“Itu mereka!”
Reza dan Melissa terkesiap. Melissa segera bangkit begitupun dengan Reza, tanpa pikir panjang mereka berlari menuju semak, bukan mengikuti jalan besar yang tidak ada persembunyian sama sekali.
“Kita ke mana, Za?”
“Nggak tahu,” pekik Reza seraya terus berlari.
Namun, tiba-tiba pria berambut keriting berdiri di depan Reza. Tawanya menggema karena sesaat lagi buruannya akan berakhir.
Reza segera menghindar saat kaki pria itu hendak menerjangnya. Dia kemudian melayangkan pukulan tepat di perut pria itu, hingga terpelanting. Satu pria lagi berdiri di belakangnya.
“Za, awas!” pekik Melissa. Reza langsung menghindari kaki yang terbang dari belakang dan sialnya kaki si penjahat mengenai temannya sendiri. Melissa datang dengan sebilah kayu di tangannya. Dia memukuli kedua pria itu dengan kayu tersebut. Namun, Rama datang dan menusuk Reza dari belakang. Seketika Reza tersungkur ke depan.
Melissa menoleh ke belakang dan si pria berambut keriting berhasil merebut kayu yang dipegang Melissa. “Za?” Melissa panik melihat darah mengucur di balik baju biru laut yang dipakai Reza. “Tolong!” teriak Melissa. Wanita itu terus melolong meminta tolong. Pria berambut keriting mengacungkan kayu, hendak memukul Melissa dengan kayu yang dipegangnya.
“Hey siapa itu?” teriak seorang pria di ujung jalan kecil yang tak jauh dari mereka berada.
“Tolong, Pak," teriak Melissa lagi. Rupanya di seberang semak tinggi itu adalah pemukiman warga.
Ketiga pria itu berlari pontang-panting menuju jalan besar. Rama tak meninggalkan jejak, pria itu membawa pisau yang menusuk pinggang Reza.
Melissa menangis melihat Reza terus mengeluarkan banyak darah. Pria tua datang mendekat dan menolong Reza dengan membopongnya. “Awak masih bisa jalankah? tanya pria tua itu.
Reza mengangguk. Pria tua itu mengangkat tangan Reza dan meletakkannya di bahu. Melissa terus menangis sembari berjalan di sebelah Reza. “Aku nggak apa-apa, Mel.”
“Tapi kamu kekurangan banyak darah, kamu harus segera dibawa ke rumah sakit, Za.”
“Di seberang ada rumah sakit, nanti saya antar ke sana.”
“Rumah sakit?” Kening Melissa mengerut. “Katanya di sini kalau mau berobat susah, katanya nggak ada fasilitas kesehatan?”
“Di sini memang nggak ada, maksud saya di negara tetangga, hanya perlu dua jam untuk bisa ke sana.”
Melissa mengurut dahi. “Ya udah, Pak, antar kami ke manapun itu yang terpenting suami saya segera dapat perawatan.”
Menggunakan mobil jeep, pak Amir membantu Reza dan Melissa menuju ke sana. “Terima kasih, Pak, sudah menolong kami.”
“Iya, kebetulan tadi lewat, saya dari dusun sebelah, mau ke Sarawak.”
“Kami dari Jakarta, kebetulan sedang tugas di sini,” tutur Melissa.
Pria itu mengangguk sambil mengemudi. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Melissa semakin resah saat melihat Reza yang tampak semakin lemas. Wanita itu segera menggenggam erat tangan Reza. “Kamu akan tetap baik-baik aja, aku janji.”
Reza tersenyum. “Kamu nggak perlu janji, kalau terjadi apa-apa sama aku, aku cuma minta jaga diri kamu baik-baik, tugas kamu di sini masih panjang.”
Melissa mendengkus seraya menjauhkan tangannya. “Kamu harus baik-baik aja, aku nggak mau tetap di sini tanpa kamu.”
Reza menghela napas, kemudian dia mengangguk lemas. Tiba-tiba ponsel Melissa berdering, rupanya sejak mereka memasuki kawasan Sarawak, pesan yang Melissa kirim satu jam yang lalu itu sudah sampai pada Pram Gunadi. Kini pria itu tampak panik dan segera menelponnya.
[Mel, kalian baik-baik aja, ‘kan?]
“Papi,” teriak Melissa sembari menangis, “tolong kami, Pi. Reza kena tusuk sama mereka, sekarang kami menuju Sarawak untuk ke rumah sakit,” tutur Melissa seraya menyeka air matanya.
