengan baik.]
“Iya, Pak.”
[Titip anak saya ya, Za.]
“Iya, Pak.”
[Saya sudah transfer uang ke rekening kamu untuk satu bulan ke depan. Kalian bisa pakai untuk kebutuhan kalian selama di sana.]
“Iya, Pak, terima kasih.”
[Za, kalau begitu sudah dulu, saya harus mengurus satu kasus di sini, kami pasti rindu kinerja kamu, usul dan pendapat kamu dalam memecahkan masalah, kamu cerdas, Za, ingin sekali saya jadikan kamu menantu betulan buat saya.]
Reza mengulas senyum. Namun, dia tidak mengaminkan juga tidak menolak. Seseorang memang boleh saja berkeinginan, tapi selebihnya Tuhan yang mewujudkan.
[Saya tutup, salam buat Melissa katakan jangan terlalu cerewet biar kamu betah sama dia.]
Reza kembali tersenyum. “Iya, Pak.” Sedetik kemudian dia menjauhkan ponsel Melissa dari telinganya. Namun, bibir masih tersungging, baginya selalu ada semangat baru setiap dia berbicara dengan Pram Gunadi.
Pak Imran tergopoh menyusul Reza. Namun, kini pria itu sudah berbalik dan mengerti kalau Pak Imran memang tengah menyusulnya. “ Iya, Pak?”
“Bapak diajak makan sama Pak Aria.”
“Oh, iya, terima kasih.” Kini mereka berjalan bersamaan.
“Gimana di sana, Pak? Betah?”
Reza mengangguk. “Alhamdulillah, Pak. Cuma ya, terkadang Melissa agak rewel, sekarang saja dia minta saya agar tidak pulang terlalu malam,” Reza mendekat, kemudian berbisik, “soalnya dia takut gelap.”
Pak Imran tersenyum. Reza tak seperti pertama kali bertemu, sekarang pria itu lebih ramah dan akrab.
Mereka kini sudah berada di dalam rumah dan Pak Aria bersama istri pertamanya menyambut Reza di ruang makan. “Makan dulu.”
“Wah iya, terima kasih, Pak.” Reza kemudian mendaratkan bokongnya.
“Di sana gimana?” tanya Pak Aria.
“Begitulah, Pak. Sejauh ini semua aman terkendali,” jawab Reza seraya menciduk nasi dan ayam goreng bumbu kuning.
Pak Aria Lubis mengangguk. Dia kemudian menoleh saat Marinka datang membawakan puding untuk pencuci mulut di makan siang ini. Reza melihat jika Marinka lebih mirip seperti anak Pak Aria dibanding sebagai istri.
***
Di bantu Pak Imran, Reza memasukkan dua dus besar berisi obat-obatan dan alat-alat kesehatan. Waktu menunjukkan pukul 13.54. Reza rasa dia bisa sampai sebelum langit gelap.
Setelah berpamitan dengan Pak Aria dan istri tuanya, Reza diantar untuk kembali ke tempat Melissa tugas oleh Pak Imran. Perjalanan pulang lebih santai tidak seperti saat dia berangkat, setidaknya kini dia bisa tidur sejenak. Meski pandangan mata Marinka membuatnya tidak nyaman, namun dia tidak begitu mempedulikannya.
Sementara itu Melissa yang bekerja sendiri di klinik merasa kesepian setelah pasien terakhirnya pulang. Dia melirik arlojinya, waktu menunjukkan pukul 16.20. Dia sudah resah menunggu Reza, entah kenapa dia dibuat seresah ini oleh pria itu.
Perlahan Melissa bangkit dari duduknya, dia merapikan alat-alat kesehatan dan memasukkan ke dalam tas. Sementara jas putih masih dia kenakan. Melissa mengunci pintu, dia kemudian berjalan sendiri, senja sudah menjemputnya pulang. Namun, entah rumah mana yang akan dia datangi untuk menunggu Reza.
Derap langkah mengikutinya dari belakang. Melissa meraba tengkuk lehernya sembari berhenti, dia kemudian melanjutkan langkahnya kembali. Namun, lagi-lagi Melissa merasa ada yang mengikutinya.
Langkah Melissa semakin cepat, sehingga rambut panjangnya yang diikat ikut bergoyang ke kanan dan ke kiri. Meski tidak tahu siapa yang mengikuti, namun, Melissa merasa perlu waspada, cerita tentang buronan polisi itu membuatnya merasa takut.
Melissa merasakan derap langkah yang mengikutinya itu semakin dekat. Dia kemudian menoleh dan tersentak saat mendapati seorang pria berjaket hitam dengan hoodie menutupi kepalanya. Wanita itu kesulitan membasahi tenggorokannya. Dia yakin pria tersebut bukan warga di sini, pasalnya tak ada orang yang berpenampilan seperti orang kota di tempat ini.
Melissa berbalik dan kembali berjalan, sialnya orang tersebut terus mengikutinya. Melissa kemudian menoleh. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya setenang mungkin.
“Saya Rama.” Pria itu mengulurkan tangan.
“Melissa,” ucap gadis bermata lebar itu tanpa membalas uluran tangan pria yang mengaku bernama Rama. Dia kembali berjalan dan Rama mengiringinya.
