Lari!

2215 Words
“Saya suami Melissa, kamu ingat?” Reza memberi jeda. “Dokter yang tugas di sini selama satu tahun.” Dengan polos Marinka mengangguk. Sementara Melissa tersenyum tipis, namun, keinginannya untuk memukul kepala Reza masih tersirat di benak Melissa.  “Kamu ingat kalau kamu sudah bersuami? Meski ya … sebenarnya Pak Aria Lubis lebih cocok jadi ayah kamu, tapi kamu harus terima karena dia sudah menjadikanmu istrinya.” Marinka tercenung. Kalimat yang disampaikan Reza terlalu sarkas dan itu telah melukai hatinya, bukankah pria itu sudah tahu alasan Marinka menikahi Pak Aria. Kenapa Reza tidak menerima pernyataan yang datang dari hatinya itu? “Kamu dengar ya, satu Melissa saja sudah membuat kepala saya pusing, apalagi ditambah sama kamu, bisa-bisa kepala saya pecah.” Reza mengusap kasar kepalanya. “Asal kamu tahu, saya tidak berniat untuk memiliki dua istri,” tegas Reza. “Sekarang kamu pulang, saya mau istirahat,” tambah Reza seraya bangkit.  Marinka tergemap sembari terdongak menatap Reza yang terus berlalu dari hadapannya, pria itu masuk ke dalam rumah dan mendapati Melissa tengah berdiri di depan kamar sembari berkacak pinggang.  “Maksud kamu apa? Jadi kamu merasa aku udah bikin kamu pusing ?”  Marinka terkesiap mendengar Melissa berbicara dengan nada tinggi, perempuan 18 tahun itu pun segera bangkit dan pergi dari depan rumah Reza. “Aku capek, Mel. Aku datang kamu tiba-tiba marah, bermuka masam, kalau aku suami beneran, kamu udah dosa, Mel,” ucap Reza seraya mendekat dan berdiri di depan wanita itu. “Kamu nggak tahu, ‘kan, tadi ada cowok aneh yang ngikutin aku.” “Ya mana kutahu, kamu nggak cerita.” Reza duduk setelah mengedikkan bahu.  Melissa berbalik dan menatap pria yang kini sedang merebahkan tubuhnya. Sungguh Reza sangat menyebalkan, kenapa pria bersikap seolah apa yang dia alami bukan hal penting, padahal tadi Melissa sangat ketakutan.  “Kamu simpan dulu cerita kamu itu, aku ngantuk mau tidur,” ucap Reza seraya berbalik membelakangi Melissa.  Melissa semakin kesal, dia kemudian masuk ke dalam kamar dan tidur di kasur. Kenapa ada orang seperti Reza, pria yang terkadang tak pernah menyaring ucapan, bahkan dia berkata sarkas saat menolak pernyataan cinta Marinka.  Malam semakin larut dan mereka sudah tertidur. Tiba-tiba suara ketukan di daun pintu membuat Reza terbangun, pria itu segera mengambil ponsel dan menyalakannya. Waktu di layar ponsel menunjukkan pukul 00.21. Kedua mata Reza membola, siapa yang bertamu di tengah malam seperti ini.  Ketukan di daun pintu semakin menjadi, membuat Reza memikirkan kemungkinan apa yang terjadi, apakah ada yang mendengar pertengkarannya dengan Melissa dan tahu kalau dia bukan suami betulan dokter itu.  Melissa tergesa bangun dari tempat tidurnya, kedua matanya bersirobok dengan Reza. Jantung keduanya berdentum takut. “Jam berapa?” tanya Melissa pelan.  Reza memberikan ponsel Melissa dan wanita itu langsung melihat jam di layar, kedua mata Melissa membola, reaksinya sama persis dengan Reza saat melihat jam untuk pertama kali.  “Biar aku yang lihat,” ucap Reza. Pria itu kemudian berjalan ke depan pintu. Melissa memasukan ponselnya ke saku. Dia kemudian mengikat rambut tinggi-tinggi.  Reza tercenung di depan pintu yang sudah terbuka. “Ada apa ya?” tanya Reza.  “Ini rumah dokter Melissa, ‘kan?” tanya pria yang memakai jaket hitam dan menutupi kepalanya dengan hoodie.  “Betul, tapi kami tidak menerima pasien.” Tiba-tiba Reza terkesiap dan spontan mengacungkan telapak tangan ke udara saat pria itu menodongkan pisau ke depannya. Pria itu meminta Reza bergeser untuk memberinya jalan masuk. Reza segera mundur dua langkah dan Melissa terkesiap saat melihat seorang pria tengah menodongkan senjata sembari berjalan terpincang di depan Reza yang terus mundur.  “Rama?” Kening Melissa mengkerut. “Kamu harus obati saya sekarang,” ucap pria itu pada Melissa sembari terus menodongkan senjata pada Reza. “Tapi--” “Kalau tidak, pisau ini akan melukai dia,” pekik pria itu tertahan.  Jantung Melissa mencelus. “Ya oke, kamu tenang, silakan duduk di sini.” Melissa menunjuk tempat tidur Reza.  Reza mengernyit, kenapa Melissa bisa mengenal pria itu?  Rama duduk di tikar tempat Reza berbaring. Pria itu meletakan pisau di dekat kakinya. Dia kemudian menggulung celananya hingga ke atas dan menampakan kaki bersimbah darah yang setengah kering. “Ini luka tembak, kamu harus mengobati saya.” Melissa terperangah, dia kemudian menoleh pada Reza. Reza langsung memberi isyarat agar Melissa mau menolong pria bersenjata itu. Sementara itu Reza hendak ke kamar, namun, baru selangkah, Rama kembali menodongkan pisau.  “Tetap di situ, atau saya lukai dokter ini!” Reza menghela napas sembari  mengacungkan tangan. Sementara Melissa segera mengambil alat-alat kedokterannya, dia juga menurunkan lentera dan meletakkannya di dekat kaki pria yang kini sudah tengkurap, Melissa kemudian berjongkok dan melihat luka di buah betis pria tersebut. “Kenapa bisa kena tembak?” tanya Melissa seraya membersihkan darah di sekitar luka tersebut. “Nggak usah banyak tanya, lakukan saja apa tugasmu!” titah Rama. Melissa meneguk liurnya. “Maaf soal kemarin sore. Seharusnya saya mengobati luka kamu saat kamu datang pada saya.” Melissa hanya mencoba untuk memecah kebekuan dan membuat pria itu lebih tenang.  Pria yang mengaku bernama Rama itu tak menjawab permintaan maaf Melissa. Sementara Reza perlahan bergeser dari tempatnya berdiri untuk bisa sampai ke kamar. Namun, pria itu tahu Reza tak lagi berada di tempatnya. “Saya lapar, katakan pada suami kamu untuk menyiapkan makanan.” Melissa menoleh dan mengangguk. Namun, Reza tampak mematung.  “Cepat!”  Reza menarik napas, mau tak mau dia harus menuruti pria itu, karena bisa saja senjata itu melukai Melissa atau dirinya. Reza pun berjalan pelan menuju dapur, sementara Melissa masih mencoba mengeluarkan peluru dari kaki pria itu. Pria itu menggigit bantal untuk menahan sakit.    Sementara di dapur Reza tak benar-benar menyalakan api di atas tungku, dia bukan tidak bisa, hanya saja dia mencoba membuat semua terasa lama. Reza masih mengulur waktu untuk menyalakan tungku. Dia berharap Melissa segera selesai dari pekerjaannya. Reza kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dia hendak mengirim pesan pada Pram Gunadi. Namun, dia berpikir ulang karena baginya ini terlalu pengecut, dia masih bisa melindungi Melissa. Maka dia pun kembali memasukkan ponsel ke saku celananya. Melissa sudah selesai mengeluarkan peluru tersebut dan juga sudah menjahit luka pria itu, kini dia sedang melilitkan perban untuk menutupi lukanya.  Reza berdiri di depan dapur. “Kami ada makanan sisa semalam, apa kamu mau? Kalau masak, kami tidak punya peralatan masak.” Reza beralasan.  “Ya sudah siapkan saja!”  Melissa merapikan peralatannya. Dia kemudian beranjak. “Saya harus ke kamar mandi untuk cuci tangan. “Tidak usah kamu di sini saja.”  “Tapi, ini kotor, saya juga sekalian buang air.” “Ya sudah.”  