[Apa? Kamu yang tenang, Mel, sekarang papi langsung ke sana.]
“Papi jangan sendirian, Mel takut.”
[Nggak, papi dari sini sama yang lain.]
Melissa menarik napas, ada isakan yang membuat Pram Gunadi merasa resah. “Mel tunggu, Pi,” ucap Melissa pelan.
[Iya.] Tiba-tiba sambungan terputus.
“Kapan kamu kirim pesan sama Pak Pram?” tanya Reza.
“Tadi, pas di gubuk.” Melissa memasukkan kembali ponselnya ke saku piyama. “Kamu jangan banyak ngomong, istirahat aja.”
“Hmmm.” Seketika Reza memejamkan mata.
“Pak, kita masih lama?” tanya Melissa. “Sekarang saya nggak bawa uang, nggak bawa apa-apa selain hape ini aja.”
“Nggak apa-apa, Nak, nggak masalah, mereka akan tetap membantu kok,” ucap Pak Amir sembari tetap mengemudi.
Melissa kembali merogoh ponsel dan mengetik pesan pada Pram. [Pi, aku nggak bawa uang, tolong ya, Pi.]
Reza mendekatkan mulut ke telinga Melissa. “Aku bawa dompet, Mel.”
Melissa ingat saat Reza merebutnya dari para penjahat itu. “Kamu bawa uang?” bisik Melissa.
“Uang kes aku diambil sama mereka, tapi kartu ATM ku aman, Mel.”
Melissa menghela napas. “Syukurlah.”
Akhirnya mobil sampai di depan rumah sakit. Melissa dan Pak Amir membantu Reza untuk turun. Pak Amir langsung menunjukkan tanda pengenalnya. “Ini anak saya, tolong dibantu, rumah kami semalam kecurian, dia kena tusuk para penjahat.”
Melissa tercenung menatap Pak Amir, pria itu kemudian mengangguk pada Melissa. Reza langsung dibawa untuk ditangani dokter, dia mendapat transfusi darah dan Dokter segera menjahit lukanya.
[Kamu di mana Mel?] tanya Pram Gunadi lewat pesan singkat.
Melissa segera mengirimkan lokasi keberadaannya pada Pram. [Reza lagi ditangani Dokter, Pi, doakan dia baik-baik aja ya, Pi. Mel takut.] Balas Melissa pada Pram.
[Pasti, Mel, papi doakan dia baik-baik aja, Tuhan akan melindungi orang baik seperti Reza.]
Melissa menyeka air matanya. Dia segera memasukkan ponsel saat mendengar dokter memanggilnya. Melissa segera masuk ke kamar rawat Reza. Pria itu terbaring di atas ranjang. Dia tersenyum pada Melissa yang berwajah murung.
Melissa mendekat dan duduk di sebelah Reza, sementara pria itu terus tersenyum menatapnya. “Kenapa senyum terus?”
“Akhirnya aku bisa tidur di kasur.”
Melissa meneguk liurnya. Dia kemudian berujar, “Kenapa nggak ngomong kalau kamu juga pengen tidur di kasur?”
“Emangnya gampang,” dengkus Reza.
“Za, aku minta maaf,” ucap Melissa seraya menggenggam tangan Reza.
“Buat apa?” Reza memberi jeda. “Kamu terlalu sering minta maaf, Mel.”
“Aku egois, aku benar-benar jadiin kamu sebagai tameng aku.”
“Nggak masalah, Mel, itu tugasku,” ucap Reza pelan dan tulus.
Melissa menyeka air matanya. Dia menarik napas, kemudian berkata, “Makasih selama ini kamu udah jagain aku.”
Reza meletakkan tangan di punggung tangan Melissa. “Tugasku, Mel,” desis Reza. Reza terlalu bersikukuh kalau ini merupakan tugasnya. Pria itu bahkan lupa melindungi dirinya sendiri.
“Luka kamu udah diobatin?”
Melissa mengangguk. “Za, papi nanti ke sini, kamu pulang bareng dia, tugas kamu lindungi aku selesai.”
“Nggak, Mel, penjahatnya masih berkeliaran, mereka bisa kapan saja lukai kamu.”
“Kalau penjahatnya udah ketangkep kamu harus pulang bareng papi.”
Reza menatap Melissa yang terus-menerus tak mengizinkan air mata berlama-lama membasahi pipinya. Entah apa arti dari air mata tersebut yang jelas Reza tak bisa sembarangan menebaknya.
