“Dasar bodoh! Apa lagi yang kalian tunggu! Cepat bunuh suami Comare agar Comare bisa segera menikah dengan bos!” perintah Dex.
“Siap laksanakan” seru mereka serempak dan berbalik badan untuk segera melaksanakan perintah barunya.
“EEHHHH!!! TUNGGU!!!” teriak Rose panik. Apa apaan ini! Maksudnya adalah agar pria itu mengerti kalau jangan mengganggu istri orang, bukannya membuatnya jadi janda!
“Siap Comare” jawab mereka serempak dan kembali membalikkan badan.
“Jangan bunuh suamiku!” perintah Rose yang membuat mereka kembali menatap pada Dex menunggu arahan. Mereka tadi mendengar kalau Dex mengatakan bosnya ingin segera menikahi wanita ini dan Dex juga memanggil wanita itu Comare, panggilan untuk istri bos. Berarti wanita itu juga memiliki kuasa di atas mereka dan harus mereka patuhi.
“Maksudku adalah aku tidak akan menikah dengan Justin Ludovic! Masih menikah ataupun sudah jadi janda!” bentak Rose. dia benar benar kesal! Disuruh merawat musuhnya saja sudah membuat emosinya sampai di ambang batas. Eh sekarang anak buah pria itu malah bikin dirinya semakin emosi.
“Kamu” tunjuk Rose pada Dex.
“Jangan lakukan apapun sampai Justin sadar!” perintah Rose lagi.
“Siap Comare” jawab Dex patuh.
“Sekarang keluar. Tunggu diluar sampai Justin diantar kesini!” perintah Rose lagi dan langsung dituruti oleh mereka semua yang berjalan beriringan keluar dari kamar rawat itu dengan patuh.
Begitu pintu ditutup, Rose menghela nafas kesal. Dia menoleh pada semua orang disana yang sepertinya sedang menahan tawa, kecuali Darius yang masih berwajah datar. Morin dan Sissy sekarang sedang terkikik di belakang Darius.
“Ya ampun Rose. itu lucu sekali. Sekarang kau jadi nyonya mafia. Mereka bahkan sangat menurut padamu” kalimat absurd Morin diselingi tawa mengawali obrolan itu. Sejak tadi dia menerjemahkan percakapan Rose dengan anak buah Diego pada Sissy.
“Aku sudah merekam semuanya dan akan membagikannya pada yang lain” lanjut Sissy sambil tertawa juga dan menunjukkan ponselnya.
“Oh tidak! Teganya kau! Berikan padaku!” jerit Rose mengejar Sissy yang langsung berlari. Dengan pintarnya dia berlari ke arah Garry Kean. Sekalian mencuri kesempatan gitu loh.
“Garry bantu aku” pinta Sissy saat dia bersembunyi di belakang pria itu.
“Kemarikan ponselmu. Aku akan menghapusnya!” perintah Rose sambil berusaha menjangkau Sissy yang masih terus menghindar di belakang Garry.
Untuk pertama kalinya Garry Kean kebingungan karena dua wanita yang berputar putar di sekitarnya. Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang? Dia berasa seperti ayah yang harus melerai dua anak gadisnya yang berebut barang. Biasanya jika ada dua wanita disekitarnya, berarti mereka sedang berebut perhatiannya, bukan berebut ponsel ala anak anak seperti ini.
Tadi dia melihat sendiri saat bosnya memberikan jaket anti pelurunya pada wanita ini dan mendengar saat bosnya berkata ingin menikahi wanita ini, jadi dia tidak berani bertindak kurang ajar. Tapi kemana wibawa wanita ini yang tadi dia tunjukkan pada Dex dan anak buahnya? Sekarang dia bertingkah seperti anak anak!
Dia menoleh pada Darius untuk meminta tolong dan pria itu hanya mengangkat bahu cuek dan kekasihnya pun sekarang sedang merekam adegan ini sambil tertawa dan menyemangati Sissy. Dia menoleh pada dua orang lainnya yaitu adik dan adik ipar Darius, Donny dan Monika yang sedang mengobrol tanpa merasa terusik. Sepertinya bagi mereka ini adalah hal yang wajar karena mereka mengabaikan dua wanita yang berteriak teriak mengelilingi dirinya. Rosaline dan suaminya serta Darren sudah pergi sejak tadi untuk membereskan kekacauan di tol. Teman teman comarenya yang lain juga sudah dijemput pulang.
Pertikaian itu berhenti saat pintu kamar dibuka dan dokter masuk bersama perawat yang membawa ranjang pasien. Fokus mereka semua sekarang ada pada Diego yang masih tertidur setelah operasi. Wajah pria itu sekarang sudah tidak sepucat tadi.
Dokter pergi setelah memberitahu kondisi pasien dan memberikan beberapa instruksi pada perawat dan Rose. Sekarang kondisi pasien sudah stabil walau harus dalam pengawasan karena kondisi seperti ini kadang bisa tiba tiba drop atau ternyata terjadi infeksi pada lukanya.
Penjelasan itu membuat semua yang disana menjadi tenang karena Diego sudah melewati masa kritisnya dan hanya membutuhkan waktu untuk pemulihan.
Darius memberikan ruangan untuk Dex dan anak buahnya beristirahat di sebelah ruang perawatan Diego, hanya ada empat orang yang akan berjaga di depan pintu dan Rose harus berada di dalam ruang perawatan Diego.