“Sudah beberapa hari ini saya tidak enak badan, kata pak Rumbun Anda dokter?” tanya Rama seraya melangkahkan kaki bersamaan dengan Melissa.
Melissa menoleh dan menatapnya. Dia sudah tiga bulan lebih ada di sini, jika Rama benar-benar orang sini seharusnya Rama tahu kalau dia memang dokter.
“Bisa tolong periksa saya?”
“Anda tinggal di mana?” tanya Melissa.
“Saya di kampung sebelah.”
Melissa menenggak liurnya, perasaannya sudah tidak enak, dalam setiap langkahnya ada harapan yang tersirat akan kepulangan Reza.
“Dokter tinggal di mana?” tanya pria itu.
Melissa menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Dia kemudian mengedarkan pandangan entah kenapa semua orang di sini tampak menurung diri, Melissa sampai bingung ini hari apa, kenapa semua tampak sepi.
“Saya tidak masalah kalau harus di periksa di sini,” ucap pria itu sembari berjalan terpincang-pincang ke dekat pohon yang rimbun.
Melissa segera menggelengkan kepala. Tidak pantas dia memeriksa pasien di tempat seperti itu. “Kamu bisa datang ke rumah saya,” ucap Melissa, ada harapan dalam ucapannya tersebut, berharap kalau Reza sudah ada di rumah dan menunggunya.
Rama kemudian berlari terpincang-pincang ke arah Melissa dan kembali mengimbangi gerak langkah wanita itu. Jantung Melissa berdentum kencang, dia merasa takut terhadap pria itu, entah apakah itu hanya perasaannya saja atau itu karena dia terlalu bergantung pada Reza sehingga dia tidak bisa mandiri.
Melissa semakin tidak nyaman, dia pun kembali mempercepat langkahnya. “Dokter jangan cepat-cepat,” ucap Rama menyusul. “Dokter, sudah tiga hari kepala saya sakit, berdenyut di bagian sini.” Pria itu menunjuk ubun-ubunnya sendiri.
Melissa menoleh sekilas. “Nanti saya periksa,” ucap Melissa sembari tetap melangkah.
“Di mana, Dokter, saya tidak kuat berjalan jauh, lagi pula saya dari kampung sebelah,” tutur Rama.
Melissa menghentikan langkahnya dan menatap Rama. “Kita butuh tempat untuk duduk,” tegas Melissa, “saya tidak mungkin memeriksa kamu sembari berdiri atau duduk di tanah.”
Rama yang mendapat ketegasan dari Melissa mematung tak berdaya, wanita itu sungguh berkarisma. Melissa tak menunggu Rama dia terus saja melangkah untuk bisa sampai secepatnya ke rumah.
Saat sudah sampai di depan rumah, Melissa menoleh ke belakang dan pria itu sudah tak nampak, sepertinya Rama tidak mengikutinya. Melissa menghela napas, dia kemudian mengangkat kaki untuk menaiki anak tangga.
Suara deheman di belakangnya membuat Melissa terkesiap dan menoleh dengan cepat, namun waktu terasa begitu singkat saat dia baru menyadari kalau dia berdiri di bibir tangga, sehingga dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Dia mengedarkan pandangan tak nampak siapa yang tadi sempat berdehem di belakangnya. Melissa mencoba bangkit, namun beberapa baret di betisnya membuat dia meringis kesakitan.
Tak berapa lama, Reza datang dan membantunya untuk berdiri. “Kamu kenapa, Mel?” tanya Reza.
Melissa menoleh dan segera menepis tangan Reza. “Kamu kenapa baru pulang?” tanya Melissa sembari mencoba tegak. Namun, dia kembali meringis dan Reza segera membantunya. “Perjalanan aku cukup jauh, Mel.”
Melissa kembali menepis tangan Reza. Wanita keras kepala itu kemudian menaiki anak tangga, meski dia merasakan perih dan panas di permukaan kakinya.
Reza segera mengikuti wanita itu ke dalam rumah. Dia kemudian meletakkan barang bawaannya di lantai papan yang dia pijak. “Tadi aku ke rumah ibunya Marinka dulu, peralatan kesehatan dan obat-obatan aku simpan dulu di rumah ibunya Marinka,” ucapnya.
Melissa tak menyahut. Wanita itu tampak kesal, meski sebelumnya sempat mengharapkan Reza pulang cepat. Namun, kejadian barusan membuatnya merasa sebal, apalagi Reza menyebut-nyebut nama Marinka di depannya.
Hari memang belum sepenuhnya gelap. Melissa masih berani ke kamar mandi tanpa lentera dan membersihkan dirinya di dalam. Sementara Reza tercenung dengan sikap Melissa. Namun, dia tak ingin ambil pusing karena dia sudah sangat lelah. Reza ke dapur dan menuangkan air dari teko leher angsa ke dalam gelas.
“Mel, setelah mandi, kita makan, ya, aku lapar,” ucap Reza usai menenggak air dalam gelas tersebut.