Tak berapa lama perawat datang untuk memberi Reza makan sebelum minum obat. Melissa mengangguk pada perawat tersebut. Dia segera mengambil piring yang lebih mirip seperti nampan.
“Kamu harus makan, aku yang suapin.”
“Kamu juga belum makan, kita makan bareng aja.”
Melissa menatap Reza. “Aku sudah berterima kasih sama Pak Amir, besok Pak Amir akan ke sini untuk menjemputku dan kamu akan pulang sama Papi ke Jakarta.”
“Mel!” Reza menatap tajam mata Melissa. “Apapun yang terjadi aku akan tetap di sini sama kamu.” Reza kesal sekali. Melissa telah menyalakan bara di hatinya. Wanita itu memang keras kepala, jika selama ini Reza mengabulkan semua keinginannya tidak dengan sekarang.
Melissa tak lagi menanggapi apa yang dikatakan Reza, wanita itu segera mengambil makan, dia lalu menciduknya dengan sendok, nasi bersama kuah kuning dan sedikit potongan telur. “Makan,” ucap Melissa dengan wajah datar.
Reza menarik napas dan memakannya. Dalam sela-sela mengunyah dia berkata, “Mel, di sini aku menemukan hidupku.” Reza memberi jeda. “Hidup yang tidak bisa aku dapatkan di Jakarta, kedamaian, ketenangan, semuanya, Mel.”
Melissa tercenung dengan sendok yang teracung dekat bibir Reza. “Aku juga, Za,” gumamnya. Reza tersenyum seraya melumat sendok itu.
Akhirnya makanan tandas tak bersisa. Melissa menikmatinya di sela-sela Reza sedang mengunyah, ini baru pertama kali Melissa memakan makanan menggunakan satu sendok yang sama dengan seorang pria dan itu Reza. Sudahlah dia hanya sedang lapar dan tak berpikir kuman jenis apa yang berpindah dari mulut Reza ke mulutnya.
Kini Melissa membantu pria itu untuk meminum obat. “Setelah minum obat kamu tidur.”
“Iya, Bu Dokter.” Reza menahan tangan wanita itu. “Kapan aku bisa pulang?”
“Lusa.”
Reza menggelengkan kepala. “Besok, kamu bisa merawat aku di rumah, ‘kan?” Reza memberi jeda, “lagi pula aku baik-baik aja.”
“Iya,” Melissa mendekatkan bibir ke telinga Reza, “aku juga nggak mau lama-lama di negeri orang.”
Reza bergidik geli, bukan karena apa yang dikatakan Melissa barusan, tapi karena bagaimana cara Melissa menyampaikan kalimat tersebut. “Aku tidur,” ucap Reza gugup seraya menurunkan bantal dan merebahkan tubuhnya.
Kening Melissa mengkerut. Dia menatap heran pria itu, bukannya menanggapi kalimatnya, Reza malah memilih tidur. Namun, Melissa menyadari kegugupan yang tengah berpendar di wajah pria itu.
Usai meletakkan gelas bekas Reza, Melissa kembali duduk, dia lalu menyandarkan kepala di ranjang, namun, dengan keadaan membelakangi Reza.
Seketika mata Reza terbuka, bibirnya tersenyum tipis memperhatikan kepala wanita itu. Perlahan jarinya terangkat dan hendak membelai kepala Melissa. Sialnya wanita itu bergerak dan Reza segera menjatuhkan tangannya, lalu kembali terpejam.
Melissa menegakkan tubuhnya, dia menyangga dagu dengan kedua tangannya yang bertumpu pada ranjang. Senyumnya tersungging menatap wajah teduh pria itu. Alisnya berbaris tegas. Melissa akui Reza memang seperti apa yang pria itu ucapkan pada Marinka kemarin saat Marinka menyatakan cintanya pada Reza. Memang Reza terlalu percaya diri, kalau Melissa yang jadi Marinka, sudah pasti akan sangat kesal dengan tingkah Reza. Terkadang kalimat yang keluar dari mulut pria itu sarkas dan terlalu jujur, sehingga terkesan kalau dia tidak bisa menyaring mana yang pantas diucapkan pada seorang perempuan mana yang tidak. Melissa memang tak peduli, dia tak pernah sakit hati dengan apa yang dikatakan Reza padanya. Namun, mungkin jika Marinka merasakan sakit hati itu wajar, tapi Melissa berharap Marinka tidak cari gara-gara lagi karena bisa saja ungkapan perasaan Marinka membuat Reza dan Melissa berada dalam masalah.