“Aku pulang sebentar. Aku tidak membawa baju ganti” kata Rose.
“Tidak” jawab Darius.
“Aku tidak akan kabur om. Aku cuma mau membawa baju ganti. Mengurus dia akan memakan waktu berhari hari dan aku perlu perlengkapanku” kata Rose sambil menunjuk Diego.
“Kamu bisa minta orang rumahmu mengantarkan perlengkapanmu kemari” kata Darius final.
“Tapi..” bantahan Rose berhenti saat dia melihat Darius kembali membuka ponselnya.
“Baiklah. Aku akan disini saja” kata Rose cepat. Dia masih trauma jika mengingat saat Darius mengancamnya tadi. Jadi sekarang saat dia melihat pria itu mengeluarkan ponsel, dia langsung ketakutan pria itu akan menghubungi orang yang akan membuat kakaknya masuk penjara, atau bahkan yang lebih parah lagi!
“Ayo pulang” kata Darius pada Morin. Gadis itu mengangguk tapi masih melirik Rose. Morin menyadari walaupun omnya tidak mencelakakan Rose tapi pasti omnya menekan sahabatnya itu. Karena biasanya Rose akan sangat keras kepala kalau sudah memutuskan sesuatu, tapi barusan dia bisa langsung menurut.
“Ayo Sissy. Om akan mengantarmu pulang” panggil Donny.
“Aku pulang dengan Garry saja” jawab Sissy yang membuat Garry yang berada disebelahnya langsung menoleh. Pria itu menoleh karena mendengar namanya disebut, dia tidak mengerti pembicaraan kedua orang itu karena menggunakan bahasa lokal.
“Hanya tante Monika yang membawa mobil. Dan kasihan Morin sudah lelah, apalagi rumah kami tidak searah. Akan menyusahkan kalau harus berputar dulu” kata Sissy pada Garry dalam bahasa Inggris. Dan pria itu masih bingung dengan informasi dari Sissy dan kenapa namanya dibawa bawa?
“Sissy…” panggil Donny sambil menyipitkan matanya curiga. Pasti gadis itu memiliki rencana absurd lagi. Bagi Donny, Sissy dan teman temannya tetaplah gadis nakal yang selalu membuat ulah. Sulit baginya menganggap mereka sudah dewasa walau usia mereka semua sudah diatas dua puluh.
“Aku sudah lelah papa. Aku mau langsung pulang” kata Morin sambil menguap dan berjalan menghampiri Donny.
“Papa, gendong” kata Morin manja yang menarik perhatian semua orang disana.
“Morin” panggil Monika cemas saat melihat raut wajah Darius. Sedangkan Donny tidak menyadarinya karena sedang membelai sayang kepala putrinya.
“Hari ini memang berat. Ayo kita pulang” kata Donny lembut.
“Gendong punggung. Kakiku pegal” sahut Morin masih dengan suara manjanya sambil menarik baju ayahnya. Dia benar benar bersikap seperti anak berusia delapan tahun.
“Ayo pulang” kata Darius kaku sambil menarik pergelangan tangan Morin dan menyeretnya berjalan keluar kamar rawat itu. Donny dan Monika berjalan mengikuti mereka dari belakang.
Morin masih sempat membalik tubuhnya sebentar dan memberi kode OK dengan jarinya pada Sissy sambil menyeringai, yang dibalas dengan acungan jempol dari Sissy. Morin memang selalu satu frekuensi dengan Sissy.
Donny dan Monika berpura pura tidak melihat kelakuan Morin, sekarang mereka tahu kalau putri mereka tadi sengaja agar mengalihkan perhatian orang pada dirinya agar Sissy bisa pulang dengan anak buah Diego.
Garry memperhatikan dua wanita yang sedang bertukar kode di depannya sambil berpikir mungkin Darius Hartadi tertarik pada Morin karena keunikan wanita itu? Karena wanita lain tidak ada yang berhasil mendapatkan perhatian pria itu. Dia tidak mengerti perbincangan mereka, tapi melihat kode kodean mereka dan senyum licik wanita itu memberitahunya kalau kedua wanita ini pasti sedang merencanakan sesuatu.
“Bisa tolong antar aku pulang?” tanya Sissy dengan senyum lebarnya. Sekarang dia bisa kencan berdua di dalam mobil dengan Garry. Idenya memang selalu cemerlang, apalagi ditambah Morin yang selalu membantunya.
“Saya tidak bawa kendaraan” jawab Garry. Sekarang dia menyadari kalau dirinyalah hasil perencanaan dua wanita itu.
“Pakai mobilku saja” kata Rose sambil membuka tasnya untuk mengambil kunci mobilnya, lalu melemparkannya pada Garry.
“Ingat kata kataku Garry Kean” ancam Rose dalam bahasa Italia sambil melotot pada pria itu.
“Tentu saja Comare” jawab Garry sambil tersenyum, yang berhasil membuat wanita itu semakin kesal karena panggilannya pada wanita itu.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Sissy penasaran karena dia hanya bisa bahasa Inggris dan mandarin. Mulai besok dia akan kursus bahasa Italia.
“Dia memintaku mengantarmu dengan aman” jawab Garry.
“Baiklah. Dah Rose. Jaga calon suami keduamu baik baik ya. Bye” pamit Sissy pada Rose sambil menggoda sahabatnya itu yang langsung memelototinya.
****