Melissa tak menyahut, ciduk demi ciduk air dari gayung mengguyur tubuhnya. Betis kirinya masih terasa perih. Wanita itu mengenakan kimono handuk dan ke luar dari kamar mandi.
Reza tercenung menatap Melissa, wajahnya masam, seperti ada kekecewaan yang berpendar di wajah cantiknya. Reza segera ke kamar mandi dan membersihkan diri seperti yang dilakukan Melissa. Tubuhnya memang sudah sangat lelah, namun, lengket dan panas membuat dia harus mandi terlebih dahulu.
Setelah berpakaian dan mengobati luka di kakinya Melissa nampak mengurung diri di kamar. Reza yang beberapa menit kemudian selesai mandi dan memakai kaos oblong beserta celana cargo pendek yang biasa dia kenakan mendekat dan menyingkap gorden. “Mel, makan yuk, aku laper, masa langsung tidur, baru juga jam enam.”
Melissa menarik napas kemudian dia bangkit dan berjalan ke dapur untuk mengambil dua buah piring, dua buah gelas dan teko. Sementara Reza menyiapkan makan yang tadi dia bawa dari rumah ibunya Marinka.
Makan malam ini terasa tidak nyaman karena sikap Melissa yang tiba-tiba muram, setelah selesai makan, Reza mencoba melerai kekesalan dari dalam diri Melissa. “Kamu marah karena aku pulang telat?”
“Kamu sampai jam berapa ke dermaga?”
“Jam empat.”
Melissa menarik napas. “Perlu berapa jam dari dermaga ke sini?”
“Dua puluh menit,” jawab Reza. Pria itu tetap bersikap tenang dan menjawab saja apa yang ingin Melissa tahu darinya tanpa ikut bersitegang.
“Aku keluar jam jam empat lebih dua puluh detik.” Setelah dari Dermaga kamu ke mana, kenapa nggak langsung ke tempat aku?”
“Aku udah bilang aku ke rumah Marinka dulu buat nyimpen barang bawaanku, kamu, ‘kan tahu bawaanku banyak. Terus ibunya Marinka ngasih ini buat makan malam kita.”
“Alasan!” Dengkus Melissa seraya bangkit.
“Kamu kenapa sih, Mel?” Reza terdongak menatap wanita pemarah itu. “Kamu cuma minta aku nggak pulang malam, iya, ‘kan? Aku udah penuhi semua keinginan kamu.”
Melissa tak menjawab wanita itu menutup gorden dan mengurung diri di kamar. Kekesalan dan ketakutan akan sosok pria tadi masih membayanginya.
Reza memilih diam, dia lelah sekali harus melayani Melissa yang tiba-tiba marah entah kenapa. Pria itu merapikan bekas makannya dan membawanya ke dapur, lalu membersihkan tikar dengan sapu lidi. Namun, tiba-tiba sebuah ketukan membuat dia berhenti dari pergerakannya.
Reza berjalan ke depan pintu, sebuah senyuman menyapanya dengan lembut. “Ada apa ya?” tanya Reza.
“Boleh saya bicara?” ucap Marinka. “Sebentar saja, ini penting.”
Reza menghela napas, satu Melissa saja sudah membuatnya pusing, belum lagi ditambah Marinka. Reza malah merasa heran kenapa Pak Aria Lubis memilih punya istri dua.
Reza tak menutup pintu dan duduk di teras depan rumahnya, sementara Marinka duduk di sebelahnya. “Tiga bulan Pak Reza ada di sini,” ucap Marinka.
Reza sudah ingat, Marinka tidak perlu mengingatkannya lagi.
“Saya suka sama Pak Reza sejak pertama bertemu,” tutur Marinka.
Telinga Melissa tajam sekali mendengar itu. Baginya Marinka sudah kurang ajar, bukankah dia tahu kalau Reza adalah suaminya.
Reza tak terkejut, dia juga tidak tersenyum.
“Saya cuma ingin Pak Reza tahu itu, soalnya saya nggak bisa tidur, saya bela-belain kembali ke sini menemani Pak Reza di sepanjang jalan, padahal Pak Aria meminta saya untuk tetap tinggal di sana.”
Reza masih bergeming dengan tenang. Namun, Melissa sudah tidak tenang dia ingin sekali menampar dan menjambak wanita itu.
“Terima kasih karena kamu sudah suka sama saya. Saya tahu saya memang tampan, kamu mungkin baru bertemu dengan pria setampan saya di sini,” ucap Reza bangga.
Melissa malah semakin geram dengan sikap Reza. Padahal Reza hanya ingin membuat Melissa ke luar dan marah-marah pada Marinka karena telah berani mengganggu suaminya. Pria itu tahu kalau Melissa pasti mendengar percakapannya dengan Marinka.
Marinka tersenyum. Apa yang dikatakan Reza memang benar adanya, hal itu membuatnya malu.
“Tapi kamu tidak lupa, ‘kan, siapa saya dan siapa kamu. Kalau kamu mau saya ingatkan lagi, baik akan saya lakukan, siapa tahu perjalanan tadi membuat kamu amnesia,” ucap Reza.
Dari dalam Melissa nampak sedikit lebih tenang, meski sebenarnya dia masih kesal dengan pria sombong itu.