.
Reza sadar kalau sedari tadi Melissa memperhatikannya, entah kenapa mendadak Melissa bertingkah seperti Marinka yang terus-menerus menatapnya tanpa tahu malu, memang Reza tak pernah merasa salah tingkah saat diperhatikan Marinka, namun, saat sepasang mata Melissa terus menatap dan memperhatikannya seperti sekarang, dia menjadi sesak, rasanya oksigen tak cukup memenuhi rongga d*danya, hingga Reza merasa kalau wanita egois di depannya itu telah menghabiskan jatah oksigen miliknya.
Kedua mata Reza terbuka sembari mengatur napas yang tersengal-sengal dan terbatuk. Melissa terkesiap, dia mengerjap beberapa kali dan mencoba mendekat seraya berdiri. “Za, kamu kenapa, Za?” tanya Melissa panik.
Reza memegangi d*danya sendiri. Sembari terus mencoba mengatur napasnya. “Nggak tahu, tiba-tiba rasanya sesak, Mel,” ucapnya terengah.
Melissa menjauhkan wajah dan mengernyit. “Mana yang sakit?” tanya Melissa.
Reza menunjuk d*da kirinya sendiri.
“Kenapa tiba-tiba sakit?” Melissa memegang d*da kiri Reza. Dia kemudian mendekatkan telinganya. Dentuman di balik d*da Reza semakin kencang dan membuat kedua mata pria itu membola. Ada apa dengan dirinya, kenapa tak biasanya dia merasa panik seperti ini saat didekati Melissa?
“Nggak apa-apa,” ucap Melissa seraya menjauhkan telinganya dari d**a pria itu dan duduk kembali.
“Tahu dari mana?” Reza menarik napas. “Kamu, ‘kan nggak pakai alat.”
Melissa menggelengkan kepala. “Ya, aku yakin aja, kalau kamu memang nggak kenapa-kenapa.”
Reza menghela napas. “Aku mau tidur, Mel, bisa nggak kamu tunggu di luar.”
“Hah?” satu alis Melissa terangkat. “Bisa nggak kamu nggak usah ngusir aku, lagi pula aku nggak akan ganggu tidur kamu.”
Sudah Reza duga, wanita itu akan marah. “Ya udah terserah, aku mau tidur,” ucap Reza seraya berbalik ke kiri membelakangi Melissa.
“Nggak sopan kamu,” keluh Melissa seraya memukul paha pria itu. “Za, aku juga mau tidur, masa di belakang pant*t kamu.” Melissa kembali memukul paha pria itu. “Kamu pikir aku nggak capek, hm? Lari-lari tengah malam, emang kamu pikir aku nggak butuh tidur. Reza!”
Reza ingin marah karena wanita itu terus memukulnya, tapi yang terjadi malah sebaliknya, bibirnya tersungging dengan lebar.
“Aku pukul luka kamu nih sampai jahitannya robek lagi,” ancam Melissa sembari mengacungkan telapak tangannya.
Reza menarik napas dan mencoba menghilangkan senyum di wajahnya, setelah itu dia menoleh pada Melissa, namun, tubuhnya tetap miring ke kiri, karena dia harus hati-hati dengan luka di pinggang sebelah kanannya.
“Ya, udah tidur.” Reza menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. “Ranjang ini kayaknya cukup untuk berdua, kamu nggak mungkin tidur sambil duduk, nanti leher kamu sakit.”
Melissa tersenyum tipis, saking tipisnya Reza tak dapat melihat itu. Wanita itu kemudian berjalan beberapa langkah, lalu dia naik ke ranjang dan merebahkan tubuh di sana, semua tenaga medis yang menangani Reza tahu kalau mereka adalah sepasang suami istri.
Reza tidur miring menatap Melissa, semenatara wanita itu tidur berbaring. “Kejadian tadi pagi akan menjadi pengalaman berharga dalam hidup aku.”
Sudah Reza duga, Melissa tak bisa tidur tanpa membuat serangkaian cerita. “Mel, kita tidur aja, aku ngantuk,” ucap Reza seraya memejamkan mata.
Melissa menoleh dan mendengkus, dia kemudian ikut terpejam, sudah beberapa kali Reza mengabaikan ceritanya. Menyebalkan!