Melissa kemudian beranjak, dia berjalan ke dapur dan mendekati Reza yang sedang menyiapkan makan. “Menurutku dia buronan yang pernah dikatakan papi,” bisik Melissa yakin. Dia kemudian mengeluarkan obat dari saku bajunya. “Masukkan obat tidur ini ke dalam makanannya. Dia akan tertidur sampai siang, setelah itu kita akan tahu apa yang terjadi,” bisik Melissa. Reza segera mengambil obat di tangan Melissa. Namun Rama sudah berdiri di belakang mereka bersama dengan dua orang temannya. “Dia polisi,” ucap salah seorang diantara mereka. Melissa dan Reza terperanjat seraya menoleh.    Jantung Melissa mencelus. Reza segera menggenggam tangan Melissa  “Kita habisi mereka, sebelum polisi lain datang menemukan kita di sini,” bisik Rama seraya menodongkan kembali pisaunya.  Reza mengacungkan satu tangannya. “Kalian salah, saya bukan polisi,” ucapnya seraya melangkah.  “Bohong! Ini buktinya,” ucap salah satu pria berambut keriting sembari menunjukkan dompet yang di dalamnya ada tanda pengenal Reza, Reza menghela napas dan segera merebut dompetnya. Rupanya mereka sudah menggeledah kopernya. Reza kemudian menendang kaki Rama yang baru saja diobati Melissa beberapa saat lalu hingga pria itu tersungkur ke depan.  “Mel, lari!” ucap Reza seraya mendorong Melissa.  Reza mulai berkelahi dengan para penjahat itu. Namun, saat Reza mencoba menghalau serangan, pisau malah merobek tangannya. “Za?” Melissa panik. Reza menoleh dan segera berlari ke luar bersama Melissa untuk mencari bantuan.  “Kejar! titah Rama pada kedua temannya.  Reza terus berlari meski darah terus mengucur dari tangannya. Melissa menatap Reza prihatin. “Kita harus ke dermaga,” ucap Reza terengah.  “Kita teriak aja,” ucap Melissa sembari terus berlari bersama Reza. “Mereka bawa senjata, Mel.” “Kamu takut?” tuduh Melissa.  “Aku bukan orang yang begitu ahli dalam berkelahi, Mel. Lagi pula aku nggak mungkin biarin mereka lukai kamu.” Melissa tercenung, gerakan kakinya melambat. “Dan sekarang mereka lukai kamu,” ucap Melissa pelan. Reza menutup mulut Melissa dan segera menariknya, lalu mereka bersembunyi di belakang rumah salah satu warga. “Ssshhh ….”  Dua orang penjahat itu celingukan. “Mereka sudah tahu siapa kita,” ucap pria berambut keriting.  “Mana?” tanya Rama terseok di belakang kedua pria itu. “Kita nggak boleh kehilangan jejak, mereka pasti cari bantuan.” “Kita bisa lewat sana menuju dermaga,” bisik Reza. Melissa mengangguk. Mereka berdua kemudian berlari sekencang-kencangnya. Sialnya ketiga penjahat itu melihat gerakan mereka. “Itu mereka, Kejar!” “Aww ….” Melissa terjatuh, bared di kakinya semakin melebar dan mengeluarkan darah. Luka kemarin sore saat jatuh dari anak tangga membuat Melissa kesulitan berlari.  “Mel?” Reza segera berjongkok dan memberikan punggungnya dengan sukarela dan tanpa banyak bertanya. “Kita harus secepatnya sampai ke dermaga, Mel.” Melissa berdiri dan naik ke punggung Reza, pria itu kemudian bangkit, teriakan dari belakang membuat Reza mempercepat gerak kakinya. Kini mereka sudah sampai di dermaga, perahu di sana hanya  tersedia satu, itupun menggunakan dayung. Reza segera menurunkan Melissa dan membantu wanita itu untuk naik ke atas perahu. Dia lalu melepas tali perahu tersebut.  “Kalian nggak bisa lari!” teriak kedua penjahat itu seraya mendekat. Namun Reza segera naik dan memutar dayung dengan cepat. Kedua penjahat itu turun ke air untuk menarik ujung perahu tersebut. Namun, Reza berhasil memukul pria bertopi itu dengan dayung, begitupun dengan Melissa, dia memukul kepala si rambut keriting dengan keras. Meski perahu sempat oleng, akhirnya mereka berhasil menyeimbangkannya dan bisa lari dari para penjahat itu.  “Sial!” geram si rambut keriting sembari memegangi kepalanya, keduanya sudah basah kuyup. “Kita harus segera pergi sebelum polisi lain berdatangan.” Melissa dan Reza terus mengayuh. Hanya terang bulan yang menerangi pelarian mereka. “Kayaknya mereka udah nggak mungkin bisa ngejar kita deh,” ucap Melissa terengah seraya menoleh ke belakang.  “Kita harus ke kota buat minta bantuan.” “Maksud kamu?”  “Kamu bawa hape, ‘kan? Kamu bisa telepon Pak Pram.” Melissa mengangguk. Namun, wanita itu memperlambat gerakannya dan menoleh pada Reza. “Tangan kamu berdarah, Za.”  Perahu itu berhenti tepat dekat daratan menuju jalan besar. Reza bangkit dan turun perlahan dari perahu, dia kemudian berbalik dan mengulurkan tangan pada Melissa. Wanita itu menatap uluran tangan Reza. Melissa terenyuh Reza terus berusaha melindungi dirinya, padahal sebelumnya mereka sempat bertengkar kecil.  “Aku minta maaf untuk kejadian kemarin,” ucap Melissa seraya meletakkan tangan di atas telapak tangan Reza.  Reza menjawab permintaan maaf Melissa dengan anggukan. “Kaki kamu masih sakit?”  “Sedikit,” jawab Melissa seraya turun dari perahu.  “Sebenarnya, kita nggak perlu ke kota, kita bisa ke mana aja, yang bisa dapat sinyal buat menghubungi Pak Pram dan meminta bantuan,” ucap Reza seraya berjalan pelan. Mereka begitu yakin kalau para penjahat itu tidak akan mengejar mereka. Melissa berhenti, dia melepas tali piyamanya, lalu membalut luka di tangan Reza. “Kamu harus segera diobati, Za.” “Kamu juga luka, Mel.” Melissa menarik napas. “Kemarin sore, cowok tadi yang dapet luka di kaki, dia datang, ngikutin aku dan minta diperiksa, aku takut, soalnya dia mencurigakan,” keluh Melissa sembari terus berjalan, meski kakinya terasa perih. “Kenapa kamu nggak cerita.” Melissa memutar bola matanya. “Gimana mau cerita, aku kesal sama kamu.” Reza menoleh dan menatap wanita itu. “Harusnya aku bisa jadiin kamu umpan untuk menangkap para penjahat itu.” “Halah berlagak. Kenapa nggak kamu lakukan? Kenapa malah ngajak aku lari, hm?” Melissa mengedikkan dagu. Reza tersenyum kecut. Dia kemudian menarik Melissa ke sebuah gubuk. “Kita duduk dulu di sini sampai matahari terbit, aku capek,” ucapnya, padahal dia tahu kalau sedari tadi Melissa menahan sakit di kakinya.  Melissa mengikuti Reza, mereka duduk di gubuk tersebut. Reza membuka ponselnya untuk melihat jam. “Jam empat, Mel,” ucapnya pada Melissa yang kini duduk di sebelahnya.  Melissa menghala napas. Dia kemudian menyandarkan kepala di bahu pria itu. “Pinjam sebentar, aku capek.”  Reza menarik napas dan termenung memikirkan kejadian yang baru saja menimpa mereka berdua.  Melissa mengetik pasan pada ayahnya, dia tidak berpikir apakah pesan itu akan sampai pada ayahnya atau tidak, yang terpenting sekarang ada ikhtiar untuk ini.  [Pi, tiga orang buronan itu tahu kalau Reza adalah polisi dan sekarang mereka mengejar kami, tolong kirim bantuan ke sini, Pi.] Tiba-tiba terdengar suara kekehan Reza, seolah ini adalah lelucon. “Seharusnya polisi yang memburu mereka, bukan malah mereka yang mengejar-ngejar polisi.” Melissa menghela napas. “Gimana jadinya tadi kalau di dermaga nggak ada perahu.” “Selalu ada, Mel, aku tahu dari warga setempat.” “Pantes kamu ngajak ke sana.” “Aku nggak tahu lagi harus ngajak kamu ke mana.” “Za, di sini matahari terbit kelihatan nggak ya?” Reza tersenyum. “Kita tunggu aja, Mel.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD